Berawal dari hubungan sebagai tetangga hingga pada akhirnya takdir merubahnya menjadi sebuah hubungan yang terjalin dalam ikatan rumah tangga.
Daffin Malik Narendra tidak pernah menyangka jika dirinya akan berjodoh dengan putri dari tetangganya. Tentu saja hal ini terjadi lantaran sang mama yang begitu terobsesi untuk menjadikan putri dari tetangganya itu sebagai menantunya.
Begitu juga dengan Kanaya. Dirinya sama sekali tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan Daffin yang tak lain anak laki-laki dari tetangganya. Apalagi dimata Kanaya, Daffin adalah pria dingin dan menyebalkan.
"Bukannya dapat jodoh cowok yang cool, ini malah dapatnya kanebo kering." Kanaya Putri
"Buat apa cobak kuliah jauh-jauh sampai keluar negeri kalau ujung-ujungnya nikah sama tetangga. Mana cabe-cabean lagi." Daffin Malik Narendra.
Akankah keduanya mampu menjalani hari-hari mereka sebagai sepasang suami istri?
Yuk ikuti terus jalan ceritanya dan jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risalah_Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumania
Terus ini kita mesti gimana pah?"
"Ya sesuai apa yang dikatakan Daffin tadi. Mama harus makan biar cepat sembuh. Mama harus sehat lagi biar nanti bisa gendong anaknya Daffin. Atau mama masih ingin hamil lagi biar bisa gendong baby kita sendiri?"
"Papa....."
Candaan pak Malik ini nyatanya berhasil memancing reaksi sang istri yang sejak tadi terlihat lebih banyak diamnya.
Sebagai suami tentu pak Malik merasa sangat sedih ketika dirinya harus melihat istrinya sakit. Apalagi jika sakitnya ini dikarenakan terlalu mengkhawatirkan putranya.
Pak Malik cukup faham mengapa istrinya bisa sekhawatir itu jika sudah menyangkut Daffin.
Daffin adalah putra satu-satunya. Putra yang kelahirannya sangat dinantikan dalam pernikahannya. Karena untuk bisa memiliki seorang Daffin, pak Malik dan bu Lina harus menunggu selama hampir tujuh tahun lamanya.
Kondisi kandungan bu Lina yang lemah, menyebabkan beliau tiga kali mengalami keguguran. Hingga dikehamilannya yang ke tiga barulah janinnya ini bisa bertahan, meski sebenarnya tidak mudah. Hal itu lantaran kondisi bu Lina yang sangat lemah selama masa kehamilannya. Bahkan bu Lina harus rela keluar masuk rumah sakit.
"Sebaiknya kita segera menemui keluarga pak Erwin. Mama gak mau kan kalau sampai Naya keduluan dilamar sama pria lain." Pak Malik memberi usul pada sang istri sekaligus berniat menggoda istrinya.
"Mana boleh, Naya itu sudah mama keep buat jadi istrinya Daffin. Bahkan sejak pertama mama ketumu anak itu, mama tak henti memintanya lewat doa." Bu Lina terlihat menaikkan tanduknya saat sang suami menggodanya.
"Yasudah kalau begitu sekarang mama makan dulu ya. Biar mama cepet sembuh dan kita bisa secepatnya menemui pak Erwin dan bu Dania untuk membahas hal ini."
Seperti anak kecil yang mendapatkan apa yang diinginkannya, bu Lina langsung menurut pada ucapan suaminya. Bahkan saat pak Malik ingin menyuapinya, bu Lina menolak dan langsung mengambil alih sendok yang berada ditangan suaminya.
Meski tak banyak, namun pak Malik cukup lega karena akhirnya sang istri sudah mau makan.
"Mama dirumah istrirahat ya, papa ada janji ketemu klien sebentar. Habis itu papa langsung pulang kerumah."
Satu kecupan beliau daratkan pada kening istri yang begitu dicintainya. Istri yang merupakan cinta pertamanya dan berharap akan menjadi cinta terakhirnya.
"Papa tenang saja. Mama sudah lebih baikan kok."
***
Ditempat lain, terlihat seorang pemuda tampak duduk termenung. Terlihat jelas raut kegelisahan diwajah seorang pimpinan cabang sebuah perusahaan. Bahkan sesekali terlihat pemuda itu memejamkan kedua bola matanya.
"Woi...kenapa itu muka. Gue perhatiin udah kayak cucian belum disetrika aja, kusut banget."
Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan Farel. Karena satu-satunya orang yang berani berbicara seperti itu pada bos mereka hanyalah Farel, yang tak lain sahabat sekaligus merangkap sebagai asistennya.
"Woi....lo mabuk apa mati suri sih." Karena tak kunjung mendapat respon, Farel langsung menepuk pundak Daffin.
"Apaan sih, ngagetin orang aja." Daffin tentu saja merasa kesal lantaran tiba-tiba mendapat tabokan dipundaknya hingga membuatnya tersadar dari kegiatan melamunnya.
"Lo kenapa, kayak lagi ada masalah gitu. Coba lo cerita ke gua. Siapa tau habis bercerita bisa mengurangi sedikit beban masalah lo." Kini Farel berbicara serius.
"Sok tau lo, gue cuman lagi ngantuk aja. Semalam gak bisa tidur." Bohong Daffin. Karena jujur untuk saat ini dirinya masih belum mau menceritakan masalahnya ini pada siapapun. Meskipun Farel yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri.
"Dikamar lo gak lagi banyak nyamuk kan? Tapi masak ia kamar lo ada nyamuknya." Pikiran Farel mendadak oleng sendiri hanya karena membahas masalah nyamuk dikamar Daffin. Hal itu terlihat dari ekspresinya yang sesekali mengedarkan pandangannya kelangit-langit ruangan Daffin.
Ck.....
Daffin berdecak kesal. Sungguh tingkah sahabatnya ini membuatnya kesal sendiri.
"Mending lo keluar sana. Gue lagi pengen sendiri."
Daffin pun mengusir Farel. Moodnya pagi ini sudah cukup anjlok, ini ditambah kedatangan sahabat sengkleknya yang tiba-tiba muncul tentu semakin membuat mood Daffin tak hanya anjlok, bahkan berubah menjadi longsor.
"Oke gue keluar. Gue cukup faham mood orang PMS suka naik turun." Lihat saja, lagi-lagi Farel kembali menggoda bosnya ini.
Tanpa berkata lagi Daffin langsung melayangkan bolpoint yang tengah dipegangnya hingga tepat mengenai kening Farel.
"Aduh....sakit woi. Lo kenapa sih pagi-pagi udah main KDRT aja. Jangan bilang lo lagi galau lantaran mau di kawinin sama nyokap lo" Farel terlihat mengusap-usap keningnya yang terkena lemparan bolpoin oleh Daffin.
Mendengar ucapan Farel, sontak saja membuat Daffin langsung mendongakkan kepalanya. Pasalnya apa yang diucapkan Farel kali ini memang benar adanya. Namun secepat mungkin Daffin menetralkan dirinya. Dia tidak ingin Farel sampai curiga kepadanya
"Lo keluar, sebelum sepatu gue yang melayang kekepala lo." Daffin pun memilih kembali mengusir Farel dari ruangannya.
"Oke-oke gue keluar. Gue cuman ngingetin entar siang kita ada jadwal ketemu klien."
***
Dikediaman Daffin, bu Lina saat ini terlihat sedang lumayan sibuk. Hal ini lantaran nanti sehabis maghrib dirinya beserta suami berniat berkujung kerumah bu Dania. Tentu saja tujuannya adalah ingin menyampaikan perihal rencananya yang ingin menjodohkan putranya Daffin, dengan Naya.
"Bik...tolong bukain pintunya. Sepertinya itu kurir yang nganterin parcel buah pesenan saya."
Ya, bu Lina saat ini tengah mempersiapan beberapa bingkisan untuk dibawa kerumah tetangganya.
Sebenarnya tadi suaminya sudah melarang bu Lina untuk melakukan semua ini. Alasannya karena kedatangannya kan baru ingin menyampaikan perihal rencana mereka. Bisa saja nanti keluarga pak Erwin masih kaget. Dan tentunya butuh waktu untuk memikirkannya.
Namun bu Lina tetap saja ingin menyiapkan segalanya. Bu Lina sendiri merasa yakin jika jawaban dari keluarga pak Erwin tidak akan mengecewakannya. Tentu saja, karena masalah ini sering bu Lina sampaikan pada bu Dania. Dan lagi menurut bu Lina anggap saja semuanya ini hanya sebuah oleh-oleh yang memang wajar jika dibawa saat tengah berkunjung kerumah orang lain.
"Ayo mah, papa sudah siap."
Benar saja, selepas magrib pasangan paruh bayah itu sudah terlihat begitu rapi sekali.
"Ini Daffinnya gak diajak sekalian?" Tanya pak Malik yang sejak tadi belum melihat batang hidung putranya.
"Gak usah dulu mungkin pah. Lagian anaknya belum pulang juga."
"Oh iya pah, kita kerumah bu Dania bawa mobil saja." bu Lina mengatakan itu sembari keluar membawa beberapa barang yang lebih mirip seperti hantaran.
"Mah, rumah pak Erwin disebelah kita. Masak iya bawa mobil?" Tentu saja pak Malik dibuat heran dengan ucapan istrinya.
"Mama tau. Tapi ini barang bawaannya gak bisa kita bawa sendiri. Dan lagi mama gak mungkin ngajak bibik dan yang lainnya. Entar malah dikira ada acara apa sama tetangga." Bu Lina menjelaskan alasannya.
"Terserah mama lah, papa ngikut saja." Pak Malik memilih mengiyakan saja dari pada nanti membuat istrinya darah tinggi lagi.
Keduanya pun lantas segera berangkat menuju kediaman tetangga sebelahnya. Namun saat baru akan memasuki mobil mereka dikagetkan dengan Daffin yang tiba-tiba sudah pulang.
"Loh ini papa sama mama mau kemana?" Tanya Daffin yang jelas melihat mama dan papanya seperti akan bepergian.
"Mau ke Rumania."
Rumania....
nah bonusnya Bunga aj ya, Fin..
😂🤣
bang..
bangKruutt
😆🤣
gaskeunnnnn
itu barusan
satria???
aqu pun jd nyesal nih dukung naya
udah jd istri pun blm bisa berubah..
kena lagiiii
ampyuun uunn Bund
author dan naya joinan stres nih????
mmg benar..
ingin kebahagiaan mu..
smg langgeng ya, Nay....
sing sabar....
singkat jelas padat dan SiGap!
😃🤣🤣
gawat darurat nih...
.
awas aj loe gk.nikahin naya ya, fin..
gue kaburrrrrrrrrr
sok. Jaim
ujung ujungnya narik tangan juga..
😃🤣
Biarin JuTek tp ttp Tegas!!
tapi juteknya cukup ma Raisa
aj ya, No Naya!!!
😁🤣🤣
berat nih, Nay...
ada saingan CLBK
cinta lama berjuang kembali...
wkwkwk 🤣