Pelukan Rio membuat rasa traumatik dalam diri Diana Lorenza berangsur mereda. "Ri-rio?
"Iya, aku Rio ... apa kau masih mengingatku?Aku anak kecil gila yang pernah berjanji padamu 'I promise you that i never leaves you until my life ends, and i will always trying to prove to the whole world, that our love will come true in a marriege'. Dan percayalah, anak kecil gila itu pasti akan membuktikan janjinya." Rio semakin memperat pelukannya.
Diana terdiam, membiarkan dirinya hanyut dalam hangat dan nyamannya pelukan Rio.
Namun, bisakah Rio menepati janjinya itu?
Akankah Rio bisa membahagiakan Diana yang hidupnya terus dirudung kemalangan?
Sementara Rio sendiri sudah dijodohkan dengan sepupunya!
Mungkin saja ini hanya sebatas kebahagiaan semu untuk Diana!
Follow ig: @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Orang Mencari Diana
Pagi-pagi sekali Rio sudah bangun, semalam dia terus gelisah, tidurnya tidak nyenyak dan hanya beberapa jam saja.
Setelah mandi Rio ingin pergi ke kamar sebelah untuk melihat Dewi, tapi suara bell membuat langkahnya berbelok ke arah pintu.
"Kau perawat lansia yang dikirim Laura," tanya Rio saat mendapati seorang wanita berdiri di pintu apartemennya.
Wanita berusia sekitar 40-tahunan itu mengangguk, seraya memperkenalkan diri. "Benar, Tuan. Nama saya Tari"
"Mari, silakan masuk," ajak Rio.
Dia lantas membawa perawat bername tag Lestari tersebut menuju kamar nenek Dewi.
Di atas tempat tidurnya wanita tua itu tampak sudah terjaga, dia sedang memindai ruangan tempatnya berada dengan raut wajah bingung.
Rio tersenyum seraya duduk di pinggir ranjang. "Bagaimana keadaan Nenek?" tanyanya.
"Di mana ini?" Nenek Dewi balik bertanya.
Rio menjelaskan, "Nenek tidak usah bingung, semalam aku membawa Nenek ke sini, dan nenek akan aman bersamaku di apartemen ini."
Nenek Dewi mengangguk lemah. "Diana ... apa kau berhasil menemukannya?"
Rio menggelengkan kepala, raut wajahnya berubah sedih. "Maafkan aku, Nek. Aku belum berhasil menemukan Diana, tapi aku berjanji akan melakakukan segala cara untuk menemukan dia."
"Tolong selamatkan Diana, Rio ... hidupnya tidak pernah senang semenjak ayahnya meninggal. Kau harus menemukan Diana secepatnya. Dia dalam bahaya, ibu tirinya sekarang pasti sedang mencari keberadaan kami," lirih nenek Dewi.
"Iya, Nek ... aku pasti akan menyelamatkan Diana, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Nenek jangan khawatir," sahut Rio penuh tekad.
Rio membuang napas berat, dia semakin khawatir mengetahui banyaknya bahaya yang mengancam Diana. Ini juga membuatnya ingin bergerak lebih cepat, agar segera menemukan gadis kecilnya tersebut.
"Nenek, aku harus pergi. Ini Suster Tari, dia yang akan mengurusi semua kebutuhan Nenek," pamit Rio.
"Terimakasih, Cu. Kamu sangat baik, semoga kamu cepat bertemu Diana."
Rio mengangguk, dalam hati mengamini harapan nenek Dewi, lalu keluar dari kamar tersebut.
***
Di tempat lain.
Wajah Amara langsung berubah pucat saat menyambut kedatangan Tuan Jhoni.
"Tu-tuan, silakan masuk."
Pria berpenampilan parlente itu menggangguk, dia bertanya seraya melangkah ke ruang tamu, "Apa kemarin kau sudah membawa calon pengantinku ke salon kecantikan? Suruh dia keluar, aku ingin melihatnya!"
"Silakan duduk dulu, Tuan." Amara semakin gugup.
Dia memang belum memberitahu Tuan Jhoni tentang Diana yang kabur. Dia sengaja ingin menyembunyikan masalah ini, sambil berharap putranya berhasil menemukan Diana terlebih dulu.
Amara ingin menyusul duduk, dan hal ini membuat Tuan Jhoni melotot kesal. "Mengapa kau malah duduk? Cepat panggilkan putrimu!"
"A-anu, Tuan ... Diana, dia ...."
Tuan Jhoni mengernyit, melihat Amara yang gelagapan membuatnya jadi curiga. "Katakan yang jelas, ada apa dengan calon pengantinku?" desaknya.
"Di-diana ... dia sedang keluar, Tuan," jawab Amara terbata-bata.
"Kau ... jangan coba-coba ingin menipuku!" bentak Tuan Jhoni, dia semakin yakin ada yang tidak beres.
"Saya tidak berbohong, Tuan."
"Kalau begitu hubungi dia, dan suruh dia pulang sekarang juga!"
Tuan Jhoni menarik sudut bibirnya melihat Amara yang tidak bisa melakukan apa-apa, ini membuatnya yakim seratus persen Amara sedang berhong.
"Paksa dia mengatakan yang sebenarnya!" perintah Tuan Jhoni pada pengawalnya.
Dua orang pria berbadan besar langsung menangkap Amara.
"Cepat katakan ke mana perginya calon pengantinku, jangan buat aku kehilangan kesabaran, dan menyuruh orang-orangku menghabisimu!" ancam Tuan Jhoni.
Amara gemetar ketakutan, dia seperti sedang melihat malaikat maut.
Dia pun terpaksa membuka mulut, sebelum tangan-tangan kekar anak buah Tuan Jhoni menyiksanya, "Se-sebenarnya Diana kabur, Tuan."
"Apa?" bentakan Tuan Jhoni membuat Amara semakin pucat.
"Tu-tuan tenang saja, Aiden pasti akan menemukannya. Dia tidak bisa pergi jauh, dia tidak punya uang. Saat dia tertangkap nanti, aku akan langsung mengantarnya ke rumahmu, Tuan. Agar dia tidak bisa kabur lagi." Amara mencoba mendinginkan suasana yang mulai memanas.
Semua yang dikatakan Amara tidak cukup untuk menenangkan Tuan Jhoni, pria itu mencengkeram rahang Amara. "Mengapa kau sampai lalai menjaganya?"
Saat Tuan Jhoni melepas tangannya, tampak bekas kemerahan di pipi Amara.
"Maaf, Tuan. Aku tidak menyangka dia akan kabur. Beri aku waktu, Tuan. Diana pasti ketemu."
Tuan Jhoni berdecak marah, dia memerintahkan anak buahnya melepaskan Amara. "Aku beri waktu 24-jam, jika dalam waktu itu calon pengantinku tidak ketemu, maka jangan harap kau dan anakmu bisa selamat."
Tuan Jhoni membawa anak buahnya pergi setelah mengancam Amara, dia tidak ingin buang-buang waktu di sana.
"Kerahkan bawahan kalian, cari keberadaan calon pengantinku sampai ketemu," perintah Tuan Jhoni pada anak buahnya.
Tuan Jhoni tidak percaya dengan Amara, maka dari itu dia memerintahkan orang yang ahli di bidangnya, agar Diana bisa secepatnya ia temukan.
Bersambung.
Nanti malam aku kasih satu bab lagi ya, jangan lupa terus berikan dukungan kalian.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
tp klu tdk ada peran si ibu tiri pasti tdk seruu.