Nadia, gadis cantik yang malang karena harus terjebak Pernikahan Tanpa Cinta dengan seorang lelaki bernama Devan.
Devan terpaksa menikahi Nadia untuk menebus kesalahannya yang telah menabrak orangtua Nadia sehingga menyebabkan mereka meninggal.
Akankah Nadia bertahan dengan Pernikahannya? karena akan ada orang ketiga yang hadir dalam pernikahan mereka berdua.
Baca Kisah selengkapnya dalam 'Pernikahan Tanpa Cinta'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 ( Cinta Segitiga )
Revan yang melihat Nadia melamun pun kini angkat suara.
"Sayang, sebaiknya sekarang kamu istirahat di kamar ya, kasihan bayi kita pasti cape setelah melakukan perjalanan jauh," ujar Revan dengan menggandeng tubuh Nadia ke dalam kamar.
"Makasih banyak ya Kak, rasanya semua ini seperti mimpi," ujar Nadia dengan memeluk tubuh Revan, kemudian mencium wangi tubuh Revan dalam-dalam, dan itu mengurangi mual yang saat ini dirasakannya.
"Kakak tidak pernah menyangka jika Devan akan berkorban untuk kita, sepertinya setelah dia menikah denganmu, sekarang Devan menjadi lebih dewasa," ujar Revan dengan mengeratkan pelukannya.
Aku tau jika kami berdua telah berdosa karena memiliki perasaan cinta yang tak semestinya, bolehkah aku egois jika memilih bersama Kak Revan? tapi bagaimana dengan Devan, saat ini dia masih Suamiku, dan yang aku lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan dan dosa besar, batin Nadia.
"Sayang, Kakak keluar dulu ya, nanti Devan mengira Kakak lagi nengokin bayi kita kalau lama-lama di sini," goda Revan yang berat hati melepaskan pelukan Nadia.
Pada saat Revan keluar dari kamar Nadia, Devan terlihat melamun melihat pemandangan di luar apartemen.
"Dev, are you oke?" tanya Revan, tapi Devan masih melamun sehingga tidak mendengar perkataan Revan.
"Woy, loe baik-baik aja kan?" tanya Revan dengan menyenggol tangan Devan.
"Gue baik-baik aja Rev, loe habis ngapain di kamar Nadia, kok lama banget?" tanya Devan.
Saat ini terselip cemburu di hati Devan, tapi Devan sadar jika dirinya hanya Suami di atas kertas untuk Nadia, jadi dia harus menepis perasaan itu jauh-jauh.
"Gue habis nengokin bayi gue dulu," canda Revan hingga Devan membulatkan matanya.
"Apa?" tanya Devan.
"Responnya biasa aja kali, gue juga cuma bercanda. Nadia itu masih istri loe, jadi gue gak mungkin ngapa-ngapain dia, itu pun kalau gak khilaf," ujar Revan dengan terkekeh.
"Itu tau kalau dia istri gue, perasaan gue yang nikah, tapi kalian yang bikin Anak," celetuk Devan.
"Dev, apa loe nyesel nyerahin Nadia sama gue? loe kayak gak ikhlas gitu. Jangan-jangan loe udah jatuh cinta sama Nadia?" goda Revan.
"Seandainya gue jatuh cinta sama Nadia percuma juga kan Rev, karena yang Nadia cintai hanya loe, jadi cinta gue hanya bertepuk sebelah tangan," ujar Devan dengan tertunduk sedih.
Revan merasa bersalah terhadap Devan, tapi dia juga tidak rela jika Nadia harus terus hidup dengan Devan, sedangkan dalam perut Nadia saat ini ada darah dagingnya.
"Dev, bagaimana hubungan loe dengan Ana? apa kalian masih berhubungan?" tanya Revan.
"Sebenarnya pada malam pertama pernikahan gue dan Nadia, gue juga telah melakukan kesalahan dengan menghabiskan malam bersama Ana, dan gue sangat menyesali semua itu. Dan kemarin pada saat gue dan Nadia membeli bubur, Ana datang menghampiri gue dan Nadia," ujar Devan.
"Apa Ana hamil juga?" tanya Revan.
"Entahlah, karena kemarin Ana dan Nadia sempat berdebat, tapi Ana kalah telak berdebat dengan Nadia," jelas Devan.
"Nadia emang luar biasa, makanya dari pertama kali kita berdua bertemu gue udah jatuh cinta pada pandangan pertama sama dia," ujar Revan.
"Seharusnya dari awal kalian jujur dengan perasaan kalian, kalau begini ceritanya gue kan jadi bingung. Dan loe harus bersabar sampai bayi itu lahir, karena gue gak akan bisa menceraikan perempuan yang sedang hamil," ujar Devan.
"Tapi gimana donk status Anak gue, nanti di Akta kelahirannya dia bakalan jadi Anak loe," ujar Revan yang kini merasa frustasi.
"Mau gimana lagi, gue jg gak bisa ngapa-ngapain. Rev gue ngantuk, gue tidur duluan ya," ujar Devan, kemudian masuk ke kamar Revan.
Revan saat ini menjadi gelisah memikirkan semua itu, sampai akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Nadia.
tok tok tok
Revan terlebih dahulu mengetuk pintu.
"Masuk aja Kak, Nadia juga belum tidur," ujar Nadia.
Revan kini masuk ke dalam kamar Nadia, kemudian dia membaringkan kepalanya di atas paha Nadia.
"Sayang, kenapa kamu bisa tau kalau yang mengetuk pintu itu Kakak?" tanya Revan dengan memeluk pinggang Nadia, dan terus menciumi perut Nadia.
"Kalau Devan kan jarang ketuk pintu kalau masuk kamar orang," ujar Nadia dengan mengelus lembut rambut Revan.
"Iya juga sih, tapi sepertinya kamu sudah hapal banget kebiasaan Devan," ujar Revan dengan cemberut.
"Kakak cemburu ya?" tanya Nadia dengan mencium kening Revan
"Jelas lah, mana mungkin aku tidak cemburu, kalian bisa saja kan khilaf karena terus bersama-sama selama satu bulan lebih," ujar Revan dengan memonyongkan bibirnya, sehingga membuat Nadia menjadi gemas.
Cup
Nadia kini mendaratkan sebuah kecupan pada bibir Revan, dan itu membuat Revan tersenyum kembali.
"Makasih sayang, kamu tau aja kalau aku udah kangen sama_".
"Udah jangan diterusin," ucap Nadia dengan menempelkan telunjuknya pada bibir Revan.
"Memangnya kenapa?" tanya Revan heran.
"Nanti bisa membangunkan sesuatu dalam tubuh Kakak," ujar Nadia dengan tersenyum.
Revan mengerti perkataan Nadia, dan dia kembali cemberut.
"Sepertinya Kakak harus puasa sampai kamu dan Devan bercerai," ujar Revan.
Deg
Jantung Nadia rasanya berhenti berdetak.
Kenapa hatiku merasa tidak enak pada saat Kak Revan membicarakan perceraian? harusnya aku bahagia karena bisa terbebas dari Devan. Aku gak mungkin kan mencintai kedua-duanya? batin Nadia yang kini bertanya-tanya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan? tadi Kakak dan Devan sudah membicarakan semuanya, dan Devan bilang kalau dia gak akan bisa menceraikan kamu sebelum bayi kita lahir. Kakak sebenarnya gak rela jika nanti dalam Akta Kelahiran Anak kita jadi Anak Devan," ujar Revan.
"Lalu kita harus bagaimana Kak?"
"Entahlah, semoga saja kita bisa menikah secepatnya," ujar Revan yang kini membaringkan tubuhnya di samping Nadia, kemudian memeluk tubuh perempuan yang dicintainya dengan erat, sampai akhirnya Revan terlelap.
"Kak Revan tidur ya?" tanya Nadia yang mendengar dengkuran halus Revan.
Nadia kemudian membalikan tubuhnya, lalu menatap lekat wajah Revan.
Aku sangat mencintai Kak Revan, tapi saat ini aku juga menyayangi Devan yang berstatus Suamiku, kenapa aku harus terjebak cinta segitiga seperti ini? Apa ini hukuman untukku karena dari awal aku sudah mempermainkan sebuah pernikahan dengan berniat membalaskan dendam kematian kedua orangtuaku? ucap Nadia dalam hati.
Di kamar Revan saat ini Devan masih belum bisa memejamkan matanya, dia terus saja membayangkan Nadia dan Revan yang saat ini tengah ber*cumbu.
"Kenapa denganku, kenapa aku terus saja membayangkan Revan yang saat ini sedang ber*cinta dengan Nadia. Apa aku salah jika mencintai Nadia? saat ini aku adalah Suaminya, tapi istriku sendiri malah tidur bersama Kakak iparnya," gumam Devan dengan terus mengacak rambutnya.