"Siapa kamu?" ucap Airin, melihat bayangan laki laki yang berjalan kearahnya.
Kepala Airin terasa sangat berat saat itu membuat nya tidak sadar kan diri, malam yang panjang itu pun ia lalui dengan seorang CEO yang cukup terkenal dikalangan bisnis.
Disinilah Airin memulai kehidupannya.
Bagaimana kisah selengkap nya,,, ikutin terus yaaa:):):):)
.
.
.
Instagram @linaa.pndk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maulina Nur Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20 - Bertemu Rey
Setelah sekian lama diperjalanan, akhirnya mereka sampai dikawasan perumahan yang cukup elite. Perumahan nya pun cukup besar.
"Wahh mah keren bangett" ucap Frisil turun dari mobil.
"Iya dong keren, ini kan pilihan Aunty" ucap Lala menyilangkan kedua tangannya.
"Sesuai keinginanmu kan Rin?" tanya Feli.
"Sesuai banget ini mah" ucap Airin masih kagum dengan rumah barunya.
Mereka langsung melangkah kan kaki menuju ke dalam rumah, terdapat 1 kamar utama dan 5 kamar yang tak kalah lebar dari kamar utama.
"Eh iya Rin,, Pesanan yang kamu pesan bentar lagi akan diantar" ucap Lala.
Airin memang meminta tolong kepada kedua sahabatnya untuk membelikan perabotan rumah sesuai kebutuhan Airin dan anak anak.
"Yaudah kamu istirahat, bersih bersih Rin. Kami kembali ke butik dulu buat ngecek pesenan hari ini" ucap Feli.
"Baiklah, terimakasih sekali lagi" ucap Airin memeluk kedua sahabatnya.
"Aunty pulang dulu ya, kalian jaga mamah kalian baik baik okey" ucap Feli kepada Bryan, Brayen dan Frisil.
"Siap Aunty" ucap ketiganya bersamaan.
"Yaudah kalian mandi dulu bersih bersih,, Setelah itu kita makan malam di luar" ucap Airin.
"Nak, nenek dirumah aja. Kurang enak badan" ucap Bi Iyah.
"Nenek sakit, kita kerumah sakit aja" ucap Airin khawatir.
"Engga usah nak, ini buat istirahat saja udah mendingan pasti" ucap Bi Iyah.
"Gini aja nenek gausah masak, nanti Airin pesenin makanan buat nenek. Nanti juga Airin belikan obat buat nenek" ucap lembut Airin.
"Iya nak" ucap Bi Iyah, langsung pergi ke kamar nya, diikuti anak anak yang masuk kedalam kamar mereka.
Malam Hari.
Airin memesan taxi untuk ke dealer mobil terdekat sesuai kebutuhan nya terlebih dahulu. Airin memasuki Dealer di ikuti ketiga buah hatinya.
"Mahh yang warna putih itu keren" ucap Bryan menunjuk salah satu mobil Daihatsu.
"Yaudah yang ini aja mbak" ucap Airin sopan.
"Baiklah, Silahkan melakukan pembayaran kak" ucap karyawan disana.
Airin berjalan menuju lobby pembayaran, Airin mengeluarkan black Card milik ia sendiri. Setalah selesai pembayaran Airin meminta pihak dealer mengantarkan mobil ke alamat perumahan nya.
"Udah mah?" tanya Brayen yang menunggu di luar ruangan.
"Udah sayang, ayo pergi" ucap Airin.
Mereka menaiki taxi dan langsung menuju mall terdekat. Setelah sampai, disaat mereka masih di dalam lobby tiba tiba saja dari belakang terdengar seseorang yang memanggil Airin.
"Eh kamu Rey" ucap Airin.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rey, akhirnya bisa bertemu kembali Airin.
"Aku baik" ucap Airin, ia mengingat bagaimana hinaan orang tuanya dulu kepadanya.
"Maaf Rin, buat kejadian dulu" ucap Rey tulus.
"Aku sudah mencari mu selama ini, tapi tidak satu pun yang aku tau tentang keberadaan mu" ucap Rey.
"Mah dia siapa?" tanya Brayen.
"Kenalin om Rey, teman mamah kalian. Om izin ajak mamah kalian berbicara sebentar boleh?" ucap lembut Rey langsung berkenalan dengan ketiga anak Airin.
"Baiklah om, jangan lama lama ya" ucap Frisil.
"Lupakan masalalu Rey, sekarang sebaiknya kita menjalani kehidupan kita masing masing" ucap Airin yang saat ini sudah sedikit menjauh dari anak anak, namun masih bisa memantau mereka.
"Maaf kan aku Rin, izinkan aku berteman lagi denganmu" ucap Rey.
"Tapi" ucap Airin langsung terpotong.
"Masalah Anita, aku batal tunangan dengannya. Karena ketika keluarga ku bangkrut dia langsung meninggalkan ku" ucap Rey.
"Ibu juga sudah sadar kesalahan nya padamu saat itu, maaf kan kesalahan ibu ku Rin" ucap Rey tulus.
"Baiklah" ucap Airin.
"Kamu maafin aku?" ucap Rey, dijawab anggukan oleh Airin.
"Setelah ini kalian mau kemana?" tanya Rey, kepada Frisil.
"Kami mau makan om" ucap Frisil dengan senyum manisnya.
"Boleh om ikut, nanti kita beli es krim" ucap Rey kepada ketiga buah hati Airin.
"Baiklah ayo om" ucap Frisil menggandeng tangan Rey.
Namun berbeda dengan Brayen dan Bryan, ia lebih cuek menanggapi Rey. Mereka hanya berusaha bersikap sopan agar tidak membuat mamahnya sedih.
"Lihatlah Frisil, kita harus segera cari tau dimana ayah kita" bisik Bryan.
"Perasaan ku juga ga enak ketika melihat om Rey" ucap Brayen.
Setelah selesai makan, entah kenapa Frisil sangat akrab dengan Rey. Bahkan ia sesekali tertawa puas karena om Rey.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haii semuanya
Makasih yang udah support Outhor
Jangan lupa LIKE, COMENT, FOLLOW
Instagram @linaa.pndk