"Kesalahanku adalah karena aku menerima tawaran itu sehingga aku mulai merasa nyaman dengannya."
Melani Pricillia adalah seorang sekretaris baru di Perusahaan Haditama. Ia baru saja bekerja selama 6 bulan pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang pria dingin bernama Revan Haditama.
Sebuah tawaran dilayangkan oleh Revan kepada Melani yang membuat wanita itu tergiur dengan isi dari kontraknya. Sebuah kontrak yang mengharuskan Melani berpura-pura menjadi pacar Revan sebagai alasan Revan agar terhindar dari perjodohan yang telah direncanakan oleh orang tuanya. Namun tidak hanya itu, di luar dugaan Revan pun meminta Melani menjadi istrinya dengan bayaran 1 Miliar.
Bagaimana hubungan Revan dan Melani di akhir kontrak? Akankah cinta dapat tumbuh dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan hati?
Follow Instagram Author : ekapradita_87
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Spesial Untuk Melani
Selamat membaca!
Setibanya di area parkiran mobil, Melani dan Revan segera masuk ke dalam mobil Revan. Setelah keduanya sudah menempati kursinya masing-masing, kini Revan langsung melajukan kendaraannya untuk meninggalkan pelataran restoran.
Saat ini pikiran Revan masih terus mengingat kejadian yang pernah terjadi, saat dirinya beberapa kali mendapati Melani dan Alfian datang ke kantor dan pulang bersama. Entah kenapa saat ini ada perasaan tidak suka di dalam dirinya, setelah mengetahui bahwa Melani dengan pria yang tadi temuinya ternyata pernah menjalin suatu hubungan di masa lalu.
"Mel, mulai besok kamu jangan pernah lagi datang dan pulang bersama Alfian ya! Saya tidak ingin kalau sampai melihat kalian kembali dekat!" Tiba-tiba saja perkataan itu terucap dari mulut Revan yang seketika membuat Melani menatap ke arahnya.
"Memangnya kenapa, Tuan? Saya dan Alfian 'kan hanya bersahabat, kebetulan juga kami tetanggaan makanya sering bareng karena searah dan satu tujuan."
"Kamu tuh bisa enggak sih kalau saya bilangin nurut aja, jangan ngebantah terus! Mulai besok kamu tidak perlu bareng lagi sama dia karena kemana pun kamu pergi, kamu harus mengendarai mobil barumu sendiri! Dan kalau kamu sudah mulai masuk kerja, selesai jam kerja entah itu hari apa saya akan ajak kamu untuk melihat apartemen yang sudah saya siapkan untuk kamu, sesuai dengan kontrak yang saya sudah tawarkan itu, jadi lebih cepat kamu pindah maka kamu tidak akan lagi dekat dengan Alfian!"
Melani hanya dapat menghela napasnya dengan kasar sambil menahan rasa kesal atas perkataan semaunya yang terlontar dari mulut pria yang sejak tadi terus menguji kesabarannya.
"Terserah apa yang Tuan katakan saja karena memang selama dua bulan ini hidup saya itu bukan lagi milik saya sepenuhnya!" jawab Melani terdengar begitu pasrah.
Setelah mengatakan semua itu, Melani pun mengalihkan pandangannya ke arah sebaliknya untuk melihat ke luar jendela yang saat ini terlihat mendung.
"Kenapa sih semakin ke sini, aku semakin sulit mengerti dengan sikapnya Revan. Sebentar-sebentar dia galak, terus baik lagi, dan sekarang dia bersikap seolah-olah cemburu, jika aku dekat dengan pria lain selain dirinya, sampai-sampai dia menyuruhku untuk cepat pindah ke apartemen baru!" batin Melani menarik napas panjangnya yang terasa menyesakkan dadanya.
Setelah tiga puluh menit berada di jalanan yang cukup padat, akhirnya mobil yang Revan kendarai kini telah tiba di pelataran lobi showroom kendaraan roda empat mewah yang memiliki harga yang fantastis.
"Sudah sampai. Ayo cepat turun!" titah Revan sambil menaikkan sebelah alisnya ketika dua matanya menatap dalam wajah Melani.
Sadar akan perintah yang diberikan oleh Revan, Melani pun segera melepas seat belt lalu keluar dari mobil. Seketika pandangan mata Melani terbuai saat kedua manik matanya menangkap pemandangan mobil mewah Lamborghini yang terparkir di dalam showroom yang dindingnya tembus pandang karena terbuat dari kaca.
"Wah, ini benar-benar nyata dan bukan mimpi belaka! Sebentar lagi aku akan menjadi orang kaya yang punya Lamborghini dan aku bisa mengajak Mama keliling kota Jakarta sesuai dengan keinginannya dulu." Melani mengusap kedua pipinya agar kembali sadar dari lamunannya yang sesaat membuat dirinya hanya mematung penuh rasa kagum.
Revan yang sudah keluar dari mobil segera meraih tangan Melani untuk menuntun wanita itu, agar masuk ke dalam showroom bersamanya.
"Ayo masuk! Kenapa kamu hanya melamun saja di situ?" titah Revan diakhiri sebuah pertanyaan yang membuat Melani amat canggung dan menutupi rasa kagum atas apa yang dilihat dengan kedua matanya saat ini.
Begitu tiba di depan pintu masuk, salah satu karyawan showroom menyambut kedatangan keduanya dengan ramah dan mempersilakan Melani dan juga Revan untuk masuk ke dalam. Saat itu adalah pengalaman pertama bagi Melani karena disambut kedatangannya layaknya tamu yang istimewa.
"Baru kali ini aku diperlakukan seistimewa ini oleh orang lain. Apa jika aku menjadi istri Revan? Hidupku akan seperti ini ya, terpandang dan dihormati," batin Melani yang tiba-tiba saja terlintas sesuatu yang tak pernah dibayangkannya.
Sadar dengan pikirannya yang salah, Melani segera menepikan semua itu dengan cepat.
"Mikir apa aku ini, Mel, Mel, jangan berharap terlalu banyak dan tidak usah bermimpi terlalu tinggi, nanti kalau jatuh itu sakit banget, Mel," batin Melani mengingatkan dirinya bahwa semua ini hanya hubungan yang sementara.
Setelah berada di dalam showroom, Melani yang telah sadar dari segala pikirannya yang salah, kini semakin tak kuasa menahan kekagumannya atas apa yang dilihat oleh wanita itu saat ini. Kedua matanya terus mengarah pada jajaran Lamborghini yang terlihat elegan dan mewah, hingga membuat kedua matanya jadi berbinar saat melihatnya.
"Maaf, Tuan dan Nona, kalian ingin mencari mobil jenis apa?" tanya karyawan seorang wanita cantik yang akan melayani Melani dan Revan selama berada di showroom.
Revan yang tampak biasa saja melihat jejeran Lamborghini yang tersusun rapi di depan matanya, hanya menampilkan ekspresi wajah datarnya karena untuknya hal seperti ini sudah bosan dilihatnya. Lagipula Revan bukan tipikal orang yang suka dengan model mobil seperti Lamborghini, pria itu lebih menyukai mobil yang simpel seperti BMW atau Porsche yang menurut jauh lebih elegan jika dikendarai.
"Apa ada keluaran terbaru yang tersedia di showroom ini? Saya lihat ada Lamborghini yang baru diluncurkan, seingat saya tipe Aventador LP 700-4." Revan bertanya sambil mengingat hasil pencariannya sewaktu di restoran tadi.
"Oh iya, betul Tuan. Kalau begitu mari saya antar Tuan dan Nona untuk melihat mobil keluaran terbaru dengan tipe LP 700-4." Karyawan itu pun memimpin jalan di depan dengan diikuti oleh Revan dan Melani di belakangnya.
Melani coba berbisik pada Revan untuk bertanya sesuatu. "Tuan, kenapa tidak pilih salah satu mobil yang terpajang di depan saja? Kenapa harus keluaran terbaru? Harganya pasti mahal deh."
"Nurut saja ya, Mel. Di depan tadi modelnya biasa banget, enggak kelihatan mewahnya, kalau yang keluaran terbaru itu jauh lebih elegan dari yang di depan sana. Coba saja nanti kamu lihat sendiri biar tahu perbedaannya."
Melani langsung mengangguk pasrah dan mengikuti kemana langkah Revan berjalan.
"Padahal menurutku mobil-mobil yang didepan itu sudah sangat mewah dan bagus semua. Dasar orang kaya seleranya tinggi banget!" gerutu Melani di dalam hatinya, setelah mendengar perkataan Revan.
Begitu tiba di salah satu ruangan tempat Lamborghini keluaran terbaru berada, kedua mata Melani terbelalak kagum melihat mobil cantik berwarna putih terpajang di sana.
"Itu dia mobilnya, Mel. Kamu suka?" tanya Revan sambil melangkah untuk mendekat ke arah mobil yang begitu mengagumkan karena memiliki desain futuristik yang mencerminkan sebuah kecepatan dan terlihat sangat mewah. Rata-rata mobil Lamborghini juga memiliki desain agresif dengan sudut lancip di setiap sisinya. Baik interior dan eksterior dibuat dengan material premium yang dijamin kualitasnya. Tak heran harga mobil Lamborghini begitu mahal dan selalu masuk ke dalam jajaran mobil termahal di dunia.
Melani segera menyusul langkah Revan untuk lebih mendekat ke arah mobil yang saat ini tengah membuat kedua matanya berdecak kagum tiada henti. "Saya suka banget, Tuan, tapi mobil ini pasti harganya sangat mahal. Apa tidak apa-apa, Tuan?" tanya Melani sambil mencoba menyentuh mobil mewah tersebut.
Revan menoleh ke arah Melani dan menatapnya lekat-lekat, entah kenapa melihat wajah Melani yang tersenyum bahagia seperti itu membuat Revan ikut merasakan kebahagiaan di dalam hatinya. Bukan hanya bahagia, tapi juga kepuasan tersendiri baginya karena telah berhasil membuat senyuman itu terlihat di paras cantik Melani.
"Harga 16 Miliar adalah mobil yang pantas untuk kamu miliki. Bahkan bila harganya lebih pun tidak masalah untuk saya, Mel, saya akan membayar berapapun harganya karena ini spesial untuk kamu."
Mendengar perkataan itu membuat Melani menatap wajah Revan, hingga pandangan keduanya saling bertaut begitu dalam. Seketika keduanya terdiam tanpa kata, sampai akhirnya Revan yang tersadar lebih dulu, langsung mencairkan suasana kala itu dengan perkataannya yang terdengar tulus dari dalam hatinya.
"Saya harap mobil ini bisa menebus sedikit dosa saya pada kamu atas kejadian semalam."
Melani tak mampu menjawab perkataan Revan yang terdengar sedikit lirih. Wanita itu pun kembali mengalihkan pandangannya, agar tak lagi menatap wajah atasannya itu yang sempat membuatnya merasa canggung.
"Ya Tuhan, saat ini aku melihat ada ketulusan di mata Revan sewaktu mengatakan semua itu. Mungkin memang benar, apa yang telah dilakukannya semalam, murni karena Revan telah dipengaruhi oleh minuman keras. Namun, walau kenyataannya seperti itu, aku masih sangat sulit untuk memaafkan apa yang telah dilakukannya kepadaku. Terlebih semua itu sampai merenggut kehormatan yang telah aku jaga selama 23 tahun lamanya," batin Melani di kedalaman hatinya dan mulai merasa bimbang dengan keputusannya.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak.