PERINGATAN!!!
Sebelum membaca, siapkanlah hati kalian seperti judul novel ini 'Seluas Samudera'. Karena kalian akan dibuat jengkel setengah mati. Jika kalian tidak siap, lebih baik mundur!
----------
Novel ini mengangkat kisah tentang seorang
Kapten pasukan khusus Angkatan Laut. Yang jatuh cinta dengan anak Komandan-nya. Mereka bertemu di rumah sakit tanpa tahu satu sama yang lain. Saat sang Kapten tertembak, dan sebagai perawat wanita itu merawatnya. Namun sayang, karena ada sesuatu hal. Sang Kapten secara sepihak memutuskan jalinan asmara diantara mereka.
Memang kalau telah dijelaskan, aku mau lepas darinya? Tentu, tidak! Aku tidak mau Dia sudah buat aku begini, malah meninggalkanku. Itu gak boleh! Oh! Aku tahu caranya biar dia bisa balik lagi bersamaku. Ya! Akan kucoba.
-Dewi Abarwati-
Dia berharap ada kata maaf dulu dari Dewi, sebelum dia merubah status hubungan mereka menjadi sepasang kekasih kembali.
-Krisanto-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22 Judulnya Sakit
“Abang...,” seru Dena dan Ria berlari kecil. Dewi berjalan sayu mengikuti. Nggak luput si pelayan pun mengikuti.
“Kenapa kalian bisa ada di sini?” tanya Kris.
“Di suruh Mamak, ajak Kak Dewi makan di luar,” terang Dena.
“Hai Wi,” sapa Rena.
“Hai.”
“Ini, Kak Rena ya?” sapa Ria, masih ingat tamu Dewi tadi pagi. Dia tahu namanya dari mamaknya.
“Iya.”
“Kenalin nih Kak, ini teman Kak Dewi. Tadi pagi main ke rumah kita,” ujar Ria ke Dena.
“Oh! Hallo Kak, aku Dena.” Dena mengulurkan tangan.
“Hallo..." Rena balas menjabat tangan.
“Ayo, ayo, duduk,” ajak Kris.
"Bang, kita duduk di sini aja bisa, 'kan?" pinta Dena ke pelayan.
"Bisa. Sebentar saya tambahkan meja dan kursi."
Karena meja Rena dan Kris hanya untuk 4 orang. Setelah disiapkan, mereka duduk. Sang pelayan menyodorkan buku menu. Menariknya tadi saat mau menempatkan pantat, Dewi mengambil posisi tak mau di sebelah Kris. Rena melihat hal itu. Jujur, lewat kejadian ini dia luar biasa senang sekali. Seperti memukul nyamuk dua didapat. Hari kemenangan besar untuknya. Dua kali telak Dewi sakit hati padanya.
"Pesan apa, Kak?” tanya Dena ke Dewi.
Sungguh dia tidak ada selera. Hari ini dia seperti kehujanan batu bertubi-tubi.
“Ha?” balas Dewi nggak fokus.
“Kakak mau makan apa?” ulang Dena.
“Ikut kalian saja deh.”
Dena menyebut nama makanan dan minuman. Namun Ria tidak mengikuti, dia memesan yang berbeda. Selepas pelayan pergi, Ria bertanya. Karena dlihatnya hanya ada minuman di meja. Sebenarnya bukan itu tujuannya. Itu hanya untuk memulai arahnya saja.
“Abang dan Kak Rena sudah makan ya?”
“Sudah." Dua orang itu menjawab bebarengan.
“Berarti Abang dan Kak Rena sudah lama ya di sini?”
“Abang ada urusan dengan Kak Rena. Jadi tak bisa ajak Kak Dewi,” jelas Kris tahu arah bicara adiknya kemana.
Yah... tentu saja, sangat mengherankan. Sangat aneh Dewi tidak diajak. Biar Dewi mantan kekasih abangnya. Tapi kan Rena teman Dewi.
“Oo... Pantas Kak Dewi tak diajak," gumam Ria.
“Kemarin juga kami ketemu. Usai urusan kami selesai, kami mampir makan mie gomak,” info Rena. Intinya sebenarnya untuk menambah sakit hati rekan kerjanya.
Ria dan Dena saling lihat-lihatan. Rupanya Dena pun punya pemikiran yang sama. Mereka bukan anak kecil lagi sudah cukup umur untuk berpikir.
“Oo... Gitu,” respon Ria dan Dena.
Dewi? Sibuk melihat lembar perlembar di buku menu. Sebelum pelayan itu pergi, dia meminta yang punyanya ditinggal. Dia telah menduga akan terjadi percakapan yang gak enak didengarnya. Makanya dia butuh pengalihan. Namun tak bisa dipungkiri, kupingnya panas dengar hal itu.
Jadi, 2 hari ini Kris pulang malam jalan dengan Rena? Kris gak bisa menyediakan waktu dengannya, dengan Rena bisa? Sungguh, bodohnya dia terharu sendiri atas ajakan Kris mengajak dia sarapan tadi.
Tak lama makanan tiba. Lekas disajikan pelayan di meja sesuai pesanan masing-masing. Usai tersaji semua, pelayan itu pergi.
“Ayo makan,” tutur Kris.
Sumpah! Dia benar-benar nggak bisa. Ini terlalu perih... Ledakan air matanya susah ditahannya lagi. Sepertinya dia harus permisi dulu untuk menguras sebentar air matanya. Dewi berdiri.
“Aku ke toilet sebentar.”
Rena melirik. Rupanya rubah ini mau terus menyiksa temannya itu. Hari ini harus jadi tripple attack baginya. Rena turut berdiri.
“Aku juga mau ke toilet."
Di sana, Dewi menyalakan keran, menundukkan kepala, menumpahkan air matanya. Sesudahnya, dia membasuh mukanya berkali-kali. Berharap kesegaran air dapat menghentikan tangisnya.
“Owh, sudah gue duga.”
Seketika Dewi menoleh, tanpa disadarinya Rena telah berdiri di sebelahnya.
“Ngapain elo ngikutin gue?”
“Kalau mau bicara, dihapus dulu dong Wi air matanya,” ejek Rena.
Dewi tidak peduli dengan tampangnya, toh Rena sudah lihat.
“Langsung aja, Ren.”
“Sakit ya, Wi?” Rena mensedekap kedua tangannya.
“Terus, elo merasa ini bakal jadi kemenangan besar buat elo?”
“Mm... Belum sih. Tapi gue hanya mau mengingatkan saja. ini, masih belum seberapa. Jadi, dari sekarang elo harus belajar mengontrol emosi elo. Yah... Memang pertama shock sih! Kan sebelumnya elo gak pernah lihat gue berduaan sama Bang Kris. Pasti gimana gitu... Ditambah lagi, saat ini yang elo lihat, gue dan Bang Kris dinner di restoran romantis." Berpaling, berjalan pergi. "Ya sudah. Silahkan dilanjutkan..."
Yang disulut api mengepal kedua tangannya geram. Namun sebelum Rena membuka pintu, dia menoleh.
“Oh ya Wi, harus benar-benar dielap loh! Nanti dilihat adik-adik Bang Kris kan malu. Apa lagi sampai dilihat Bang Kris.”
**********
“Dewi?” tanya Kris, saat Rena kembali.
“Masih di sana. Tahu, lama banget Bang. Sakit perut kali."
“Ha? Sakit perut?” pekik Ria.
“Tadi di rumah Kak Dewi makan apa?” tanya Kris ke adik-adiknya.
“Tadi siang makan masakan jualan Mamak. Oh! Jangan-jangan habis itu ya sakit perut,” tutur Dena.
“Maksudnya?”
“Kak Dewi habis makan, tak lama ijin ke kamar. Baru sehabis Maghrib, Dena ke kamar Kak Dewi ajak jalan.”
“Masa, makan masakan Mamak, Kak Dewi sakit perut, Kak?” protes Ria.
“Bukan itu maksud Kakak. Kan dari awal Kak Dewi tiba sudah bantu kita. Mungkin tadi siang puncaknya, gara-gara kurang istirahat jadi perutnya kembung.”
Saat mereka sedang berbicara, orang yang dibicarakan tiba.
“Kamu sakit perut, Wi?” tanya Kris.
Bingung. “Ha?”
“Gue pikir elo sakit perut, habis tadi gue panggil-panggil elo di kotak ruangan WC nggak nyahut-nyahut,” terang Rena.
“Ya sudah kita pulang saja,” putus Kris.
“Tapi, Kak Dewi belum makan Bang,” oceh Ria.
Kedua adik Kris sudah makan selagi dua orang itu di toilet. Makan mereka cepat mungkin karena menunya enak. Maklum, restoran mahal dan terkenal. Tentu kualitas yang disajikan nggak diragukan lagi.
“Dibungkus saja, nanti kita mampir ke tukang bubur di jalan.”
Pria itu memanggil pelayan meminta bill sekaligus meminta dibungkuskan makanan di piring Dewi. Beberapa menit kemudian pelayan kembali. Mereka pun berdiri. Ditengah mereka berjalan ke parkiran, Rena melipirkan badannya ke samping temannya, berbisik di telinga.
“Gue baik loh nolongin elo. Ya, gue bisa ngerti sih betapa sulitnya apa yang terjadi hari ini. Tetapi setelah ini, elo harus bisa bersiap diri ya."
Dewi melirik kecut, lekas memajukan langkahnya. Rena tersenyum puas.
Lalu di luar.
“Kak Dewi duduk di depan saja." Dena membukakan pintu samping pengemudi.
Adik pertama Kris itu nggak mau bangku depan diisi selain mantan abangnya. Ria pun turut membantu dengan mendorong pelan tubuh Dewi. Sejatinya, secara nggak langsung memaksa.
“Iya Kak, di depan saja.”
Mau nggak mau yang didorong mengikuti. Melihat kelakuan adik-adik Kris, Rena merasa diam-diam sedang dimusuhi.
Usai mereka semua naik. Mobil pun melaju. Selama perjalanan suasana hening. Kris memang fokus menyetir. Sedangkan Dewi dan Rena tenggelam dalam pikiran masing-masing. Dena dan Ria? Bingung mau ngomong apa.
Tak lama mobil tiba di depan rumah Rena.
“Oo... Kakak tinggal di sini?” Ria basa basi.
“Iya, lain kali mampir ya. Biar Kakak nanti sama Kak Dewi dan Abang balik ke Jakarta, main saja. Kakak, ada adik cewek kayaknya seumuran Ria deh. Namanya Tia nanti Kakak bilang ke dia.”
“Oh, iya Kak." Ria mengembangkan senyuman dipaksakan.
“Bang, aku pamit ya. Makasih ya makan malamnya." ujar Rena ke Kris.
“Iya.”
“Wi, pamit." Rena beralih ke Dewi.
“Iya.”
“Daa... Ria dan Dena." Nggak luput, Rena ke adik-adik Kris.
“Iya, Kak." Ria dan Dena membalas bebarengan.
Selanjutnya dalam perjalanan pulang, Kris mengingatkan ucapannya tadi di restoran.
“Kita mampir dulu ke tukang bubur.”
“Iya, Bang." Dena masih ingat. Lalu beralih ke orang yang duduk di samping pengemudi. “Kak Dewi, perutnya masih sakit?”
Yang ditanya begitu kikuk. Sebenarnya hati kecilnya nggak sudi ditolong Rena.
"Mm... L-umayan."
“Apa mau mampir dulu Bang beli obat?” tanya Dena ke abangnya.
“Nanti, kalian temani Kak Dewi makan. Abang pigi beli obat.”
“Oo... Mau makan di sana?” tanya Ria.
“Iya, perut Kak Dewi nanti lama kosong kalau tunggu sampai rumah.”
“Iya benar,” setuju Dena.
Mobil tiba di depan warung. Usai Kris mematikan mesin, mereka semua turun. Kris turun karena mau memesan bubur buat Dewi. Sebenarnya adik-adiknya pun bisa, tapi Kris maunya sendiri yang pesan. Setelah itu, pria itu pamit. Dewi memandangi orang yang berjalan masuk mobil. Meski Kris menyakitinya, tapi ada rasa peduli padanya. Ini membuatnya bingung, kadang Kris baik, kadang menyebalkan! Namun diantara kebingungan itu, tak luput juga dia punya pemikiran lain. Apa Kris baik karena harus tanggung jawab dengan ayahnya? Kris yang mengajak, berarti harus menjaga dirinya baik-baik jangan sampai terjadi apa-apa dengannya di sini. Mungkinkah juga begitu?
Warung bubur yang disinggahi Kris, hanyalah kios kecil pinggir jalan. Hanya memiliki 3 set meja beserta bangku yang berada di dalam. Sedangkan gerobak dipajang di depan kios. Dewi dan yang lain duduk di bangku depan dekat gerobak. Di sana, ada orang lain juga sedang makan.
Tak lama orang yang pergi kembali, langsung duduk dihadapan Dewi. Dewi pun sudah selesai makan. Kris membuka kantong kresek, mengeluarkan isinya.
Dewi melebarkan kedua matanya. Apakah dia disuruh minum obat itu? Oh, tidaaak...
“Aku, aku, aku minumnya di rumah saja,” cegahnya.
Kris meraih satu tangan, meletakkan beberapa butiran obat di telapak tangan di depannya. Tangan Dewi gemetaran. Apakah dia bakal mati muda? Ini, nggak buat dia keracunan, 'kan?
“Tunggu apa? Lihatlah... Tanganmu sampai gemetaran gitu. Ayo, cepat di minum, " ucap Kris.
Ini, dia gemetaran karena takut mati kali... T_T Dewi harus berpikir cepat buat mengalihkan malapetaka ini. Benar kan, dia nggak sudi ditolong Rena. Jadi begini kan duh...
“Sebenarnya, aku, aku, bukan sakit perut. Tapi, tapi, sakit gigi...”
“Apa?!” kaget mereka.
“Jadi Kakak sakit gigi?” ulang Dena dan Ria.
Mengangguk-angguk polos. “Ho oh”
“Jadi kamu...” Omongan Kris terpotong. Ada telepon masuk, dia mengangkatnya.
“Iya, Ren?"
“Oo... Belum. Ini, lagi di tukang bubur.”
“Iya, kamu selamat istirahat juga ya.”
Jantung Dewi mendidih. Mat istirahat juga...?
Usai Kris menutup telepon, dia melanjutkan omongannya yang terpotong.
“Jadi kamu sebenarnya sakit perut, apa sakit gigi?”
“Siapa bilang aku sakit gigi?!”
Kris dan adik-adiknya melotot. Karena wanita yang ditanya begitu membalas dengan nada tinggi.
“Itu kan Rena yang bilang begitu, bukan aku! Pokoknya aku sakit gigi! Sakit gigi! Kamu harus beliin obat untuk aku. Beliiin! Beliin! Beliin! Beliiiiiiin...,” lanjut Dewi menggelegar keras.
Seketika Kris memundurkan tubuhnya saking terkejutnya. Begitu pula Dena dan Ria, bahkan orang-orang di sana, juga termasuk tukang bubur yang lagi berdiri di gerobak melongo bengong.
Dewi tersadar jadi bahan tontonan orang-orang. Langsung dia menundukkan kepalanya. Kris memperhatikan sekitaran lalu meraih kunci mobilnya.
“Ya sudah... Aku beliin..." Kris bicara lembut, menuruti permintaan mantan kekasihnya itu.
"Ayo, kita pulang,” lanjutnya ke semua.
Beberapa saat kemudian. Di dalam apotik, pria itu membelikan obat baru untuk Dewi. Sedangkan Dewi, Dena, dan Ria menunggu di mobil. Dari sepanjang mereka pergi hingga menuju ke sini, yang buat keonaran tadi diam saja. Tentu wanita itu malu setengah mati.
Ria bicara untuk memecah keheningan. Sebenarnya apa yang mau diomongin Ria, Dena pun penasaran ada perkataan mantan abangnya itu menggelitik hatinya. Tapi Dena malas menanyakan karena Dena pikir waktunya tidak tepat. Dasarnya Ria, niat hati ingin mencairkan suasana malah buat wanita itu makin malu.
“Kak maaf ya. Ria mau tanya, Kak Dewi sebenarnya manggil Abang, Mas atau kamu?”
Dewi langsung menenggakkan kepalanya. Gawat! Sewaktu tadi dia berteriak keceplosan. Untungnya, dia nggak perlu menjawab karena Kris sudah kembali.
Dena mencubit paha di sebelahnya. Adiknya yang bontot ini memang nggak bisa menahan hal yang mengusik perhatiannya. Kayak hal tadi, mencoba mengorek kepergian abangnya dan Rena. Ish, ampun deh!
"Kenapa?" tanya Ria.
"Sudah diam," kecam Dena, dengan mata melotot.
Kemudian di rumah, orang tua Kris sudah tidur. Dena dan Ria pamit duluan naik ke atas. Dewi masih di lantai 2 menunggu Kris menuangkan air untuknya. Dia sebenarnya ingin kabur saja ketika mereka pulang. Tapi Kris menahannya mengingatkannya untuk meminum obatnya.
Terus terang, dia mengaku sakit gigi agar tidak disuruh minum obat tadi. Tapi kalau begini sama saja dia makan buah simalakama...
“Ini, airnya. Ayo, telanlah obatmu."
Dewi kembali dilanda gemetaran. Keluar dari malapateka satu, masuk ke malapetaka baru. Apa dia harus menyelipkan obat-obat itu disela-sela giginya?
“Kamu, kamu, kamu ngapain di sini?”
“Kenapa?”
“Ya sudah, tidur sana.”
“Nanti aku tidur.”
“Besok kan kamu kerja.”
“Aku belum mau tidur sampai kamu minum obat!" tegas Kris, mensedekap kedua tangannya menanti.
Duh... Gimana ini...
“Ayo. Minum,” pinta Kris lagi.
“Aku, aku, aku minum di atas saja." Dewi ngacir lari terbirit-birit ke atas.
Kris tersenyum geli, dia hanya iseng saja ngerjain. Namun satu hal yang pasti, ternyata Dewi pura-pura sakit. Bisa ditebaknya dari ucapan Dewi yang berteriak tadi. Namun memang, entah mengapa di resto Dewi bisa mengikuti ucapan Rena Tapi pastinya, ucapan menggelegat tadi, ada makna manja didalamnya.
penasaran alasan kris
aslinya laki apa banci sih 😑
seolah dia ga masalah orang yg dia cintai dibikin sakit ama temen2nya
ngapa ga putus hubungan aja ama temennya
temen kayak gt kok dipiara
si rena lah dianter ksana kmari, parah ini kriss
baik sih baik, tpi ya ga gt jg kalik...
babehku sibuk mo anter2 tmnnya, lgsg aku tikung buat ngantrerin aku