(Taka season 2)
Kisah ini lanjutan dari 'TAWAKU TERBALUT LUKA' sebelum membaca kisah ini, harap baca judul itu dulu agar menyambung dengan ceritanya.
Kisah cinta remaja. Sedih, romance.
Seorang pemuda bernama Taka harus berjuang untuk melawan penyakit kanker otak.
Sebelumnya pemuda itu dijuluki sebagai Pangeran Komedi, namun beberapa waktu berlalu julukan itu berubah menjadi Pangeran Kesedihan.
Disaat orang-orang terdekatnya mengetahui penyakit yang diderita, ia tak lagi membawa kebahagiaan. Melainkan kesedihan.
Ketika ia terjatuh dalam keterpurukan, pertama kali bertemu dengan gadis unik yang di panggilannya Hutapea(bukan nama sebenarnya)
Pertemuan pertama mampu tersimpan didalam memorinya. Dua kalimat singkat namun sarat makna yaitu 'Semangat dan Berjuang' membuat semangat dalam dirinya bangkit dan berusaha untuk melawan penyakitnya.
Akankah keduanya dipertemukan kembali? atau hanya satu kali itu saja?
Ayo ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taka ingin menangis didepan Bunda saja
"Jika bisa, Ayah pasti akan menggantikan posisimu, Nak. Biar Ayah yang kesakitan, jangan kamu." lirik ayah Arsel.
Dokter spesialis dan perawat yang menyaksikan pun ikut terhanyut dalam suasana itu. Bukan pertama kali bagi mereka menangani pasien penyakit kanker, bahkan sudah ratusan pasien yang bernasib sama seperti Taka. Sama-sama kesakitan dan lemas setelah menjalani kemoterapi.
Tiba-tiba Taka memegangi mulutnya, bunda Sensa yang tahu kode itu langsung mengambil tempat khusus dan tidak lama Taka langsung memuntahkan isi makanan yang dimakannya tadi pagi.
Dengan sabar dan lembut, bunda Sensa membersihkan mulut Taka dengan tissu.
"Maaf ya, Bun." ucapnya lirih.
"Sstth... nggak pa-pa, Sayang, nggak pa-pa." bunda Sensa mengelus bahu Taka dengan pelan.
Rasa enggan, rasa jijik, rasa mual semua disingkirkan. Demi melihat tubuh Taka yang seperti itu, hatinya selalu was-was jika sewaktu-waktu akan terjadi sesuatu pada putra keduanya itu.
Disetiap saat, bahkan enggan untuk memejamkan mata, takut jika lengah dan Taka pergi untuk selamanya. Tidak! tidak! tidak dan tidak. Bunda Sensa menggeleng dengan kuat.
"Sayang, berjuanglah demi kami ya, Nak. Demi Bunda, Ayah dan yang lain. Kami semua menyayangimu, Taka." tangan bunda Sensa meraih telapak tangan Taka yang sangat kurus dan terasa dingin.
Dokter spesialis yang masih disana berjalan mendekati bunda Sensa. "Ibu, percayalah, anak ibu pasti sembuh. Berikan dia dukungan semangat, jangan buat mental anak ibu down. Kita tahu, Taka ini pasien yang tipikal mandiri dan ingin sendiri. Tidak mau berbagi kesedihan dengan yang lain, jadi ibu harus berusaha tegar. Ibu juga harus kuat. Efek samping setelah kemoterapi memang seperti ini, tapi kami akan terus memantau. Semoga semuanya lekas membaik, efek sampingnya segera reda."
"Disaat putra anda merasa kepanasan, itu tandanya obat sedang bereaksi membunuh sel jahat, dan artinya juga kemoterapi yang kami lakukan sudah berhasil."
Bunda Sensa mendengarkan penjelasan dokter demi menghargainya berbicara, padahal diapun tidak tahu arti ucapan yang disampaikan.
"Iya Dok, terima kasih sudah mengupayakan semua tindakan untuk anak saya. Kami akan berusaha kuat dan tenang. Sekali lagi, terima kasih." ayah Arsel menyahut untuk menjawab, ia tahu istrinya tidak paham dengan perkataan dokter.
Dokter yang tadi fokus pada bunda Sensa, kini beralih pada ayah Arsel dan tersenyum. Ia memaklumi jika bunda Sensa tidak mengerti arti ucapannya, karna orang Indonesia tidak semua bisa berbahasa asing.
Setelah dokter spesialis dan perawat pergi, ayah Arsel baru mengulang lagi penyampaian dari dokter tadi. Bunda Sensa mengangguk-anggukan kepala.
Meski mencoba tenang dan tidak kalut dalam kesedihan, tapi sangat sulit mengontrol airmata yang tiba-tiba menggenang dan dengan sendirinya, tanpa bisa dicegah selalu berhasil lolos. Melihat putranya kesakitan, ibu mana yang tidak akan menangis. Jika harus menahan tangis, ia tak sanggup.
Karna dengan tangisan kita bisa meluapkan semuanya.
"Ayah," panggilan lirih dari Taka membuat keduanya langsung fokus pada Taka.
"Ada apa, Sayang?" tanya ayah Arsel.
"Taka haus atau lapar?" bunda Sensa ikut menanyai. Tapi Taka menggeleng.
"Beberapa waktu Taka seperti ini, jangan ijinkan mereka masuk." pintanya.
"Tapi, Nak..." ayah Arsel ingin menolak keinginan Taka tapi bagaimana, dia pun tahu jika Saka, Nata, dan yang lainnya juga ingin melihat kondisi Taka. Semua sama-sama khawatir.
"Nanti jika tubuh Taka membaik, baru mereka boleh masuk." imbuh Taka.
"Tubuh ku lemah, Yah, tubuhku sakit. Aku tidak mau mereka melihatku seperti ini." tangan sebelah Taka dengan gemetaran mencari keberadaan tangan ayah Arsel. ingin memohon agar ayah Arsel mengusahakan permintaanya tadi.
Pemikiran Taka memang tidak berubah, dia tidak mau orang lain melihat sisi terlemahnya. Mungkin jika tidak ada dia dan bundanya, Taka akan memikul kesakitan itu sendiri, tanpa dampingan siapapun.
"Iya Nak, nanti Ayah akan sampaikan pada mereka." seperti tak ada pilihan lain, akhirnya ayah Arsel menyetujui permintaan Taka dan sementara tidak mengijinkan yang lain untuk masuk.
"Tunggu sebentar, biar Ayah bicara pada mereka. Sebenarnya semuanya ingin melihat keadaanmu, mereka juga mengkhawatirkan mu." kata ayah Arsel.
"Jangan Yah, nanti saja." tolak Taka.
Ayah Arsel berbalik untuk keluar dan menemui mereka semua yang masih menunggu didepan ruangan.
"Taka, jika dengan kebersamaan dengan teman-teman mu bisa membangkitkan semangat, dan bisa mengusir rasa sakit, tidak pa-pa Nak, mereka masuk. Kami tidak ada yang memandang mu lemah, kami semua hanya ingin memberi dukungan padamu." bunda Sensa mencoba menyemangati dengan pelan. Mungkin saja Taka akan merubah pendapat. Karna beberapa waktu Taka bersama temannya bisa tersenyum lebar, bisa melempar candaan. Mungkin dengan mereka juga rasa sakit yang dirasakan Taka saat ini akan tersamarkan.
"Enggak Bun, Taka ingin menangis didepan Bunda saja. Biar Bunda dan Ayah saja yang tau." Taka masih kekeh dengan pemikirannya.
Napasnya tersengal-sengal dengan luruhnya beberapa bulir bening dari sudut mata.
Bunda Sensa kembali mengambil tissu dan menghapus sudut mata yang terpejam.
"Sakit sekali ya, Nak?" tanya bunda Sensa.
"Panas Bun," keluh Taka.
Bunda Sensa mengambil apapun yang bisa dijadikan alat kipas untuk mengipasi tubuh Taka. Tapi seolah tidak mempan, karna hawa panas itu dari dalam tubuh Taka bukan dari luarnya.
Tangan Taka gemetaran juga dengan bibirnya yang merintih. Ya Tuhan, kuatkan aku.
Tak lama keluar darah mimisan, bunda Sensa lagi-lagi mengambil tissu untuk menghapus darah itu.
Ya Allah, mengapa kau berikan kesakitan seperti ini pada putraku. Sebagai seorang ibu, aku benar-benar tidak sanggup melihatnya kesakitan.
Ringankanlah rasa sakitnya, gantikan rasa panas dengan rasa dingin.
Bunda Sensa membacakan ayat-ayat pendek dari al-quran juga bersholawat disamping Taka, tak henti berdo'a, semoga semua rasa sakit segera berlalu dan akan terganti dengan tawa cerianya seperti beberapa waktu lalu.
Ketika ayah Arsel sudah didepan pintu semuanya mengerubungi demi rasa penasaran pada kondisi Taka.
"Bagaimana keadaan Kakak, Yah?" tanya Nata.
"Kemoterapinya sudah selesai, tapi..." suara ayah Arsel menggantung.
"Tapi apa, Yah?" tanya Saka.
"Taka belum mengijinkan kalian masuk."
Mendengar itu semuanya terdiam. Tentu saja ada rasa kecewa, karna mereka sangat ingin masuk dan memberi dukungan.
"Memang kenapa, Om, kami tidak diijinkan masuk?" cetus Ali baba penasaran.
"Seperti kondisi awal, saat ini Taka sedang lemah dan menahan sakit. Dia tidak mau kalian melihat keadaanya. Dia tidak ingin menangis didepan kalian."
"Jadi, kita hargai saja keinginannya. Nanti kalau efek samping obat kemoterapi sudah hilang, kalian pasti akan diijinkan masuk."
"Nata pengen lihat Kakak," pinta Nata.
"Lihat saja dari kejauhan dan jangan menimbulkan suara." perintah ayah Arsel. Nata menyetujui.
.
.
.
.
.
.
Udah puas nangis belum? ini mau begini atau Di skip??
bnyak bngt pelajaran yg bisa di ambil dri cerita ini
kembali ke tawa lg ☺
soal nya air mata ku sudah kering 😂
makasih banyak author aq pada mu yg sudah meng obrak abrik hatiku 🤗
tetap semangat...
jaga kesehatan Tor ku