(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)
Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Halaman ~
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...
Zahra mengambil wadah, lalu menuangkan bakso ke dalamnya. Aroma kuahnya langsung menyebar menggugah selera.
Abyan mendekat, kemudian mereka duduk bersama. “Kamu nggak takut apa Ay, misalnya ini bakso daging lain?" tanyanya dengan wajah sedikit khawatir.
“Nggak Mas, yang ini di jamin aman.” Zahra menyerahkan semangkuk bakso ke Abyan.
“Kamu tau dari mana kalau ini aman?" tanyanya lagi, kini terlihat lebih menyelidiki.
“Ini bakso di depan rumah sakit, Mas. Kami juga awalnya kayak Mas, mikir... jangan-jangan ini bakso daging nggak halal. Mana murah, mana rame lagi. Yah... kami diam-diam bawa bakso ini ke laboratorium buat di cek kualitasnya. Ternyata hasilnya bagus kok Mas, halal lagi. Ayam dicampur sapi.”
Abyan mengangguk saja.
Tidak dengan Zahra, meski sempat diliputi rasa cemas, ia juga khawatir Abyan akan salah paham soal penggunaan laboratorium. Dengan cepat, ia berusaha mengalihkan pembicaraan. “Mas pernah makan ini?”
Namun begitu pertanyaan itu keluar, ia langsung menyesal dalam hati. Pertanyaan yang terasa sepele, bahkan terdengar bodoh.
“Nggak pernah, Ay.”
Zahra terkejut. “Mas nggak suka ya?”
Abyan menggeleng. “Belum pernah coba aja."
Zahra semakin heran. “Kenapa belum, Mas? Padahal ini enak banget loh.”
Abyan tersenyum. “Nggak ada waktu aja, Ay. Biasanya Mas masak sendiri seadanya dari yang ada di kulkas. Kadang Bunda yang masakin kalau Mas lagi nggak sempat. Sesekali juga pesan online, tapi nggak pernah milih ribet. Jadi kalau liat makanan apa aja, ya itu yang Mas makan. Makanya belum pernah kepikiran buat makan bakso.”
Zahra terdiam sejenak. Ia baru menyadari, di balik kesibukan Abyan, ada hal-hal sederhana yang bahkan belum pernah sempat ia rasakan. “Gimana kapan-kapan kalau ada waktu kita jalan-jalan, Mas. Kamu mau nggak?”
Abyan terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Nanti Mas cari waktu buat kita jalan-jalan,” jawabnya, kali ini dengan ekspresi yang tampak jelas bahagia.
Zahra melihat itu, ikut tersenyum. “Sekarang Mas coba dulu makan baksonya.” Ia ingin sekali melihat reaksi Abyan.
Abyan mengangguk kecil, lalu mulai mencicipi kuahnya perlahan. Ekspresinya langsung berubah, seolah menikmati rasa hangat yang menyentuh lidahnya. Ia kemudian menggigit baksonya, mengunyah pelan dengan wajah yang semakin menunjukkan ketertarikan.
Zahra memperhatikan Abyan dengan penuh rasa penasaran sembari menunggu reaksi yang tak kunjung diucapkan. “Gimana, Mas?” tanyanya tak sabar, berharap mendengar penilaian Abyan.
“Enak, Ay. Baksonya kenyal, rasa sapi dan ayamnya juga kerasa,” jawabnya sambil tersenyum.
Zahra menghela napas lega.
Mereka berdua menikmati bakso hangat itu bersama, suasana terasa lebih santai. Uap panas dan rasa pedas membuat mereka sedikit berkeringat.
“Kamu suka nggak, Mas?" tanya Zahra lagi, ia sangat senang melihat Abyan makan dengan lahap.
“Iya Ay. Apa aja yang kamu buat atau bawa, pasti enak,” ucap Abyan.
“Mas bisa aja.”
Mereka melanjutkan makan hingga habis. Setelah selesai, Zahra membereskan bekas makan dan mencuci piring, sementara Abyan kembali duduk di sofa sambil menonton film.
“Sayang... kalau udah selesai, duduk di sini sebentar,” ucap Abyan sembari menepuk pelan kursi di sampingnya.
Zahra sempat terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa Abyan sering kali memanggilnya dengan panggilan romantis.
Dalam benaknya muncul pertanyaan, apakah lelaki itu hanya berusaha terlihat baik-baik saja untuk menutupi luka dari masa lalunya.
“Iya Mas, sebentar lagi aku selesai.” Zahra hanya bisa mengikuti alur yang Abyan buat. Lagian ia tidak memiliki jalan untuk masuk dan mengetahui, kecuali Abyan benar-benar terbuka padanya.
Zahra pun bergegas melakukan pekerjaannya. Setelah selesai, ia mendekati Abyan. “Ada apa, Mas?” ia langsung duduk didekat Abyan.
Abyan begitu saja menyodorkan sesuatu ke Zahra.
Zahra sempat mengernyit melihat benda tak asing itu.
“Ini buat kamu belanja.” Abyan memberikan kartu black card unlimited berwarna hitam.
Zahra menatap kartu itu sejenak, lalu ke Abyan. “Kayaknya aku nggak bisa terima ini, Mas.”
“Kenapa?” Abyan tak perlu banyak tanya, ia sudah tahu jawaban Zahra yang pasti akan menolak pemberiannya.
“Coba Mas pikir... kalau misalnya aku mau jajan bakso lagi, terus pakek ini, kayaknya susah deh. Apalagi kalau Mas mau bayar bakso yang aku beli tadi, itu bener-bener aku beliin buat kamu, Mas.”
Abyan mengulum tawa. “Bukan buat bayar bakso, Ay. Ini buat kamu belanja apa aja di luar sana,” jelasnya sambil mengambil tangan Zahra, lalu meletakkan kartu itu di telapak tangannya.
“Oh...” Zahra pura-pura bodoh. “Kalau itu sih mending pakek uang kertas aja, Mas. Di pasar nggak ada yang pakek beginian, nggak ada mesinnya juga.” Zahra masih tidak mau menerima kartu pemberian Abyan.
“Jangan banyak alesan. Itu kamu simpen. Mau belanja apa aja tinggal bayar pakek itu. Kalau mau uang cash, nanti Mas kasih. Beda lagi yang itu.”
“Tapi Mas—”
“Jangan bantah, Ay. Atau kamu mau sekarang dikasih hukuman buat melaya—”
“Iya, Mas, makasih.” Zahra langsung menerima dengan terpaksa, menghentikan kalimat Abyan sebelum selesai. Ia memilih mengalah daripada harus menghadapi konsekuensi yang sudah bisa ditebak arahnya.
Abyan kemudian menekan tombol remote televisi, mencari tontonan. “Ay, hari minggu kamu masuk nggak?”
“Masuk pagi, Mas. Kenapa?”
“Bunda minta kita ke rumah, mau ngenalin kamu ke keluarga besar. Sekalian bakar-bakar sama makan di taman belakang. Kamu mau nggak?”
Zahra terdiam sejenak. Ia belum sepenuhnya siap bertemu keluarga besar Abyan. Pikiran tentang lingkungan baru yang belum tentu menerimanya membuat dadanya terasa berat. Namun sebagai istri, ia merasa tak punya banyak pilihan.
“Jam berapa kita berangkat, Mas?”
“Kamu dinas masuk jam berapa?”
“Kebetulan pagi, Mas.”
“Kita berangkat habis sholat isya aja, Ay.”
“Iya, Mas.”
Suasana sempat hening. Zahra merasa masih ada yang mengganjal di pikirannya, hingga akhirnya ia teringat sesuatu.
“Mas, tiap hari kamu beresin rumah ya?” tanyanya sambil melirik sekeliling ruangan yang selalu terlihat rapi.
Zahra teringat kejadian sebelumnya. Lantai yang belum sempat ia sapu, pakaian yang tiba-tiba hilang dari kamar mandi, lalu ditemukan sudah tersusun rapi di lemari. Hal itu sempat membuatnya bingung, bahkan curiga.
“Nggak, Ay. Kalau kita lagi nggak di rumah, ada yang beresin kok.”
Zahra menghela napas lega. Setidaknya bukan Abyan yang melakukannya. Namun tetap saja, ada rasa canggung membayangkan pakaian pribadinya disentuh orang lain.
“Aman nggak, Mas, barang-barang di rumah?” tanyanya lagi, sedikit khawatir.
“Aman. Namanya Bi Ning, asisten rumah tangga yang dipilih langsung sama Oma dari awal Mas tinggal di sini.”
Zahra mengangguk pelan. Rasa penasarannya belum sepenuhnya hilang. “Kalau boleh tau, Mas udah lama ya di sini? Kenapa nggak tinggal bareng yang lain?”
Abyan sempat melirik Zahra sekilas. “Sejak habis kuliah.”
Zahra memperhatikan wajah Abyan. Terlihat jelas, ada sesuatu dalam diri lelaki itu yang enggan ia jelaskan sepenuhnya.
“Sekarang udah jam setengah sepuluh, istirahat aja. Kamu pasti capek, Ay.” lanjut Abyan, mengalihkan pembicaraan.
Zahra mengerti. Ia tidak ingin memaksa. Setiap orang punya batas dan luka masing-masing. “Iya, Mas. Kalau gitu aku duluan.”
Ia berdiri, berniat menuju kamar. Dalam benaknya, ia memutuskan untuk tidak mencari tau lebih jauh untuk saat ini.
Zahra berhenti melangkah, dan kembali melihat Abyan. “Oh iya, Mas,”
Abyan spontan melihat Zahra lagi sembari alisnya terangkat.
“Usahain jangan tidur kemaleman ya, Mas. Jaga kesehatan,” ucap Zahra sebagai bentuk perhatian sederhana.
Abyan tersenyum manis. “Iya, sayang, bentar lagi Mas tidur,” jawabnya sambil tersenyum manis.
Zahra terdiam sejenak sebelum benar-benar melangkah masuk ke dalam kamarnya. Senyum Abyan barusan terasa cukup untuk menenangkan hatinya. Ada rasa lega yang perlahan mengalir.
Dalam diam ia berdoa, semoga Abyan bisa menjalani hidupnya dengan lebih baik, setenang senyum yang hampir setiap hari mampu membuat Zahra terpana dan tanpa sadar, merasa bahagia.
...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...