Demian tidak pernah diberi tahu jika tender yang berpeluang untung milyaran itu hanya diperuntukkan bagi perusahaan-perusahaan dengan seorang Direktur yang sudah berkeluarga.
Tanpa pikir panjang, dia pun menarik Sarah, sekretarisnya, ke depan altar Gereja untuk dijadikan sebagai istri sah di detik-detik terakhir tender itu ditutup.
Sarah yang saat itu sedang mumet dengan urusan pekerjaan dan kekasihnya tidak diijinkan untuk protes dan mengelak. Dalam sekejap sebuah cincin berlian sudah melingkar di jari manisnya yang ia takutkan akan merusak semua mimpi-mimpi indahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah rumah.
Sarah menepati janjinya. Dia akan tinggal bersama Demian mulai malam ini. Keputusannya sudah bulat. Entah bagaimana bisa, dia mulai menerima kenyataan bahwa kini Demian tidak lagi hanya sekedar bosnya di kantor. Kini lebih dari itu, setelah dia mulai terbiasa dengan segala hal yang terjadi di antara mereka beberapa hari terakhir.
Sarah tidak memungkiri, setiap sentuhan Demian sudah membuatnya ketergantungan. Bahkan tidak bisa lagi dibandingkan dengan sentuhan Grasian. Sarah sendiri sudah lupa apa rasanya dicium dan dipeluk pria yang sampai sekarang masih berstatus kekasihnya itu. Sarah addicted dengan ciuman Demian, dengan manuver-manuver yang mereka lakukan setiap kali bercumbu sampai berjam-jam lamanya. Entahlah, itu cinta atau bukan, yang pasti Sarah ingin selalu dekat-dekat dengan Demian saat ini.
Mobil Demian berhenti di halaman rumah Sarah. Keduanya turun sambil bergandengan tangan. Sebelumnya pria itu sudah memastikan Sarah akan baik-baik saja jika malam ini harus bertemu kedua orangtuanya. Tadi pagi mereka tidak bertemu dengan Martin dan Yola saat akan berangkat ke kantor. Mungkin karena pertengkaran tadi malam, keduanya enggan keluar dari kamar. Sarah juga memilih untuk tidak berpamitan karena dia bingung harus bagaimana berhadapan dengan mereka.
Demian dan Sarah mengetuk ruangan kerja Martin. Salah seorang bibi memberitahu jika pria paruh baya itu tidak keluar dari ruangan itu sejak siang.
"Pa, ini Demian sama Sarah. Kita bisa masuk?" Demian bersuara pelan dari luar. Tidak berapa lama kemudian, Martin menyahut dari dalam, memberi izin keduanya untuk masuk.
Demian menggenggam jemari Sarah lebih erat saat keduanya memasuki ruangan temeram itu. Martin yang melihat kehadiran mereka langsung menghentikan pekerjaannya.
"Kenapa Demian?" tanyanya sambil melirik dari kacamata yang melorot sampai ke hidung.
"Kita mau bicara, Pa. Bisa minta waktunya sebentar?"
"Oh, silahkan silahkan. Duduk, Sar," Martin pun sepertinya tidak bisa menyembunyikan kecanggungannya terhadap Sarah. Sikapnya persis seperti sedang mendapat tamu resmi dari perusahaan lain. Sangat formal dan berhati-hati.
Demian dan Sarah duduk di sofa yang ditunjuk Martin. Sementara Martin sendiri duduk di hadapan mereka.
Ceklek ...
Pintu ruangan itu terbuka dan Yola muncul dari ambang pintu.
"Masuk, Ma," Demian memanggil ibu mertuanya itu sebelum Martin protes. Dia dan Sarah memang sebelumnya sudah meminta Yola untuk hadir di ruang kerja Martin juga.
Martin dan Yola duduk di sofa yang sama, namun saling menjaga jarak. Sarah sedari tadi tidak memandang ke arah orangtuanya. Dia hanya menunduk dan membiarkan Demian yang berbicara.
"Kenapa, Nak? Apa yang ingin kalian bicarakan?" tanya Yola membuka obrolan.
"Ehm. Iya, Ma. Mulai malam ini Sarah akan tinggal bersama Demian. Kita ingin pamit ke Mama Papa ..." jelas Demian singkat.
Yola tersenyum bahagia mendengar hal tersebut. Akhirnya putri dan menantunya maju selangkah. Tinggal bersama. Setelah ini Yola sudah bisa berangan-angan untuk menimang cucu yang banyak dari keduanya.
Martin sendiri mengangguk-angguk tanpa mengeluarkan ekspresi yang berlebihan. Namun dia sangat setuju atas keputusan kedua anak muda di hadapannya itu. Setidaknya Sarah tidak akan mendengar pertengkarannya dan Yola lagi.
"Baiklah, jika itu sudah keputusan kalian, saya mendukung. Tolong kamu jaga Sarah. Kalau ada apa-apa dengannya, saya akan minta pertanggungjawaban kamu, Demian."
"Pasti, Pa. Sarah sudah menjadi tanggungjawab saya sejak kita sah sebagai suami istri," Demian membalas dengan sopan. Dia melirik Sarah sebentar, namun gadis itu masih menunduk seperti sedia kala.
"Mama juga bahagia sekali akhirnya Sarah mau satu rumah dengan kamu. Tapi, jangan lupa tetap main ke sini ya, sekali-sekali," Yola menambahi. Meski pun dia senang Sarah mulai menerima pernikahannya, sedikit banyak wanita itu juga sedih jika harus ditinggal putrinya juga, sama seperti Yonathan. Rumah itu akan semakin sepi. Apalagi dia dan Martin masih belum akur. Dia akan sendiri lagi.
"Iya, Ma. Kita akan sering-sering berkunjung. Iya kan, Sayang?"
"Hm-m ..." Sarah hanya menggumam pelan.
Demian meremas tangan Sarah dalam genggamannya. Seakan memberi kode pada gadis itu untuk berkata-kata sedikit kepada kedua orangtuanya. Namun Sarah tetap diam. Bergeming. Demian akhirnya mengalah.
"Kalau begitu, kita ke kamar Sarah dulu ya Pa, Ma. Mau beresin barang-barang Sarah. Kebetulan besok juga kita harus ke Medan. Sudah mulai proyeknya Pak Halim."
"Oh begitu. Baiklah. Kalian hati-hati. Besok titip salam sama Halim," pesan Martin untuk yang terakhir kalinya sebelum Demian dan Sarah meninggalkan ruang kerjanya.
Sepeninggal Demian dan Sarah, Yola pun langsung meninggalkan ruangan tersebut, seperti jijik jika harus berlama-lama dengan suaminya. Dia menyusul Demian dan Sarah ke lantai atas.
Demian yang menyadari kehadiran Yola seakan mengerti untuk memberi sedikit ruang antara ibu dan anak tersebut. Dia pun keluar dari kamar itu dan memberi isyarat kepada ibu mertuanya untuk masuk.
"Sarah ..."
Sarah yang sedang sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper menoleh ke arah sumber suara. Ketika dia mendapati ibunya, ekspresinya langsung berubah lagi.
"Iya ma," jawabnya pelan namun tidak berkenan menaruh perhatian pada wanita itu. Tangannya kembali bergerak melepas gantungan baju di setiap pakaiannya.
"Mama senang kamu sudah menerima Demian ..."
Sarah tidak menjawab kata pembuka yang sudah susah-susah disusun oleh Yola. Dia masih bingung harus bersikap seperti apa di depan kedua orangtuanya setelah dia mengetahui fakta tentang masa lalu mereka.
"Kamu baik-baik ya sama Demian. Dia tipe suami gentleman. Mama percaya dia bisa menjaga kamu, Nak."
Hening ...
Yola kehabisan kosa kata. Sarah sama sekali belum mau membuka diri.
"Ya sudah, mama tinggal dulu ya? Jangan lupa bawa obat tidurnya. Biasanya kamu susah tidur kalau di tempat baru."
Yola mengalah untuk keluar. Dia mencoba mengerti posisi Sarah yang sedang kebingungan. Mungkin mereka butuh waktu untuk saling mendinginkan kepala, lalu akan membahas ini dengan cara yang benar.
Demian yang menunggu di dekat kamar seakan mengerti arti raut wajah lesu Yola. Dia pun merangkul wanita itu dan memberi tepukan ringan di pundaknya.
"Sabar ya, Ma. Sarah pasti butuh waktu. Nanti Demian akan bantu ngomong sama dia," janji Demian. Dia sangat paham bagaimana sedihnya Yola harus melepas kepergian anak gadisnya dengan situasi seperti ini. Rasanya pasti enggak enak.
"Makasih, Nak. Mama titip Sarah ya. Dia memang terlihat sangat mandiri, tapi dia sebenarnya rapuh dan kesepian. Mama hampir tidak pernah meluangkan waktu untuk bercerita dengan dia."
Demian mengangguk tanda mengerti. Tapi dia tidak mengerti jika ibu mertuanya bilang Sarah itu rapuh. Istrinya yang judes itu maksudnya? Tawa Demian dalam hati.
Setelah Yola kembali ke kamarnya, Demian masuk. Koper Sarah sebanyak tiga buah sudah berderet di sisi tempat tidur. Kini istrinya itu sedang menyortir skin care, make-up dan make-up tools yang memenuhi meja riasnya.
"Need my help, Honey? " Demian memeluk pinggang Sarah dari belakang dengan mesra. Suaranya sengaja dibuat berbisik dan itu dilakukannya persis di dekat telinga Sarah.
"Hm ... belum. Kau tunggu di kasur saja. Jangan mengganggu."
"Kasur? Kasur itu bukan tempat untuk menunggu, Sayang. Itu tempat melakukan aktivitas yang menyenangkan."
Sarah membiarkan Demian menciumi lehernya. Dia memang sedang membutuhkan itu untuk menghilangkan rasa bersalahnya pada Yola.
"Nanti sampai rumah, mau ngapain?"
"Terserah tuan rumahnya aja," jawab Sarah santai sambil tersenyum.
"Baiklah. Aku sudah punya sejumlah list. Kau harus siap-siap bergadang lagi, Sayang."
"Aw! Sakit Demian!" Sarah kaget saat Demian menggigit leher kirinya dan itu cukup keras. Pria itu terkekeh.
"Sar, i really-really have no idea kalau jauh darimu."
Demian memang rajanya gombal. Tapi kalau pun itu gombal, selalu saja berhasil membuat mood Sarah berubah menjadi baik. Dia merasakan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya. Darahnya pun seakan naik sampai ke ubun-ubun dan membuat pipinya merah merona.
"Of course you know. Palingan asmamu kambuh," ejek Sarah sambil mendorong pria itu dari punggungnya.
*****