Berliana, seorang polisi wanita yang harus berpura-pura mencintai seorang buronan bernama Gabriel.
Saat akad nikah, polisi datang untuk menangkap Gabriel.
"SEENGGAKNYA GUE HANYA PENJAHAT BUKAN PENGKHIANAT SEPERTI LO! YANG MENJADIKAN CINTA SEBAGAI MAINAN," ucap Gabriel dengan menahan amarah yang berkecamuk di hatinya.
"Aku memang jahat, tapi apa yang kau buat ini lebih jahat. Aku yang bersalah, kenapa hatiku yang kau hukum?" tanya Gabriel dengan mata berkaca.
Mama mohon baca setiap bab tanpa menunggu tamat. 🙏🙏
Terima kasih.
Note : cerita hanya fiksi belaka, apa bila ada kesamaan kejadian atau tempat hanya kebetulan belaka. 🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Ulang Tahun Gabriel
Berliana menengadahkan kepalanya saat berada dalam dekapan dada pria itu, sehingga mata mereka bertemu. Gabriel lalu mendekatkan bibirnya ke arah bibir ranum Berliana.
Tanpa Berliana duga, pria itu mengecup bibirnya. Wanita itu sempat terkesima dan diam terpaku. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Saat Gabriel mengecup lebih dalam, Berliana yang tersadar, lalu mendorong tubuh pria itu hingga jatuh tersungkur ke lantai. Gabriel memegang ekornya yang terasa sakit.
Gabriel berdiri sambil memegang bok*ngnya yang lumayan sakit dengan sedikit meringis. Melihat pria itu yang menahan sakit, Berliana merasa bersalah. Dia lalu memegang sambil memijat pelan ekor pria itu.
Tangan Berliana yang memegang bagian belakang tubuhnya itu lalu diraih dan ditahannya. Dia tidak ingin sesuatu yang tidur menjadi bangun.
"Jangan menggodaku, Berliana! Itu sama saja kau membangunkan singa tidur," ucap Gabriel parau. Dia telah menahan napsunya dari awal tiba.
Mendengar ucapan Gabriel, wanita itu langsung mundur ingin menjauh. Namun, belum sempat dia melangkah lebih jauh, pinggangnya dirangkul Gabriel.
Pria itu langsung menggendong tubuh mungil Berliana dan membawanya duduk dipangkuan. Berliana tampak tegang. Dia terdiam, duduk di paha pria itu.
"Aku dari tadi telah mencoba menahan, tapi kamu selalu saja menggoda!" ucap Gabriel sambil memeluk erat pinggang wanita itu agar tidak jatuh.
"Aku tidak pernah menggodamu," ucap Berliana pelan, berusaha membela diri.
Tangan kanan Gabriel bergerak mengelus paha mulus Berliana yang terekspos karena duduk dipangkuan pria itu. Terasa tubuhnya merinding saat pahanya dielus Gabriel.
"Ini apa ...? Kalau tidak menggoda, disebut apa? Kamu sengaja'kan menggodaku dengan memakai baju ini," ucap Gabriel. Tangannya masih terus mengelus paha Berliana.
Berliana menggelengkan kepalanya, tidak terima dikatakan sengaja menggoda Gabriel dengan pakaiannya. Dia merasa biasa saja dengan baju yang dia kenakan.
"Aku memang telah memakai baju daster ini sejak tadi sebelum kamu datang. Lagi pula ini baju yang dibelikan orang suruhanmu," ucap Berliana. Tentu saja dia tidak terima disalahkan.
Gabriel menarik pinggang Berliana hingga tubuh mereka rapat tanpa jarak. Wanita itu merasa ada sesuatu yang bangun di bagian bawah tubuh pria itu. Sehingga dia memberontak ingin turun.
"Diam Berli! Kau makin membuat juniorku bangun jika banyak gerak," ucap Gabriel.
Sebagai manusia biasa dan pria normal, tentu dia terkadang ingin menyalurkan hasratnya. Namun, dia masih bisa melampiaskan ke arah lain, berolah raga misalnya.
Gabriel masih ingat malam panasnya dengan Berli, dan ingin mengulang lagi. Namun, setiap dia ingin melakukan dengan Tessa, selalu saja dia ragu, sehingga akhirnya Gabriel beralasan jika dia tidak mau berhubungan sebelum nikah.
Berliana menahan napasnya. Dia jadi takut bergerak. Melihat itu Gabriel jadi tersenyum. Dia lalu menahan belakang kepala wanita itu agar tidak bergerak. Tanpa di duga, dia langsung ******* bibir wanita itu. Memainkan lidahnya dalam rongga mulut Berliana.
Awalnya Berliana hanya diam karena terkejut, tapi perlahan dia membalasnya. Tangan Gabriel bergerak masuk ke baju Berliana dan mengelus punggung wanita itu. Baru saja dia akan membuka pengait bra sang wanita, terdengar suara yang mengejutkan keduanya.
"Papi ... kenapa menggigit bibir Ibu?" tanya Nicole.
Berliana langsung turun dari pangkuan Gabriel. Dia terdiam, jantungnya masih berdetak lebih cepat.
"Sayang, kamu kenapa bangun?" tanya Gabriel. Beruntung dia bisa cepat mengatasi kegugupannya.
"Aku haus dan juga mau pipis, Pi," jawab Nicole dengan lugunya.
Berliana berdiri setelah bisa menguasai diri. Dia mendekati gadis ciliknya.
"Mau ibu ambilkan air minumnya?" tanya Berliana dengan lembutnya.
"Iya, Bu. Papi dan Ibu juga bobok. Aku mau bareng boboknya," ucap Nicole.
"Iya, Sayang," jawab Gabriel.
Gabriel berdiri dan menggendong putrinya, mengikuti Berliana yang ke dapur mengambil air minum.
Setelah bocah cilik itu minum, mereka bertiga masuk ke kamar. Walau kasur itu sedikit sempit karena ditempati bertiga tapi demi Nicole mereka lakukan. Ketiganya terlelap dalam mimpi.
**
Seminggu telah berlalu, Gabriel kembali datang dan menginap di apartemen lagi. Dia ingin mengajak Berliana dan Gabriel jalan-jalan. Untuk semua ini, pria itu harus membohongi Tessa lagi.
Berliana bangun lebih awal dari pada biasanya. Hari ini, menurutnya, akan menjadi hari yang istimewa. Berliana ingat ketika Gabriel mengisi data di rumah aakit. Hari ini adalah hari ulang tahun Gabriel. Dia ingin membuat hari ini menjadi hari yang tak terlupakan. Ide yang muncul di kepalanya adalah membuat sarapan istimewa untuk Gabriel dan anaknya, Nicole.
Berliana mulai memasak di dapur. Nicole yang baru saja bangun, langsung mendekatinya, “Bu, apa yang sedang dibuat?”
“Ibu sedang memasak sarapan istimewa untuk Papi, Sayang," jawab Berliana.
“Apa hari ini hari ulang tahun, Papi?” tanya Nicole semangat.
“Iya, kamu mau membantu Ibu membuatkan makanan yang enak buat Papi?” tanya Berliana.
Nicole langsung mengangguk dan ikut membantu Berliana di dapur. Mereka membuat pancake, scrambled egg, dan jus jeruk segar untuk sarapan. Tak lupa, Berliana juga membuat kue ulang tahun yang indah dengan balutan frosting berwarna-warni. Setelah selesai, mereka pun memulai membereskan dapur.
Saat itu Gabriel masih tertidur lelap di kamar. Berliana menghampirinya sambil membawa sebuah tray dengan sarapan spesial. Dia duduk di ujung tempat tidur dan meminta Nicole membangunkan Gabriel.
“Selamat ulang tahun, Papi,” ucap Nicole sambil membangunkan Papinya.
Gabriel terkejut dan tersenyum bahagia. “Terima kasih, Sayang. Kamu tahu hari ulang Papi,” katanya sambil mencium pipi Nicole.
Gabriel tidak menyangka jika Berliana langsung mengingat hari ulang tahunnya. Lima tahun belakangan, dia menghabiskan waktu bersama Tessa.
Mereka pun mulai sarapan bersama. Berliana dan Nicole merasa senang bisa membuat Gabriel bahagia di hari ulang tahunnya. Mereka semua tertawa dan bercanda sembari menikmati makanan yang enak.
“Enak sekali sarapan hari ini,” ujar Gabriel ketika selesai.
“Terima kasih, sudah mau bangun pagi-pagi untuk sarapan bersama, Bang,” ungkap Berliana sambil tersenyum.
“Sama-sama, kita harus merayakan hari ulang tahunku bersama. Aku yang seharusnya mengucapakan terima kasih, karena kamu telah repot menyiapkan semua,” jawab Gabriel.
Mereka bertiga merasa senang dan bahagia. Gabriel benar-benar tak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Dia merasa sangat bersyukur memiliki keluarga yang luar biasa seperti Berliana dan Nicole.
Walau setiap tahun selalu mendapatkan kejutan dari Tessa, tapi terasa berbeda hari ini. Gabriel dari kemarin telah mematikan ponselnya.
Setelah sarapan, mereka pun membuka hadiah yang telah disiapkan untuk Gabriel. Berliana memberikan sebuah jam tangan yang sangat dia sukai, sementara Nicole memberikan sebuah gambar yang dia lukis sendiri.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Gabriel sambil memeluk keduanya.
"Aku tidak bisa memberi sesuatu yang berharga, hanya ini yang sanggup aku beli," ucap Berliana. Awalnya dia ragu untuk membeli karena tahu jam tangan yang dipakai Gabriel harganya jauh lebih mahal.
"Ini sudah lebih dari segalanya. Kamu tahu dan ingat hari ulang tahunku saja, aku telah bahagia. Apa lagi tadi kamu sudah memberikan kejutan dan rela memasak dari subuh," ucap Gabriel.
"Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang telah Abang lakukan untuk Nicole," jawab Berliana.
"Itu semua memang kewajibanku sebagai Papinya."
Seperti rencana awal, Gabriel mengajak keduanya pergi jalan-jalan, mengunjungi berbagai tempat. Pria itu sengaja memilih tempat yang jarang dikunjungi Tessa agar tidak bertemu dengan wanita itu.
Akhirnya, ketika hari semakin larut, mereka pun kembali ke apartemen. Berliana dan Gabriel mengantar Nicole untuk tidur, lalu melanjutkan kembali momen spesial mereka.
Gabriel menatap Berliana dengan matanya yang dalam dan dia berkata, “Terima kasih sudah memberikan hari ulang tahunku yang paling indah.”
“Kamu pantas mendapatkan yang terbaik,” jawab Berliana sambil tersenyum.
Gabriel memandangi Berliana tanpa kedip. Rasanya dia ingin tinggal bersama dengan wanita ini dan Nicole selamanya. Namun, Gabriel sadar, ada Tessa di antara mereka.
Di tempat lain, Tessa tampak marah dan melempar vas bunga ke dinding karena dari kemarin tidak bisa menghubungi Gabriel.
...----------------...