Drama, Romance
Amyra Rahma, seorang gadis pendiam yang cukup peka dan juga cuek pada sekitarnya di saat bersamaan. Tapi, Isna Syifa -biasa dipanggil Isyi- adalah pengecualian, karena ia adalah satu-satunya sahabat Ara. Ara, begitulah gadis itu dipanggil.
Pada suatu hari, tiba-tiba Isyi mengajukan sebuah permintaan yang sangat aneh menurut Ara. Isyi meminta Ara untuk menjadi madunya! Isyi, are you crazy!?
Namun, pada akhirnya Ara tetap tidak bisa menolak permintaan Isyi, pun dengan Imran -suami Isyi- yang dengan berat hati harus memenuhi permintaan konyol istrinya, Isyi.
Dan kemudian, seiring waktu, sebuah peristiwa yang masih menjadi misteri mulai terbuka secara perlahan..
Cerita ini hanya fiksi, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat atau alur, itu adalah ketidaksengajaan.
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Grayalfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 22
"Eh, sorry-sorry.." Fikri menggaruk-garuk tengkuknya, tertawa kaku. Lia hanya mengangguk, kentara sekali ia juga gugup. Bahkan wajahnya memerah, ntah mungkin karena ia sedang sakit atau mungkin karena hal lain.
"Ehem. Ternyata sang kucing sebenarnya mengkhawatirkan si tikus ya.." Ara berucap sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, menahan senyumnya. Tangannya sibuk menggeser-geser layar handphone nya. Matanya ia buat seolah-olah sibuk menatap layar handphone.
Lia beralih menatap Ara dan nampaknya ia masih mencerna ucapan Ara dan beberapa saat kemudian ia membulatkan matanya, menatap horor pada Ara. Ara tak menghiraukan tatapan Lia.
"Lo ngatain gue kucing ya?" Tanya Fikri tak terima.
"Hah? Nggak. Aku cuma lagi baca ini nih cerita pendek bergambar di handphone." Ara menggoyang-goyangkan handphone nya.
"Nggak percaya gue, sini handphone Lo." Fikri bergerak mendekati Ara, tangannya melayang hendak mengambil handphone Ara tapi Ara dengan sigap menyembunyikan handphone nya ke belakang tubuhnya.
Baru saja Fikri hendak merebut paksa handphone Ara, Bi Minah datang dengan nampan berisi dua gelas teh. Fikri mundur sambil memelototi Ara dan Ara hanya terkekeh melihatnya.
"Terima kasih, Bi. Maaf merepotkan." Ucap Ara beralih menatap Bi Minah.
"Sama-sama neng, nggak ngerepotin kok neng. Silakan diminum." Bi Minah menyodorkan teh itu pada Ara dan Fikri kemudian pamit.
Ara menyeruput teh nya, pun dengan Fikri.
Menyisakan sedikit pada gelas teh nya, Ara menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Lia, maaf banget tapi kayaknya aku harus pulang sekarang." Ara merasa tak enak karena harus terburu-buru.
"Nggak Myr. Justru aku yang minta maaf karena ngerepotin kalian." Lia menatap Ara dan Fikri bergantian.
"Dan juga, terima kasih." Lanjutnya lagi.
Ara menggeleng pelan, bahwa Lia tak perlu minta maaf juga tak perlu berterima kasih.
"Cepet sembuh ya Lia. Aku pamit dulu." Ara mengusap punggung tangan Lia.
"Fik, aku tunggu di luar ya." Ara keluar duluan, diangguki Fikri.
"Mel, gue juga mau pamit sekarang. Gue mau anter Ara, udah janji." Fikri beralih pada Lia.
Lia mengangguk.
"Take care.." Ucapnya lirih.
Fikri sempat melirik pada pintu kamar yang terbuka, kemudian mengusap lembut puncak kepala Lia. Ia melemparkan senyumnya ketika Lia menatapnya, membuat Lia terpaku untuk sesaat.
Entah kenapa, Fikri terlihat berbeda di matanya hari ini. Kayak ada manis-manis nya gitu.. hehe..
Padahal bukan hanya sekali ini ia melihat Fikri tersenyum maupun terkekeh. Apa karena perlakuannya? Tunggu dulu, apa-apaan perlakuannya dari tadi? Batin Lia heran, mengingat sikap Fikri mulai dari menggenggam tangannya dan sekarang mengusap-usap lembut kepalanya.
"Cepet sembuh, bosen gue kalo gak ada Lo, gak ada yang bisa gue bully." Canda Fikri sambil terkekeh, membuyarkan keterpakuan Lia.
Ish.. Lia menyingkirkan tangan Fikri yang masih betah mengusap kepalanya.
"Nyebelin." Lia memanyunkan bibirnya, dan itu terlihat menggemaskan di mata Fikri.
Pengen gue gigit, astaga. Fikri.
"Ngangenin." Ralat Fikri sambil terkekeh, lagi.
Percaya diri sekali dia.
"Udah sana ah. Gue mau istirahat." Usir Lia mengibaskan tangan kanannya.
"Iya, iya gue pergi. Awas kangen." Lagi-lagi Fikri terkekeh. Lia memilih membalikkan badannya ke kiri memunggungi Fikri yang mulai berjalan keluar dari kamar.
Menuruni satu persatu anak tangga, dilihatnya Ara sedang duduk di sofa ruang tamu.
Bi Minah yang melihat Fikri sudah turun menghampirinya.
"Sudah mau pulang, den?" Tanya bi Minah.
"Iya, bi. Titip Amel, tolong jagain dia ya bi." Ucap Fikri yang diangguki bi Minah.
"Pasti den."
Bi Minah mengantarkan keduanya sampai depan, menunggu sampai mobil Fikri meninggalkan halaman.
•••
"Masih aja senyam-senyum ya Lo."
"Abis gemes banget. Biasanya kan kalian berantem mulu. Aku baru pertama liat kamu bersikap kayak begitu sama Lia."
"Kamu suka sama Lia ya?!" Pertanyaan yang setengah pernyataan tersebut meluncur begitu saja dari mulut Ara.
"Kenapa jadi kesana sih. Udah ah, males gue bahas yang kayak begitu." Elak Fikri.
"Hm, mengelak ya." Ara menyeringai.
"Astaga, gue baru tau Lo tuh nyebelin banget ya." Fikri berdecak kesal.
Ara tak melanjutkan kejulidannya, ia sudah puas hari ini dan sepertinya ia sudah banyak sekali tertawa hari ini. Enough for today, Ara. Karena Ara mulai merasakan sesuatu yang akan terjadi, entah apa ia pun tak tahu, tapi perasaannya tak cukup bagus, sepertinya. Atau mungkin itu hanya sangkaannya saja.
Ara menunjukkan jalan menuju rumahnya. Rumah yang ia tempati bersama Isyi dan suaminya, karena ia terlanjur mengatakan alamatnya yang sekarang.
"Makasih, Fik." Ucap Ara sambil melepaskan seat belt.
"Jadi, ini rumah Lo ya.." Fikri nampak menyelidik.
"Ya begitulah." Ara berusaha tersenyum. Dalam hati ia berdoa agar Imran atau Isyi tak ada yang keluar, dan untuk Fikri, kumohon cepatlah pergi.
"Gue sebenarnya mau mampir dulu buat nyapa nyokap Lo, tapi kayaknya ini udah sore banget." Fikri melihat jam di pergelangan tangannya.
"Iya udah sore, cepet pulang gih."
"Lo ngusir gue?"
"Iya, cepet pulang sana." Ara melambaikan tangannya.
"Iya, iya gue pulang dulu, salam buat nyokap Lo."
Ara hanya mengangguk, "Hati-hati." Ucapnya kemudian mobil Fikri sudah melaju meninggalkan pelataran rumah itu dan ketika dilihatnya mobil Fikri sudah menjauh tak terlihat, Ara segera masuk.
•••
Ketika Ara selesai membersihkan diri, rupanya makan malam sudah siap.
"Maaf, Isyi." Ucap Ara merasa tak enak.
"Nggak apa-apa, Ra. Aku ngerti kok, kamu pasti sibuk." Ucap Isyi pengertian.
"Ini mas." Isyi beralih pada Imran, menyodorkan piring yang sudah ia isi dengan nasi dan lauknya.
"Makasih, sayang." Ucap Imran yang sedari tadi hanya membungkam mulutnya.
Isyi hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian matanya menatap pada Ara yang nampak tak terganggu dan mengisi piringnya dengan tenang.
Ada apa lagi dengan mereka? Batin Isyi bertanya-tanya.
Pasalnya, sedari tadi ia perhatikan, dua manusia di depannya itu tak ada terlibat perbincangan sama sekali, bahkan tak saling bertukar pandang, seolah tak menganggap keberadaan masing-masing.
Berbeda seperti kelihatannya, dalam hatinya, Ara sedang berusaha menghibur dirinya sendiri. Ia merasa seperti sedang di diamkan oleh satu-satunya pria yang ada di rumah ini, Imran, suaminya sendiri.
Apa mas Imran marah? Tapi marah karena apa? Apa aku membuat kesalahan lagi? Pikiran Ara bertanya-tanya tapi ia mencoba bersikap biasa saja dan tetap melanjutkan makannya. Ia tak mau Isyi khawatir.
"Oh iya, tadi siapa yang mengantarmu pulang?" Tanya Isyi disela kegiatan makannya.
"Hm? Oh itu Fikri, temen magang aku, yang waktu itu." Jawab Ara.
"Oh iya, iya."
"Tadinya aku mau naik taksi atau ojek online aja, tapi dia maksa pengen anter aku, yaudah lumayan tumpangan gratis." Ara tertawa ringan di akhir kalimatnya, pun dengan Isyi yang ikut tertawa setuju dengan Ara.
Sementara itu, entah kedua wanita itu sadar atau tidak, pria mereka sedang menahan kesalnya.
To be continued~