Marni Sutejo, sejak dirinya dapat mengingat ia adalah boneka keluarga. Alat yang digunakan untuk memuaskan segala ketamakan dan kebahagian mereka. Ia bertahan dan berjuang sebaik mungkin untuk mewujudkan segala yang mereka pinta dengan harapan keluarga yang ia sayangi juga menyayangi dirinya sebagai putri mereka.
Sayangnya, dunia ini kejam. Di helaan nafas terakhirnya yang lagi-lagi ia dedikasikan untuk keluarganya. Namun, tak sedikitpun kalimat manis yang penuh kasih sayang itu terlontar untuknya.
Marni berpikir mungkin ini adalah akhir dari segala perjuangan dan penderitaannya. Mungkin ini adalah waktunya untuk beristirahat dengan tenang, akan tetapi Tuhan memberikan takdir berbeda.
Ia kembali hidup di dunia yang berbeda dari dunia modern yang ia jalani sebelumnya.
Apakah Marni dapat menyembuhkan luka batinnya di sana? Atau, semua tentang dunia fantasi itu hanya sebuah mimpi panjang yang indah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiukumalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad Balas Dendam
Jakarta, Indonesia
Marni menatap langit hampa saat dia sedang berada di taman rumah sakit untuk berjemur. Perawat yang merawatnya bilang bahwa matahari pagi bagus untuk kesehatan tetapi karena dirinya tidak suka ditemani, dia meminta perawat itu duduk agak jauh darinya.
Jadilah, Marni menikmati matahari pagi di atas kursi roda seorang diri. Menikmati udara pagi yang tidak jauh berbeda dengan dunia fantasi yang pernah ia singgahi.
Setelahnya Marni menutup mata dan membukanya kembali. Menatap hampa apa yang ada di depannya.
Rasa sakit akibat jahitan operasi donor ginjal, membuyarkan lamunannya. Membuat Marni teringat semua hal yang sudah dia lakukan untuk keluarganya. Semua terlihat seperti omong kosong untuk Marni.
Sejauh dan sebanyak apapun dia berusaha. Tidak pernah ada kasih sayang tulus dari keluarganya. Sekalipun itu Mas Bimo yang baik dengannya.
Tetapi, jika Mas Bimo dihadapkan dengan keluarganya, dia juga akan jatuh dalam kebimbangan. Tidak jauh berbeda dengan tindakannya yang membiarkan ginjal Marni diambil demi kesembuhan ayahnya.
Padahal Mas Bimo tahu betul keadaan Marni saat itu sedang kecelakaan. Marni yang memikirkan itu menjadi tertawa miris.
Tuhan memberikan Marni kesempatan untuk kembali ke dunia di mana dia dilahirkan. Itu artinya dia masih diberikan kesempatan untuk mengubah keadaan.
Hatinya yang telah dingin itu mulai berubah dari keinginan mendapatkan perhatian dari keluarganya menjadi keinginannya untuk membalas semua perlakuan jahat mereka. Ada banyak siasat dalam pikirannya sekarang.
"Tunggu pembalasanku, keluargaku tercinta hahahaha..." ucap Marni dalam batin sambil tersenyum sinis menatap matahari pagi.
...🍀🍀🍀...
"Kau sudah seperti tokoh antagonis jika tersenyum seperti itu, Kak..." ucap Raina sambil berjalan mendekati Marni.
Marni menghapus senyum sinisnya dan menatap Raina datar. Raina mendekat ke arah Marni lalu merunduk dan berbisik di telinga Marni, "Bagaimana rasanya menjadi anak kandung serasa anak pungut, Marni?"
Setelahnya, Raina berdiri sambil memandang rendah Marni yang ada di kursi roda. Tetapi raut wajah segera berubah saat dia mendengar suara langkah kaki mendekat.
"Sedang apa kamu di situ, Rania sayang?" tanya Salma mendekat.
Marni yang sudah menyiapkan mentalnya untuk menghadapi mereka pun masih terlihat emosi. Tetapi, dia berusaha menahannya dibalik genggaman tangannya.
"Ah, Mama. Kak Marni ada di sini. Jadi, Rania nyapa Kakak," kata Rania sambil memeluk lengan Salma saat Salma menghampiri Rania.
"Oh kamu di sini tho." Salma melirik sedikit lalu tersenyum pada Rania.
Rania yang melihat itu pun tersenyum penuh kemenangan, "Ma, ayo jenguk papa. Semoga hasil pemeriksaan papa aman ya. Kak, kami ke tempat papa dulu ya..."
"Jaga dirimu, Marni. Makan yang bener. Jangan sok lemah sama nyusahin orang," ucap Salma pada anak kandung perempuannya sebelum melangkah pergi bersama dengan anak angkatnya.
"Ironis, heh..." batin Marni yang menolak untuk sakit kesekian kalinya lalu bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil melihat punggung mereka, "Kita lihat siapa yang akan tertawa diakhir nanti."
Perasaan Marni menjadi campur aduk berkat kedatang dua tamu tidak diundang. Ia tidak punya mood lagi berjemur. Mendorong kursi rodanya pelan hingga perawat yang sedang bermain dengan handphone menyadari pergerakan Marni lalu menggantikan Marni mendorong kursi rodanya kembali ke kamar.
"Biar saya saja, Nona. Kalau Nona tidak suka saya di samping Nona, saya akan memberi jarak pada Nona. Tapi saya minta satu hal, kalau Nona butuh atau ada perlu apapun tolong beritahu saya," kata perawat itu sambil mendorong Marni di lorong rumah sakit.
"Oh oke, oya siapa namamu?" tanya Marni yang lupa menanyakan nama perawat yang merawatnya
"Ah saya lupa memperkenalkan diri ternyata. Apa karena itu Nona kurang nyaman? Ma-maaf ya. Oya, nama saya Tuti."
...🍀🍀🍀...
yg semangat yaa
jgn bosan yaa
mksih ya
slam knal ya..