Bagaimana jadinya jika istri sah menjadi seorang pelakor, hanya karena ingin balas dendam pada sang suami?
Kaira wanita malang yang dibunuh dan dikubur hidup hidup oleh suaminya, kini menaruh dendam yang tak bisa di kendalikan.
Setelah pembunuhan itu terjadi, kaira masih bisa bertahan hidup karena Gina, sang sahabat yang menolongnya di waktu yang tepat.
Jika Gina tak datang mungkin Kaira sudah mati dengan perut yang ditusuk pisau dan suluruh tubuh yang tertibun tanah.
Setelah kejadian pembunuhan, Kaira kini merubah diri, ia sengaja melakukan operasi wajah dan seluruh badan agar terlihat seperti gadis pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Arip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Kamu jahat, kamu sama saja seperti si b@#$ngan Angga. "
Gunawan mencengkram kedua pipi ku, menatap tajam ke arah wajah, ia perlahan mengusap janggutnya dan berkata, " Melihat bodymu boleh juga. "
"Apa yang mau kamu lakukan?"
Tangan kekar Gunawan perlahan turun dari kedua rahangku, membuat sensasi geli dan rasa takut pada diri ini,
"Jangan."
"Kenapa, hah. Dengan Angga kamu bisa tapi denganku?"
Tangan kekar itu kini meraba pipi, membuat aku mengigitnya.
"Ahk."
"Jangan pernah sentuh aku."
"Hey, sayang. Kenapa?"
Aku memalingkan wajah, berusaha menggerakan kaki kanan. Dan Brak ….
" Ah. Kamu. "
Tersenyum sinis, " Kenapa? Sakit? Itu akibatnya jika kamu sudah berani menyentuhku."
"Kamu."
Mendekat, aku berusaha menendang perutnya. Bangkit walau tangan dan tubuhku terikat.
"Sialan, ternyata kamu jago juga. "
"Aku tidak sudi jika, tubuh ini disentuh oleh lelaki b@#$@n seperti kamu. "
Gunawan berusaha menghentikan aksiku, ia menendang kursi, sampai tubuh ini tersungkur jatuh ke atas lantai.
"LEMAH."
Brakkk ….
Satu pukulan mengenai kepala Gunawan, lelaki itu terkulai lemah di atas lantai.
"Gina."
Wanita itu mendekat ke arahku, mencoba untuk melepaskan ikatan tali. " Kamu baik baik saja kan?"
Tubuh Gina terlihat penuh luka, membuat aku meneteskan air mata, " Apa yang terjadi dengan tangan dan tubuhmu. "
"Sudah jangan kuatirkan aku. "
Gina berhasil melepaskan tali tambang yang mengikat tubuhku, terlihat dari kedua kakinya keluar darah.
"Gina."
"Ya."
Aku memegang kedua bahunya dengan bertanya, " Coba kamu katakan padaku dengan sejujur jujurnya. "
Gina menundukkan pandangan, perlahan tatapannya sayu.
"Sudah jangan pikirkan tentangku, sebaiknya kita kabur dari sini. "
Langkah Gina terlihat mengangkang, membuat aku curiga jika dia mendapatkan tindakan kekerasan.
"Ayo, cepat. "
Kami dengan sekuat tenaga berlari, menuju mobil untuk pergi dari rumah itu.
"Ahk."
Mendengar rintihan Gina, membuat aku sangat kuatir. Ia memegang perutnya, menahan rasa sakit, " Gina, biar aku saja yang menyetir. "
Para penjahat itu tak terlihat lagi, membuat kami leluasa kabur. " Ahk. "
Aku mendengar rintihan dari mulut Gina.
"Gina, kamu yang sabar ya, aku akan membawa kamu ke rumah sakit. "
Perlahan kulihat, Gina menitikkan air mata, membuat aku tak tega.
"Hey, keluar kamu. "
Gedoran para penjahat itu, membuat kedua tanganku bergetar ketakutan. " jangan takut, kamu tabrak saja mereka. "
Melihat mereka berada di depan mobil, aku berusaha tetap tenang, menyalakan mesin mobil, dan Brakkk.
Beberapa orang tergeletak di atas tanah, membuat aku melirik sekilas ke arah belakang.
"Mamp#s."
"Kamu berhasil. " Kami berdua tertawa bersama, walau aku melihat Gina kesakitan.
"Gin, kamu yang sabar ya. Aku akan membawa kamu ke rumah sakit sekarang juga. "
"Ahk."
Gina memijat perutnya berulang kali, membuat aku sangatlah panik, karena melihat darah mengalir dari atas kakinya.
"Gina, darah. "
Wajah wanita disampingku tampak begitu pucat, membuat aku benar benar tak bisa berpikir lagi.
Sampai suara kelakson mobil terdengar dari belakang.
"Sialan. Mereka mengejar lagi. "
"Ahk."
Gina kembali merigis kesakitan, membuat aku benar benar tak bisa mengendalikan diri.
"Ya Tuhan selamatkan kami. "
Mengendari mobil dengan kecepatan tinggi tak peduli dengan orang orang yang terus mengeluarkan kelakson mobilnya.
"Ka-ira. Aku be-nar ta-k ta-han lagi. "
"Gina, kamu harus betahan. "
Pikiranku benar benar kacau, melihat sahabatku terluka, entah apa yang sudah diperbuat oleh para b@#$&n itu.