Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Ayuna buru-buru turun dari pangkuan Davian. Dan menatap orang itu, juga Davian bergantian.
"Ma...maafkan saya Tuan, Nona, saya…"
"Apa Bibi melihat sesuatu?" Tanya Davian dengan wajah datarnya.
"Ti...ti...tidak Tuan, saya tidak melihat apapun," ucap orang itu yang ternyata adalah orang yang bekerja di rumah Davian.
"Baiklah, Bibi bereskan itu, dan kamu Yuna kembali ke kamarmu!"
Setelah mengatakan itu, Davian pun segera mengambil kunci mobil dan meninggalkan Bibi dan Yuna.
"Om, Om mau kemana?" Tanya Yuna tapi Davian sama sekali tidak menggubris pertanyaan Ayuna dan pergi begitu saja.
"Davian kamu mau kemana?" Tanya Ana yang ikut naik sekalian membawakan makanan Ayuna, karena gadis itu tadi juga baru makan sesuap saja.
Sementara itu di dalam, Yuna hendak berlari mengejar Davian dan memutuskan menghentikan langkahnya, karena Bibi terus saja memperhatikannya sambil membersihkan pecahan gelas tadi. Ayuna menggigit kuku jarinya. Dirinya benar-benar merasa gugup.
Hingga Yuna yang sedari terdiam, kini mengangkat wajah saat mendengar ucapan seseorang.
"Ada apa ini? Bibi apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti…
"Maafkan saya Nyonya tadi saya tidak sengaja me…"
Yuna meremas ujung baju yang dikenakannya sambil terus menatap Bibi yang saat ini terus meliriknya.
"Kenapa Bi?" Tanya Ana lagi menatap Ayuna dan Bibi bergantian.
"Maaf Nyonya saya tidak sengaja."
Ana menghembuskan nafas panjang, "Ya sudah Bibi bereskan saja dan hati-hati."
"Ayuna ayo ikut aunty!" Kata Ana yang membuyarkan lamunan Ayuna.
Ayuna pun mengikuti Ana, berjalan pelan di belakangnya, jantungnya berdebar kencang, takut Ana mengetahuinya.
"Ini kamu makan dulu! Dari pagi kamu juga tidak makan," kata Ana yang tadi meletakkan nampan di atas meja.
"I...iya aunty."
"Oh ya kenapa dengan Om mu itu, dia masih marah?"
Ayuna menggeleng, Ana mendekat dan langsung membawa Yuna dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa, Om hanya marah sebentar, nanti dia juga akan baik-baik saja lagi," kata Ana yang mengira tubuh Yuna gemetar karena dimarahi Davian.
"Ya sudah kamu makan! Apa perlu aunty bawa makanannya ke kamarmu?"
Yuna mengangguk.
"Baiklah! Ayo biar aunty bantu!" Ana kemudian mengambil nampan berisi makanan dan berjalan bersama Yuna, membawanya ke kamar gadis itu.
"Ya sudah aunty keluar dulu, kalau kamu butuh apa-apa, panggil aunty saja ya," Ana mengelus lembut rambut Ayuna kemudian pergi meninggalkannya saat Yuna sudah mengiyakan.
Ana keluar dan menatap Ayuna sebelum akhirnya dirinya menutup pintu.
Sepeninggal Ana, Ayuna memegang dadanya yang bergetar hebat, apa tadi? Apa dia sudah berhasil? Apa Davian benar-benar tergoda olehnya? Tapi bayangan saat Bibi tadi melihatnya, membuat Ayuna kembali menggigit bibir bawahnya, takut jika Bibi memberitahukan pada Ana, bisa-bisa nanti Ayuna di suruh ikut dengan sahabat mamanya itu.
Tapi Yuna menggeleng, rasanya Bibi tidak akan melakukan itu, apalagi tadi wanita itu terlihat ketakutan saat Om nya berbicara padanya. Iya om nya pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Bukannya memakan makanannya, Ayuna kini justru berjalan menuju pintu dan menguncinya. Dia mengambil buku yang Winda berikan dan kembali membacanya, Ayuna sekarang tahu, langkah apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Tapi Ayuna buru-buru menutup bukunya, saat mengingat Davian.
"Kemana Om pergi?" Gumamnya.
Ayuna melihat jam di dinding, sudah jam 8 malam, Ayuna tadi memang terlambat pulang karena ada pelajaran tambahan.
Ayuna kemudian mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi, dirinya memutuskan untuk mandi lebih dulu.
Sesampainya di kamar mandi, Yuna menatap tangannya yang terluka, sepertinya sudah lebih baik, Ayuna sudah menggerakkan tangannya. Ayuna harus segera sembuh, agar bisa melakukan misi selanjutnya.
*
*
Davian segera menepikan mobilnya, memukul setir dan menelungkupkan wajahnya disana. Dirinya terus menyalahkan dirinya karena bisa-bisanya mencium Ayuna.
"Davian apa yang tadi sebenarnya kamu lakukan? Kenapa bisa-bisanya kamu…? Dan Yuna sebenarnya apa yang kau inginkan?" Ucap Davian mengerang.
"Tahukah kamu apa yang tadi kamu lakukan bisa membahayakan dirimu sendiri? Tunggu, Yuna tidak melakukan hal itu pada pria lain kan?" Keposesifan Davian kini muncul kembali.
"Tidak itu tidak boleh terjadi, aku harus menanyakan ini pada Ayuna, aku harus pastikan jika hal itu tidak terjadi," Davian hendak melajukan mobilnya untuk kembali, tapi Davian mengurungkannya dia memilih menjalankan mobilnya ke tempat lain.
Davian turun begitu sampai di tempat tujuannya, berjalan masuk dan disambut dengan banyaknya manusia yang kini sedang meliuk-liukan tubuhnya mengikuti alunan musik yang memekakan telinga.
Davian berjalan melewati orang-orang itu, sudah lama rasanya dirinya tidak pernah ke tempat seperti ini, terakhir dia datang untuk menjemput Ayuna, Davian tersenyum saat mengingat dia harus memperebutkan Ayuna dengan seorang bocah.
Davian memesan minuman, kenapa disaat menghindar dari Ayuna dia justru terus mengingat keponakannya itu.
"Vian?"
Seorang wanita cantik, menghampirinya dan duduk di samping Davian. Davian hanya melirik sekilas sebelum akhirnya dirinya meneguk minuman beralkohol yang tadi dipesannya.
"Kamu tahu Vian, belakangan ini aku sering kesini, berharap bisa bertemu denganmu, yang aku dengar dari Reza kamu cukup sering kesini dulu saat merasa penat. Dan aku senang karena akhirnya aku memang bertemu denganmu disini," wanita itu kini bergelayut manja pada Davian.
Dulu Davian memang cukup sering ke bar, terutama disaat pikirannya sedang kacau. Awalnya dulu Davian datang saat kehilangan kakak dan kakak iparnya, apalagi saat mengingat dia yang saat itu masih muda harus menjaga keponakannya yang saat itu menjadi yatim piatu. Ditambah lagi, dia harus belajar berbisnis untuk mengurus dua perusahaan sekaligus, perusahaan kakak dan kakak iparnya yang suatu saat akan di
kelola Ayuna. Pikirannya benar-benar kacau hingga dia datang ke tempat ini, untungnya Reza sahabat baiknya sejak sma selalu menemaninya dan bahkan mengikuti Davian belajar bisnis, dan sekarang berakhirlah Davian menjadikan Reza asistennya.
"Lepas Jess!"
"Aku tidak mau," Jessica justru semakin memeluk lengan Davian erat.
"Jess!"
Tapi wanita itu sama sekali tak mendengarkan, justru menyandarkan kepalanya di bahu Davian dan memejamkan matanya.
Davian yang pikirannya sedang kacau mengabaikannya dan kembali meneguk beberapa gelas minuman, berharap bisa menenangkan pikirannya.
Cukup lama Davian di sana. Hingga akhirnya dia bangkit dengan tubuh yang sempoyongan. Tapi dengan cepat Jessica membantunya.
"Vian kenapa kamu sampai mabuk seperti ini? Ayo biar aku antar kamu pulang, katakan dimana rumahmu!" Ucap wanita yang sedari tadi ada mendampingi Davian.
Davian menyebutkan alamat rumahnya, dan Jessica pun mengangguk mengerti, wanita itu memapah Davian menuju mobilnya. Dengan susah payah hingga akhirnya kini Davian sudah duduk di dalam mobilnya.
Jessica pun melajukan mobilnya menuju alamat yang tadi diberitahu pria itu. Jessica sesekali melirik Davian yang kini meracau tidak jelas.
Tak lama, mobil Jessica kini telah sampai di kediaman Davian.
Satpam membukakan gerbang saat melihat majikannya berada di dalam mobil itu.
Jessica kemudian turun dan membuka pintu, membantu Davian keluar dari dalam mobil.
"Biar saya bantu Nona," ucap satpam itu menawarkan diri tapi dengan halus Jessica menolaknya dan hanya meminta satpam itu untuk memencet bel dan membiarkannya masuk.
…
Sementara itu, Ayuna sedari tadi hanya mondar-mandir di dalam kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari dan dia belum juga tidur karena menunggu Davian pulang. Dan saat mendengar suara berisik di depan kamar, Yuna buru-buru keluar, berharap jika Davian pulang.
Yuna mempercepat langkahnya, saat dirinya mendengar suara Davian karena memang pintu kamar Ayuna sengaja dibuka.
"Om sudah pu…"
Belum selesai melanjutkan kata-katanya, Ayuna di buat terkejut saat Davian bersama seorang wanita dengan posisi yang saling merangkul, di tambah keduanya kini masuk ke dalam kamar Davian.
Ayuna memegang dadanya yang terasa sakit dan tiba-tiba saja air matanya kini sudah terjatuh membasahi pipinya.
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪