NovelToon NovelToon
Satu Malam Bersama CEO Arogan

Satu Malam Bersama CEO Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Yatim Piatu / One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama
Popularitas:847.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rifani

(Spin of Love Story: Gabrielle & Eleanor)

Karl Wufien Ma, menjalani hidup penuh kutukan akibat menanggung karma dari perbuatan sang nenek di masa lalu. Konon, kutukan tersebut baru bisa dihilangkan jika Karl menikahi seorang gadis yang mempunyai tanda lahir bulan sabit di bahunya.

Nun jauh di sana, Ilona, seorang gadis muda yang miskim dan menderita, tertatih mencari pekerjaan demi mendapatkan sesuap nasi. Hidup yang selalunya sial tanpa sengaja mengantarkan Ilona pada satu tempat yang membuat hidupnya berubah drastis.

Satu malam bersama seorang pria asing menghantarkan Ilona pada kehidupan yang sangat berbeda. Niatnya yang ingin memberikan pertolongan, malah berakhir tragis dengan dia membagi kenikmatan bersama seorang pria cabul yang adalah seorang bos besar.

Mungkinkah Ilona adalah gadis yang bisa mematahkan kutukan karma di hidup Karl? Akankah Ilona bersedia menikah dengan Karl jika hal tersebut sampai terbukti benar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Genderang Perang

Sreeett

Gigi Karl saling menggeretak saat kakinya tak sengaja terpeleset. Seumur-umur dia berada Group Ma, baru sekali ini ada karyawan yang pekerjaannya tidak beres. Karl heran sebenarnya manusia bodoh mana yang membiarkan lantai dalam keadaan basah begini. Huh.

"Oh, maaf. Saya lupa memberitahu kalau lantai ini baru saja di pel!" ucap Ilona dengan santainya meminta maaf. Dari rumah Ilona telah mengatur rencana untuk melanjutkan balas dendam. Jadilah dia dengan sengaja membasahi lantai tepat di depan pintu ruangan pria ini dengan harapan orangnya akan jatuh karena.

(Kenapa bokongnya tidak mencium lantai sih. Jadi tidak seru!)

"Kau lagi kau lagi. Bisa kerja tidak?" sentak Karl penuh emosi begitu mengetahui kalau Ilona adalah dalangnya.

"Tentu saja saya sangat bisa bekerja, Tuan. Kalau tidak, Tuan Andreas mana mungkin mempekerjakan saya di sini."

"Bisa kerja apanya. Mengepel saja kau tidak becus. Mulai besok kau ....

Ucapan Karl terjeda. Tiba-tiba saja dia teringat dengan perkataan Andreas yang menyebut kalau Ilona sampai dipecat, maka perusahaan akan kembali terlihat kotor.

(Apa-apaan ini. Bagaimana bisa aku jadi tergantung pada kinerja seorang gadis. Jelas-jelas Group Ma sangat mampu untuk merekrut seribu orang sekalipun yang jauh lebih kompeten ketimbang gadis ini. Tetapi kenapa aku berat untuk memecatnya? Brengsek!)

"Mulai besok apa, Tuan?" ejek Ilona pura-pura tak tahu lanjutan dari perkataan bos nya.

"Ekhmmm! Sudah sana lanjutkan pekerjaanmu. Harus yang bersih dan rapi. Tahu kau!" geram Karl menahan kesal.

"Baiklah. Kalau begitu saya permisi."

Braakkkk

"Yakkkkk!" teriak Karl murka saat Ilona dengan sengaja menabrakkan kereta pembawa alat kebersihan hingga mengenai kakinya. Sungguh, gadis ini sudah kelewat batas. Tangan Karl jadi gatal ingin membenturkan kepalanya ke dinding.

"Tidak baik seorang bos meneriaki pegawainya seperti itu. Apa kata orang jika sampai melihatnya? Memangnya Anda mau dicap sebagai bos pembully?"

"Apa maumu, hah!"

"Saya tidak menginginkan apa-apa, Tuan. Kan tadi Anda meminta saya untuk lanjut bekerja. Kenapa malah mengamuk?" Ilona menyeringai tipis. Dalam hati dia tengah menertawakan perbuatannya sendiri.

"Tentu saja aku akan mengamuk setelah apa yang kau lakukan barusan. Kau sengaja ya menabrak kakiku?!"

"Benarkah saya melakukan itu?"

Ubun-ubun Karl bagai mengeluarkan asap mendengar ucapan Ilona yang berlagak tidak tahu apa-apa. Tak mau lepas kendali, Karl memilih untuk langsung masuk ke dalam ruangannya. Ini masih pagi, tapi emosinya sudah dipancing dengan terang-terangan oleh Ilona. Karl jadi semakin bingung mengapa gadis itu seperti tak merasa takut sedikitpun kepadanya. Apa karena terlahir miskin sehingga tidak merasa khawatir akan nyawanya? Heran.

"Hih, baru begitu saja sudah merajuk. Kau lihat saja ya pria sinting. Balas dendamku tidak akan berakhir sampai di sini saja. Entah hari ini atau besok, aku masih akan memberikan kejutan untukmu. Siap-siap saja!" gumam Ilona sambil menatap tajam ke arah ruangan tempat pria itu berada.

Elil yang berniat menyusul Ilona tampak berdiri kaku saat melihatnya sedang bertengkar dengan atasan mereka. Dia benar-benar tak habis pikir dengan gadis itu. Bisa-bisanya menabuh genderang perang dengan konglomerat kaya. Apa tidak takut dijadikan tumbal proyek?

"Hei, siapa kau?"

"Aku? Siapa?" Elil tergagap. Dia lalu menelan ludah saat mendapati ada seorang pria tampan tengah menatapnya intens. "Aku siapa?"

"Ck, Nona. Yang bertanya duluan itu aku. Kenapa kau jadi bertanya-tanya sendiri tentang siapa dirimu? Aneh," ucap Cio sambil berdecak heran melihat kelakuan gadis di hadapannya.

"Oh, aku ya? Emm aku Elil. Aku ....

"Apa kau sedang menguntit?"

"Hah?"

(Siapa sih gadis bodoh ini)

"Elil, apa yang sedang kau lakukan di sana?" tanya Ilona sambil berjalan menghampiri temannya yang seperti sedang bicara dengan seseorang. Dia khawatir gadis bodoh ini dibully lagi.

"Na, tolong aku," sahut Elil panik dirinya dituduh penguntit.

"Kau kenapa memangnya?"

Segera Ilona melongokkan kepala untuk melihat siapa yang tengah membully Elil. Dan begitu melihat pelakunya, sebelah alis Ilona langsung terangkat ke atas. Seorang pria tampan dengan stelan jas rapi tengah memandangi mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Oh, jadi kalian karyawan kebersihan di perusahaan ini ya?" ucap Cio setelah melihat tag nama di seragam gadis yang baru saja muncul.

"Iya, Tuan. Kami baru beberapa hari bekerja di sini," sahut Ilona berusaha sopan. Ekor matanya kemudian melirik Elil yang tengah menundukkan kepala sambil memainkan ujung baju. "Maaf, kalau boleh tahu apa yang sudah Anda lakukan kepada teman saya? Apa Anda membullynya?"

"Membullynya?" Cio tergelak. "Kau kira aku sekurang kerjaan itu apa sampai membully temanmu. Sembarangan!"

"Oh, maaf kalau begitu. Saya kira Anda membullynya. Teman saya ini sangat bodoh dan lambat berpikir. Dia akan bersikap seperti ini jika sedang takut."

"Begitukah?"

"Ya. Jadi ... apa yang telah Anda lakukan padanya?"

"Nona, aku ....

"Abaikan mereka. Mana berkas yang dimaksud oleh Bern?"

Karena Cio tak kunjung masuk ke ruangannya, Karl akhirnya memutuskan untuk menyusul keluar. Dan betapa kesalnya dia saat mendapati sepupunya yang tengah asik mengobrol dengan Ilona, karyawan paling kurang ajar yang pernah Karl pekerjakan.

"Wehhh, santai, Bung. Jangan emosi," ucap Cio sembari mengangkat sebuah berkas di tangannya. "Barangmu ada di sini. Aman!"

"Bawa kemari!"

"Baiklah."

Sebelum berbalik pergi, pandangan Karl tak sengaja beradu dengan pandangan Ilona. Untuk seperkian detik dia sempat terpana. Bukan karena terpesona, melainkan terkejut melihat cara gadis itu menatapnya. Ilona bagai tengah mengincar mangsa. Tatapannya begitu galak dan juga liar. Astaga.

(Ada apa dengan gadis itu? Mengapa tatapannya seolah menunjukkan kalau aku adalah musuhnya. Aneh. Kenapa ya?)

"Ekhmmm, kalau mau curi-curi pandang itu janganlah seterus-terang ini, Karl. Kalian kan jadi ketahuan!" ledek Cio mencium bau-bau orang jatuh cinta. Hehe.

"Bicaralah sekali lagi. Aku bersumpah akan langsung merobek mulutmu!" tukas Karl jengkel.

"Hehehe, baiklah. Kalau begitu ayo masuk ke ruanganmu. Kau butuh berkas ini 'bukan?"

Bibir Ilona tampak berkomat-kamit saat ekor matanya kembali beradu pandang dengan atasannya. Sedetik setelah itu dia tersenyum, tak membiarkan pria itu tahu kalau dirinya menyimpan dendam kesumat.

"Na, ayo kita ....

"Berisik! Ikut aku!"

"Emm baiklah."

Jika Elil merasa tertekan akan sikap galak Ilona, di dalam ruangan Karl ada Cio yang tak henti mengoloknya. Hal itu membuat Karl kesal setengah mati, tapi dia seperti tak menemukan alasan untuk berkilah.

"Gadis itu lumayan cantik juga, tapi sayang sudah tidak perawan. Apa kalian sudah pernah tidur bersama?"

Glukkk

(Tidur bersama? Kenapa jantungku langsung berdebar mendengar kata ini? Aku dan Ilona kan tidak saling kenal. Mengapa rasanya jadi aneh?)

***

1
Mulya Dewi
🤣🤣🙈🙈🙈
Mulya Dewi
akhirnya hutang karma lunas ya??
Mulya Dewi
astagaaa🤣🤣🤣🙈🙈
Mulya Dewi
🤣🤣🤣🤣🤭iloonnaa🤣🤣🤣
Mulya Dewi
🤣🤣
Fahmi Ardiansyah
tpi sampai skrg gak up2 kelanjutannya mak
Fahmi Ardiansyah
,yg di bilng bibi cantik itu pasti liona.
Fahmi Ardiansyah
ya Alloh tong setan nama apaan itu Ilona.
nia maryana
Nanti calon Karl melamar jadi OG
Laili Dwi Agustina
paling suka sama karakternya Bern gentleman banget...serasi dengan tenaga yang kalem😍
𝓙𝑬𝓜𝑨ѕ⍣⃝✰zc❖: Halo sahabat pembaca ✨
‎Aku baru merilis cerita terbaru berjudul BUKAN BERONDONG BIASA
‎Bercerita tentang Lucyana yang dikhianati oleh masa lalu, lalu terjebak dalam pernikahan mendadak dengan Sadewa—seseorang yang jauh lebih muda dengan luka sendiri yang membuatnya trauma.
‎Bisakah keduanya bertahan? Ataukah cinta mereka akan menyerah pada masa lalu yang menghantui?
‎Mampir, ya… siapa tahu kamu ikut jatuh hati pada perjalanan mereka.
‎Dukung dengan like ❤️ & komentar 🤗, karena setiap dukunganmu berarti sekali buatku. Terimakasih💕
total 1 replies
nia maryana
Lnjut baca thor
nia maryana
Saya baru baca thor.. Cerita sebelumnya apa thor judulnya
Laili Dwi Agustina: novel kedua love story Gabrielle & Eleanor
total 3 replies
Fahmi Ardiansyah
hahahaha lucu banget siih Justin kamu
Fahmi Ardiansyah
bisa bentar LG kmu akan jadi org terkaya n di segani bahkan di takuti semua org Ilona
nia maryana
Tanggung jawab Karl... 🤭
nia maryana
Selanjutnya gimana thor itu🤣
nia maryana
Terjebak deh dua duanya🤣
Daniel Simamora
ini cerita dah tamat kah?
kok belum ada lanjutannya? seperti cerita lainnya yang dibiarkan menggantung
nia maryana
Mulut karyawan sangat tidak sopan
nia maryana
Mulai baca thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!