Nizam adalah seorang santri tingkat senior sekaligus pengurus di suatu pondok pesantren, tanpa disadari hatinya mulai berdebar disaat ia melihat seorang santriyah yang tidak diketahui olehnya yang bernama Zayin.
Zayin adalah seorang santriyah pemalu dan jarang memperlihatkan dirinya di lingkungan pondok pesantren, tetapi ia sedang dekat dengan Azij seorang rois di ponpes itu.
Azij adalah teman Nizam, Azij adalah seorang rois di pondok pesantren itu, ia satu asrama dengan Nizam.
Akan kah cinta antara Nizam dan Zayin terjalin dan hidup bersama, atau malahan Azij yang akan mendapatkan cinta Zayin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khotibul Umam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 21
"Woy bangun Zam." Sahut Mail membangunkan Nizam sambil menggoyangkan tubuhnya.
"Za Zayin." Sahut Nizam yang langsung bangun mengambil posisi duduk.
"Zayin terus, ngopi nih gue dah bikin.'' Timpal Mail sambil menghisap rokoknya.
"Gue dijodohin Pak Yai sama Zayin ill.'' Timpal Nizam yang girang karena mimpinya.
"Cuma didalam mimpimu bego.'' Timpal Mail sambil keheranan dengan Nizam yang bangun tidur langsung girang.
"Tetapi ill, semoga aja ini jadi kenyataan, ya alloh nyatakan lah mimpi hamba-Mu ini.'' Timpal Nizam sambil mengangkat kedua tangannya.
"Udah lah, ngopi sekarang mah nih rokoknya nih gas solin nya.'' Timpal Mail tetap santay dengan sebatang rokoknya yang berada ditangannya.
"Zam dipanggil Pak Yai, cepetan sana." Sahut salah satu santri.
"Siap bos, berangkat.'' Timpal Nizam menatap mata Nizam penuh harap.
"Apa lo natap gue." Sahut Mail heran kepada kawannya itu.
"Do'a gue barusan ill, do'a gue langsung dikabulkan, gue bakal dijodohin Pak Yai sama Zayin.'' Timpal Nizam sambil menggoyangkan pundak Mail.
"Dih mimpi bego mimpi, sana Pak Yai nungguin, cuci tuh muka sekalian biar gak banyak menghayal.'' Timpal Mail menghiraukan Nizam.
Nizam pun pergi dengan riang melangkah rumah Pak Yai meninggalkan kawannya Mail yang sedang menikmati rokok dan secangkir kopi, tetapi Nizam tidak ketemu dengan Azij seperti didalam mimpinya tadi.
"Hah masa bodo gak ketemu si Azij juga, paling nanti ketemu juga udah bonyok sama gue.'' Gumam Nizam tertawa sendiri sambil melangkah kan kakinya kerumah pak yai.
Nizam pun mempercepat langkah kakinya, ia pun sampai kerumah Pak Yai melewati pintu belakang (dapur), dan pandangannya tertuju kepada seorang santriyah yang dia sangat kenal.
"Eh Akang, mau ke Pak Yai ya?", Sahut Zayin mengetahui Nizam memasuki dapur sambil melempar senyum manisnya.
"Manis sekali senyuman mu Zayin, cocok sekali dengan paras mu yang cantik.'' Gumam Nizam yang termenung menatap keindahan ciptaan tuhannya.
"Kang." Sahut Zayin yang mulai malu karena Nizam terus menatapnya.
"Eh iya Neng, Pak Yai nya aja.'' Timpal Nizam yang tersadar dari lamunannya dengan salah tingkah.
"Ada Kang, kedalam aja.'' Timpal Zayin kembali tersenyum kembali.
"Sendiri aja Neng." Sahut Nizam membalas senyuman Zayin.
"Sama Asih Kang, Asih nya lagi ngangkatin jemuran.'' Timpal Zayin sambil meneruskan mencuci piring yang sempat tertunda.
"Oh, mau dibantuin sama Akang gak.'' Timpal Nizam kembali melempar senyuman ke Zayin.
"Sudah sana Kang, jangan gangguin Neng.'' Timpal Zayin salah tingkah karena digangguin Nizam.
"Iya sudah Akang kedalam dulu ya.'' Timpal Nizam meninggalkan Zayin sambil tersenyum kepada Zayin.
Zayin hanya membalas senyuman Nizam, Nizam pun melangkahkan kakinya menuju Pak Yai, Nizam pun kaget melihat Azij sudah berada bersama dengan Pak Yai.
"Assalamualaikum Pak Yai." Sahut Nizam sambil melangkah menghampiri Pak Yai.
"Waalaikumsalam, oh Zam, sini.'' Timpal Pak Yai tersenyum ke arah Nizam.
Nizam pun mencium tangan Pak Yai dan duduk samping Azij, Nizam pun bersalaman dengan Azij yang berada disebelahnya sambil saling menekan dengan kuat.
"Zam acara imtihan (ujian santri) sekarang kamu yang jadi jurinya ya?." Sahut Pak Yai.
"Oh iya Pak Yai.'' Timpal Nizam sambil melepaskan tanganya dari tangan Azij.
"Nah nanti acaranya diatur sama Azij, Pak Yai udah ngobrol sama Azij, kamu Zam cari santri lain buat jadi juri.'' Timpal Pak Yai.
"Baik Pak Yai, nanti Nizam yang carikan.'' Timpal Nizam.
"Oh iya Pak Yai lupa, buat ketuanya sama siapa itu yang suka sama kamu Zam.'' Timpal Pak Yai.
"Mail Pak Yai.'' Timpal Nizam.
"Nah iya itu Mail maksud Pak Yai, nanti malam suruh kesini ya, sama kamu juga Zam", timpal Pak Yai.
"Iya baik Pak Yai.'' Timpal Nizam.
"Iya sudah cukup dulu aja, udah adzan dzuhur juga.'' Timpal Pak Yai.
Nizam dan Azij pun kembali keasrama masing-masing. Nizam yang kembali lewat dapur tidak menemukan Zayin kembali, mungkin sudah kembali ke asramanya. Sedangkan Azij kembali lewat pintu depan, Nizam pun bergegas kembali keasrama mau mengganti sarung nya, untuk melaksanakan sembahyang.
"ill disuruh kerumah Pak Yai nanti malam." Sahut Nizam sambil berjalan bersama mail menuju asrama pulang dari masjid.
"Wah jadi yang dijodohin Pak Yai gue ya Zam.'' Timpal Mail tertawa sambil meledek kawannya itu.
"Ngeledek aja sih lo.'' Timpal Nizam kesal.
"Maka nya gue bilang jangan terlalu berharap deh lo, susah dibilangin.'' Timpal Mail sambil menepuk-nepuk punggung Nizam.
"Iya iya gue tau, puas lo.'' Timpal Nizam sambil cemberut.
"Puas banget.'' Timpal Mail tertawa cekikikan.
Mereka pun sampai diasramanya. Sedangkan Zayin sedang ngobrol asik dengan Asih sambil ngemil bersama.
"Sih tau gak tau." Sahut Zayin menatap mata Asih.
"Dih apaan Yin acara natap segala, apa gitu apa.'' Timpal Asih melihat kawannya yang kelihatannya sangat bahagia.
"Tetapi Zayin malu sih ngomongnya.'' Timpal Zayin salah tingkah.
"Dih dasar gak jelas.'' Timpal Asih cuek.
"Tetapi jangan ngetawain ya, janji?.'' Timpal Zayin penuh harapan.
"Iya Zayin sayang, coba mau ngomong apa?.'' Timpal Asih yang mulai gemas dengan tingkah Zayin.
"Tadi Zayin ketemu Kang Nizam, subhanalloh banget.'' Timpal Zayin kegirangan sendiri sambil malu-malu.
"Oh itu, kirain apa.'' Timpal Asih cuek.
"Ih kok gitu Asih sama Zayin.'' Timpal Zayin menjadi cemberut.
"Nggak kok cuma bercanda, Zayin sayang, terus gimana lagi.'' Timpal Asih sambil mencubit muka Zayin yang sedang cemberut sambil ketawa.
"Ih Asih mah suka gitu sama Zayin.'' Timpal Zayin yang kembali tersenyum.
"Iya sudah lanjut lagi, apa yang terjadi selanjutnya.'' Timpal Asih tersenyum.
Zayin pun menceritakan semua yang terjadi padanya, tadi sewaktu bertemu dengan Nizam. Asih hanya mendengarkan cerita Zayin sambil sekali-kali menggoda kawannya itu yang sedang bercerita. Zayin memang jarang bertemu dengan nizam walaupun umur hubungan nya tersebut sudah tiga tahun lebih. Zayin hanya bisa ngobrol bebas sambil menatap wajah Nizam jika Nizam mengunjunginya kerumah nya, itu pun terjadi hanya saat hari raya idul fitri saja, sedangkan hari raya kemarin Nizam tidak menemuinya karena Nizam sakit.
"Zam nanti pulang ngaji jadi gak?." Sahut Mail sambil berjalan menuju tempat mengaji.
"Lo aja sendiri, kan cuma lo yang disuruh kerumah Pak Yai.'' Timpal Nizam cuek.
"Dih gitu lo mah sama gue, antar dong gue kan gak kayak.'' Timpal Mail ngeledek.
"Emang gue kenapa.'' Timpal Nizam heran.
"Eh, lo kan deket sama Pak Yai, gitu maksudnya.'' Timpal Mail tersenyum.
"Lihat nanti aja, buruan keburu mulai tuh.'' Timpal Nizam berlari meninggalkan Mail.
"Zam janji ya?, awas nggak nganter.'' Timpal Mail sambil ikut lari.
"Terserah nanti aja, kalau gak ngantuk.'' Timpal Nizam tidak melihat kearah Mail.
kaget loh dari cerita rawa ke Romansa 😁
semoga bagus ceritanya👍
mampir juga di novel aku yaaa
gadis muslimah tomboy jatuh cinta hadiiir memberi dukungan 😊
jadi ingat waktu itu di pesantren...👍👍👍👍👍👍👍👍💖💖💖💖💖💖💖🙃
sy pikir msh jauh ceritanya
jangan lupa feedback ke ceritaku ya
"Kekasih Simpanan Tuan Muda"
makasih 😍