Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Jurusan Kedokteran
Seorang dokter juga dibekali ilmu terkait obat-obatan yang nantinya berhubungan dengan penyakit yang ditangani.
Mahasiswa di jurusan kedokteran juga akan mempelajari bagaimana melakukan pemeriksaan kepada pasien. Sekaligus menarik diagnosa penyakit dari hasil pemeriksaan yang didapatkan. Itulah yang dapat Aisyah cerna dari penjelasan Dosen di depannya.
Pelajaran yang cukup menantang bagi Aisyah, mengambil keputusan untuk sampai disini membutuhkan persiapan yang matang. Tidak hanya pelajarannya yang terbilang susah, lamanya menempuh pendidikan disini juga merupakan salah satu hal yang harus di pikirkan. Jika hanya untuk coba-coba, sebaiknya jangan.
Sepulang Aisyah dari kampus, Aisyah mengambil benda pipih kesayangannya itu. Lalu mencari sebuah nomor telepon ibunya, segera ia memencet tombol panggil setelah ia menemukan nama Ibuku sayang di layar handphonenya.
Tutttt Tutttt
Terdengar suara sambungan teleponnya, namun tidak di jawab.
"Kemana ibu?" Gumam Aisyah bertanya-tanya.
Kringggg,,,,,,, Kringggg
Tidak lama, setelah di letakan nya Handphone itu di atas nakas, suara panggilan telepon dari handphonenya pun kembali terdengar. Terlihat di layar handphone nya sebuah nama Bang Rangga sedang menelepon dirinya.
Segera Aisyah mengangkat teleponnya itu.
"Hallo bang!" Ucap Aisyah.
"Kamu dimana? Sudah pulang ngampus ya? Gimana pelajaran pertama hari ini, apa sulit?"
Sebuah pertanyaan beruntun Rangga berikan kepada Aisyah, membuat Aisyah melupakan lelahnya setelah seharian ini belajar.
"Bang! Aisyah sudah di rumah, Alhamdulillah pelajaran nya lumayan sulit. Abang lagi dimana?" tanya Aisyah balik.
"Syukurlah, Abang lagi di kontrakan"
"Tadi Aisyah telepon ibu, tapi gak di angkat-angkat. Aisyah khawatir" ungkap Aisyah.
"Abang akan kesana nanti, kamu jangan khawatirkan ibu mu disini. Fokus saja sama pendidikan mu ya! Ada Abang yang akan menjaga ibu dan adik-adikmu" Ucap Rangga dengan suara yang lembut, membuat Aisyah tersenyum senang.
"Terimakasih bang!" Ucap Aisyah senang.
***
Hari pun berlalu begitu saja. Aisyah sudah bisa membiasakan dirinya untuk hidup di Kota.
Walaupun saat ini ia sudah hidup di kota, Aiysah tidak akan lupa untuk selalu menelpon ibu dan adik-adiknya di kampung sebagai pelepas rindu sementara. Ini sudah bulan ke enam ia berada di kota, adiknya yang ia tinggal sejak bayi pun kini sudah bisa duduk dan bermain. Sungguh menggemaskan di saat ia melakukan video call bersama adik bungsunya. Ingin sekali rasanya pulang, namun keadaan mengharuskan ia untuk terus berjuang melawan rasa rindu.
Cara Aisyah berbicara pun sudah bisa membiasakan diri dengan bahasa Indonesia baku. Lain dari pada di kampung, yang kebanyakan menggunakan bahasa melayu.
**********
Banyak yang bilang, cinta pertama anak perempuan itu adalah ayahnya. Namun, itu tidak berlaku bagi anak perempuan yang berada di keluarga yang patah. Ayah yang seharusnya menjaga, mendidik, dan menyayangi anaknya, namun lebih memilih jalan yang berbeda. Dari sebagian anak perempuan akan mengidolakan sosok ayahnya, namun berbeda dengan anak Broken Home, Sosok ayah bahkan tidak terlihat oleh matanya.
**
Di sebuah rumah. Emi berjalan mendekati ibunya yang sedang bekerja membuat kue jualannya.
"Bu, uang SPP Emi belum di bayar. Kata guru, jika Emi gak bayar akan di skor dari sekolah" Emi membuka suara dengan ragu. Sebab ini sudah ke lima kalinya ia membicarakan tentang ini dalam seminggu.
Bu Hesti menghembus nafas kasar, "Emi! Kamu tidak lihat ibu lagi bekerja. Bilang sama gurumu ibu akan membayarnya nanti. Kenapa kau tidak minta saja sama ayahmu yang tidak bertanggungjawab itu? Dia tidak pernah memikirkan kalian, bahkan menafkahi kalian saja mungkin dia sudah lupa. Berhenti mendesak, Ibu sudah capek." Ucap Bu Hesti dengan kasar.
.
.
.
.
.
Bersambung.
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏