Bagaimana rasanya apabila kita bisa melihat kejadian masa lalu dan kejadian masa depan juga selalu di hantui mahluk halus yang menjadikan dirinya alat untuk balas dendam
Tiara Wulandari seorang siswa SMA mengalami keanehan pada dirinya setelah gadis itu selamat dari aksi pembunuhan yang hampir merenggut nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ⸙ᵍᵏTℹ️Tℹ️🅰️N B⃟c♏ENT🅰️RI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN 22
"Jangan pernah mengangguk dan ikut campur jika kau tak ingin binasa!" kata mahluk yang ingin masuk ke tubuh Tiara kepada ketiga hantu itu.
"Kau yang datang menganggu kami! Kau malah nyuruh kami diam" kata hantu Irma.
Siluman itu langsung mengeluarkan kekuatannya ingin memusnahkan Irma dan kawan-kawannya namun tindakannya di halangi Dimas.
Sedang Tiara masih belum bangun karena mahluk itu mengikat jiwanya dalam mimpi, Dimas yang merasa keanehan pada Tiara akhirnya mencoba membangunkan gadis itu lewat telepati namun tindakan Dimas di ketahui oleh siluman itu.
"Gadis itu sudah terikat jiwanya dan tidak ada yang bisa membangunkannya, dia milikku sekarang dan kalian pergi dari sini atau aku musnahkan!" ancam siluman itu.
Dimas tidak menjawab dia berusaha melawan dengan kemampuannya sedangkan ketiga hantu itu mencoba mengalihkan perhatian siluman itu supaya Dimas bisa menyempurnakan kekuatannya melawan siluman itu.
Tiara yang jiwanya di ikat tidak bisa bergerak namun gadis itu bisa mendengar apa yang terjadi di luar kesadarannya itu, tubuh Tiara semakin terasa sakit seakan ikatan di tubuhnya semakin kencang dan panas namun tiba-tiba seperti ada sebuah es yang menempel pada tubuhnya.
Hawa dingin itu seakan semakin dingin dan hampir membekukan tubuhnya dan perlahan ikatan tali di tubuhnya perlahan terbuka, aliran dingin itu berasal dari batu safir yang terdapat di kalung yang Tiara gunakan. Setelah ikatan di jiwanya terlepas semua Dimas masih tidak bisa bergerak karena membeku.
Dan tiba-tiba tubuh gadis itu terangkat tinggi keatas membuat siluman yang ingin menghancurkan ketiga hantu itu mengalihkan perhatiannya dan langsung mencoba menembus tubuh gadis itu.
Dimas berhasil mengumpulkan kekuatannya dan menyalurkannya ke Tiara, saat mahluk itu ingin masuk ke dalam tubuh Tiara langsung terpental kebelakang dan tiba-tiba mata Tiara Tiara terbuka.
Tiara mengerjakan kedua tangannya dan membentuk pusaran angin yang langsung menghantam siluman itu sehingga menjadi kepulan asap, Tatapan Tiara berubah menjadi tajam bahkan melihat siluman itu musnah di hadapannya matanya tidak beralih kemanapun.
Dimas mencoba menyadarkan gadis itu namun tidak bisa begitupun ketiga hantu itu terus memanggil namanya, Dimas heran dengan sikap Tiara yang seperti patung setelah melenyapkan siluman itu.
Dimas membaca mantra pemanggilan Sukma dengan membunyikan lonceng kecil yang ada di tangannya. Namun usaha Dimas sia-sia karena gadis itu masih dalam kondisi sama.
Hantu Tasya melihat sebuah buku harian di atas meja belajar milik Tiara lalu di bukanya buku itu dan tercantum nama Putri Anindita Prayoga, Tasya menebak nama asli Tiara adalah Anindita dan memberikan buku itu kepada Dimas.
"Mungkin bukan nama Tiara yang kau panggil Dimas, karena dia sudah sadar nama aslinya dan coba kau panggil dengan nama Putri Anindita Prayoga" kata hantu Tasya sambil memberikan buku harian milik Tiara.
Dimas mengulangi membaca mantra pemanggilan Sukma atas nama Anindita dan dalam waktu setengah jam tubuh gadis itu mulai terasa hangat tidak dingin seperti sebelumnya dan perlahan matanya mulai berkedip.
"Ada apa ka? Kenapa kalian terlihat panik dan pucat?" tanya Tiara kepada Dimas dan ketiga hantu cantik itu.
"Akhirnya kau bangun sayang, aku sangat khawatir melihat kau seperti patung" kata Dimas lega sambil memeluk tubuh Tiara.
"Memangnya apa yang terjadi ka? Aku hanya merasakan tubuhku seperti di ikat dengan sebuah tali besar dan erat lalu di masukan kedalam pendingin hingga tubuhku beku dan aku tidak ingat apa-apa" kata Tiara menjelaskan.
"Sukmamu di ikat oleh siluman yang ingin menguasai tubuhmu dengan kekuatannya, aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba kau menjadi sakti dan memiliki ilmu untuk menyingkirkan mahluk itu namun setelahnya kau bagaikan patung yang hanya memandang tajam tapi tidak merespon siapapun" ucap Dimas menjelaskan.
Tiara menyentuh kalung yang dipakainya dan merasakan hawa dingin seperti es, di raba kalung itu sambil memejamkan matanya dan mengharapkan dirinya melihat bayangan apapun itu mengenai dirinya juga orang tuanya.
Bayangan itu akhirnya datang dan memperlihatkan seorang pengemis yang memberikan sebuah batu safir kepada seorang pria muda.
"Gunakan batu ini untuk kau jadikan permata pada kalung dan cincin yang akan kau berikan kepada seseorang yang kau cintai, bisa istrimu bisa anakmu atau keluarga lain yang sangat kau sayangi karena batu itu akan menjaga mereka dari kekuatan jahat." kata pengemis itu dan tiba-tiba hilang dari pandangan pemuda yang menerima baru safir berwana biru itu.
Prayoga muda yang tidak mengerti maksud pengemis itu hanya bisa mengangguk kepala dan menyimpannya, saat dia ingin melamar Lastri dia teringat akan batu safir itu dan meminta sahabatnya Cahyo untuk mengantarkannya ke tukang perhiasan.
"Apa kalung ini yang membuat aku tiba-tiba beku ka?" tanya Tiara kepada Dimas.
"Kakak tidak tau Tiara, yang pasti kamu memiliki kekuatan lain sekarang semoga kekuatan itu bisa melindungi mu dari semua siluman yang ingin menguasai tubuhmu" jawab Dimas.
Tiara hanya bisa menerima penjelasan dari Dimas dan kembali tersenyum,
"berarti semalaman kakak tidak tidur ya?" kata Tiara sambil tersenyum dan di jawab anggukan kepala Dimas.
"Ya udah sekarang kakak tidur sekarang biar kakak punya tenaga lagi!" ucap gadis itu.
"Tetapi kamu janji gak akan kemana-mana tetap ada di rumah ini!" kata Dimas
"Ini rumahku ka, aku akan berkeliling di rumah ini aku kangen udah lama meninggalkan rumah masa kecilku ini ka" jawab gadis itu dan Dimas tidak mungkin mencegahnya.
karena mengantuk akhirnya pria itu tertidur di ranjang Tiara namun wanita itu beranjak kekamar orangtuanya, matahari pagi memancarkan cahayanya di seluruh ruangan itu membuat gadis itu dengan leluasa mencari apapun yang bisa di jadikan bukti masalalu orangtuanya.
Tidak ada yang Tiara temukan di kamar orangtuanya lalu gadis itu mencari kekamar lainnya dari kamar tamu sampai kamar pembantu, Tiara menemukan sepucuk surat dari balik bantal kamar pembantunya dan gadis itu membacanya.
"Tuhan apa yang harus aku lakukan, aku mendengar tuan Setya yang sedang berbicara dengan anaknya dan ingin merancanakan sebuah pembunuhan tapi aku tidak tau siapa yang ingin mereka bunuh" isi surat itu.
Tiara menyimpan bukti itu kedalam tas kecilnya lalu mencari lagi barang kali ada lagi bukti yang bisa menjerat pamannya itu, di ruang baca Tiara menemukan sebuah puntung rokok entah punya siapa dan terdapat sebuah kertas yang hampir memudar tulisannya.
Di amati tulisan itu dan perlahan di bacanya walau banyak kata yang hilang namun Tiara yakin mengerti tulisan itu.
"Tolooong keluarga ini dalam bahaya" arti tulisan itu entah siapa yang menulisnya.