Perjalanan Rumah tangga yang harus kandas. Karena Fitnah dan rekayasa dari seorang Ibu mertua. Yang ternyata diam-diam tak menyukai sang menantu. hingga suatu peristiwa membuat Bagas menjatuhkan talak kepada istrinya.
"Baiklah Mas. Ternyata tiga tahun kita bersama, tidak membuat mas percaya. Mas hanya percaya apa yang terlihat oleh mata, tapi tidak mencari tahu kebenarannya dulu. Selama tiga tahun ternyata kesetiaanku kau ragukan, tanyakan pada hatimu Mas. Apa Aku sanggup mengkhianatimu, tapi itu semua percuma. Cintamu ternyata tak sebesar cintaku,tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya,selamat tinggal Mas."
Itulah kata terakhir yang Ratih ucapkan sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Kini penyesalanku tak berguna, besarnya rasa sesalku tak akan membuat Ratihku kembali!" Jeritan hati Bagas. Kesalahpahaman yang terjadi antara Ratih dan Bagas,disebabkan oleh ibu dari Bagas.
Mampukah Bagas membawa kembali Ratih dalam hidupnya? Dan bagaimana kisah rumah tangga Bagas dan Ratih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naraaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Rayden Dilema
"Neng Ratih…!" teriak Bi Sumi seraya menghampiri Ratih yang tak sadarkan diri.
"Tolong bantu saya mengamankan mereka. Ratih akan menjadi tanggung jawab saya," ucap Rayden kepada Anggota Ratih yang tampak cemas melihat pemimpinnya tak berdaya.
"Baik. Kami menyerahkan keselamatannya kepada Anda," ucap Lelaki kepercayaan Ratih.
Setelah anggota Ratih berhasil mengamankan semua komplotan Rasya, dan Rasya sendiri. Rayden segera meminta bantuan kepada pihak kepolisian untuk mengamankan mereka semua dan membawanya ke kantor polisi.
Tak menunggu lama, Rayden mengangkat tubuh Ratih dalam gendongan, dan membawanya keluar dari gedung tua itu, menuju mobil Ratih yang terparkir di sana.
"Tolong buka pintu belakang, Bi," ucap Rayden di tengah ia menggendong Ratih.
Setelah meletakkan tubuh Ratih di dalam mobil, Rayden keluar kembali. Meminta salah seorang dari Anggota Ratih membawa pulang mobilnya. Karena ia yang akan mengendarai mobil Ratih menuju rumah sakit.
"Tolong bawa mobil itu pulang, karena saya yang akan mengemudikan mobil bos kalian," ujar Rayden.
"Baiklah, Anda tenang saja. Mobil Anda aman bersama kami." lelaki berkepala plontos itu menyakinkan Rayden.
Setelah semuanya selesai dan terkendali, dan polisi sudah berada ditempat kejadian, dan mengamankan Anggota Rasya. Rayden tak membuang waktu lagi, ia segera melajukan mobil Ratih menuju rumah sakit. Namun ditengah jalan, Ratih sadar dari pingsannya dan meminta agar Rayden membawanya pulang ke rumah saja.
"Tidak perlu membawaku ke rumah sakit. Saya baik-baik saja," ucap Ratih
"Tapi…,"
"Aku baik-baik saja. Jangan banyak bicara." Tegas Ratih yang sudah memperbaiki posisinya menjadi duduk.
"Bagaimana keadaan Bi Sumi? Apa mereka melukai Bibi?" tanya Ratih yang tampak mencemaskan wanita paruh baya itu.
"Bibi Baik-baik saja, Neng. Terimakasih sudah mau datang menolong Bibi dari para penculik itu," Bi Sumi memeluk erat majikan perempuannya.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab Ratih, Bi. Dan Ratih senang karena Bibi baik-baik saja." Ratih tersenyum tulus.
"Lain kali, jika ingin berpergian kemanapun Bibi hanya boleh pergi denganku tidak dengan siapapun," tegas Ratih.
"Iya Bibi akan ingat ucapan Neng Ratih."
Keduanya tampak bercengkrama dengan hangat di dalam mobil yang dikemudikan oleh Rayden. Sedangkan Rayden, hanya bisa menjadi pendengar dari obrolan kedua wanita beda generasi itu.
"Terimakasih Den Rayden karena mau menolong Neng Ratih," ucap Bi Sumi setelah mereka sudah sampai di rumah Ratih.
"Sama-sama Bi," Rayden tampak melirik ke arah Ratih, dan itu membuat Bi Sumi mengerti jika ada yang ingin disampaikan oleh Rayden kepada Ratih.
"Baiklah, Neng Ratih, Den Rayden. Bibi masuk duluan ya." Bi Sumi segera masuk kedalam rumah tanpa menunggu tanggapan dari Ratih atau Rayden.
"Tunggu!" Rayden mencekal pergelangan tangan Ratih, " Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Rayden masih dengan cekalan tangannya.
"Katakanlah! Tapi, lepaskan pergelangan tanganku." Ratih melirik pergelangan tangannya.
"Bisa kau tinggalkan dunia gelap itu?" tanya Rayden. Yang masih berada di depan rumah Ratih.
"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkannya, karena di sana aku tumbuh dan dibesarkan dengan didikan keras oleh mereka. Jika kamu tidak menyukai aku berada di sana, aku tidak peduli penilaianmu, aku akan tetap berada di tempat itu." Ratih melangkah hendak masuk kedalam rumah. Lagi-lagi tangan Ratih di cekal oleh Rayden.
"Jika kamu masih berada di tempat itu, jangan salahkan aku jika sewaktu-waktu pihak kepolisian menangkap semua Anggotamu, dan juga dirimu. Aku punya bukti kejahatanmu, kamu adalah orang yang melenyapkan 4 orang 3 minggu yang lalu." Rayden menatap mata Ratih dengan tajam.
"Apa kamu sedang mengancamku, Rayden. Jika ia, maka itu percuma saja. Karena aku tidak takut dengan ancamanmu, lakukan apa yang menurutmu benar Rayden, akupun akan melakukan yang menurutku benar. Jika tindakanku melanggar hukum negara ini, maka tegakkan hukum yang kau punya, sama halnya denganmu aku akan menegakkan hukum yang kupunya. Melenyapkan seseorang yang memang pantas untuk itu. Ingat satu hal, kamu tidak bisa menangkapku dengan mudah." Ratih tersenyum licik sebelum melangkah masuk kedalam rumahnya.
Sepeninggalan Ratih, Rayden masih tetap berdiri di tempatnya. Menatap pintu rumah Ratih yang sudah tertutup rapat. Kali ini, Rayden benar benar dalam dilema besar, ia harus dihadapkan oleh situasi sulit. Karena sebelum ia tahu Ratih berasal dari kelompok Black Dragon, atasannya sudah meminta dirinya menyelidiki kelompok itu. Yang ternyata diketuai oleh Ratih, orang yang membuatnya jatuh cinta.
Dengan langkah lesu, Rayden melangkah menuju rumahnya, yang kebetulan berseberangan dengan rumah Ratih. Beruntung saat masuk kedalam rumah, Bu Nuri sudah tertidur pulas di dalam kamarnya, sehingga Rayden tidak harus menjawab berbagai pertanyaan dari sang Ibu, kenapa ia pulang selarut ini, padahal di luar tugas malamnya.
Black Dragon adalah sebuah organisasi atau kelompok yang sering disewa oleh seseorang untuk melakukan misi rahasia, dan juga sebagai pembunuh bayaran, dari pihak tertentu. Sedangkan Ratih kembali aktif dalam organisasi itu, setelah ia sempat vakum sejak menikah dengan Bagas. Namun organisasi itu tetap terorganisir walau saat itu Ratih tidak dalam bagian kelompok sementara waktu. Kelompok Black Dragon dibentuk oleh sang Kakak yang sudah lebih dulu meninggal dunia karena kecelakaan. Dan sekarang Ratih yang mengambil alih karena ia sudah dididik di sana sejak masih remaja. Sejak kejadian yang melibatkan kelompok Naga Merah, kelompok yang merupakan musuh besar Ratih, maka Ratih saat itu memutuskan kembali aktif dalam kelompoknya yang memang di ketuai olehnya.
Keesokan harinya, Rayden sudah tampak rapi dengan baju seragam kebanggaanya. Namun ada yang berbeda kali ini dengan pemuda gagah itu, ia tampak tak bersemangat untuk berangkat ke kantor sebab yang menjadi tugasnya adalah menyelidiki kelompok Black Dragon. Dilema itulah yang dirasakan saat ini, antara tugas negara dan cintanya.
Sedangkan di kediaman Ratih, pagi-pagi ia juga sudah tampak rapi karena hari ini, Ratih akan menjalani sidang kedua perceraiannya. Sejenak ia melupakan masalahnya dengan Rayden. Setelah memastikan penampilannya rapi, Ratih beranjak turun ke bawah menemui Bi Sumi yang tampak sibuk dengan tugasnya.
"Bi, tolong temani aku ke pengadilan hari ini, bisakan?" tanya Ratih.
"Bisa dong. Tunggu sebentar Bibi ganti baju dulu, Bi sumi hendak melangkah menuju kamarnya, namun suara Ratih membuatnya berhenti.
"Tunggu, Bi. Bibi pakai pakaian ini, dan semua perintilannya. Ratih mau Bibi tampil memukau dengan semua itu, agar mantan mertuaku, kepanasan melihat penampilan Bi Sumi." Ratih mengulurkan paper bag kepada Bi Sumi disertai senyuman jahilnya.
"Ya ampun, si Neng. Kumat deh jahilnya." Bi sumi mengambil paper bag itu dengan senyuman manis.
"Cepetan Bi, Ratih nggak sabar mau liat mantan mertuaku seperti cacing kepanasan." Ratih semakin melebarkan senyumnya.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya Bi Sumi keluar dari dalam kamarnya menemui Ratih yang sudah menunggunya.
"Wow… Bi Sumi sudah seperti Ibu-ibu sosialita. Perfect!" Ratih begitu senang dengan penampilan Bi Sumi. .
"Ayo Bi, kita berangkat!" Ratih menggandeng tangan wanita paruh baya itu, menuju mobilnya yang terparkir rapi di depan rumahnya.
Ratih dengan Riang mengendarai mobilnya, menuju pengadilan agama. karena 1 jam lagi sidang keduanya akan dimulai. Sebelum berangkat ke pengadilan tadi, ternyata seseorang tengah memperhatikan Ratih dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Rayden tetangganya sendiri.
Saat mobilnya memasuki parkiran pengadilan, senyuman lebar tampak tersungging di bibirnya yang indah. Di sana Ratih melihat keluarga mantan suaminya baru saja sampai.
"Bi, saatnya drama dimulai. Kita keluar sekarang tapi, bersikaplah tidak melihat mereka Bi." Ratih menunjuk keluarga mantan suaminya yang tidak terlalu jauh dari tempatnya memarkirkan mobil.
"Oke, Bibi mengerti."
"Bagus, Bi." Ratih membuka pintu mobilnya, begitupun dengan Bi Sumi saat keduanya melihat Keluarga Bagas sudah mulai mendekat.
Saat Ratih dan Bi Sumi keluar dari dalam mobil. Bu Mira yang memang begitu dekat dengan Ratih , sontak menghentikan langkahnya karena perhatiannya tertuju dengan Ratih dan Bi sumi.
"Apa kabar Ratih?" tanya Bu Mira menghampiri keduanya.
"Baik, Bu Mira," Jawab Ratih.
"Bagaimana keadaan cucu Ibu?" tanya Bu Mira seraya mengelus perut Ratih. Namun pandangannya mengarah kepada Bi Sumi.
"Baik, terimakasih perhatiannya. Tapi, itu tidak perlu." Ratih melangkah menghampiri Bi Sumi dan menggandeng tangannya masuk ke pengadilan.
"Tunggu, Ratih. Boleh Mas bicara kepadamu, sebentar saja," mohon Bagas.
"Baiklah," Ratih melepas gandengannya, kepada Bi sumi dan pamit untuk berbicara dengan Bagas.
Sepeninggalan Ratih, Bi Sumi lantas melangkah menuju salah satu kursi yang tak jauh darinya, duduk di sana seraya menunggu Ratih.
"Pasti Ratih kan. Yang memberikan semua perhiasan dan pakaian yang kau gunakan?" tanya Bu Mira sarkas entah sejak kapan dia sudah berada di dekat Bi Sumi.
"Iya, Neng Ratih yang memberikan semua ini kepadaku. Kenapa Bu Mira?" tanya Bi Sumi.
"Kamu itu tidak pantas mengenakan semua ini, perhiasan dan semua yang kau kenakan hanya cocok untukku, bukan untukmu wanita miskin." Sarkas Bu Mira.
Bi Sumi tersenyum dan berdiri dari duduknya, " Cocok atau tidaknya saya mengenakan semua ini, itu tidak penting buat saya apalagi itu penilaian dari Anda. Saya mengenakan semua barang-barang ini karena pemberian Ratih, dan saya nyaman dengan semua ini. Jadi, kenapa Anda seperti keberatan dengan pemberian Neng Ratih, atau Anda sedang iri karena semua ini?" tanya Bi Sumi seraya membalas tatapan mata Bu Mira.
"Kurang ajar!" Bu Mira melayangkan tangannya ingin menampar Bi Sumi. Namun, seseorang tiba-tiba mencekal pergelangan tangan Bu Mira.
"Apa yang ingin Anda lakukan, dengan Bi Sumi?" tanya Ratih dengan penuh penekanan.
"Dia sudah menghina saya, Ratih. Kamu pecat saja pembantu ini." Bu Mira berbohong.
"Aku rasa Anda sedang berbohong, karena tidak mungkin Bi Sumi menghina Anda, karena aku mengenalnya luar dalam. Terlepas apa yang membuat Anda marah kepada Bi Sumi, saya tekankan jangan sekali-kali menyakitinya. karena jika itu terjadi, Anda akan menerima balasan lebih menyakitkan," ucap Ratih seraya melangkah mendekat ke arah Bu Mira dan berbisik, " Seperti yang aku lakukan kepada orang suruhanmu, membuatnya menderita dengan mencabut paksa k*k* jarinya." Ratih tersenyum smirk seraya berlalu pergi meninggalkan Bu Mira yang terdiam membeku.
"kurang ajar! Ternyata dia bukan orang sembarangan, kau membuatku dalam masalah, Mira!" teriak lelaki paruh baya itu.
good Author