Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.
Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.
Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.
Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Belakang
Anetta’s POV
Pagi ini Marco memaksa untuk menjemputku di rumah agar kami bisa sama-sama berangkat ke kantor. Aku sudah berusaha meyakinkannya bahwa aku tidak masalah berangkat sendiri ke kantor, tetapi percuma saja rasanya melawan keinginan Marco. Kalau dia sudah membuat keputusan, sangat sulit membujuknya agar berubah pikiran. Akhirnya aku menurut saja, dengan syarat nanti aku akan turun di minimarket yang letaknya satu blok sebelum kantor Mills.
Marco sebenarnya berat hati mengatakan ‘ya’ untuk permintaanku itu, tapi berhubung aku sangat jago bernegosiasi, akhirnya dia mau sepakat.
Jadi, setelah hampir setengah jam berkendara, aku meminta Marco berhenti di depan sebuah minimarket dengan ciri khas warna merah dan kuning itu. Lalu, untuk menyempurnakan kamuflase, aku masuk ke dalam minimarket tersebut, membeli sesuatu kemudian barulah aku berjalan ke kawasan kantor Mills. Hal ini juga sekaligus untuk memberi jarak antara kedatanganku dengan Marco.
Aku segera menghidupkan komputer dan berlari ke toilet setelah meletakkan tasku di laci meja kerja, begitu sampai di ruang Creative.
Jarak minimarket di blok sebelah itu tidak jauh dari kantor Mills, aku juga jalan dengan cukup santai karena hari masih pagi dan jarum jam belum menyentuh angka delapan. Namun, yang namanya jalan kaki tetap saja mengeluarkan energi panas dari dalam tubuh, kan? Tidak bisa kuhindari juga keringat mengucur di dahiku. Untuk itulah, aku berniat merapikan penampilan di toilet.
Ternyata ... melangkah melalui ‘jalan belakang’ itu butuh perjuangan, ya? Keluhku dalam hati. Namun, beberapa detik kemudian aku menyesali penyesalanku barusan.
Aku tidak boleh mengeluh. Bukankah aku sendiri yang meminta untuk menyembunyikan hubunganku dengan Marco? Aku sendiri yang meyakinkan diriku bahwa aku bisa menjalani permainan cinta sembunyi-sembunyi ini.
Setelah dipikir-pikir, aku jadi seperti anak SMA yang main kucing-kucingan dengan orangtua karena belum diperbolehkan pacaran. Bedanya, aku harus bersembunyi dari rekan-rekan di kantor atas kedekatanku dengan Marco yang notabene adalah bosku. Aku tidak mau rekan-rekanku menganggap aku mencari jalan pintas untuk karier yang cemerlang.
“Mbak, saya butuh materialnya secepatnya. Ini proposal udah acc, loh. Masa proyek udah goal, tiba-tiba material enggak ada. Mau ditaruh di mana muka saya, Mbak? Mbak bisa bayangin enggak, betapa malunya saya sama klien?”
Dari ujung lorong ruang Creative saja suara Frans yang sedang beradu argumen dengan seseorang di seberang telepon itu sudah terdengar. Kalau sudah urusan debat-mendebat seperti ini, kami semua sudah tahu siapa sosok di belakangnya.
Mbak Ningrum, salah seorang staf bagian pembelian yang juteknya terkenal di seantero Mills. Perawakannya tinggi dan ramping, dengan pipi chubby yang seharusnya membuat dia terlihat sangat imut dan menggemaskan. Tetapi sebaliknya, perkataan pedas yang selalu keluar dari bibirnya membuat dia justru tidak menarik sama sekali untuk didekati, bahkan untuk sekedar berteman.
Frans tampak gemas sendiri sambil berdebat di telepon. Dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah, dari mata membesar, bibir dimonyong-monyongkan, tangan mengepal seperti ingin meninju lawannya di seberang sana, hingga mengacak-acak rambutnya sendiri.
Aku dan Lana memperhatikan sikap Frans yang sedang emosi, sampai lelaki yang sehari-harinya selalu ceria itu menutup teleponnya.
“Bad morning, huh (1)?” goda Lana pada Frans yang kini menatap lebar-lebar proposal yang tampil di layar monitornya.
“So bad (2)!” jawabnya. Dia mengembuskan napas panjang-panjang. “Gue, tuh, heran, ya, sama si Mbak Ningrum itu. Kita udah gencar banget, nih, nge-deal-in proyek ke klien. Giliran proyek goal, material enggak bisa masuk. Gimana enggak keki gue pagi-pagi.”
“Kamu enggak coba langsung ke Bu Mia aja? Barangkali dia bisa bisa bantu?” Aku mencoba mengeluarkan pendapatku.
“Enggak bisa, Net. Kalo gue langsung ke Bu Mia, itu si Mbak Ningrum alamat bakalan ngejutekin gue sepanjang gue hidup di Mills. Gue pernah dulu, enggak bisa nge-push dia nyari material, terus gue datenginlah Bu Mia dengan pikiran bakalan lebih cepat gerak karena atasannya langsung yang bertindak. Eh, begitu gue dapet proyek lain, Bu Mia lagi cuti melahirkan, jadinya gue mesti berhubungan sama si Mbak Ningrum. Habislah gue dijutekin, karena dia menganggap gue enggak menghargai dia sebagai staf pembelian,” jelas Frans panjang lebar.
“Oooohhhhhh!” Hanya itu kata yang bisa kuucapkan, sebagai bentuk keprihatinanku kepada Frans.
Aku sendiri pernah berhubungan langsung dengan Mbak Ningrum. Pada saat awal-awal bekerja di Mills dan mendapatkan proyek pertama.
Aku menemuinya langsung di meja kerjanya, tapi dia menolakku bahkan sebelum aku sempat tiba di pinggir mejanya.
“Kamu bisa mengirim pesan tertulis saja pada saya melalui Skype. Saya sedang sibuk sekarang. Nanti saya akan baca pesan kamu kalau saya sudah punya waktu luang.” Begitu katanya kala itu.
Dalam hati, aku kesal sendiri. Sejak dulu aku terbiasa berinteraksi dengan orang secara langsung. Menurutku itu jauh lebih efektif ketimbang harus mengirim pesan melalui media percakapan yang harus menunggu balasan dan terkadang malah membuat salah paham karena perbedaan menginterpretasikan maksud.
Kalau aku ingat-ingat masa itu, rasa emosi di dalam hati masih bisa muncul, tapi karena sudah membiasakan diri dengan sikap Mbak Ningrum yang memang seperti itu, aku jadi kebal.
“Ya udah, kamu deketin aja, gih? Kan, doi masih jomblo juga. Cocok, deh, sama kamu!” Tiba-tiba suara cempreng Lana membuat Frans membulatkan matanya dan bersiap-siap melempar kacang telur cemilan favorit lelaki itu ke arah Lana. “Siapa tahu kalo udah deket, kerjaan jadi mulus,” sambungnya lagi.
Pluk! Satu butir kacang telur sukses mengenai ubun-ubun Lana.
“Gue enggak doyan daun tua!” ucap Frans. Penuh ketegasan.
“Jangan takabur, kamu, Frans!” tukasku cepat. “Nanti kesengsem, enggak bisa lepas dari jeratan di ranting si daun tua ...” kekehku.
Frans memutar-mutar bola matanya pertanda bosan. Bukan sekali ini saja aku dan Lana merecoki dia untuk jadian dengan Mbak Ningrum, tapi bukan sekali ini juga Frans ingin menerkam kami karena keusilan kami padanya.
~
Baru saja aku ingin mengirimkan pesan pada Marco saat jam makan siang, tetapi hapeku sudah bergetar dengan disusul suara deringan singkat pertanda ada pesan Whatsapp yang masuk.
Aku membuka laman Whatsapp dan menemukan nama Marco terpampang di sana.
Marco
Jangan lupa makan siang, ya.
Hanya membaca pesan singkat yang isinya klasik itu saja, aku tak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajahku. Setelah membalas pesannya, aku lalu mengikuti Lana menuju kantin.
Hari ini aku tidak membawa bekal dan ingin sekali merasakan mie goreng spesial buatan Bu Janah di kantin Mills.
Semua karyawan memuji mie goreng buatan perempuan paruh baya yang masih aktif memasak tersebut. Mungkin hanya tinggal aku saja yang belum pernah mencobanya karena kalau tidak bawa bekal pun, aku biasanya lebih memilih menu nasi dengan lauk pauk.
“Mau pesan apa anak-anak gadis yang cantik?” sapa Bu Janah begitu kami sudah tiba di kios makanan miliknya.
“Anak gadisnya tinggal satu orang, Bu. Yang satunya lagi, kan, baru lepas landas,” tukasku pada Bu Janah yang kini tertawa.
“Oh, iya ... Ibu lupa. Hihihi ...” Bu Janah terkekeh.
“Netta sirik aja, sih, aku masih dianggap gadis sama Bu Janah.” Lana mencibirku.
“Bukan sirik, kok, tapi kebenaran harus dijunjung tinggi ...”
“Halah, pakai bawa-bawa falsafah segala. Udah, ah, ayo makan!” Lana akhirnya menyerah.
Akhirnya aku dan Lana memesan menu makanan pilhan kami masing-masing dan menikmatinya.
~
Hari ini lagi-lagi aku harus lembur untuk menyelesaikan laporan akhir bulan. Namun, aku tidak sendirian, karena ada Lana dan Sony yang juga masih berkutat dengan laporan masing-masing.
Kalau Frans ... Ah, tidak usah dipikirkan. Dia mempunyai caranya sendiri untuk menyelesaikan laporan. Biar serampangan dan terlihat easy going (3), Frans selalu bisa diandalkan dan selalu bisa menyelesaikan laporannya dengan baik tanpa kita tahu kapan dia mengerjakannya.
“Kalian belum pulang?” Tiba-tiba saja suara Marco sudah terdengar di ruangan Creative yang hening malam ini.
“Saya baru saja selesai, Pak.” Sony menjawab sambil mematikan tombol daya komputer serta seluruh sakelar listrik di meja kerjanya.
Kini dia sudah bangkit dan menenteng tas kerjanya. “Netta mau ikut pulang bareng gue?” tanya Sony padaku.
Aku mendongak, hendak menjawab. Namun, belum sempat kujawab ajakan Sony, Marco buru-buru menjawab.
“Anetta biar saya saja yang mengantar. Lana dijemput suaminya, kan?” Dia mengalihkan pertanyaan pada Lana.
Lana mengangguk. “Iya, Pak. Lagi pula rumah saya dan Anetta memang tidak searah,” jawabnya.
“Kalau begitu saya duluan, Pak.” Sony pamit dan meninggalkan kantor terlebih dahulu.
Aku, Lana, dan Marco keluar bersamaan dari kantor lalu memisahkan diri di halaman. Lana sudah masuk ke mobil suaminya yang telah menunggu. Sementara aku mengikuti Marco masuk ke mobilnya.
“Sepertinya aku harus membuat kamu lembur setiap hari supaya kita bisa pulang sama-sama.”
Aku langsung merengut mendengar kalimat Marco barusan. Kurang banyak apa pekerjaanku sampai harus lembur setiap hari hanya untuk bisa pulang sama-sama dengannya.
Bukan aku tidak senang, hanya saja ... aku merasa sepertinya ini tidak benar. Baru awal-awal seperti ini saja rasanya sudah sangat rumit.
“Mungkin kita harus mikirin cara lain ...” kataku akhirnya. Aku ingin mendengar tanggapan Marco, barangkali dia punya jalan keluar lain.
“Cara lain seperti apa yang kamu pikirkan?” Dia malah balik bertanya, sambil sesekali melirikku.
“Aku belum tahu. Barangkali kamu punya jalan keluar yang lain?” Aku menatapnya lekat-lekat, benar-benar tidak melepaskan tatapanku darinya.
“Aku belum memikirkan cara yang lain, Sayang. Kita lihat nanti saja, ya.”
Dia menyentuh rambutku dan mengusapnya lembut. Aku bingung dengan perasaanku kali ini. Sejujurnya aku sedikit kecewa mendengar jawabannya bahwa dia tidak memiliki jalan keluar untuk permainan sembunyi-sembunyian ini, tapi mendengarnya memanggilku dengan sebutan ‘Sayang’ sangatlah membuat aku melayang.
Yang bisa kulakukan saat ini hanyalah mengusap lembut jemari tangan kirinya yang kini sudah berada dalam genggamanku.
Ya, kita lihat nanti saja, batinku.
••••••••••
(1) Pagi yang buruk, hah?
(2) Sangat buruk!
(3) Mudah bergaul.
love u
selalu ku tunggu ceritamu
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
selalu semangat yaa
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍