Raina menelan ludah. Dia ingin kabur, tapi melihat luka lebar di perut manusia itu membuatnya mengurungkan langkah.
"Pergi, atau kau ku bunuh!" Manusia setengah hewan mengerang berat, namun Raina tahu dia menahan sakitnya.
"K-kau.. terluka. Biarkan aku menyembuhkanmu." Lanjut Raina. Walau takut, dia tetap ingin melakukan itu.
"Aku bilang, pergi, manusia sialan!" Pekiknya berang, membuat Raina lagi-lagi menelan ludah.
"Aku.. aku akan menyembuhkan lukamu... Elian."
Manusia setengah hewan itu berhenti mengerang saat namanya disebut.
"Aku punya kekuatan. Aku bisa menyembuhkan lukamu." Tangan Raina terulur. Perlahan ia mencoba menyentuh luka yang menganga di perut Elian. Namun Elian menepisnya sampai tangan Raina terluka.
Mata Elian seketika terbelalak saat luka yang ia baru goreskan di tangan Rayna langsung mengecil hingga nyaris menghilang seluruhnya.
Gadis itu memiliki kekuatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pentakdiran Darah
Malam bulan purna bersinar kebiruan. Cahayanya cukup membuat hutan sedikit lebih terang dari biasanya. Raina menatap bulan tak henti, karena malam ini akan dilaksanakannya ritual pentakdiran darah. Kini Raina mantap melakukannya setelah ia sadar, kalau Elian telah banyak membantunya.
"Ehm."
Elian berdehem. Membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Kau sudah siap?"
Raina mundur selangkah saat seekor burung elang yang sangat besar datang dari belakang Elian dan berjalan melewatinya, berdiri tepat di sisi telaga yang ada di tengah hutan.
Cahaya rembulan terpantul indah pada air yang tenang. Malam itu sunyi, karena seisi hutan tahu raja dan ratu mereka akan melangsungkan ritual suci yang tidak boleh diganggu.
"Yang Mulia..." burung elang itu kini berubah wujud menjadi manusia. Tidak benar-benar manusia, karena paruhnya masih ada. Ia mempersilakan Elian maju, untuk memulainya dengan menggoreskan pisau di jarinya agar darah pria itu keluar ia harus meneteskannya di atas bara api terlebih dahulu sebagai simbol dimulainya ritual malam itu.
Di bawah sinar bulan, Elian memposisikan tangannya di atas bara api yang dibuat oleh manusia elang. Ia menggores tangannya dengan pisau kecil, hingga darah Elian menetes di atas bara api hingga membentuk kristal kecil berwarna merah. Setelahnya, Elian berbalik, menghadap Raina.
"Yang Mulia Ratu, silakan.."
Raina mendekat, memperhatikan darah yang keluar dari ujung jari Elian. Sebelum memulainya, Raina melihat Elian. Pria itu juga tengah menatapnya. Sampai beberapa detik kemudian, barulah Raina mendekatkan jari Elian dan meminum darah dari bekas sayatan yang Elian sengaja buat.
Elian sempat bergetar saat bibir Raina terasa sangat lembut mengenai ujung jarinya. Ia sampai teringat kembali ciuman yang pernah ia lakukan di hari pernikahan. Saat itu, Elian harus mengakui bahwa seluruh tubuhnya seolah terisi banyak sekali energi dan membuat kekuatannya semakin meningkat.
Raina berhenti, dan luka di jari Elian seketika menghilang tanpa bekas. Namun tetap saja, rasa lumatan Raina di jarinya masih terasa.
Raina merasa tubuhnya mulai panas. Entah ini efek darah yang diminumnya, atau reaksi lain. Namun saat ini Raina bisa merasakan aliran darahnya terasa deras sekali.
"Yang Mulia..." Elang itu mengarahkan tangannya pada telaga Vieri. Sebuah telaga yang diyakini memiliki kekuatan tersembunyi. Telaga itu sangat luas, hampir mengelilingi bukit Sierra.
"Anda harus berendam di dalam, Yang Mulia.."
"Aku?" Raina menunjuk diri.
"Ya."
Kali ini, Raina menatap Elian. Apa berdua, atau sendiri? Sejujurnya Raina tidak berani. Dia tidak tahu ada apa di dalam telaga itu.
"Aku akan temani."
Kekhawatiran Raina ditangkap dengan baik oleh Elian. Ia membuka bajunya, bersiap untuk masuk ke dalam telaga.
Raina berdehem kecil, tak berani melihat ke arah pria yang bertelanjang dada apalagi aliran darah Raina masih panas terasa.
Raina berjalan duluan, kakinya menyentuh air telaga. Airnya sangat dingin. Namun tubuh Raina yang panas membuat air itu sangat menenangkannya.
Raina berjalan dalam air menuju ke tempat yang lebih dalam hingga tepat di bawah pantulan sinar rembulan. Ketinggian air menutupi dadanya. Raina mulai memejamkan mata lega saat panas dalam tubuhnya hilang seketika.
"Kau baik-baik saja?"
Suara Elian membuat gadis itu kembali membuka mata. Dilihatnya Elian sudah ada di sampingnya. Tinggi air yang hanya sebatas pinggang Elian memperlihatkan dengan jelas bagaimana bentuk tubuh pria itu.
"Aku.. baik-baik saja." Jawab Raina gugup. Mencoba mencari pandangan lain saat yang ia lihat sejak tadi hanyalah dada bidang lelaki itu.
Kemudian Elian mengeluarkan sebuah kalung, menunjukkannya di depan Raina. Gadis itu membulatkan mata takjub melihat bandul kristal merah yang bentuknya mirip setetes darah.
"Ini.. apa?" Tanya Raina tak ingin salah paham.
"Bukti bahwa kau telah melaksanakan pentakdiran darah."
"I-ini.. darahmu?" Tanya gadis itu.
Elian mengangguk. Lalu meminta Raina membelakanginya agar ia bisa memasangkan kalung itu.
Raina menurut. Ia juga menggulung rambutnya ke depan supaya memudahkan Elian untuk memasangnya.
Lelaki itu diam sekejap melihat leher jenjang Raina. Ia berusaha mengalihkan wajah sebentar, lalu memasangkan kalung itu ke leher istrinya.
"Siapapun pasti bisa mengenali pemiliknya jika kalung ini hilang." Ucap Elian sembari memasangkannya.
Lalu Raina berbalik. Ia sempat terkejut sesaat kalung itu bersinar beberapa detik seolah tengah menyesuaikan diri dengan pemiliknya. Raina menyentuh bandul kristal darah Elian yang ternyata sangat indah di lehernya.
Melihat senyum yang terukir di bibir Raina membuat Elian terenyuh. Gadis itu memakai kalung yang terbuat dari darahnya, dan Raina terlihat sangat menyukainya. Membuat hati Elian berdesir.
"Kau harus menyimpannya. Menyembunyikannya jika berhadapan dengan banyak orang."
Raina mendongak menatap Elian, jarinya masih setia menyentuh bandul itu. "Kenapa?"
"Karena musuh bisa langsung tahu bahwa kau adalah istriku."
Mata mereka bersitatap lama. Raina sempat merasa ada sesuatu yang aneh dalam hatinya saat Elian mengucapkan kata 'istriku' seperti itu.
"Ah, b-baiklah." Raina memasukkan bandul ke dalam baju. Saat itu, ia mendengar bermacam suara aneh dari berbagai tempat. Dan tubuhnya mulai menggigil.
"Elian, apa.. ini masih lama." Tanya Raina sedikit bergetar.
Elian menyapu sekeliling dengan pandangannya. Tidak ada siapapun selain mereka berdua. Nampaknya para makhluk sengaja menjauh dari dua orang itu.
"Sebentar lagi."
Elian menatap istrinya. Wajahnya mulai pucat, Raina sudah kedinginan. Maka Elian menarik lengan gadis itu untuk mendekat.
Raina sempat terkejut saat Elian menariknya hingga tubuh mereka sangat dekat. Dan entah apa yang membuat Elian seberani ini. Ia membuat Raina terpaksa menempelkan pipi di dada bidangnya. Namun sedetik kemudian Raina tersadar, jika tubuh Elian sama sekali tidak dingin. Justru pria itu sangat hangat.
Tubuh Elian terasa kaku sebab ia khawatir Raina menolaknya. Namun ternyata tidak. Ketegangan pria itu perlahan menghilang saat Raina mau menempelkan pipi di dadanya, juga tangan yang melingkar kaku di pinggangnya.
Elian mengukir senyum teramat tipis. Kemarin Raina sudah memeluknya terlebih dahulu, maka yang ia juga lakukan hal yang sama. Terlebih istrinya kedinginan. Elian hanya ingin membuatnya hangat melalui suhu tubuhnya.
Dan malam itu, di bawah sinar bulan purnama yang biru, sepasang pengantin baru saling berpelukan di dalam telaga yang memiliki kekuatan dan memperkuat ikatan diantara mereka.
...🦊...
Raina berjalan menuju halte setelah mengunjungi ayahnya. Malam itu, dia mampir untuk sekedar makan bersama sang ayah yang ternyata sudah mendapatkan pekerjaan baru. Katanya, Elian yang memberikannya pekerjaan di sebuah perusahaan milik lelaki itu.
Raina sampai tercengang. Dia tidak tahu kalau Elian juga punya perusahaan. Yah, walau dia beberapa kali meliat Elian memakai setelan jas, bahkan ia pernah membakar dasi Elian waktu itu. Tapi setiap pagi, Elian malah tampak bersantai, tidak terlihat seperti orang yang hendak pergi bekerja.
Pantas saja dia punya banyak uang, walau Raina bertanya-tanya bagaimana cara Elian berkomunikasi dengan orang lain. Padahal dia makhluk yang amat kaku dan cenderung suka marah-marah. Apa para karyawannya itu betah? Raina jadi ingin lihat bagaimana Elian di lingkungan manusia normal.
Elian si pemarah. Hh, heran kenapa dia bisa mengamuk hanya dengan kesalahan kecil yang dilakukan pelayan. Sampai beberapa kali Raina turun tangan karena Elian suka sekali mengerang pada pelayan yang telah banyak menolong.
Tapi kalau dipikir-pikir, malam pentakdiran darah itu menyenangkan juga. Raina sampai merasa ada yang berbeda dari dirinya. Suasana hatinya sangat baik sepanjang hari. Tubuhnya terasa begitu ringan, dan pikirannya juga sangat tenang. Tidurnya juga nyenyak, walau ada perasaan aneh dan kikuk saat berbaring bersama dengan Elian setelah pulang dari telaga malam itu.
Nampaknya Raina harus terbiasa bersentuhan fisik dengan Elian. Lagi pula tidak ada salahnya, sebab kekuatan Raina juga harus menyentuh Elian yang garang supaya menjadi lemah lembut kembali.
Memikirkannya, Raina jadi tergelak sendiri. Lucu juga, saat ia mulai menyadari bahwa hanya dengan dirinyalah Elian bisa luluh.
"Apa yang membuatmu tertawa?"
Raina tersentak kaget saat tiba-tiba Elian sudah ikut berjalan di sebelahnya. Sejak kapan? Raina bertanya dalam hatinya.
"Sejak tadi." Jawab Elian santai.
"Aku sudah bilang, akan pulang sendiri."
"Kau belum menjawabku. Kenapa tertawa sepanjang jalan?" Tanyanya penuh selidik.
"Bukan apa-apa. Kenapa tatapanmu seperti itu??" Alis Raina menyatu, berusaha mengelak dan takkan mengatakan tentang apa yang ia bayangkan sejak tadi. Untung saja Elian tidak bisa membaca isi pikirannya.
"Aku curiga, kau tengah mentertawakanku."
"Apa? Tidak, kok!"
"Perasaanku mengatakan begitu."
"Memangnya perasaan serigala bisa setajam itu?? Serigala kan, bukan makhluk yang peka!"
"Serigala itu makhluk yang peka." Sanggah Elian.
"Tidak. Aku pernah membacanya di perpustakaanmu. Justru harimaulah yang lebih peka."
Elian sampai menghentikan langkah. Bisa-bisanya Raina membandingkan dirinya dengan harimau. Dia menolak perbandingan itu dan hendak melayangkan protes.
"Katanya, harimau itu jauh lebih unggul dari serigala. Dan aku pun merasa begit..." Belum Riana selesai, ia menutup mulut karena melihat kilat amarah di mata Elian.
"A-aku cuma ba-baca, kok. Kalau kau tidak percaya, a-aku akan-"
Raina menghentikan ucapannya saat Elian menahan lengannya. Lelaki itu seperti tengah merasakan sesuatu.
"Ada apa?" Bisik Raina.
"Wah, lihat. Siapa ini?"
Elian refleks menarik Raina ke belakang tubuhnya. Membuat Marella mengangkat sebelah alisnya.
Dia menatap penuh selidik pada lelaki yang ia cintai, yang tiba-tiba saja mengenal perempuan yang ia benci.
"Sebenarnya aku merasakan ada dua energi besar yang saling bersandingan hingga kekuatannya cukup jauh bisa kurasakan. Dan ternyata..." Marella memiringkan kepala guna melihat Raina dibalik punggung Elian. Dia mulai curiga. "Sejujurnya aku penasaran, siapa yang menikah denganmu."
"Bukan aku!" Jawab Raina cepat. Dia mengintip sedikit karena takut dengan kekuatan Marella.
Wanita itu diam. Pikirannya tengah beradu. Energi yang ia rasakan, ia yakin milik Elian. Namun ada energi asing. Apa ini milik Raina? Dia tidak yakin karena selama ini tidak merasakannya saat bersama gadis itu. Lalu, kenapa Elian sampai menyembunyikan gadis itu dibalik punggungnya?
'Bisa kita pergi sekarang? Aku takut.' Raina berbicara melalui telepati dengan Elian.
'Ada aku.' Jawab pria itu.
"Aku akan pergi." Elian akhirnya menuruti Raina. Karena gadis itu terus meremas baju belakangnya.
"Apa kau sadar, Elian. Kau tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, bahkan tidak pernah menyentuh mereka." Mata Marella menyorot tajam pada sebelah tangan Elian yang ada di belakang. Marella yakin, tangan lelaki itu tengah bergenggaman dengan Raina.
Marella mulai terbakar. Dia mengeraskan rahang dan menahan diri sebelum akhirnya mengeluarkan pertanyaan untuk Elian.
"Diakah istrimu itu?"
To Be Continued...
sayang aja gak dilanjutin semangat kakk
ayo erina km bisa melewati ini...dan terimalah elian serta bantu dia tuk melewati fase itu
ih makin demen deh klo mereka romantis n saling menyayangi bgtu😍😍😍
apakah Elian menemukan cara tanpa mengorbankan Erina untuk tetap mendpatkan wujud manusianya