Aku Reza, lelaki dewasa yang belum mau menikah karena terlanjur jatuh hati sama kakak iparku.
Sifatku tegas, ramah dan penyayang. Selain itu ketampanan aku yang membuat iparku tidak bisa menghindar setiap kali aku mendekati dia.
Akankah kakakku tahu akan hubungan terlarangku dan istrinya?
Hingga suatu saat, kakakku ketahuan memiliki wanita lain, dan hal itu membuat istrinya kecewa berat, tapi bagiku ini adalah awal yang baik buat aku dan iparku.
Nisa memiliki postur tubuh yang Semampai, ditambah rambut panjang dan senyumannya yang manis, membuat aku semakin yakin suatu saat bisa menggantikan posisi kakakku di hatinya. Akankah semua impianku tercapai?
Mari ikuti konflik percintaan yang menegangkan tapi indah ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qori Maret, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Hampir jam sepuluh malam, ketiga wanita itu tiba di rumah.
Seseorang menatap mereka dengan raut wajah kesal namun, tidak mau menegur mereka. Ati menghampiri anaknya itu dan menanyakan keberadaan Bobi.
"Bobi sudah tidur, ya."
"Aku tidak tahu, Mi. Coba cek sendiri ke kamar." Risal sangat kesal dengan sikap maminya dan Hana, sehingga ia masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.
Wanita tua itu panik dan balik menanyakan keberadaan cucu kesayangannya sama Hana dan Gina Yang sudah siap-siap mau pulang.
"Loh, kami tidak tahu, Mi. Kan tadi Risal yang duluan ke rumah."
Mereka mulai panik ke sana ke mari, sedangkan Risal berusaha tidur tanpa peduli Mami memanggil manggil cucunya.
"Nak, Mana Bobi! jangan bilang kalau kamu ijinkan Nisa membawanya pergi."
Yang diteriaki tak terima, hingga melompat dari ranjang dan berlari ke luar.
"Mami tahu? Tadi Nisa dan Reza bertengkar hebat sama aku. Mami mau tahu kenapa? Karena kalian pergi dan membiarkan Bobi sendirian, sedangkan kata Nisa tadi, dia tidak pernah bilang sama siapapun kalau mau ke sini malam ini. Berarti ini kesalahan mami sama Hana. Bobi Sampai menangis ketakutan. Untungnya aku cepat pulang. Aku kecewa sama Mami dan Hana!"
"Oh, jadi kamu membela mantan istrimu yang tidak becus itu?"
"Bukan membela, Mi. Mami kenapa kok, tiba-tiba jadi emosian begini? Ini bukan mami yang Risal kenal. Mami tega ninggalin cucu mami malam-malam sendirian saat tak ada orang di rumah."
"Semua ini salah Nisa, Nak. Dia yang bilang mau ke sini. Makanya mami pergi, Karena Hana bilang palingan dikit lagi dia datang."
Risal sangat kesal. Dia memilih masuk dan mengunci pintu, sedangkan mami masih ngomel-ngomel di luar menyalahkan Nisa.
Di tempat lain, Hana dan Sepupunya tertawa bahagia sudah berhasil membuat satu rumah saling salah paham. Mereka berjanji tidak akan melepaskan Nisa sampai wanita itu benar-benar menghilang dari hidup mereka.
"Han, aku belum pernah ketemu secara empat mata sama Reza. Kenapa cowok Itu belum mau menghubungi aku? Kamu beneran sudah kasih nomor aku ke dia, kan?"
"Kamu yang sabar. Nanti semua biar aku yang urus. Kalau dia tidak mau hubungi kamu, biar nanti aku yang mengatur waktu kalian, sekalian kita menjebak dia. Percaya sama aku."
Mereka merencanakan sesuatu yang akan membuat Nisa hilang kepercayaan sama kekasihnya, sekaligus jebakan untuk membuat Risal membenci Nisa.
Bobi senang sekali malam ini bisa tidur di pelukan sang mami. Mereka lelap sekali tidur, membuat Reza enggan mengganggu. Ia memilih tidur di dalam mobil karena, belum sempat beli kasur saat keluar tadi.
Di tempat berbeda, Coki mengadu kasih sama Mina di rumah wanita itu. Ada untungnya juga Nisa minggat dari rumah Mina. Walau rencana gagal tapi, setidaknya ada tempat bagus dan aman untuk menggarap wanita ini, tanpa harus membuang duit di luar. Pikir pria ini sambil mengangkat tubuh Mina dan membawanya masuk ke kamar.
Di kediaman Ati, wanita tua itu memilih untuk tidur. Dia yakin pasti Nisa yang membawa anaknya, dan Risal pasti tahu itu. Sehingga, wanita itu tidur sambil memeluk beberapa kantong berisi belanjaan yang belum sempat dia buka.
Keesokkan harinya, menjelang siang, Ati datang ke toko buku diantar sama Risal. Ia sudah dikasih tahu Risal Kalau sekarang Nisa tinggal bersama Reza, sekaligus bekerja di situ sebagai karyawan di toko buku tersebut.
"Nisa, Sini, kamu! Beraninya ambil cucu mami tanpa ijin. Kalau mau jenguk Bobi, biar di rumah saja. Tidak perlu sampai membawanya ke sini. Ini, lagi. Lancang sekali tinggal seatap sama Reza. Kamu tahu? Reza mau mami jodohkan dengan wanita lain yang lebih baik dari kamu. Teriak mami sambil memeriksa lemari kecil berisi pakaian mantan menantunya. Ya, mereka tidak ada hubungan lagi. Risal datang membawa surat resmi cerai dari pengadilan. Ia memberikan surat tersebut untuk ditandatangani oleh Nisa. Kini akhirnya mereka resmi menjadi mantan.
"Mi, Bobi masih kecil. Kalau mau marah-marah, jangan di depan dia, dong! Mami kesambet apa, sih, sampai berubah begini?"
Risal dan Reza kompak menegur mami yang lancang di depan Bobi yang asyik bermain mobil, namun, duduk diam saat melihat Omanya marah-marah.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pisah dari Nisa, Mi. Dia itu cinta matinya Aku.!"
Reza dibuat kesal.seiring dengan itu, ponsel di saku kemejanya berdering.
"Wah, ada urusan apa Hana menelepon? Aku harus hati-hati atau, Risal akan salah paham sama aku."
Dia bingung dengan sikap Hana yang terus menghubunginya namun, dia tahu cara terbaik menghadapi wanita picik seperti itu adalah ikut bermain dalam arus. Dia lalu sengaja pergi masuk ke dalam mobil dan menerima telepon di sana, agar tak kedengaran oleh semua yang sedang berada di kamar kecil milik Reza.
"Kamu cepetan ke sini, dek! Aku tunggu di tempat biasa." (Alias kafe xx). Kalau kamu tidak mau, biar aku ke tokomu saja.
Ancamannya berhasil membuat mau tak mau Reza harus pergi, atau wanita ini akan benar-benar datang dan membuat Nisa salah paham.
Waktu sudah menunjukkan pukul satu, Hana dan Gina tampak tersenyum puas melihat Reza datang menghampiri mereka.
Ternyata dua wanita ini sudah memesan minum. Hana tahu Reza menggilai minuman kopi, sehingga dia memesan kopi yang masih tampak mengepulkan asap. Namun, jangan salah. Kopi itu sudah Gina bubuhi dengan obat perangsang.