Gadis lugu yang pandai menyembunyikan luka dihati nya, ceria itulah dia, namun siapa sangka Arana yang dikenal ceria itu sering menyendiri, memendam perasaan nya sendiri.
Ia yang sering memperdulikan orang lain dibanding dirinya sendiri. Kebahagian nya ia anggap belakangan.
Hujan. Ara sangat suka, disaat ia suka menyendiri, rintik rintik nya menemani dirinya, hingga ia berpikir akan mencari sosok pelangi untuk nya.
Mampukah ia mencar pelangi tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aniya Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"Daddy.. Ara gak kuat"
Ingin rasanya ia mengadu kepada Daddy nya, ingin rasanya Ara mengutarakan rasa sakit nya.
Tiba-tiba Hujan turun mengguyur jalanan cukup deras, Ara tetap berjalan tanpa Arah, baju nya bersih dengan rambut nya yg basah karna hujan membasahi nya. Ara tetap berjalan dengan air mata nya yg terus mengalir di pipi nya.
"Semua pada benci Ara, untuk apa Ara hidup" ucap nya.
"Mungkin kalo Ara mati, semua nya bakal beres. Daddy, Mama, Ara nyusul kalian ke atas ya.." Ara menatap langit-langit.
Hingga Ara mendengar dari kejauhan suara motor berderu kencang. Ara memejamkan mata nya, siap untuk dihantam motor tersebut.
Tiiinn!!!
Tiinn!!
Suara klakson motor itu, Ara tak memperdulikan nya, ia tetap berdiri ditengah tengah jalan.
Hingga..
Shittttttttt
Brakk!!
Ara langsung membuka mata nya, ia kaget ketika ia melihat motor dan pengendara itu jatuh berjauhan.
"Lo mau mati hah!" ujar pengendara itu lalu membuka helm nya kaca mata nya, ia dikagetkan dengan wajah Ara, mengingatkan nya pada seseorang.
"Ma..maaf.. , ayo ayo Ara bantu" Ara membantu pengendara lelaki itu, tak jauh dari posisi mereka terdapat halte bis, Ara pun membawa pengendara itu duduk dihalte bis.
"Astaga kaki kamu berdarah, tunggu Ara obatin dulu" Ara membuka ransel nya untung nya ia selalu siap siaga kotak p3k di ransel nya.
"Lo kalo mau mati mikir mikir dulu, gak ada untung nya" ucap lelaki itu, Ara menunduk menggigit bibir nya.
"Maaf..." setelah selesai mengobati lelaki itu, Ara duduk disamping nya, hujan masih belum berhenti.
"Ara gak kuat.. Ara gak mau hidup lagi.. semua nya pada benci Ara" Ara menangis sesegukan.
Lelaki yang disamping Ara kebingungan karna melihat Ara yang menangis, apa ia salah dengan ucapan nya?
"Sory maksud gua bukan--"
"Ara pikir kalo Ara pergi dari dunia semua nya bakal beres, mangkanya Ara berdiri ditengah jalan.. " jelas nya.
"Lo lagi gak baik baik aja?" tanya lelaki itu Ara menggeleng.
"Ara baik baik aja, Daddy selalu bilang. Apapun situasinya Ara harus hadapi dengan tersenyum" jawab Ara menghapus air mata nya.
"Kenalin gue Devan" seseorang itu membuka helm nya dan mengulurkan tangannya untuk dijabat tapi tak kunjung di balas dengan Ara, hingga lelaki yg bernama Devan itu kembali menarik tangan nya.
Ara menoleh melihat lelaki itu yang malah mengenali dirinya.
"Daddy?!" Devan mengernyit, Daddy? Apa ia setua itu?
"Daddy?, Maksud lo?"
"Daddy Dav? Ini Ara Dad anak Daddy"
"Anak? Daddy?"
"Iya Dad, ini Ara anak Daddy"
"Lo ngomong apaan si anjir" Devan menggaruk tengkuknya, ia tak mengerti apa yg dibicarakan gadis dihadapannya ini.
"Dad ini Ara..." Ara memeluk Devan lalu menangis sejadi-jadinya. Devan yang tak mengerti hanya terdiam membeku.
"Ara gak kuat Dad, Ara gak kuat, Ara pengen ikut Daddy aja, disini Ara gak punya siapa-siapa"
"Ara udah berusaha untuk jadi kuat, tapi Ara tetep gak bisa..."
"Didunia ini gak ada yg sayang sama Ara, mereka pada benci Ara Dad... Ara gak mau disini.." ucap Ara, Devan yg mendengar itu merasa tak tega. Seseorang yang sangat ia kenal dulu pernah serapuh ini.
Perlahan tangan nya mengusap kepala Ara lembut.
"Daddy tau, putri Daddy bisa, semangat sayang.. Daddy disini selalu nyemangatin putri Daddy, Ara pasti akan bahagia tanpa Daddy, awali dengan senyum sayang... "
"Gue Devan bukan Daddy" Ara terdiam, melihat seseorang yang mengaku bernama Devan itu.
"Daddy bohongkan?" Ara masih tak percaya .
"Ngapain gue bohong, gue Devan. Bukan Daddy lo" ujar Devan lalu merogoh dompet nya dan mengambil foto semasa kecil nya bersama kedua orang tua nya.
"Foto gue" ucap nya. Ara melihat nya, ternyata benar dia bukan Daddy nya mereka hanya mirip.
"Maaf, Ara--" Ara menghapus air mata nya.
"Gak papa, gue paham. Lo boleh nangis sejadi jadi nya, keluarin semua rasa yang lo rasain, tapi jangan buat diri lo lemah dengan keadaan, apalagi coba coba buat bunuh diri" Ara mendengarkan.
"Tapi Ara gak kuat" ucap Ara sembari menangis.
"Lo harus kuat, lo bisa hadepin semua nya. Tuhan ngasi ujian buat lo karna lo bisa ngadepin nya, jangan putus asa" ujar Devan.
"Bunuh diri itu dosa, Tuhan gak akan maafin lo" ucap Devan.
"Maaf... Ara gak akan pernah lagi ada niatan mau bunuh diri"
"Bagus"
"Sekarang lo gue anter pulang, baju lo basah kuyup ntar lo sakit"
"Engga.. engga, Ara bisa pulang sendiri" tolak lembut Ara.
"Hari udh sore, gak baik cewe sendirian"
Sementara itu disisi lain, tepat nya Lion.
"Lion, Mama Shei khawatir dengan keadaan kamu, jadi Mama mencari pembantu untuk---"
"Gua gak butuh bantuan lo, gak usah pura pura" ucap Lion.
"Oke kalo itu mau kamu, saya juga cape ngadepin anak kayak kamu, saya masih sabar dengan kelakuan kamu, setelah Papa mu itu meninggal saya akan bebas" Sheila tidak seperti Mama pada umum nya. Sheila hanya mengincar harta kekayaan keluarga Mahesa.
"Jangan main-main dengan keluarga gua, lo tau akibat nya" ucap Lion.
"Kalo itu mau kamu, jangan tanda tangani harta warisan keluarga Mahesa, anak saya lah nanti yg akan menggantikan nya"
"Gua gak peduli, lo mau ambil seterah gak seterah, sekarang lo pergi, rumah gua kotor karna diinjak manusia kayak lo" ucap Lion yg ditatapi mata jenggah oleh Sheila.
Setelah kepergian Sheila. Lion tiba-tiba dikagetkan dengan ponsel nya yang berdering, memunculkan nama Gusti.
"HALLO? HALLO ION? ION JAWAB ANJING, WOYYYYY!!!"
Lion menjauhkan ponsel nya dari telinga nya, ada apa dengan Gusti ini.
"Apa?" Lion menjawab.
"ARA UDAH PULANG? DIA ADA DIRUMAH LO GAK?!"
"Bukan dia sekolah?"
"Nah iya! Tiba tiba pas sampe sekolah dia..." Gusti langsung menceritakan lewat telfon, Lion terkejut mendengar nya, ia langsung mematikan sambungan telfon dengan Gusti, dan beralih ingin menelfon Ara.
Namun tiba-tiba juga, ponsel nya saat itu juga berdering, muncul nama Ara, tanpa babibu Lion langsung mengangkat nya.
"Ra lo diman---"
"Ara diluar Lion.."
"Tunggu, gue bukain pintunya. Jangan kemana-mana"
"Iya.."
Tut..tut..tut..
Sambungan dipatikan oleh Ara.
Lion langsung berjalan tertatih-tatih menuju pintu, sampai nya ia langsung membuka nya, ia dikagetkan dengan seseorang yang bersama Ara.
"Lo--" ucapan Lion terpotong saat ia terkejut ketika melihat Ara bersama lelaki yang tak lain adalah Devan, kakak nya Asya, dan musuh nya.
Devan pun terkejut mengetahui Lion berada dirumah Ara, ingatan nya berputar saat malam itu Lion bersama seorang gadis, apakah itu Ara.
"Lo gila?! Cewe yang kemarin malem itu ternyata Ara?! Lo buat dia sebagai inceran baru lo?! Lo gak kapok anjing?!" Devan menarik kerah baju Lion. Ara terkejut.
"Devan! Devan lepas!" teriak Ara. Devan langsung menghempaskan nya, karna Lion tak kuat menyimbangi tubuh nya dengan satu kaki ia hampir terjatuh, untung nya Ara langsung menangkap nya agar tak jatuh.
"Devan!" bentak Ara.
"Lo cewe baik baik Ra, dia gak pantes buat lo, jauhin sampah ini" ujar Devan.
"Devan kenapa ngomong gitu?!"
"Karna lo bakal jadi inceran selanjutnya!" ucap Devan, Ara merngernyit.
"Inceran?"
"Lebih baik lo sekarang ikut gue, gue bakal lindungin lo dari si brengsek ini" ujar Devan lalu memegang tangan Ara dan hendak membawa nya pergi, Lion pun ikut memegang tangan Ara guna mencegah nya
"Gua gak sebrengsek itu Van! Bukan gua pelaku nya!" ucap Lion dengan nada tinggi.
"Kalo bukan lo siapa hah?! Jelas jelas adek gua nemuin lo sebelum dia ngelakuin hal itu!" balas Devan.
"Gua cerita lo gak akan percaya!" ucap Lion.
"Karna omongan lo gak ada bukti!" balas Devan.
"Kalian.. ini kenapa?" sela Ara tak mengerti.
"Inget Ra, kalo si brengsek ini macem-macem langsung telfon gue, thanks udah ngajakin gue mampir, gue pamit"
"Dan lo, gue peringatin. Jangan pernah macem-macem sama Ara, gua bakal pantau lo terus" ucap Devan ke Lion, lalu membalikan tubuh nya dan melangkah pergi.
Kini tinggal Lion dan Ara.
"Lion itu..?"
"Lo dari mana aja? Kenapa pergi gitu aja? Terus kenapa bisa ketemu orang itu? Dia musuh gua, bisa aja dia ngelakuin buruk ke lo, gua gak terima kalo terjadi sesuatu sama lo, lo gak tau gua khawatir, jantung gua deg deg an" Lion terdiam. Sadar dengan ucapan nya.
"Maaf Lion, maaf udah buat Lion khawatir.. Ara gak bermaksud buat Lion khawatir..maafin Ara Lion"
"Soalnya diisekolah tadi Ara.. Ara hiks.." Ara kembali menangis, ia mengusap air mata nya.
"Lion mereka bilang Ara.. kalo Ara..hiks.."
"Lion.. maaf hiks"
"Udah sttt... jangan nangis" Lion mendekap Ara.
"Tapi mereka jahat Lion.." Ara menangis
didekapan Lion.
"Gue tau.. jangan nangis Ra.., jangan lemah lo harus kuat, tunjukin kalo lo gak salah, jangan takut" Lion memberi semangat.
"Lion... hiks" Ara terenyuh dengan ucapan Lion, Lion selalu memberi nya semangat dan menasihati nya, tetapi Ara selalu tidak bisa melakukan nya.
Lion menangkup kedua pipi Ara, dan menghapus air mata nya.
"Jangan buang-buang air mata lo buat hal yang gak guna" ucap Lion.
"Tap.. tapi itu rasanya sakit banget Lion.. apa yang mereka bilangin keinget terus.. hiks"
"Gue ngerti, gue paham. " Lion tak tega melihat Ara selalu menangis, Lion ingin Ara tersenyum bahagia. Kembali ceria seperti dulu.
"Lo lumayan cantik kalo nangis" Lion serius. Ara merengut karna ucapan Lion.
"Lion gak lucu tau" Ara membalikan badan nya, ngambek.
Lion menarik Ara dan menghadapkan nya ke dirinya.
"Senyum" suruh Lion, Ara menatap Lion.
Tatapan Lion sungguh dalam, Ara pun merasakan nya, namun tiba tiba Ara dikagetkan dengan Lion yang mengedipkan sebelah mata nya.
Ara langsung terperanjat, lalu menjauh.
"Terpesona ya?" Lion menggoda. Ara yang mendengar itu malah salah tingkah.
"Lion apa sih" bantah Ara.
"Ciee salting"
"Ohiya, tadi pagi lo nyium gue--"
"Lion stop. Ara malu" Ara pun kabur dengan salah tingkah.
Gue pengen liat lo bahagia Ra.
Namun tiba tiba Lion dikagetkan dengan suara tv nya yang menyala sendiri, jangan berpikir jika itu hal mistis. Tv Lion otomatis akan nyala sendiri jika disambungkan dengan alarm bluetooth, yang menandakan serial tv yg diingatkan oleh alarm tersebut sudah mulai.
Lion dikagetkan dengan vid-18+ di tv tersebut yang menampilkan sepasang kekasih sedang berciuman, apa.. apa Ara menonton dvd milik Ori?!
"LION DRAKOR ARA UDAH FILM YA???" suara teriakan Ara, sudah jelas. Ara menonton nya, pantas saja tadi pagi Ara mencium nya.
up ya kak, karyanya bagus🐣
jangan lama"y😉😉