NovelToon NovelToon
TAKDIR CINTA SEORANG GANGSTER

TAKDIR CINTA SEORANG GANGSTER

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Action / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:189.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lusica Jung 2

Sejak dihianati oleh Ayah dan Kekasihnya. Justin tidak percaya lagi pada sesuatu yang dinamakan cinta. Justin menganggap bila cinta adalah hal yang tabuh dan memuakkan. Menganggap semua wanita itu sama saja, penghianat dan tidak bisa di percaya. Namun pertemuan singkatnya dengan seorang gadis di sebuah bar yang akhirnya merubah pandangannya tentang cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 "Jia Diculik"

Malam ini Justin memutuskan untuk pulang kerumahnya karna sudah hampir satu minggu ia tidak pulang sama sekali. Bukan karna Justin merindukan keluarganya melainkan ada sesuatu yang perlu ia selidiki secara langsung. Justinn menaikki tangga rumahnya dengan langkah sedikit terseok karna pengaruh alkohol yang baru saja ia minum beberapa waktu lalu.

"Adik ipar hati-hati,"

Hampir saja Justin kehilangan keseimbangannya jika saja tidak ada sebuah tangan yang lebih dulu menahannya. Justin menoleh dan menatap sinis Thalita yang tengah tersenyum manis padanya. Dengan kasar Justin menyentak tangan Thalita dari lengannya. "Jauhkan tangan kotormu itu dari tubuhku, jan*an sialan." ujarnya dingin.

"Ck, seperti biasanya. Dingin dan jual mahal, tapi hal itu justru membuatku semakin tertarik padamu, Juatin Qin." Thalita mendorong tubuh Justin dan menghimpitnya pada tembok.

Wanita itu menggerakkan jari-jarinya disekitar wajah Juatin dengan gerakan sensual. "Malam ini aku kedinginan dan kesepian karna kakakmu sedang pergi keluar kota dan semua penghuni rumah ini tidak ada. Bagaimana jika kita saling menghangatkan dan memiliki malam ini. Kau pasti tidak bisa menolakku, bukankah begitu." Thalita mendekatkan wajahnya dan bergerak menuju bibir Justin yang tampak begitu menggoda di matanya. Namun belum sampai bibir itu pada bibir Justin, sebuah dorongan keras membuat Thalita terhuyung kebelakang.

Justin mencengkram rahang Thalita dan menatapnya tajam. "Wanita murahan sepertimu jangan pernah bermimpi untuk bisa menyentuh tubuhku lebih jauh lagi. Kau membuatku sangat jijik, Thalita. Jika kau kedinginkan dan kesepian maka pergilah ke hotel dan temukan mangsamu di sana." Justinmelepaskan cengkramannya dan berlalu begitu saja.

Grepp!!

Namun langkahnya kembali terhenti karna pelukkan Thalita. Wanita itu menyandarkan wajahnya pada punggung Justin yang hanya tertutup singlet putihnya. "Aku menaruh hati padamu sejak lama, Justin Qin. Tapi kau tidak pernah mau melirikku, kau terlalu acuh dan dingin. Hal itu justru membuatku semakin ingin mendapatkanmu."

Justin mengusap wajahnya kasar. Dengan kasar pemuda itu menyentak tangan Thalita lalu mendorongnya pada tembok dibelakangnya. "Jangan pernah menguji kesabaranku, Tahalita. Aku tidak akan segan-segan berbuat kasar padamu jika kau tidak bisa menjaga sikapmu. Kau sangat murahan dan wanita hina sepertimu memang layak berdampingan dengan manusia brengsek seperti, Brian!"

Blammm!!

Thalita menutup matanya mendengar dentuman keras yang membuatnya nyaris terkena serangan jantung dadakan. Wanita itu melirik tajam pada pintu yang telah tertutup sempurna itu lalu melenggang pergi. "Aku pasti akan mendapatkamu, Justin Qin."

Justin tertawa meremehkan. Wanita seperti Thalita seharusnya tidak ada di dunia ini. Bisa saja Justin membunuhnya detik ini juga jika dia memang ingin melakukannya. Tapi sayangnya Justin sedang tidak berminat untuk menghilangkan nyawa seseorang.

Pemuda itu berjalan lurus menuju jendela dan berdiri di sana. Menatap langit malam yang ditaburi jutaan bintang.

Angin malam berhembus lirih, dingin mulai menyapa mencoba membelai Justin melalui sentuhannya. Pemuda itu tidak merasa kedinginan sama sekali meskipun pakaian yang ia pakai malam ini begitu kontras. Dingin yang mulai menusuk melalui pori-porinya Justin anggap sebagai angin lalu. Tiba-tiba saja bayangan Jia yang tengah tersenyum melintas difikirannya yang tidak Justin sadari maknanya.

Justin mendesah berat, pemuda itu menoleh mendengar dering pada ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Dengan langkah tenang Justin menghampiri ponsel itu. Matanya menyipit melihat nomor asing tertera dilayar ponselnya. Penasaran Juatin pun segera mengangkat panggilan itu.

'Hyung, pergilah ke gedung tua belakang Lotte World. Aku dan V melihat seseorang menculik, Jia, nunna dan membawanya kesana.'

"APA?" Justin memekik seraya bangkit dari duduknya. "Hun, jangan bertindak apa pun dan terus awasi tempat itu. Aku akan segera ke sana." Justin memutuskan sambungan telfonnya dan bergegas pergi.

Dalam hatinya Justin terus berharap agar tidak terjadi hal buruk apa pun pada gadis itu. Dan dia bersumpah akan membunuh siapa pun yang berani melukai apalagi mencelakai gadis itu. Tanpa terkecuali.

.

.

.

Sebuah Lamborghini Veneno tampak melaju kencang membelah jalanan yang legang. Gelapnya malam tidak membuat sang pengemudi mengurangi kecepatan pada laju mobilnya. Raungan mesin terus menderu di sepanjang jalan protokol.

Sepasang mutiara abu-abu milik seorang pemuda yang duduk tenang dibalik kemudi mobilnya tetap fokus pada jalanan beraspal hitam dihadapannya meskipun dalam sebuah sambungan telfon. "Hun bagaimana keadaan di sana? Jangan melakukan tindakkan apa pun sebelum aku datang."

'Aku mengerti. Tapi, Hyung, kita memiliki sedikit masalah. Jumlah mereka tidaklah sedikit. Jika hanya kita bertiga saja, kita pasti akan kwalahan. Sepertinya mereka adalah gembong mafia dan semuanya bersenjata. Apa kau memiliki solusi untuk hal ini?'

"Hubungi semua anggota Five Corner, kita akan menghabisi mereka dalam formasi lengkap. Max dan Xion biar aku yang menghubungi." Justin memutuskan sambungan telfonnya dan beralih menghubungi kawan lamanya secara bersamaan.

Bagaimana pun juga Xion dan Max tetaplah bagian dari Five Corner meskipun saat ini mereka tengah disibukkan dengan urusan masing-masing. Dan hal itu tidak akan pernah berubah. "Aku ingin mengajak kalian berdua sedikit berolahraga. Datanglah ke gedung tua di belakang Lotte World sekarang juga, kita memiliki makanan empuk di sana."

'Wow! kau serius?'

"Apa aku terdengar bercanda, aku akan menunggu kalian di sana." Justin memutuskan sambungan telfonnya seraya melepaskan earphone yang menggantung pada telinga kanannya.

Fokusnya pada jalanan beraspal di hadapannya tidak berkurang sedikit pun. Sorot matanya dingin dan tajam, auranya semakin menggelap. Justin tidak akan mengampuni siapa pun orangnya yang telah membahayakan nyawa Jia, dan ia tidak akan segan-segan untuk menghabisi mereka semua jika berani melukai gadis itu walaupun hanya seujung kuku.

Entah apa alasannya sampai-sampai Justin begitu marah setelah mendengar kabar dari Kai bila Jia di culik. Yang jelas Justin memang peduli padanya sebagai seorang teman, tidak lebih dari itu.

.

.

.

Jia membuka matanya dan sedikit terkejut mendapati kedua tangannya tengah terikat dalam posisi berdiri pada sebuah papan kayu yang dibawahnya terdapat sebuah aquarium raksasa yang penuh dengan air. Gadis itu menyapukan pandangannya kesegala penjuru arah namun tidak mendapati siapa pun berada didalam ruangan itu. Ruangan itu kosong dan sedikit gelap, sampai derap langkah seseorang menggema disertai suara decitan pintu terbuka.

Seseorang berjalan menghampirinya, tapi sayangnya Jia tidak dapat melihat dengan jelas seperti apa rupa orang itu, tapi yang jelas dia adalah seorang wanita. Jia menyipitkan matanya dan....??

"Jennie?" pekik Jia terkejut.

"Apa kabar kakak tiriku tercinta? Kita bertemu lagi." ucap Jennie dengan senyum meremehkan.

Jia menatap datar wanita itu. "Katakan apa maumu dan untuk apa kau menyekabku ditempat ini?" tanya Jia menuntut.

Jennie menarik sudut bibirnya mendengar pertanyaan Jia. Ralat, lebih tepatnya sebuah seringai meremehkanl "Uhhh, kenapa kau galak sekali padaku? Bagaimana pun juga aku ini adalah saudarimi, apa kau melupakan hal itu?"

Jia memutar matanya jengah mendengar rentetan kata yang lolos dari bibir Jennie. Ia sangatkah benci pada orang yang suka bertele-tele dan kebanyakkan berbasa-basi.

"Cih, tidak usah bertele-tele. Katakan saja, apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanya Jia untuk yang kedua kalinya.

Jennie menarik kursi dihadapannya lalu duduk dengan nyaman di sana. Wajahnya sedikit mendongak untuk menatap wajah Jia yang posisinya jauh lebih tinggi darinya. Seringai meremehkan masih tersunggi, menghiasi wajahnya. Ia merasa sedikit prihatin melihat keadaan Jia.

Kedua tangannya terikat keatas dalam posisi berdiri pada sebuah papan kayu. Namun rasa prihatin itu berubah menjadi rasa kepuasan tersendiri karna apa yang menjadi tujuan utama Jennie sudah semakin dekat. Jennie bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Jia. Dengan langkah tenang, Jennie menaiki satu persatu anak tangga untuk menuju tempat di mana Jia berada.

Wanita itu menggenggam sebuah mab berwarna coklat terang ditangan kanannya. "Aku ingin kau menandatangani surat pengalihan harta warisan ini dan menyatakan dengan suka rela jika kau memberikan semua harta milik keluargamu padaku dan ibu," Jennie melemparkan map itu keatas meja kecil di hadapannya.

"Jadi karna hal itu kau sampai menculikku kemudian menyekapku ditempat ini?" tanya Jia meremehkan. "Sungguh perbuatan seorang pengecut. Jika kau memang memasa jika dirimu begitu hebat. Lepaskan ikatanku dan lawan aku secara sehat." tantang Jia pada Jennie.

"Tapi sayangnya aku tidak berminat untuk melakukannya. Lagi pula kau sudah terlalu lama membuang waktuku di sini. Cepat tandatangani surat pengalihan ini, maka urusan kita selesai."

Jennie menolak permintaan Jia, ia tau pasti tidak mungkin menang bila melawan Jia secara fisik. Meskipun tidak pernah menunjukkannya, tapi sebenarnya Jia menguasai ilmu bela diri dan Jennie tau itu. Karna melepaskan Jia itu artinya sama saja dengan menggali kuburnya sendiri.

"Pengecut, bilang saja kalau kau takut. Dan jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan harta itu. Karna sampai kapan pun aku tidak akan menyerahkannya pada ibu dan anak serakah seperti kalian, lebih baik aku menyumbangkan harta-harta itu kepada panti asuhan."

Gyuttt!!

Jennie menggepalkan tangannya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Jia. Jennie tidak terima karna sudah disebut pengecut oleh Jessica. Sementara Jia menyeringai tajam melihat ekspresi wajah marah Jennie

"KAU AKAN MATI DI DALAM AQUARIUM ITU, MIN JIA." teriak Jennie marah.

Dorrrrr.... Dorrrrr....

Rentetan peluru berdesiran yang berasal dari luar ruangan mengejutkan semua orang termasuk Jia dan Jennie. Keduanya menoleh pada pintu ruangan yang masih tertutup rapat.

Jennie beranjak dari hadapan Jia untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi

BRAKKK

Namun langkahnya harus terhenti karna dobrakan keras pada pintu disertai dengan jatuhnya seorang pria yang sekujur tubuhnya dipenuhi luka. "Boss, sebaiknya kau segera pergi dari sini. Ki..kita diserang. Five Corner ada di sini." ucap laki-laki itu terbata-bata.

Degg!!

Jia terkejut mendengar laki-laki itu menyebut-nyebut 'Five Corner' jika itu benar, itu artinya... "JUSTIN!" Jia memekik kencang melihat kedatangan pemuda itu. Rasanya Jia tidak percaya melihat Justin datang untuk menyelamatkannya. Bukan hanya Justin, namun semua anggota Five Corner. Justin menoleh setelah mendengar suara pekikkan keras Jia. Kedua matanya membuat melihat tubuh Jia terikat diatas sana

"Jia?" Justin hendak menghampiri Jia dan melepaskannya namun langkah Justin dihalangi oleh beberapa pria yang langsung menyerangnya

"Benar-benar cari mati kalian." geram Juatin berapi-api. Dengan dibantu Sean dan Leo, mereka bertiga dapat membereskan mereka dengan cepat. Namun perkelahian mereka tidaklah cukup sampai disitu karna datang beberapa orang lagi. Semua bergabung kecuali Sehun, Felix dan Thomas yang tengah berhadapan dengan Jennie.

"Wanita jelek, apa yang kau lakukan pada Nunna kami eo?" amuk Felix, Sehun dan Thomas. "Lepaskan, Jia, nunna." teriak Felix menuntut.

"Tidak akan, dia harus mati. Apa yang kalian tunggu? Cepat tenggelamkan gadis itu." pinta Jennie pada dua pria yang berjaga di atas sana. Salah satu dari kedua pria itu menarik tali yang mengikat kedua tangan Jia dan....

BYURRR!!

Tubuh Jia jatuh kedalam aquariun raksasa itu dengan posisi tangan dan kaki terikat. Justin membelalakkan matanya, tanpa membuang waktu lagi dia berlari untuk menyelamatkan gadis itu, tapi sepertinya usaha Justin tidaklah berjalan mulus karna dua orang menghadangnya.

Sementara itu, Jia yang tidak bisa berbuat apa-apa dalam keadaan seperti ini ditambah dengan kepayahannya dalam hal berenang. Yang bisa Jia lakukan saat ini hanyalah pasrah dan berharap Juati bisa segera menyelamatkannya 'Justin, tolong selamatkan aku.' lirihnya membatin.

Ditengah perkelahiannya, berkali-kali Justin menatap kearah Jia yang sepertinya sudah mulai kehilangan kesadarannya. Ia semakin panik, dan karna kepanikannya itu Justin menjadi tidak bisa berkosentrasi pada perkelahiannya. Alhasil beberapa pukulan dan sayatan benda tajam berhasil melukai tubuhnya

'Sial, ada apa denganku?' gumam Jistin membatin.

"Hyung, serahkan mereka pada kami. Segera selamatkan, Jia nunna." seru Sehun dan Thomas karna Felix masih berusaha menghalangi Jennie yang hendak melarikan diri.

Justin segera berlari menuju aquarium besar itu. Tanpa rasa ragu sedikit pun Justin langsung menceburkan tubuhnya kedalam aquarium itu. Ia tertegun, tepat dibawahnya gadis itu tenggelam. Rambut panjangnya yang terurai melayang didalam air. Kedua tangannya yang masih terikat dengan papan diatas aquarium seakan-akan menunggu seseorang untuk segera menyelamatkannya. Kedua matanya terpejam.

Dengan segera Justin melepaskan ikatan pada kaki dan tangan Jia. Justin melingkarkan tangan kanannya pada pinggang ramping Jia dan membawanya berenang menuju permukaan, diatas sana sudah ada Max dan Leo yang siap membantu mereka untuk keluar dari sana.

Justin melirik gadis yang berada dalam pelukkannya, memandang wajah pucat yang tak asing untuknya. Gadis itu benar-benar tidak berdaya dan meringkuk dalam dekapannya. "Jia, buka matamu. Jia, ini Oppa jadi tolong buka matamu." Mark menepuk pipi Jia berharap gadis itu segera membuka matanya.

"Hyung, kau mengenal, Jia, nunna?" pekik Felix seraya menatap Max tidak percaya.

"Dia dan aku saudara seibu, aku sudah lama tidak mendengar kabar tentangnya sejak ayahnya menikah lagi. Dan sekarang kami bertemu dalam keadaa seperti ini." ujar Max menjelaskan.

"Sepertinya, dia membutuhkan nafas buatan." seru Sean seraya mendekatkan wajahnya pada Jia. "Kalau begitu aku akan membantunya dan memberinya nafas buatan." sambungnya. Namun segera didorong oleh Justin.

Tanpa ragu Justib membuka bibir Jia dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu. Meniupkan pasokan udara sebanyak-banyaknya dan berhasi, Jia terbatuk kemudian menggeluarkan semua air yang telah tertelan kedalam perutnya selama dia berada didalam air. Perlahan tapi pasti, kedua matanya terbuka dan wajah dingin Justin-lah yang pertama kali tertangkap oleh mata hazelnya.

Justin dan semua anggota Five Corner dapat menghela nafas lega setelah mengetahui Jia baik-baik saja. "Justin," panggil Jia dengan suara lemah. Justin membantu Jia untuk duduk. "Apa aku masih hidup?" Jia memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Lalu menggulirkan pandangannya dan terkejut mendapati kakak satu-satunya. "Oppa?" serunya dan berhambur memeluk Max. "Selama ini Oppa kemana saja, hiks? Kenapa Oppa meninggalkanku dan membiarkanku hidup sendiri tanpa siapa-siapa?" lirihnya dan mulai terisak.

Max menutup matanya dan memeluk tubuh Jia semakin erat "Maaf, Jia, aku sungguh-sungguh minta maaf."

"Sebaiknya kita bawah Jia pergi dari sini. Dia pucat dan kedinginan." ujar Xion yang segera mendapatkan anggukan dari semua orang.

"Hyung wait, lalu bagaimana dengan wanita ini?" seru Felix sambil menunjuk Jennie yang tubuhnya terikat pada kursi kayu dengan mulut tersumpal kaos kaki milik pemuda itu. "Kita langsung habisi saja atau...?"

"Masukkan kedalam kandang Singaku, sudah lama hewan peligaraanku itu tidak memakan daging manusia." Sahut Justin cepat.

Jennie membelalakkan matanya dan menggeleng. Sekeras apa pun dia berteriak namun suaranya tetap tidak mau keluar. Justin memandang sinis gadis itu yang terlihat ketakutan. "Hyung, kau serius?" Felix membelalakkan matanya. Ia memang tau Justin itu sangat kejam tapi tidak menyangka akan sampai seperti ini. Justin menyeringai tajam.

"Apa aku terlihat bercanda?" Justin menoleh saat merasakan sentuhan tangan yang terasa dingin pada lengannya.

"Juatin, tidak perlu sampai seperti itu. Lebih baik masukkan saja dia kedalam penjara, aku rasa itu sudah cukup untuknya." Justin memandang Jia sejenak, pemuda itu mendesah panjang

"Terserah," jawabnya dan berlalu begitu saja. Max membantu Jia untuk berdiri dan menuntunnya.

"Jangan terkejut dengan sikap bocah itu. Justin,memang terlihat dingin dan kadang-kadang bersikap kejam tapi sebenarnya dia adalah pemuda yang baik."

"Ya, aku mengerti." Jia menarik sudut bibirnya seraya menatap punggung Justin yang semakin menjauh.

.

BERSAMBUNG.

1
EndRu
sad ending..
aku kira walaupun Jia meninggal.
setidaknya bayinya bisa disela dan menemani Justin di sisa hidupnya. walaupun Justin tidak akan pernah menikah lagi.
hadeeh
arfan
up
SoRA🌠🦋
lucu🤭
SoRA🌠🦋
dari awal baca udah bagus semoga seterusnya bagus .
keren banget ceritanya thor👍🏻🥰
SoRA🌠🦋
bagus 👍🏻
Dewi Dina
hiduplah dengan baik , pesan terakhir untuk Justin dari Jia .
Dewi Dina
demi Jia apapun akan dilakukan oleh Justin
Dewi Dina
bukannya ciuman yang ketiga ya
Dewi Dina
ternyata Jia mempunyai kakak laki laki
Dewi Dina
jangan bersedih Jia , karena kamu dikelilingi orang orang yang menyayangimu .
Dewi Dina
Jia ,untung ada Justin yang selalu menolong mu
Dewi Dina
Five Corner
Nur Azizah
budi dibalas baik..
Cherry
Bryan nya aja bodoh lbh milih jalang drpd Jia
Cherry
aduhhh Jia... Jia.. selalu dpt masalah tp selalu ditolong sm orang yang sama yaitu Justin... jodoh 😄😄
Cherry
kl gw pasti langsung habis2 an kl perlu sampai gk bisa bangun lg tuh bapak sinting berani ambil ceweknya dijadikan istri nya ..to emang ceweknya aja matre kl
Justin knp setiap ketemu Jia pasti lg butuh pertolongan.... ckckck...
Cherry
ditolong udah tiga kali berarti berjodoh.... wkwkwk
Cherry
baru baca tp seru
Nurliah Kisarani Lia
aku dah like semua episodemu di sini ya thor ..
semangattsss....
Ina Yulfiana
ko endingnya malah air mata thor . 😭😭😭
Ellnara: Iya kak. Cus baca juga novel baruku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!