Warning!! sebelum membaca usahakan untuk membaca terlebih dahulu "ISTRI UNTUK TUAN MUDA PSYCHOPATH"
supaya kalian tau alur ceritanya.
🌹🌹🌹🌹
Erlon yang mabuk berat membuat dirinya kehilangan kendali, sehingga tanpa sadar ia melakukan pelecehan terhadap Briana. Yang membuat Kenzo sang daddy harus rela melihatnya menikah dengan anak dari musuhnya, dari situlah kisah perjalanan cinta mereka akan dimulai.
Siapakah yang akan terlebih dahulu jauh cinta? Apakah Erlon atau Briana?
🍃🍃🍃🍃
Eeetsss!! disini juga bakal ada kisah cinta Erlan dan juga Aurora lho, penasaran seperti apa kisah mereka. Cus dibaca saja bestie. Tapi sebelum kalian baca usahakan berikan Ayuza yang mental patungan ini dukungan ya ... .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Erlon Ingin Menceraikan Ana
Setelah di otopsi, jasad mereka bertiga di makamkan hari itu juga karena melihat kondisi mayat mereka yang sangat memprihatinkan. Erlon merasa saat ini seperti mimpi buruk, ia tak henti-hentinya menangis meski di lihat oleh orang banyak. Ana selalu setia berada di sampingnya untuk menenangkannya tapi itu percuma Erlon malah semakin terisak. "Pulanglah, biar aku menemani mommy di sini. Seperti mommy yang selalu menemaniku saat aku sakit terbujur lemah tak berdaya," ucap Erlon yang menyuruh Ana untuk pulang.
"Saya … akan menemani Anda di sini tuan," kata Ana yang kini masih duduk di sebelah Erlon. "Sampai Anda mau pulang," sambung Ana.
Erlon menggepal tanah kuburan dengan sangat kuat. Di saat ia tahu ini bukan murni kecelakaan meski polisi dan dokter sudah menyatakan ini kecelakaan. Tapi seorang Erlon tidak mudah percaya begitu saja. "Larilah sejauh mungkin, sebelum aku renggut nyawa kalian," gumam Erlon pelan tapi bisa Ana dengar dengan sangat jelas.
"Maksud Anda apa? Mereka siapa yang Anda maks–" Ana tidak meneruskan perkataannya, ia langsung diam karena Erlon menatap dirinya seolah tidak mau ia bertanya di saat ada banyak orang.
"Lebih baik kamu diam," ucapan Erlon membuat Ana diam seketika tidak berani bersuara lagi. "Bukankah sudah ku suruh kamu untuk pulang, kenapa masih di sini." Erlon tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang melihatnya dalam keadaan kacau begini, ia terus saja menangis sambil tertawa seperti orang gila. "Mana kak Erlan?" taya Erlon yang melihat tidak ada Erlan. Ia ternyata tidak tahu kalau Erlan sempat pingsan karena tidak sanggup menyaksikan kedua orang tuanya masuk ke dalam liang lahat. Dan Erlan sudah dibawa pulang oleh Opa Hercules sedangkan Oma Daniar sedang menenangkan Aurora yang seperti orang kesurupan ketika tahu Zizi dan Kenzo sudah tidak ada.
"Opa sudah membawa kak Erlan pulang," ucap Ana. Yang mencoba membantu Erlon berdiri. "Ayo tuan, kita pulang. Anda sepertinya butuh istirahat."
Erlon berdiri, ia menuruti perkataan Ana meski jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak mau meninggalkan makam kedua orang tuanya. "Aku tidak mau pulang ke rumah mommy."
"Jadi kita harus kemana tuan?" Ana tidak tahu jalan pikiran Erlon yang tidak mau di ajak ke rumah Zizi.
"Mansion, aku butuh tempat yang sepi dan damai. Tidak ingin melihat wajah orang-orang yang aku sayangi bersedih. Itu semakin membuat darahku mendidih, ingin menghabisi dalang di balik ini semua."
Meski Ana belum mengerti maksud Erlon, ia tetap mengiakannya. "Baik, tuan." Hanya itu yang Ana katakan, karena belum saatnya ia bertanya terlalu jauh kepada Erlon.
*
*
Di kediaman Zizi, Erlan masih pingsan ia sekarang di temani Opa Hercules dengan perasaan yang tidak karuan. Tak lama Oma Daniar masuk dengan membawa air hangat untuk mengompres Erlan. "Mas, sepertinya Erlan demam, kamu kompres dulu. Ya, aku mau lihat Aurora sepertinya dia sudah lebih baikan."
"Kenapa jadi begini Daniar, kenapa … ." Opa Hercules mengusap wajahnya dengan kasar. "Mereka belum sempat merasakan bagaimana menjadi seorang kakek dan nenek, Kenzo maafkan Papa," kata Opa Hercules sambil mengusap air matanya.
"Mas, kita tidak bisa melawan takdir. Tenangkan dirimu." Oma Daniar tahu bagaimana perasaan Opa Hercules, ia juga merasakan hal yang sama. "Jangan bersedih di depan Erlan dan Erlon, nanti itu akan membuat mereka semakin terpukul."
"Sungguh aku tidak sanggup Daniar, anak-anakku sekarang telah tiada. Aku tak percaya mereka telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya." Air mata Opa Hercules mengalir di kulit pipi yang sudah keriput. "Aku sudah gagal menjaga anak dan menantuku, itu artinya aku gagal menjadi orang tua … ."
"Kamu tidak gagal Mas, hanya saja Tuhan lebih sayang mereka," kata Oma Daniar yang kini berjalan keluar.
"Apa Erlon sudah pulang?" Opa Hercules bertanya di saat ia mengingat Erlon tadi ia tinggalkan di makam bersama Ana.
Oma Daniar berhenti di ambang pintu, ia lalu menghembuskan nafas dengan pelan. "Kata Ana, Erlon lebih memilih pulang ke mansion." Oma Daniar tahu itu dari Ana yang sempat memenghubunginya tadi. "Mungkin Erlon, ingin menenangkan dirinya, aku keluar dulu Mas, nanti kalau Erlan bangun panggil saja aku."
Opa Hercules hanya mengangguk, dan ia mulai mengompres Erlan. Air matanya tidak berhenti mengalir malah sekarang semakin deras. Aku berharap ini semua hanya mimpi. kedua cucuku belum siap kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan, Tuhan … apa yang sedang Engkau rencanakan di balik musibah ini. Opa Hercules membatin.
Tak lama Aurora datang ia dipapah oleh salah satu pelayan yang ada di sana. "Opa," panggilnya.
Opa Hercules mengusap air matanya dengan cepat, karena ia melihat sudut mata Aurora yang baru datang mulai berair. Meski Opa Hercules sudah lanjut usia tapi pengelihatannya serta pendengarannya masih sangat normal. "Aurora, sini. Nak, apa kamu sudah lebih baikan?"
"Opa, apa ini semua hanya mimpi?" tanya Aurora yang kini sudah semakin dekat dengan ranjang Erlan. "Opa … benar, 'kan ini mimpi. Tidak mungkin mommy dan daddy, meninggalkan kita semua."
"Opa berharap juga begitu, kalau ini hanya sebuah mimpi," ucapan Opa Hercules malah membuat tubuh Aurora kembali lemas. Untung saja pelayan itu masih memapah tubuh Aurora.
*
*
"Tuan, Anda belum makan dari tadi pagi, ayolah makan sedikit saja." Ana sedang membujuk Erlon untuk makan. "Tuan … ."
"Aku tidak mau makan!" ketus Erlon. Yang kini masih betah membelakangi Ana. "Keluar!! Bawa makanan itu, sudah ku katakan aku tidak mau makan!" Erlon membentak Ana, sejak mereka pulang dari makam Erlon mengurung dirinya di kamar ia tidak mau di ganggu oleh siapapun termasuk Ana.
"Sebelum Anda makan, saya tidak akan keluar," kata Ana tegas.
Erlon melempar pisau ke lukisan yang bergambar singga. "Tetaplah disini, jika kamu ingin lenyap di tangannku."
"Tuan, saya hanya tidak ingin Anda sakit, maka makanlah sedikit saja." Ana mendekati Erlon dan menaruh mamapan itu di paha Erlon yang duduk. Dan ia kembali bersuara, "Saya juga tidak takut dengan ancaman Anda, jika ingin membunuh saya maka lakukanlah sekarang." Ana sebenarnya saat ini sangat takut, terlihat dari telapak tangannya juga sudah mulai mengeluarkan keringat.
"Aku akan mencerikan kamu, jadi enyalah dari hadapanku," suara Erlon bagikan belati yang menancap di dada Ana. "Aku akan mengurus perceraikan kita secepatnya.
"Saya tidak mau bercerai, sampai kapan pun itu." Ana mengusap air matanya yang menerobos keluar begitu saja. "Owh, apa setelah Anda berhasil merebut harta yang paling berharga dalam hidup saya, Anda akan membuang saya seperti sampah." Ana merasa Erlon mempermaikan perasannya.
"Berapa harga yang harus aku bayar, seratus juta, satu miliar atau lebih. Sebut saja. Tapi dengan syarat kamu harus pergi dari hadapanku malam ini juga."
Tangan Ana terangkat dan menampar pipi mulus Erlon, mendengar Erlon berkata demikian. "Anda akan menyesal." Ana kemudian berlari keluar, entah ia akan pergi atau bertahan dengan Erlon yang memikiki sifat kekanak-kanakan.