NovelToon NovelToon
Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Patahhati / Perjodohan / Balas Dendam / Militer / Chicklit / Tamat
Popularitas:903.6k
Nilai: 5
Nama Author: Siska C

Prolog

"Saya tidak ingin bersama dengan lelaki yang pernah menolak saya!" ujar Rania gamblang tanpa memperdulikan kalau lelaki didepannya adalah atasannya didunia kerja.

Mendengar kata-kata Rania barusan membuat Khanif merasa tertantang untuk menaklukan hati wanita keras kepala dihadapannya ini. Lalu dengan tersenyum misterius, Khanif berkata dalam hati, "kita lihat saja kedepannya!"

"Jangan kira saya meluapkan kejadian di taman belakang sekolah waktu itu," lanjut Rania dengan tegas.

"Kamu masih mengingatnya? Bukankah itu jodoh."

"Jodoh?"

"Iya jodoh karena dengan begitu, saya bisa tau kalau tidak sedetik pun kamu melupakanku," kata Khanif sambil tersenyum.

To be continued.

Yuk nantikan part berikutnya!

By Siska C

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska C, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Jangan Sungkan Padaku

Sepanjang menunggu pesanan mereka tiba, Khanif maupun Rania tidak pernah mengungkit permasalahan yang tadi. Apalagi Rania. Ia seperti tidak ingin makan siang saja. Namun, mengingat perutnya yang kini meminta jatah, membuatnya mau tidak mau mengikuti perkataan Khanif tadi.

Sesaat kemudian, pesanan mereka telah tiba. Rania begitu senang. Tentu saja, karena sedari tadi perutnya sudah keroncongan dan hampir saja berbunyi kalau pesanan mereka tidak akan segera tiba sebentar lagi.

Namun, senyum yang semula berada diwajah Rania tiba-tiba hilang saat melihat pesanan makannya. Ia tidak menyangka, kata 'spesial' dipesannya membuat dirinya harus mengurungkan niat untuk memakannya. Bagaimana tidak, ia mengira nasi goreng spesial pesannya itu tidak mempunyai campuran seafood. Jadi, ia tidak memperhatikan yang lain lagi. Ia tidak menyangka, dugaannya salah bahkan bisa membuat dirinya kembali alergi.

Melihat wajah Rania yang tiba-tiba tidak berselera, membuat Khanif bertanya, "Kamu kenapa?"

Tidak mau Khanif sampai membuatnya kesal lagi, Rania pun menjawab, "tidak. Tidak apa-apa." Ia menjawab dengan seadanya. Sebab, ia tidak ingin tambah merusak mood makan siangnya hari ini.

"Jika ada yang tidak kamu sukai dari pesanan kamu, kamu katakan saja. Jangan sungkan."

Mendengar perkataan Khanif, Rania mendongkak. Sepertinya matahari bersinar begitu hangat. Rania lantas menatap Khanif dengan mata berbinar. Ia lalu terpikirkan sebuah ide yang bisa sama-sama menguntungkan mereka. Oh tidak, lebih tepatnya dirinya. Lagi pula Rania menduga, Khanif bukanlah sosok lelaki yang pemilih makanan.

"Karena bapak sudah katakan, maka saya tidak akan bersikap sungkan lagi." Rania diam sejenak. Lalu kemudian ia melanjutkan perkatanyaan lagi, "saya lihat bapak asal memesan tadi. Jadi sepertinya bapak tidak terlalu perduli saat ini bapak mau makan apa. Jadi, saya mau tukeran makanan dengan bapak. Bisakan, pak?"

"Tentu saja bisa, tapi tagihan makan ini masuk kedalam pembayaran kamu."

"Ih, bapak gimana sih," sewot Rania. "Bukannya bapak sendiri yang mengatakan saya tidak perlu sungkan. Jadi saya tidak bersikap sungkan lagi."

Rania lalu segera menukar makanan mereka tanpa menunggu persetujuan Khanif seraya berkata, "bapak jangan pelit jadi orang. Ngga baik. Nanti suatu saat kalau bapak berada di posisiku, nanti tidak ada yang mau nolongin bapak."

"Kalau tidak ada yang ingin menolongku gampang saja, saya hanya berkata ganti, maka semua harus menurutinya."

Rania berdecih tidak suka akan perkataan Khanif yang barusan. Padahal, tanpa Rania ketahui, sebenarnya perkataan Khanif itu hanya kata untuk bercanda saja. Namun Rania menanggapinya dengan serius. Bahkan sampai memberinya nasehat.

"Sudah makan saja. Nanti keburu dingin. Nasihat kamu yang tadi, saya akan kembali memikirnya. Jarang-jarang kan mendapat perkataan kamu yang sangat bermanfaat ini."

"Jadi selama ini, perkataan saya kurang bermanfaat begitu?"

"Apa Saya pernah mengatakannya?" tanya balik Khanif. "Jika tidak, sebaiknya kamu segera makan. Karena kita harus beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan lagi."

Baru saja Rania ingin berkata, Khanif malah memerintahkan Rania untuk segera memakan makannya hingga tandas. Selesai makan siang, mereka pun kembali ke kamar masing-masing.

Didalam kamar, Rania selalu saja mondar-mandir tidak tau harus melakukan apa. Ia ingin istirahat, tapi ia sudah tidak mempunyai minat lagi. Ingin berjalan-jalan, ia tidak ingin sampai bertemu dengan Alex lagi. Sungguh, ia benar-benar bosan saat ini.

Coba saja Davina ada disini, mungkin saja mereka bisa mengobrol. Hitung-hitung agar ia bisa menyelidiki hubungan Khanif dan Davina. Bisa saja kan mereka mempunyai hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan! Didunia disaat seperti ini, tidak ada yang tidak mungkin.

Namun beberapa detik kemudian, Rania menggelengkan kepalanya - mencoba menepis pemikiran yang sempat terlintas dipikirannya. Ia lalu segera menyadari kekeliruan pemikirannya. Bagaimana ia bisa seenak jidat menuduh mereka mempunyai hubungan khusus.

Bisa sajakan, perhatian Khanif padanya dan Davina berbeda karena Davina tentu saja sudah menjadi sekertaris tetap Khanif. Sedangkan dirinya belum tentu menjadi sekertaris utama Khanif. Memikirkan opsi ini, membuat Rania merasa bersalah karena telah menuduh mereka yang bukan-bukan. Apalagi Davina. Ia belum mengenal betul watak wanita itu. Tapi ia sudah berprasangka yang tidak baik padanya.

Saat Rania sibuk dengan pemikirannya sendiri, pintu kamarnya diketuk. Ia lalu bergegas pergi membukakan pintu kamarnya. Wajahnya berbinar melihat wanita yang sempat terlintas dipikirannya itu. Rania pun menyuruhnya masuk.

"Davina, mari masuk."

Davina mengangguk. Ia pun masuk ke dalam kamar inap Rania.

"Apa yang kamu bawa?" tanya Rania melihat sebuah tas belanjaan ditangan Davina. Rania lalu tersadar. Ia pun menyuruh Davina masuk dan duduk di sofa.

"Apa itu?" ulang Rania.

"Oh ini, saya tadi habis hampir disebuah pusat perbelanjaan. Melihat kamu yang baru pertama kali kesini, membuat saya mengingat kamu. Saya lantas membelikanmu makanan khas kota ini untuk kamu coba. Jika kamu suka, saya akan membelikanmu nanti saat pulang. Ini ambillah," terang Davina seraya memberikan tas berisi makanan khas kota ini.

"Wah, terima kasih. Saya akan mencobanya. Jika enak, kamu harus membelikanku yang banyak," katanya bercanda.

"Tentu saja."

Mereka sama-sama tersenyum. Ternyata, dugaan Rania sebelumnya memang benar. Ia dapat merasa kalau Davina adalah wanita yang baik. Ia merasa bersalah saat kembali mengingat tuduhan tidak berdasarnya pada Davina.

"Oh iya, saya pergi dulu kalau begitu."

Rania mengangguk. Ia pun mengantar Davina sampai ke depan pintunya. Saat Davina hendak berbalik, Rania kembali memanggil namanya pelan.

"Mbak Dav."

Davina menoleh, dan berkata, "iya, kamu ada perlu lain?"

"Tidak ada. Hanya saja, saya merasa canggung jika kita memanggil dengan ucapan saya - kamu. Saya merasa hubungan kita tidak dekat."

Davina diam, ia tetap menunggu kata-kata selanjutnya dari Rania.

"Bagaimana kalau kita memanggil dengan sebutan aku - kamu. Saya rasa itu sedikit bagus."

"Kedengarannya baik. Aku juga suka," ujar Davina mulai mengubah cara panggilan mereka. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."

Rania mengangguk. Setelah melihat Davina masuk ke dalam kamar inapnya sendiri, ia lalu menutup pintu kamarnya juga. Ia begitu senang mendapatkan hadiah kecil dari Davina. Meski hanya makanan, tapi jarang ada yang mengingatnya apalagi saat ia baru berkenalan.

Rania lalu menuju balkon kamar, ia membuka pintu kaca itu. Baru saja ia melangkah, angin sudah membuat rambut sepinggangnya melambai-lambai tertiup angin yang sejuk. Ia lantas menuju pembatas balkon kamar. Disana, ia menunduk kebawah, melihat mobil dan kendaraan lainnya yang tengah berlalu-lalang dengan teratur.

Sesaat ia tersenyum melihat keramaian dibawah sana. Namun tidak tunggu lama, ia teringat akan niatnya datang kesini. Rania lantas berbalik. Ia pun mendudukan dirinya disalah satu kursi yang telah disediakan disana. Ia lalu mulai membuka tas berisi makanan khas yang tadi diberikan oleh Davina kepadanya.

"Emm, baunya saja udah enak. Apalagi rasanya," komentar Rania.

Saat Rania hendak memasukkan sepotong kue berwarna pink putih itu ke dalam mulutnya, seseorang dari samping balkon kamarnya tertawa. Ia pun mengurungkan niatnya dan berlalu menuju sumber suara.

"Rupanya pak Khanif. Tapi dia telponan sama siapa sampai tertawa sebesar itu," gumam Rania saat melihat handsfree terpasang di telinganya.

Rania penasaran, ia terus saja memperhatikan Khanif yang begitu sibuk sampai tidak memperhatikan dirinya. Sesaat kemudian, Rania begitu terkejut saat Khanif tiba-tiba berbalik. Secara otomatis, mereka melihat satu sama lain.

"Pak ... pak Khanif."

"Rupanya kamu sudah mau beralih profesi lagi."

"Tidak, maaf saya tidak sengaja mendengar suara bapak. Jadi untuk memastikan pendengaran saya tidak salah, saya mengeceknya sendiri. Ternyata itu bapak."

"Tunggu sebentar, saya akan menelepon lagi nanti," ujar Khanif pelan pada orang yang lagi telponan dengannya. Setelah sambungan terputus, Khanif beralih kembali pada Rania.

"Jika ucapanmu benar, kenapa saat mengetahui suara itu adalah suara saya, kamu tidak lantas pergi?" tanya Khanif membuat Rania gugup.

"Saya ...  saya...."

...To be continued ...

Saya, saya. Apa hayo? Ada bisa melengkapi ucapan Rania, ngga ya?

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like, vote atau komentar. sampai jumpa di bab selanjutnya 👋

...By Siska C...

1
Helni Lewan
Thor makin penasaran ini..mudah2an jadi kenyataan ya Thor..🙏
Helni Lewan
Thor aku maunya khanif yg jadian sama Rania..😅
Helni Lewan
lanjut Thor
Helni Lewan
lanjut thor..makin seru nih
Dewi Fajar
sip
Dewi Fajar
mampir Thor..baru Nemu novel ini langsung ku baca
Adnia Stg
Luar biasa
Helni Lewan
terus semangat thor
Helni Lewan
lanjut thor
fifid dwi ariani
trus sehat
fifid dwi ariani
trus berkarya
fifid dwi ariani
trussabar
fifid dwi ariani
trussabar
fifid dwi ariani
trus sehat
fifid dwi ariani
trus sehat
fifid dwi ariani
trus sabar
Chikita Ratu Ayu: Novel HATIKU TERLUKA DALAM Yuk mampir... Novel beda dari yang lain, seorang wanita tegar dan kuat, yang mampu bangkit dari keterpurukan. Nikmati permainan emosi sedih, marah, kecewa, dan bahagia yang disuguhkan author😊🎈
total 1 replies
fifid dwi ariani
trus sejahtera
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus semangat
fifid dwi ariani
trus sehat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!