Di saat orang tua terlalu campur tangan dalam kehidupan rumah tangga anak-anaknya, maka kehancuran menunggu di ujung jalan.
______
Tidak ada pelakor di sini. Fokus cerita hanya tentang konflik sederhana yang sangat berpengaruh dalam keharmonisan sebuah rumah tangga.
Selamat membaca🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GDB 21
"Hanya kontraksi palsu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kondisi janinnya baik-baik saja," papar dokter berjenis kelamin perempuan itu. Ia sudah lebih dulu menyuntikkan obat pereda rasa sakit. Sehingga aku tak lagi merasakan keram di perut.
Mas Labiq dan aku kompak menghela napas lega. Pasalnya, kandunganku baru memasuki bulan ke delapan. Jika aku harus melahirkan sekarang maka kondisi bayiku dipastikan akan prematur.
"Le! Apa sebenarnya yang terjadi?"
Ayah dan ibu mertua serentak memasuki ruangan. Wajah panik keduanya tentu tidak bisa disembunyikan.
"Gimana kondisi cucu saya, Dok?" Ibu mertua langsung bertanya. "Apa iya harus dilahirkan sekarang juga?" lanjutnya dengan penuh kekhawatiran.
Dokter Jovita tersenyum ke arah beliau. "Cucunya baik-baik saja, Bu. Sepertinya dia masih betah di dalam perut ibunya." Beliau mengerling ke arahku. "Bu April, saya harap setelah ini Anda tidak boleh terlalu menguras tenaga. Lakukan pekerjaan yang ringan saja, tapi harus tetap beraktifitas," tambah si dokter. Aku mengangguk.
"Nah, Pril, dengar itu!" Ibu mertua menimpali. Aku tersenyum dan mengiyakan.
"Oya, untuk bapak, tolong usahakan agar istrinya tidak mudah tertekan, ya. Buat ibunya bahagia, maka bayinya akan baik-baik saja." Dokter Jovita menatap suamiku sekilas, kemudian tersenyum pada ibu mertua. "Saya permisi dulu." Wanita itu keluar dari ruangan.
"Nah, Le, ikutin saran dokter tadi. Jangan suka ngomong sembarang hal sama istrimu. Ibu hamil itu sensitif loh," ucap ibu mertua. Mas Labiq hanya mengangguk.
Sementara ayah mertua ....
"Ibu juga, kalau ngomong sama menantu jangan ceplas-ceplos."
JLEB
Mas Labiq tampak menahan tawa. Sedangkan aku, hanya bisa membuang muka. Ayah mertua bisa saja. Tapi, sejauh ini memang hanya beliau yang mampu membuat ibu mertua skakmat.
"Ibu itu bukan asal ceplos, Pak. Tapi, memang seharusnya ngomong begitu. Yang namanya jadi orang tua, harus bisa ngasi nasihat sama anak-anaknya. Bukan begitu, Pril?" Ibu lantas menatapku.
Aku menggulir pandang ke arah beliau dengan anggukan kepala. Walaupun, di dalam hatiku ada secuil protesan, namun hal tersebut tak seharusnya kuungkapkan.
"Yaudah, sini ibu yang suapin buburnya." Ibu mertua mendekatiku, lalu mengambil alih mangkuk yang baru saja dipegang oleh putranya.
Lima belas menit kemudian
"Sayang, There dimana?" Aku baru selesai makan.
"Dia udah kusuruh pulang pas kamu dimasukin ruang perawatan." Mas Labiq baru saja memasuki ruangan setelah sebelumnya pamit untuk membeli minuman di kantin rumah sakit.
"Memangnya tadi ada Theresia?" Ibu mertua memandang ke arah kami berdua secara bergantian.
Aku tak menjawab. Lebih memilih melempar pandangan kepada Mas Labiq. Bahasa isyarat agar dia yang mengambil peran untuk menjawab.
"Oh, iya. Tadi, gak sengaja ketemu di jalan, Bu. Terus dia ikut ke sini." Suamiku sangat pintar memutar situasi. Walaupun ekspresi wajahnya tampak kaku, namun nada bicaranya cukup meyakinkan.
Dan aku ... mulai menyesali keterlanjuranku sendiri. Harusnya aku tak menanyakannya di hadapan ibu mertua.
"Oh ... kirain." Tangan ibu mertua mulai mengupas buah jeruk yang sebelumnya telah ia ambil dari dalam kulkas mini. Ini ruangan VIP, tentu saja sarana-prasarananya lengkap.
"Kirain apa, Bu?" Ayah mertua yang sedang membaca koran sontak menarik perhatiannya dari kertas lebar itu. Tatapan sanksi mulai dilontarkannya pada sang istri.
"Gak kenapa-napa kok, Pak." Ibu mertua bangkit dari duduknya, kemudian membuang kulit jeruk itu ke dalam tong sampah yang berada di pojok ruangan. "Ini, Pril." Ia langsung menyerahkan buah jeruk itu padaku. Aku pun menerima uluran tangannya. "Jeruknya manis banget. Tadi ibu udah nyobain."
Setelah itu, mereka bertiga lantas berbincang ringan. Aku tak mengambil bagian, karena mulutku sibuk mengunyah buah jeruk. Namun, telingaku tetap menjalankan fungsinya dengan baik.
"Bang, maaf ya, saya baru bisa jenguk Mbak April."
Theresia baru saja memasuki ruangan. Tak ada satu anggota TNI pun yang biasa menjadi sopirnya.
Menurut cerita yang kudengar dari Mas Labiq, sejak menikah ia tak lagi tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia lebih memilih untuk menempati rumah pribadi yang sudah dibelikan oleh ayahnya.
Walaupun kisah awalnya tidak direstui, namun atasan dari suamiku itu tidak benar-benar membuang putrinya.
"Mbak, udah enakan?" tanyanya setelah duduk di sampingku. Sebuah parsel berisi berbagai jenis roti yang berlogo KAISAR, ia letakkan di atas meja.
"Sudah, makasih ya, udah repot-repot datang ke sini." Aku tersenyum ke arah Theresia dan menyentuh punggung tangannya.
Iya tersenyum tulus. "Sama-sama." Setelah itu ia menanyakan kondisi bayiku dan apa kata dokter.
"Kamu sendiri baik-baik aja?" Aku tak tahan lagi untuk bertanya. Pumpung ayah dan ibu mertua sudah pulang ke rumah, ini kesempatan bagiku untuk mendengarkan kelanjutan kisahnya.
Ia tersenyum sambil tertunduk. "Aku ... sekarang udah baik-baik aja, Mbak." Suaranya mulai bergetar. Sungguh, aku tak tega mendengarnya.
Saat ini kami hanya berdua saja, sementara Mas Labiq sudah pamit keluar setelah Theresia duduk di samping brankar.
"Makasih ya, Mbak udah berkenan untuk membantu--menyelesaikan masalah saya." Dia menatapku dengan senyuman yang dipaksakan. Pastinya ada dentuman hebat yang sudah meluluhlantakkan perasaannya setelah mengetahui bahwa ia menjadi korban penipuan hati.
Aku hanya bisa mengelus lengannya sebagai tanda penguatan. Namun, aku salut padanya. Ia tak menangis sama sekali. Beberapa kali mengerjap, ia tak ingin air mata yang sebelumnya menggenang di pelupuk mata, jatuh begitu saja menjamah pipi.
"Aku sudah memutuskan untuk bercerai," ungkapnya. "Harusnya dari awal kami memang tidak menikah." Ia membuang pandangan ke arah jendela. "Ternyata ini alasan kenapa papa tidak merestui hubungan kami. Tapi--" Suaranya tercekat. Aku semakin berkerut dahi. "Tapi, aku malah dengan bodohnya mengancam papa untuk bunuh diri kalau beliau tidak merestui," lanjutnya.
Aku membekap mulut dengan kedua tangan. Tak menyangka jika seperti itu cerita awalnya.
"Apa sebelumnya kalian memang pacaran?" Pertanyaanku sukses membuat ia membalik pandangan.
"Iya, dia dosenku di kampus, Mbak. Tapi, selama mengenalnya gak ada satu orang pun yang bilang kalau dia udah punya istri." Ia mulai membuka parsel, mengambil salah satu roti, dan memberikannya padaku.
Sebenarnya perutku sudah kenyang, namun karena tak ingin membuatnya kecewa, aku tetap menerima pemberiannya. Agaknya berat badanku terancam naik lagi jika lama-lama berada di sini.
"Mungkin Tuhan memang lagi negur aku, Mbak." Dia kembali tersenyum. "Hukuman buat aku karena udah jadi anak pembangkang." Ia mulai tertawa kecil.
Di luar dugaan, di balik masalah serius yang sedang ia hadapi, Theresia masih bisa tersenyum. Aku jadi malu sendiri, yang terkadang mulai mengeluh karena masalah-masalah kecil yang melanda hati.
Theresia cukup mengajarkanku untuk tetap menghadapi masalah dengan ketegaran dan ketabahan. Jika terus ditangisi, keberuntungan juga tidak akan berpihak pada kita. Hal yang perlu dilakukan adalah tetap berjalan pada porosnya, bukan malah goyah hanya karena terpaan angin yang menghadang.
kembalikan dulu Labiq
Emang nenek-nenek cuma satu di dunia??
Rasanya gue paham
pantes aja sering ditindas
Otak anak juga butuh nutrisi, Mak. Apa perlu Penulis Keparat yang jadi pengamat gizi biar ibu mertua bisa mingkem
jagoannya dataaaaang 🤣
benar-benar meragukan pembaca 🤣