Nuna, gadis cantik berhidung mancung dengan kulitnya yang putih bersih, diam diam menyukai seorang laki laki yang biasa ditemuinya di cafe langganannya, dalam diam nuna hanya bisa memperhatikan pujaan hatinya tersebut,
Tanpa berusaha untuk mengenalnya lebih dalam, tak jarang Nuna mencuri curi foto dengan kamera ponselnya...
Dimas, laki laki yang dcintai nuna dalam diam, seorang pengusaha di bidang properti, tampan, kaya dan arogan dan dia tak mudah jatuh cinta.
Akankah mereka bisa slaing mengenal dan jatuh cinta satu sama lain????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bag.22
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang, aku tak mau kejadian bulan lalu terjadi lagi padaku, jika aku sampai kecelakaan, bagaimana dengan nasib Dimas?? arghhhh.... pikiranku semakin buruk saja membayangkan hal hal yang tak pasti.
Jarak yang lumayan hingga memakan waktu sekitar 3 jam lamanya,berkendara lewat jalur darat.
Aku dan mama sudah sampai di bukit greenhills, suasananya sepi tak seperti biasanya... greenhills yang dikenal sebagai bukit bintang biasanya selalu ramai pengunjung, bukit kenanganku dengan Dimas...
"sebentar ya maa.. aku akan coba menghubungi Dimas dulu" kataku.
"baiklah.. mama akan tunggu di dalam mobil"
Akupun menghubungi ponsel Dimas, dan alhamdulillah tersambung,
"Hallo, Dim... kamu dimana? aku sudah di bukit greenhills bersama dengan mama"
"apa kau melihat bangunan tua di samping kiri bukit?" jawab Dimas masih dengan suara yang sama, suara seperti orang yang sedang kesakitan.
"ya... ya... aku melihatnya" jawabku sambil mengedarkan pandangan mencari bangunan tua yang di maksud oleh Dimas dan aku dapat melihatnya.
"kau masuk ke bangunan tua itu, aku ada di dalam..." jawab Dimas.
"baiklah.. kau tunggu disitu dan jangan kemana mana, aku akan segera kesana" jawabku lalu mematikan ponselku.
"maaa.. ayo kita ke bangunan tua itu, Dimas bilang dia ada disana" ajakku.
Mamapun mengikuti langkahku menuju bangunan tua yang terlihat sedikit menyeramkan menurutku.
Aku masuk dengan hati hati, dan kagum melihat bagian dalam bangunan tua tersebut, diluar terlihat lusuh dan menyeramkan, ternyata di dalam sangat bersih dan terang benderang..kenapa aku baru tau kalo ada bangunan tua di bukit ini? mungkin aku tak terlalu memperhatikannya selama ini. batinku.
"permisii..... Dim... Dimas... kamu dimana?" suaraku menggema di ruangan kosong bak aula tersebut.
Tak ada jawaban, ketika terus berjalan semakin masuk, kakiku menginjak sehelai kertas yang bertuliskan " tolong baca aku", akupun penasaran dengan isinya, lalu aku membuka dan membaca isinya,
"naiklah ke tangga itu dan masuk keruangan ganti, disana ada pakaian untuk kau pakai, gantilah pakaianmu segera! lakukan dengan benar jika ingin Dimas selamat"
Aku membelalakkan kedua mataku setelah membaca isi surat tersebut,
"ma...mama sebaiknya istirahat dibangku itu ya.. aku akan naik ke atas sebentar dan mama jangan kemana mana" kataku pada mama dan dibalas anggukan oleh mama.
Akupun segera naik dan masuk keruangan yang dimaksud, disana sudah ada gaun cantik ala princess di negeri dogeng.
"kenapa aku harus memakai gaun ini?" gumamku.
Ada kertas lagi disisi kanan gaunnya, akupun membacanya,
"jangan banyak berpikir, pakai saja gaun di hadapanmu itu dan poles wajahmu dengan make up yang ada diatas nakas, pikirkan keselamatan Dimas"
tanpa pikir panjang aku segera mengganti pakaianku dengan gaun tersebut dan mulai memoles wajahku seadanya.. karena aku sedang tidak mood untuk berdandan di situasi genting seperti ini.
"sepertinya ada yang mau mempermainkanku" gerutuku.
ketika hendak merapihkan rambutku, aku menemukan secarik kertas lagi dan aku membaca isinya,
"setelah selesai segeralah turun kebawah!"
Akupun menuruti semua perintah dari setiap kertas yang aku temukan....semua hanya demi keselamatan Dimas.
Aku bergegas turun, tapi apa yang aku dapati? ruangan menjadi gelap, sepertinya lampu sengaja dimatikan..
"ma... maama....mama dimana ma??" kataku mulai panik ketika teringat telah meninggalkan mama menunggu dibawah seorang diri.
"maaaaa....." teriakku frustasi.
Seketika lampu menyala...ada banyak bunga bertaburan dilantai...lalu perlahan Dimas muncul dari balik pintu, penampilannya sangaaat tampan dengan tuksedo berwarna senada dengan gaun yang aku kenakan saat ini.
Aku setengah berlari menghampiri Dimas yang berjalan pelan sambil tersenyum manis,
"Dim...apa kau baik baik saja?" tanyaku sambil mengecek satu persatu bagian tubuh Dimas.
"aku baik baik saja sayaang.." jawabnya, suaranya tak lagi sama seperti yang ku dengar di telepon tadi.
"tapi tadi di telepon suaramu...." kataku bingung melihat Dimas yang baik baik saja.
"maafkan aku sayang... aku menyuruhmu kesini dengan cara yang menakutkan bahkan aku membohongimu..." jawabnya sambil menuntunku ke tengah ruangan.
"apa apaan ini Dimas? kau mengerjaiku?" tanyaku semakin bingung.
"lihatlah ke depan sayang...."
Aku langsung mengalihkan pandanganku ke depan, lalu sedetik kemudian, banyak balon bergelantungan, membentuk kalimat,
"will you marry me?" Aku melotot melihat itu semua dan tanpa terasa airmataku jatuh membasahi pipi.
Aku menoleh pada Dimas yang tak henti hentinya tersenyum.
"Dim, apa ini semua?" tanyaku di sela tangisanku.
"aku bukan laki laki yang romantis sayang, aku tidak tahu cara melamar yang benar jadi hanya ini yang bisa aku lakukan untuk melamarmu..." jawab Dimas, dia mulai berlutut di hadapanku.
"maukah kau menerima lamaranku dan segera menikah denganku Nuna Kamelia" tanya Dimas sekali lagi, kali ini dia menyodorkan sebuah kotak berisi cincin bertahta berlian yang sangat indah.
Aku menatapnya haru....
"aku......hiks...." suaraku tersendat karena terisak.
"terima... terima... terima..." suara riuh berbarengan dengan tepuk tangan dari beberapa orang yang mulai bermunculan di lantai atas, tempatku berganti pakaian tadi.
Disana ada Lena, Pita sahabatku ketika kuliah, lalu ada Sendi, mama dan Cila serta beberapa karyawan mama di butik.
tangisku semakin pecah melihat kehadiran mereka semua...
"jadi.... apa lamaranku di terima sayang?" tanya Dimas memecah haru perasaanku.
"yeeeesss...." jawabku dengan mantap.
Setelah mendengar jawabanku, mereka semua bertepuk tangan dan menuruni tangga menuju ke tempatku dan Dimas berdiri.
"terimakasih sayang..." jawab Dimas memelukku dengan erat, lalu mencium keningku dengan mesra dan terakhir Dimas menyematkan cincin berlian tersebut di jari manisku.
Satu persatu dari mereka menyelamatiku dan Dimas,
"Nunaaaaa.... selamat yaaa.. akhirnya kalian akan menikah jugaaa.. setelah sekian lamaa..." kata Lena dan Pita sembari memelukku.
"terimakasihhhh Lena, Pita.. aku tak menyangka bisa bertemu kalian lagi disini" jawabku dengan antusias.
"Nunaaa.... sayangku, selamat ya... aku tak menyangka kau akan menikah dengas bos yang kau bilang guy itu!" kata Cila sambil memelukku.
"hahahaa... hushhh... jangan diungkit lagi maslaah itu...terimakasih yaa cila sayaaang" jawabku membalas pelukannya.
"guy" gumam Dimas sambil mengangkat sebelah alisnya seolah meminta penjelasan padaku.
Lalu giliran Sendi menyelamatiku,
"Selamat ya Nun.. akhirnya sampai titik ini juga, setelah melewati jalan yang terjal dan berliku" kata Sendi.
"terima kasih Sen... kau punya andil besar dalam hubungan kami..." jawabku.
"dan ya... maafkan aku telah membohongimu kemaren, ketika kau tanya tentang keberadaan Dimas" kata Sendi sambil terkekeh.
"hahaaahaa... jangan memarahinya sayang, aku yang menyuruhnya untuk membohongimu" seloroh Dimas.
"cih... setia sekali kau, bahkan sampai rela menipuku"
"berbohong untuk kebaikan itu tak masalah Nun" jawab Sendi, lagi lagi dia terkekeh.
"mamaaaaa...." ketika melihat mama menghampiriku.
"selamat sayang... semoga kalian selalu bahagia" kata mama mendoakanku.
"aamiin, makasih maa...." jawabku sambil memeluk mama.
"maaa... kami mohon restui kami" tambah Dimas ikut memeluk mama.
"mama merestui kalian, doa mama selalu menyertai" jawab mama.
"sayaaang... aku ingin mengajakmu melihat bintang diluar" kata Dimas.
Akupun mengangguk dan mengikuti langkah Dimas. aku berdiri di tepi bukit melihat hamparan langit yang penuh dengan bintang, Dimas memelukku dari belakang,
"sayaaang, apa kau bahagia?" tanya Dimas sambil mencium pundakku yang terbuka karena model gaun yang ku pakai saat ini mengekspos sebagian besar bahuku.
"aku sangaaaat bahagiaa Dim....aku tak menyangka akan mendapat kejutan manis seperti ini, terimakasih telah mencintaiku dengan tulus" jawabku sambil mengelus tangan Dimas yang memeluk perutku.
"sama sama sayang...." jawabnya.
"jadi apa bisakah mulai sekarang kau memanggilku dengan lebih mesra?" kata Dimas.
"mesra? aku harus memanggilmu apa?" tanyaku bingung.
"terserah kau saja.. asal jangan terus terusan memanggilku Dim... Dimas" kekehnya.
"Dimas kan memang namamu..." jawabku.
"tapi aku ingin punya panggilan sayang darimu..." kata Dimas dengan memelas.
"dasar bucin!" jawabku sambil tertawa.
"biarkan saja... aku jadi bucinmu seumur hidupku..." kata Dimas lalu mencebikkan bibirnya yang seksi.
"hemmmm.... akan aku pikirkan lagi..." jawabku.
"lupakan saja sayang... memilikimu saja sudah membuatku bahagia, panggilan hanya kiasan saja" jawabnya menyerah.
"Hubby....." lirihku.
Dimas reflek mendongakkan kepalanya menatapku dari samping,
"apa sayang?" katanya pura pura tak mendengarku.
"Hubby.... calon suamiku" kataku lagi.
"manisnya....aku suka sayaaang...." jawabnya dengan girang.
Aku membalik badan dan menghadap padanya,
"Hubby... terimakasih untuk semuanya, dan aku snagat bahagia sekarang" lalu aku meraih tengkuknya, dengan sedikit berjinjit aku menciumnya dengan penuh cinta.
Dimas yang masih shock, tampak kaku tapi semenit kemudian dia mulai membalas ciumanku... ciuman kami yang lamaaaa dan hangat seakan dunia milik berdua.
🍧🍧🍧🍧🍧🍧
semangat Thor dgn karya selanjutnya 💪💪
terimakasih banyak Thor dah buat kami terhibur 🙏🙏🙏