Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Terima kasih yang sudah vote yang belum silahkan vote ya.
🌸🌸🌸
Giwang kembali ke rumah Ibu Ima dengan menggunakan angkutan umum.
"Bagaimana nak?" tanya Ibu Ima ketika Giwang sudah berada di depan pintu rumah.
"Aku sudah mendapat pekerjaan Bu," sahutnya senang.
"Oh syukurlah, kerja di mana?" tanya Ibu Ima.
"Di rumah makan kebetulan mereka membutuhkan jasa pencuci piring," jelas Giwang sembari menyusui bayinya.
"Pencuci piring?" tanya Ibu Ima tidak percaya. Dan Giwang menganggukkan kepalanya cepat.
"Berapa gaji yang kamu dapatkan?" tanya Ibu Ima penasaran.
"Lima puluh ribu sehari dan aku dapat makan siang dan makan malam gratis di sana," jelas Giwang sembari mengelus bayinya yang imut.
"Giwang itu terlalu sedikit, jualan sarapan kamu bisa mendapatkan lebih dari itu," ujar Ibu Ima menolak.
"Tapi Bu, aku hanya ingin mencoba bekerja di sana, pelan-pelan aku akan mencari pekerjaan di tempat lain," jelasnya. "Ibu tenang saja, upah yang ku dapatkan harian, jika tidak sanggup aku bisa keluar," ujarnya menenangkan Ibu Ima.
"Jangan menutupi apa pun dari Ibu, jika kamu tidak tahan langsung keluar," ujar Ibu Ima.
"Iya Bu," sahut Giwang.
***
Agung terus memikirkan mimpinya hampir setiap malam dia bermimpi Giwang.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia terus merasuki pikiranku," gumam Agung bingung.
Di tempat lain
Adlan tidak bisa berkonsentrasi di dalam pikirannya terus berputar wajah gadis yang baru saja ditemuinya.
"Dia mengenakan baju putih dan celana hitam, itu tandanya dia sedang mencari pekerjaan," gumam Adlan.
"Baiklah besok aku akan menemukan gadis itu," gumam Adlan semangat.
Keesokan harinya curah hujan begitu deras dan Ibu Ima tidak mengizinkan Giwang untuk berangkat kerja.
"Enggak usah berangkat," larang Ibu Ima.
"Aku tidak enak Bu, baru mulai kerja sudah izin satu hari," sahutnya.
"Sepertinya kamu tidak di izinkan kerja di sana," ujar Ibu Ima lagi.
"Kenapa Bu?" tanya bingung.
"Nih buktinya," Ibu Ima menunjuk air hujan yang turun dari langit.
"Ibu hujan itu rezeki," sahut Giwang sembari merangkul wanita paruh baya itu. "Ibu kenapa?" tanya Giwang memperhatikan raut wajah wanita paruh baya itu.
"Ibu tidak ingin kamu kerja seperti itu," ujar Ibu Ima jujur. "Hidup kamu terlalu keras nak, Ibu tidak tega jika kamu kerja kasar," ujar Ibu Ima sedih. Giwang memeluk Ibu Ima layaknya Ibunya sendiri.
"Aku sayang sama Ibu, mencuci piring bukan kerja kasar," ujar Giwang masih memeluk Ibu Ima.
"Ya setidaknya jangan mencuci piring," sahut Ibu Ima.
"Ibu," Giwang menatap lekat mata Ibu Ima.
"Aku hanya tamatan sekolah menengah kejuruan dengan jurusan tata boga tidak mungkin aku kerja di kantoran," jelasnya.
"Iya Ibu tau, tapi anak Ibu Parmi tamatan menengah pertama dapat kerja di kantor," sahut Ibu Ima.
Giwang mengerutkan dahinya penasaran. "Kerja sebagai apa Bu?" tanya Giwang penasaran.
"Cleaning servis," sahut Ibu Ima pelan.
"Nah Ibu bisa lihat pendidikan itu faktor utama," ujarnya.
"Ya sudah saran Ibu, jika kamu ada uang lanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi mumpung usia kamu masih dua puluh tahun," ujar Ibu Ima.
"Iya Bu," sahutnya dan masih menunggu hujan yang tidak kunjung berhenti.
***
Adlan memarkirkan mobilnya tidak jauh dari tempat gadis kemarin menyeberang. Dia terus memperhatikan siapa pun yang lewat, berharap akan menemui gadis yang selalu memutari isi kepalanya.
Ponselnya berdering.
"Mama," gumamnya dan mengangkat panggilan dari Mamanya.
"Yes Mam," sahutnya.
"Mama sedang menuju Restoran Zero, kamu di mana?" tanya Mamanya dari ujung ponselnya.
"Aku di jalan," sahutnya.
"Mama tunggu makan siang di sana," ujar Mamanya dan menutup panggilan itu.
Adlan masih memperhatikan jalanan. "Ini sudah lewat dari jam kemarin, sepertinya dia tidak akan lewat di sini," gumamnya pelan dan melajukan mobilnya menuju Restoran Zero.
Restoran Zero adalah restoran ternama dan terkenal di kota itu. Adlan hari-hari makan di restoran itu baik makan siang maupun makan malam. Adlan telah hidup sendiri selama lima tahun terpisah dari Ibu dan saudaranya. Tak heran jika Mamanya selalu ingin bertemu dengan anaknya, karena kesibukan Adlan membuat Ibu Ana harus mencuri waktu anaknya dan kebetulan hari ini jadwal anaknya longgar maka Ibu Ana menyempatkan untuk melepas rindu dengan Adlan di Restoran.
Adlan masuk ke dalam restoran dan dia heran ketika melihat Mamanya tidak sendiri melainkan ada sosok wanita lain di samping Mamanya.
"Adlan," ujar Mamanya. Adlan mengecup pipi Mamanya.
"Duduk sayang," ujar Mamanya. Adlan duduk berhadapan dengan wanita yang Adlan sendiri tidak tau siapa wanita itu.
"Adlan kenalkan, ini anak Tante Sofia namanya Jelita," ujar Mamanya.
Gadis yang bernama Jelita mengulurkan tangannya ke hadapan Adlan. "Jelita," ujarnya. Adlan hanya melirik tangan gadis itu dan Mamanya langsung menyenggol kaki anaknya. Adlan melirik Mamanya. Ibu Ana menatap tajam anaknya memberikan kode agar Adlan menyambut uluran tangan itu.
"Adlan," sahut Adlan tanpa mau menyalami gadis itu. Wanita paruh baya itu tersenyum ke Jelita dengan canggung.
"Adlan seperti ini cuek tapi kalau sudah kenal dia akan dekat seperti perangko," ujar Mamanya.
Adlan merasa Mamanya terlalu berlebihan menyanjungnya padahal kenyataannya Mamanya ingin memperbaiki citranya yang tercoreng karena sikap anaknya.
Adlan mengangkat tangannya dan pelayan datang mendekat.
"Iya Pak," ujar pelayan meletakan buku menu di atas meja.
Ibu Ana dan Jelita membuka buku menu memilih makanan yang cocok dengan selera mereka. Sedangkan Adlan beranjak dari kursi.
"Adlan mau ke mana?" tanya Mamanya.
"Aku mau menemui Robi," sahutnya.
Robi adalah sepupu Adlan yang merupakan Chef sekaligus pemilik dari Restoran Zero. Adlan tau di mana dia menemukan sepupunya.
Adlan masuk ke dapur dan melihat sepupunya sedang mengecek semua makanan yang di buat timnya. Adlan menepuk bahu sepupunya.
"Jangan bilang kamu mau kabur," ujar Robi sembari mencicipi hidangan yang akan di sajikan untuk pengunjung restorannya.
"Nah kamu tau," Adlan memilih keluar dari pintu dapur untuk menghindari makan siang dengan Mama dan Jelita. Dia tidak menyukai perjodohan apapun itu dan selalu menentang. Adlan keluar pada saat cuaca telah cerah. Dia langsung melajukan mobilnya ke kantornya. Sedangkan Mamanya masih menunggu anaknya di meja Restoran.
"Panggilkan Robi!" titah Ibu Ana ke pelayan. Chef Robi datang menghampiri Tantenya masih lengkap dengan seragamnya yang berwarna putih bersih.
"Iya Tante," sahut Robi.
"Mana Adlan?" tanya Ibu Ana.
Robi tersenyum dan Ibu Ana tau maksud dari senyuman itu. Tapi dia tidak ingin menunjukkan kekesalannya ke Jelita. Dia berusaha menahan rasa kesal yang di buat anaknya sendiri.
"Silakan makan Tante," ujar Robi dan dia melihat manager restorannya terlihat buru-buru keluar dari restoran dan tentu membuat Robi penasaran.
Di depan pintu restoran ada seorang gadis datang dengan membawa sebuah amplop.
"Maaf tidak ada lowongan di sini," ujar Lusi manager Restoran Zero yang menaruh hati dengan Chef Robi.
"Saya mohon," ujar Giwang memohon.
"Ada apa ini?" tanya chef Robi dan melihat gadis yang ada di depannya, rambut indah tergerai mengenakan lipstik dengan warna natural yang menurutnya sangat manis. Tidak memakai riasan yang menor membuat Chef Robi terpukau sesaat.
Bersambung...
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!
Visual chef Robi.