Berkisah tentang Jenar Ayu Santika yang harus rela menjadi pengasuh Aiden (5 tahun). Bocah yang memiliki karakter usil dan nakal serta kecerdasan yang berbeda dengan anak yang seusianya.
Keusilan Aiden berhasil membuat Ayu kesulitan dan juga mendekatkan dia dengan Edwin (Papah Aiden).
Apakah Ayu bisa menjadi pengasuh yang baik bahkan menjadi Ibu bagi Aiden dan Istri Edwin?
Ikuti terus kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - PCM
Ayu menatap keluar jendela, mengingat kembali rencana Edwin yang akan menemui orang tuanya untuk melamar. Walaupun dirinya merasa tertarik juga dengan Edwin tapi hal ini sungguh terlalu cepat baginya. Dia belum mengenal Edwin sebatas majikannya bukan sebagai pria yang spesial.
Sedangkan di samping Ayu, Aiden terlihat bahagia sambil bersenandung. Rencananya berhasil, tentu saja dia merasa sangat senang.
“Tante,” panggil Aiden.
“Apa?”
“Ck, aku tahu tante pasti gugup dengan rencana Papa tapi sekarang waktunya tante bekerja. Lihat, ini sudah sampai di sekolahku,” tutur Aiden.
Ayu menatap sekitar dan ternyata benar, mobil sudah berhenti tidak jauh dari gerbang sekolah Aiden.
“Ayo,” ajak Ayu.
Menggandeng tangan Aiden mengantarkan sampai gerbang. Seperti biasa, Ayu memastikan seragam yang dikenakan Aiden sudah rapi lalu memberikan nasihat yang mungkin hanya sebatas angin lalu bagi Aiden.
“Tidak usah aneh-aneh, telingaku gatal mendengar kepala sekolahmu menyampaikan kamu berulah. Bagaimana kalau Papamu sampai dengar, kita berdua bisa kena hukuman.”
“Tapi itu bukan salahku, itu salah Tante. Aku hanya anak kecil, wajar kalau berulah. Sedangkan tante Ayu malah menyembunyikan panggilan sekolah dari Papa,” tutur Aiden tanpa rasa bersalah.
“Aish, anak ini benar-benar …argh.”
“Nanti malam aku ikut ke Papa ke rumah tante ya?”
“Tidak usah, kamu hanya anak kecil tidak usah ikut campur urusan orang dewasa.”
“Tapi ….”
“Sudah, masuklah. Ingat, umurmu baru lima tahun,” seru Ayu sambil melambaikan tangannya.
“Langsung pulang Non?” tanya Pak Cahyo saat Ayu sudah berada di dalam mobil.
“Eh, jangan Pak. Kita ke kantor Pak Edwin,” jawab Ayu. Ada hal yang masih perlu dia pastikan dan tanyakan, pembicaraannya tadi pagi belum jelas apalagi terpotong karena dia harus mengurus Aiden.
Sedangkan di perusahaan, Edwin datang terlambat karena di rumah terjebak insiden dengan Ayu. Melewati meja Mirna dan hanya menganggukan kepala saat wanita itu menyapanya.
“Mas Edwin,” panggil Mirna menyusul Edwin ke ruangan.
“Mirna, ini kantor. Panggil aku seperti yang lain,” tegur Edwin.
“Pak Edwin, sungguh kemarin malam aku dijebak dan dijahili orang. Pak Edwin harusnya cari tahu siapa yang sudah melakukan hal itu padaku,” pinta Mirna.
“Mirna, kamu bilang terkunci di toilet dan ada yang menyiram kamu. Toilet umum mana yang menempatkan CCTV di dalamnya, kamu pasti sudah tidak waras.”
“Tapi aku serius, itu bukan ulahku.”
“Sudahlah, toh itu sudah lewat. Apa jadwalku hari ini?” tanya Edwin. Mirna menatap layar tablet dan membacakan jadwal Edwin hari ini.
“Hm, kamu boleh keluar,” titah Edwin sambil membuka map yang ada di hadapannya, membubuhkan tanda tangan di sana tanpa menoleh ke arah Mirna yang masih menatapnya. Mirna meninggalkan Edwin dan kembali ke meja kerjanya.
Brak.
Melempar tablet ke atas meja dan mendudukan tubuhnya di kursi miliknya. “Benar-benar sial, sudah hilang kesempatan eh sekarang Pak Edwin jadi cuek banget. Aku curiga kalau yang kemarin mengunci aku di toilet adalah Aiden, tapi dia masih kecil apa mungkin otaknya bisa secerdas itu … ah sungguh menyebalkan.”
Saat Mirna belum hilang kekesalannya, dia semakin kesal saat melihat Ayu datang.
“Pak Edwinnya ada?”
“Dia sedang sibuk, tidak bisa diganggu,” sahut Mirna.
“Masa? Tapi Pak Edwin sendiri yang minta aku datang,” ujar Ayu berbohong.
Mirna berdecak mendengar apa yang diucapkan Ayu. Merasa Ayu benar-benar saingannya dan tidak ingin mempertemukan Ayu dengan Edwin.
“Aku bilang sibuk ya sibuk. Dia sedang menerima tamu, rekan bisnis yang akan bekerja sama. Bahkan nilai kerjasamanya milyaran, nggak sebanding dengan kedatangan kamu.”
Terdengar dering pesawat telepon yang ada di atas meja Mirna ketika perempuan itu terus mengoceh untuk mencegah Ayu masuk ke ruangan Edwin.
“Kalau begitu aku tunggu sampai tamu Pak Edwin pergi,” sahut Ayu.
“Setelah ini dia masih ada rapat internal, sudahlah kamu pergi ngapain juga di sini. Empet lihatnya.”
Pintu ruangan Edwin terbuka, “Mirna, kamu nggak dengar aku panggil … loh Ayu.”
“Ada yang ingin aku bicarakan tapi tunggu tamu Pak Edwin pergi.”
“Tamu aku?” tanya Edwin lalu menoleh pada Mirna yang membuang pandangan ke arah lain. “Masuklah, lain kali kamu bisa langsung masuk,” titah Edwin.
Ayu mengekor langkah Edwin sambil melambaikan tangannya mengejek Mirna yang terlihat semakin kesal.
pak Edwin gercep
calon ibu & calon anak suka nge game😄