Aku masih berusia 17 tahun dan mereka dengan santainya mengatakan niatnya untuk menjodohkanku dengan putra sahabat ibuku. Apakah dunia hanya sebesar daun kelor? Bagaimana tidak. Calon suamiku adalah wali kelasku sendiri! Dimanakah aku harus menyembunyikan wajahku dari anak-anak satu sekolah? Bagaimana mungkin seorang Carlina Deani menikah dengan Krisan Yosia yang adalah wali kelasnya?
Tak pernah terpikir bahwa aku akan kehilangan masa remajaku. Semua orang seusiaku umumnya baru mengenal cinta -meskipun itu cinta monyet, berpacaran, ya menjalani masa penjajakan. Tapi aku sekarang sudah harus menikah? Apakah aku bisa menjadi istri yang baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eunike lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Senja mulai menjelang. Rintik hujanpun mulai membuka awal bulan November. Dingin angin dan aroma khas hujan sukses membuat hati gadis itu kembali merindu. Hatinya kembali merindukan pemuda yang adalah cinta pertamanya yang katanya telah kembali ke Indonesia. Tapi dimana dia sekarang?
“Winda?” pria itu segera mengambil kursi dan duduk di samping kekasihnya. Ia ikut memandang awan yang mulai menurunkan hujan lebat.
“Kak Al yakin wanita itu bukan pacar Kakak kan?”
Al mendengus kesal. “Harus berapa kali aku bilang padamu, Winda, Sayang…”
“Ya habisnya, dia mepet terus.”
“Cemburu?” Winda menatap Al yang wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Meski ragu ia pun mengangguk.
Hening. Hanya mata mereka yang saling berbicara. Winda tersenyum. Begitu pula Al. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, lagi, Winda.”
“Memang kapan Kak Al meninggalkanku? Bukankah selama ini Kakak selalu bersamaku?”
Al tersenyum. Ia baru ingat kalau Winda masih belum mengetahui bahwa dirinyalah pria yang selalu dirindukannya. “Ya pokoknya aku tidak akan pergi darimu, Winda. Aku akan menjagamu.”
“Ah sudahlah, Kak! Jangan membuang waktu dengan mengumbar gombalan!” katanya sambil berdiri kemudian mengambil map hijaunya kemudian menyalakan komputer.
“Orang aku nggak punya gombalan. Emang aku prombeng apa?”
Winda tertawa. “Kak Al! Bukan itu maksudku!” ia mengambil beberapa lembar kertas dari dalam map itu kemudian menatap monitor.
Al berdiri kemudian memeluk kekasihnya itu. “Sudah, sudah. Aku cuma bercanda, dek.”
***
Lelaki itu masih memandangi ponselnya yang menampilkan sebuah email dari pihak rumah sakit. Wajahnya sangatlah kusut. Ia tak tahu harus berbuat apa. Dulu ia sangat berharap bisa mengabdi di kota-kota kecil. Tapi tidak sekarang ketika ia telah memiliki Winda di hatinya. Terlebih dengan kenyataan bahwa Winda mengidap kanker getah bening yang kini telah menginjak stadium 3B.
“Pak?” panggil seseorang. Namun tak ada jawaban darinya. “Pak Al?” sekali lagi. Namun masih sama.
Ada apa dengannya?
“Kak?” segera Al menatap gadis itu. Siapa lagi yang memanggilnya ‘Kak’ selain Winda. “Kelas 12, Kak.”
“Eh, iya! Maaf, lupa!” Winda tersenyum kecut.
“Kenapa sih?” segera ia menggeleng. “Yakin?”
“Iya, dek.” katanya sambil memberikan laptop dan bukunya kepada Winda. “Kamu duluan ya. Aku mau ke belakang sebentar.”
Ada sesuatu yang disembunyikan. Aku yakin.
Al berdiri di balkon ujung lorong lantai 3 gedung D. Tangannya dengan lincah merangkai huruf demi huruf di kolom pencarian browser di ponselnya. Dipegangnya kepalanya kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri. Kampung Digi?
Sudah hampir tiga puluh menit Al tidak muncul. Winda sudah mulai gelisah. Ia tahu ada suatu hal yang Al sembunyikan yang menyebabkannya enggan masuk ke kelas hari ini. Winda menutup laptopnya kemudian menyusuri lorong lantai 3 gedung C. Namun tak ditemuinya lelaki itu.
Akhirnya ia berjalan menuju jembatan penghubung dan sepasang matanya terpaku pada seorang pria yang berdiri di ujung lorong gedung D. Dia adalah Al, kekasihnya.
Entah mengapa kini ia menyadari ia telah jatuh terlalu dalam. Cinta yang salah yang seharusnya tak dimilikinya. Namun semakin ia berusaha melenyapkan rasa itu justru wajah pria itu semakin menghantui pikirannya. Usia yang begitu jauh dan juga penyakit yang dideritanya menjadi alasan mengapa ia selalu ingin mengakhiri hubungan yang dibangun di atas cinta itu. Selain itu profesi yang terikat pada keduanya membuatnya tidak pantas menaruh rasa dan harapan pada hubungan yang sudah lebih dari yang sewajarnya.
“Eh Winda!” katanya ketika menyadari gadis itu berdiri di belakangnya sudah cukup lama. Senyuman mereka kembali bertemu. Membuat debaran yang kuat dalam relung hatinya.
Al yang menyadari akan hal itu menatapnya lekat. Winda menundukkan kepalanya. Matanya benar-benar tak sanggup jika harus bertemu dengan tatapan mata sang guru Sastra Indonesia. Tatapan yang selalu berhasil membuatnya khilaf jikalau hubungan mereka adalah anak didik dan pengajar.
Winda mendengus kesal. Lagi-lagi kembali terdengar. Bisikan dari kawan-kawan Winda. Mungkin sebentar lagi hubungan mereka akan menjadi buah bibir di seluruh pelosok gedung sekolah. Hubungan yang selama satu tahun lebih telah tersimpan rapi kini akan segera terbongkar. Dan statusnya sebagai murid akan segera menjadi kenangan.
“Kalau ada masalah cerita, Kak.”
“Tidak, Winda.” ia menatap jam tangannya. “Aduh, maaf, saya terlambat masuk ke kelas ya?” Winda tersenyum. “Ayo masuk.”
***
haii mampir ke karyaku yu.. ENDINGKU BERSAMAMU
kisah romansa dua insan manusia
jangan lupa like, vote, rate dan komennya..
sumpah bingung
thor klw penjelasaan ceritanya beraturan bagus loh critanya...ini kesannya dipotong2 critanya pingin cpt2 selesai kah thor?
sama judulnya jg jd g pas...
ujung2nya ke sana jg
g ada ketegangan nih...tp klw itu tulang sumsum krisan, jd dia g boleh capek2 loh..