Lanjutan dari ZARA, Aku Mencintaimu. Kisah anak dari Juna dan Zara.
Menceritakan masa remaja Queen Nara yang biasa di panggil Nara. Dengan gayanya yang tomboy jago karate juga karena sahabat-sahabatnya semua laki-laki.
Di pertemukan dengan Raja Prasaja Putra kakak kelasnya di bangku SMA yang juga jago karate tapi begitu dingin cuek dan keras kepala seperti es batu. Tapi ternyata Raja adalah teman masa kecil Nara yang dulu pergi tanpa pamit pada Nara.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya?
Bisakah si es batu mencair?
Apakah Nara akan tahu kalau Raja adalah Suga teman masa kecilnya?
Happy reading 🥰🥰
Hanya kisah fiktif jauh dari kenyataan ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja dan Antonio akan jadi saudara
Nara dan Raja sudah menyelesaikan latihan hari pertamanya.
"Kita akan lebih sering latihan!" ucap Raja.
"Oke!" Angguk Nara.
"Ini pakailah helmnya!" ucap Raja.
Nara mengambil helmnya dan memakainya. "Kenapa susah sekali sih?" Nara kesulitan menguncinya.
Raja membantu Nara. Trekkk ....
"Sudah!"
"Makasih kak," ucap Nara.
"pegangan!" suruh Raja.
Nara mencari-cari pegangan yang di belakang tapi tidak ada. "Pegangan padaku!" suruh Raja.
"Baiklah!" Nara menaruh tangannya di pundak Raja.
Raja langsung tancap gas dan membuat Nara kaget dan memindahkan tangannya menjadi memeluk Raja.
"Pelan-pelan dong kak!" teriak Nara.
Raja tidak menggubris teriakan Nara atau mungkin Raja tidak mendengarnya. Sesampainya di rumah Nara, Nara turun dari motor Raja dan memegangi dadanya.
"Kak Raja gila!" ucap Nara.
"Yang penting selamat sampai rumah!" ketus Raja.
"Selamat sih selamat tapi jantungku berdebar begitu kencangnya dan masih belum normal lagi nih," Nara lebih ketus.
"Mungkin itu bukan karena aku bawa ngebut. Tapi, karena kamu dekat denganku," goda Raja.
"Hahh apa maksud kak Raja? sudah sana pulang!" Usir Nara dan berlalu masuk ke rumahnya.
"Hey Nara ..." panggil Raja.
"Apalagi sih kak?" tanya Nara.
"Helm!"
Nara memegang kepalanya dan benar helm Raja masih di kepalanya. "Hehee ... maaf kak. Ini helmnya dan sana pergilah!"
"Eh kak ... makasih ya!" Nara berlari ke dalam rumahnya.
"Dasar bocah ada-ada aja! sepertinya akan seru kalau ajak Nara balapan," gumam Raja.
Raja pergi dari rumah Nara untuk pulang.
Setelah sampai di rumahnya, Raja sudah di sambut papanya dan Nila. Ternyata mereka sengaja menunggu Raja karena akan membicarakan tentang pernikahan.
"Papa sudah pulang?" tanya Raja.
"Iya! ada hal penting yang ingin papa bicarakan padamu. Ayo duduklah!" pinta Burhan.
Raja duduk di samping papanya dan heran ada apa sebenarnya.
"Jadi gini Raja. Kamu sudah setuju, kan? kalau papa nikah sama tante Nila. Jadi ada baiknya papa sama tante Nila segera menikah," jelas Burhan.
"Aku ikut saja pada keputusan papa. Aku ke kamar dulu ya." Raja bangkit dari duduknya dan berlalu ke kamarnya.
Raja berdiri di hadapan foto mamanya. "mah, keputusan papa sudah bulat untuk menikahi tante Nila. Raja harap mama bahagia juga ya disana, Raja akan selalu mendoakan mama dan yang pasti selalu merindukan mama juga." Raja mengusap fotonya.
Nila yang mendengarkan Raja bicara di dekat pintu dan pintu kamar Raja juga tidak di tutupnya menghampiri Raja dan berbicara dengan Raja.
"Haiii Raja ... boleh tante masuk?" ucap Nila.
"Eh tante. Boleh masuklah!" ajak Raja.
"Emmmh kamarmu rapih juga ya. Jauh berbeda dengan Antonio. Kalian seperti 2 musim yang berbeda. Anak tante banyak bicara, banyak tingkah, manja dan ya petakilan juga. Sedangkan kamu pendiam, disiplin, mandiri dan rajin sekali," ucap Nila.
"Tante berlebihan! mungkin Antonio lebih beruntung karena punya mama seperti tante Nila," ucap Raja.
"Dan ya kamu juga beruntung punya papa seperti papamu. Dalam hal ini kalian sama, sama-sama di besarkan seorang single parent. Kamu tahu Raja kalau itu tidak mudah, kita berjuang dan harus menjadi ibu juga ayah. Makanya saat tante bertemu papamu kita merasa banyak kecocokan dan seperti menemukan puzle yang hilang," jelas Nila.
"Emmmh aku harap tante bisa mencintai papa apa adanya dan bisa menerimaku juga sebagai anaknya papa," ucap Raja.
"Itu pasti Raja!" Nila bangun dari duduknya dan menatap foto mama Raja.
"Mamamu cantik sekali ya. Pasti dia bangga punya anak sepertimu," ucap Nila. "Emmh tante tunggu di ruang makan ya. Kita makan bersama, Antonio juga akan datang." Nila berlalu keluar kamar.
"Sepertinya memang tante Nila orang baik. Tapi aku tidak bisa membayangkan kalau Antonio menjadi sodaraku? hariku pasti tidak akan tenang," gumam Raja.
Raja meraih handuknya dan mandi setelah selesai baru keluar kamar untuk makan bersama dan membahas pernikahan papanya.
Antonio juga baru datang.
"Kamu kemana aja sih Ton?" tanya Mamanya.
"Tadi nongkrong dulu sama temen-temenku," jawab Antonio.
"Nongkrong terus kerjaanmu. Lihat dong Raja pulang sekolah langsung pulang ke rumah," ucap Nila.
"Raja juga suka nongkrong ma. Tongkrongan Raja juga keren banget sama anak-anak geng motor gitu balapan," ceplos Antonio.
Raja melotot pada Antonio karena sudah memberitahu papanya kalau selama ini Raja sering ikutan balapan liar.
"Apa?" kode Antonio.
"Raja apa maksud Antonio? coba jelaskan!" tanya Burhan.
"Emmmh hanya sesekali saja pah!" jawab Raja singkat.
"Itu membahayakan Raja. Apa-apaan kamu ini?" ucap Burhan.
"Walaupun balapan liar, tapi kita tidak balapan di jalan raya kita punya tempat sendiri yang gak ada kendaraan lain," jelas Raja.
"Hentikan ya! jangan balap-balapan lagi. Kalau mau jadi pembalap beneran papa modalin," saran Burhan.
"Aku belum kepikiran! balap hanya hobiku saja," jawab Raja.
"Sudahlah Raja! mending jadi pembalap beneran aja pasti keren banget tuh. Biar aku jadi manager kamu," timpal Antonio.
Raja hanya melotot pada Antonio tanpa menjawabnya.
"Sudahlah! ayo makan," ucap Nila.
Raja merasa kesal pada Antonio karena memang selama ini Raja ikut balapan tanpa sepengetahuan papanya.
"Jadi kita sudah sepakat akan menikah minggu depan," Nila mengumumkan pernikahannya.
"Waw jadi kita akan buat pesta dimana?" tanya Antonio.
"Tidak akan buat pesta. Hanya keluarga sama temen deket aja kok. Acara sederhana," ucap Nila.
"Ah mama gak asik deh!" keluh Antonio.
"Ya sudah aku ke kamar dulu banyak tugas." Raja berlalu ke kamarnya.
"Raja mau kemana sih!" teriak Antonio.
"Jangan teriak-teriak gitu iih," ujar Nila.
"Maafin Raja ya. Emang dia anaknya kaya gitu pendiam tapi aslinya baik banget kok. Kalau sudah jadi sodara nanti pasti kalian akrab." pungkas Burhan.
Waktu menunjukan pukul 8 malam. Nila dan Antonio berlalu pulang tidak di antarkan Burhan karena Nila bawa mobil sendiri.
Burhan menghampiri Raja di kamarnya. "Raja! papa masuk yah."
Raja sedang pokus pada komputernya. "Ada apa pa?"
"Hanya ingin mengobrol saja denganmu. Sepertinya kita jarang ngobrol berdua," ucap Burhan.
"Papa sibuk terus, kan?" ketus Raja.
"Iya papa tahu. Maafkan papa karena selama ini selalu sibuk dan tidak pernah menghabiskan waktu bersamamu," jelas Burhan.
"Aku mengerti!"
"Makasih ya sudah mengizinkan papa menikah lagi. Papa berpikir kalau kau tidak akan mengizinkannya," ucap Burhan.
"Aku tidak seegois itu!" Raja tetap pokus pada komputernya.
"Kamu jangan balap-balapan lagi ya. Itu membahayakan untukmu," pinta Burhan.
"Hanya sesekali saja!"
"Emmmh baiklah papa ke kamar papa dulu. Lanjutkan belajarnya." Burhan pergi dari kamar Raja.
Raja mematikan komputernya dan membaringkan badannya di tempat tidur.
⬇️⬇️
hadir ni thoor
semangat berkarya yaaa😚😚