Assalamualaikum...
Ini karya pertama ku dari penulis pemula seperti ku
Mohon bantuan kritik dan sarannya
Terima kasih
Dua wanita
Dua cincin
Tapi hanya ada satu cinta
Siapakah yang akan dipilih Sameer??
Humaira gadis hijab bercadar lulusan pesantren ataukah Elena gadis cantik dan modis??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Elena berlari kecil masuk ke dalam rumah, bibirnya terus mengembangkan senyum. Ia pulang ke rumah dengan penampilan barunya. Baju gamis panjang beserta hijab yang menutupi rambut hitamnya.
Hatinya lebih tenang dengan penampilan barunya. Ia ingin segera bertemu Sameer untuk menunjukkan penampilan barunya dan setelah ini ia ingin bertemu Humaira untuk meminta wanita itu mengajarinya menjadi seorang muslim.
Dia sama sekali tidak paham tentang larangan bagi wanita muslim karena sejak kecil ia beragama Kristen, baru akan menikah dengan Sameer ia memeluk keyakinan yang sama seperti Sameer. Yaitu Islam.
Dulu keyakinan yang di peluknya yang menjadi penghalang hubungannya dan Sameer, orang tua Sameer tidak setuju dengan hubungan mereka karena mereka berbeda keyakinan.
"Assalamualaikum" Elena mengucapkan salam dengan wajah berseri-seri.
"Wa'alaikumsalam" jawab Bi Imah menghampiri Elena. Bi Imah tampak terkejut dengan penampilan baru majikannya.
"Bagaimana Bi cantik tidak?" tanya Elena meminta pendapat pada Bi Imah tentang penampilan barunya.
"Sangat cantik Nyonya" puji Bi Imah
"Bi, apa Sameer akan suka dengan penampilan baru ku?" tanya Elena
"Pasti Nyonya. Tuan pasti akan sangat suka"
"Terima kasih ya Bi, Aku jadi tidak sabar menunggu Sameer pulang" Senyuman manis terus mengembang di bibir Elena.
Tak selang berapa lama sebuah mobil berwarna hitam milik Sameer telah terparkir di carport.
Elena yang mendengar suara mobil Sameer bergegas menuju pintu utama, dia ingin menyambut kepulangan Sameer dan menunjukkan penampilan terbarunya.
"Assalamualaikum sayang" sapa Elena tersenyum cerah.
"Ele?" ucap Sameer terkejut dengan penampilan baru istrinya. Ia tidak menyangka kalau Elena akan berpakaian tertutup. Sebuah hijab yang menutupi kepalanya serta baju gamis panjang yang indah membalut tubuh jenjangnya.
"Its me.."seru Elena berhambur memeluk Sameer erat. Sameer membalas pelukan Elena tak kalah eratnya.
"Bagaimana? Apa aku cantik?" tanya Elena memutar tubuhnya di hadapan Sameer.
"Cantik, sangat cantik" Sameer menangkup wajah Elena mendaratkan kecupan di kening wanitanya.
"Terima kasih, aku mencintai mu Sam"
"Me too"
Elena pun mengandeng tangan Sameer, mengajak Sameer duduk dihalaman belakang. Dia ingin menikmati waktu berdua dengan suaminya, menikmati rembulan yang mempesona malam dengan ditemani bintang-bintang yang bersinar indah.
Elena menyandarkan kepalanya dibahu Sameer, sedangkan Sameer merangkul erat pundak Elena merapatkan pelukannya.
"Malam ini bintang bersinar terang" ujar Sameer tersenyum mengelus bahu Elena.
"Benar, bintang bersinar tapi ada yang lebih bersinar dari bintang" tutur Elena menatap Sameer dari samping.
"Bisakah waktu berhenti disini saja?"batin Elena
Di elusnya rahang tegas Sameer, ia kembali tersenyum.
"Hy siapa yang lebih bersinar yang kau maksud?"
"Kamu" celetuk Elena.
Sameer tergelak keras, Elena mengerucutkan bibirnya sebal.
"Kenapa tertawa?" Elena sebal Sameer menertawakan ucapannya.
"Kau lucu sekali Ele, kau bukan orang yang suka menggombal. Tiba-tiba kau melakukan itu, itu aneh tapi aku suka"
"Kau membuat ku malu" Elena memukul lengan Sameer yang penuh otot.
Sameer terkekeh kecil. Mengusap puncak kepala Elena.
"Kenapa aku bisa lebih bersinar daripada bintang?" tanya Sameer menetralkan tawanya agar sang istri tidak semakin tersinggung.
"Karena..." Elena mengetuk jari kedagunya berpikir mencari jawaban yang tepat.
"Bintang sinarnya tidak menyilaukan, tapi berbeda dengan mu. Saking silaunya tidak membiarkan mata ini untuk berpaling dan tetap membiarkan mata ini melihat sinar itu, yang tak mampu dilihat orang lain"
"Apa sekarang kau ingin menjadi seorang pujangga cinta?" tanya Sameer meledek
"Dasar kau ini tidak menghargai ku sama sekali" Elena mencubit pinggang Sameer, membuat Sameer mengadu kesakitan.
****
Sedangkan disebuah restoran yang sudah dipesan Sameer, tampak Humaira duduk seorang diri menanti kedatangan Sameer. Sesekali ia melirik ke arah pintu restoran itu.
Satu jam berlalu. Sameer belum juga muncul, bahkan makanan yang tersaji diatas meja pun belum juga ia sentuh. Ia semakin merasa gelisah.
Malam ini ia ingin memberikan kejutan yang sudah ia siapkan untuk Sameer. Ia mengetuk jarinya di atas meja. Kebosanan sudah melandanya.
"Apa Zauya melupakan makan malamnya?" gumamnya sendu.
"Zauya.." tangis Humaira sesenggukan.
Ia kecewa Sameer melupakan acara makan malam mereka, bahkan ia begitu antusias untuk makan malam bersama Sameer karena ini pertama kalinya bagi mereka melakukan dinner.
Kebahagiaan yang ia rasakan sejak tadi kini hanya berujung kekecewaan.
Jederrrrr......
Suara halilintar menggelegar, langit pun menghitam. Hujan turun deras membasahi bumi.
Humaira melangkah gontai ditengah derasnya hujan, ia membiarkan hujan membasahi tubuhnya. Membiarkan suara hujan menemani kekecewaannya. Air mata terus mengalir bersamaan dengan turunnya hujan.
Brukkk
***
Drrt...drrtt...
Suara ponsel milik Sameer yang diletakkan di atas meja berdering. Sameer yang baru saja selesai mandi, beralih kearah ponselnya yang tengah berdering.
"Assalamualaikum Abi" sapa Sameer mengangkat telpon dari Sang Abi.
"Apa? Astagfirullah..!!" seru Sameer terkejut. Sameer bergegas menuju ruang ganti segera memakai pakaiannya dan berlari keluar dari kamarnya.
"Kenapa Sam?" tanya Elena melihat Sameer berlari dengan raut wajah cemas.
"Arghh...maafkan Zauya" gumam Sameer mengusap wajahnya kasar penuh rasa bersalah.
"Kenapa Sam?" tanya Elena lagi menguncang lengan Sameer.
"Kita ke rumah sakit" Sameer berlari meninggalkan Elena. Elena pun mengejar Sameer. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada Humaira.
***
Di rumah sakit
Abi, Umi serta Akbar menunggu Humaira yang belum sadar. Tubuh lemah serta wajahnya berubah pucat pasi. Mereka semua menatap Humaira penuh kekhawatiran.
"Sayang bangunlah, disini ada Abi dan Akbar" ujar Umi Iza mengelus lembut wajah Humaira yang masih tidak sadarkan diri.
"Tenang Umi, Insya Allah Humaira akan segera sadar" Akbar merangkul pundak Umi Iza
"Ini salah Umi yang membiarkan Humaira menikah dengan si brengsek itu" tutur Umi Iza penuh kebencian pada sosok Sameer sang putra.
"Umi tidak boleh begitu" kata Abi Ahmed menggenggam tangan Umi Iza, menegur ucapan Umi Iza.
"Gara-gara Sameer, Humaira seperti ini Abi. Abi tau kan kalau Humaira sedang hamil kalau ada apa-apa dengan kandungannya bagaimana?"
"Kita berdoa yang terbaik saja Umi semoga mereka semua diberi kesehatan" imbuh Akbar.
Tak..tak..tak..
Sameer berlari dilorong rumah sakit menuju kamar tempat Humaira tengah dirawat. Cemas dan merasa bersalah tampak sekali dari wajahnya.
"Humaira" panggil Sameer memasuki ruangan Humaira tidak memperdulikan tatapan kecewa dari ketiga orang yang berada didalam ruang rawat Humaira.
Sameer langsung memeluk Humaira memberikan kecupan di kening Humaira yang masih terbaring lemah diranjang.
"Puas kau sekarang melihat Humaira seperti ini?" tanya Umi Iza penuh emosi.
"Maafkan Sameer, Umi"
"Sampai kapan pun Umi tidak akan memaafkan mu, kau sudah melukai Humaira terlalu dalam. Ceraikan dia Sameer" ucap Umi Iza dengan air mata yang menetes.
"Umi..!!!" jawab Mereka serempak (Sameer, Abi Ahmed dan Akbar) saat mendengar permintaan Umi Iza. Elena yang berdiri diantara mereka tak kalah terkejut mendengar permintaan wanita paruh baya itu.
"Jangan sakiti Humaira lagi Sam, walaupun Humaira hanya seorang menantu bagi Umi tapi sudah sejak bayi Humaira bersama Umi. Umi yang menimbang Humaira dan menggendong Humaira saat gadis ini baru lahir" tangis Umi Iza pecah.
"Umi mohon Sam" pinta Umi Iza mengatupkan kedua tangannya dengan pandangan memohon dari wajah sang Umi.
"Maaf Umi, Sameer tidak bisa" Sameer menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca meninggalkan kamar Humaira untuk menenangkan diri.
Saat Elena akan menyusul Sameer keluar, dengan sigap Akbar menarik ujung hijab Elena memberikan isyarat kalau Elena harus tetap tinggal.
"Biar aku saja" bisik Akbar pada Elena seraya meninggalkan wanita itu. Elena hanya membalas dengan menganggukkan kepala.
***
"Ini yang aku temukan saat Humaira pingsan dipinggir jalan ditengah hujan deras" kata Akbar menyodorkan sebuah kotak.
Sameer menerima kotak yang Akbar berikan. Dibukanya kotak itu perlahan.
Tangisnya pecah, ini pertama kalinya ia menangis untuk seorang wanita. Dulu saat Elena pergi pun ia tidak menangis.
Dipandanginya hasil foto USG yang menunjukkan dua janin. Ia mengusap foto itu sayang, senyuman menghiasi wajahnya. Inilah yang ia nantikan selama ini. Seorang anak hadir ditengah pernikahan mereka.
Rasa bersalah semakin menyeruak ke dalam hati Sameer. Ia adalah suami yang tidak punya perasaan sampai melupakan janji makan malam bersama Humaira. Kini ia tau kado apa yang ingin Humaira berikan padanya.
"Apa mereka sehat?" tanya Sameer sendu.
Dia baru tau kalau kehamilan Humaira sudah memasuki usia 3 bulan, bahkan bersamaan dengan pernikahan keduanya kala itu.
"Iya mereka sehat, Humaira ibu yang kuat. Dia hanya kelelahan, perutnya kosong dan dia juga.." Akbar menghentikan penjelasannya tentang kondisi Humaira.
"Dia juga..kenapa?" tanya Sameer menatap Akbar penasaran.
"Dia terlalu setres, sepertinya banyak sekali hal yang dia pikirkan. Dokter menyarankan agar Humaira jangan sampai setres karena itu akan berpengaruh pada janinnya"
Sameer menutup wajahnya. Akbar menatap Sameer iba, ia tidak pernah melihat sahabatnya tersiksa seperti itu.
Hallo Daddy...
Apa kabar? Mommy dan dedek bayi merindukan Daddy.
Daddy lihatlah kita ada dua. Kita kembar Daddy.. Yeyyy!!! 👏🏻👏🏻
Pasti Daddy bahagia, Daddy akan punya anak yang cantik dan tampan.
Kalau cantik seperti Mommy
Kalau tampan seperti Daddy
Maafkan Mommy ya Daddy kalau Mommy baru memberi tahu Daddy keberadaan kita diperut Mommy.
Mommy sayang Daddy
Kita juga sayang Daddy
We love you Daddy
Sehat terus Daddy supaya bisa jaga kita.. 😍😘
Saat membaca surat itu, dadanya terasa sesak seperti tertimpa ribuan ton besi. Ia merasa menjadi pria yang paling bodoh melihat sang istri melewati masa kehamilan seorang diri bahkan ia tidak menyadari kehamilan istrinya yang sudah berusia tiga bulan.
***