Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.
**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.
Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:
*"Om… aku mencintaimu."*
*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*
Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?
Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.
Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Hancur
Sepuluh hari setelah malam di Puri Cendana, aku memblokir nomor Om Bram.
Sebelumnya aku masih membiarkan panggilannya masuk, meski tidak pernah kuangkat. Namanya akan memenuhi layar, bergetar di telapak tanganku, lalu hilang sendiri. Setiap kali itu terjadi, aku membayangkan Nadia berada di sisinya dan menertawakan kebodohanku.
Pagi itu, setelah panggilan ketujuh dalam tiga hari, aku membuka percakapan yang selalu berada paling atas.
Pesan-pesannya pendek.
`Kamu di mana?`
`Fikri bilang kamu belum masuk kelas hari ini.`
`Sekar, jawab satu kali saja supaya Om tahu kamu aman.`
Aku menekan nama `Om Bram`, memilih blokir, lalu menghapus percakapan dari daftar utama. Pesan itu tidak benar-benar hilang. Hanya masuk ke arsip, seperti seseorang yang kukubur tetapi masih bisa kucari jika cukup lemah.
Aku meletakkan ponsel dan menutup tirai kamar kos.
Hari pertama aku melewatkan satu kelas pagi. Hari berikutnya dua kelas. Pada hari keempat, aku tidak datang sama sekali.
Dinda mengetuk pintu setiap sore, membawa bubur, roti, atau catatan kuliah. Kadang aku membuka pintu. Kadang tidak. Dia tidak tahu apa yang dikatakan Nadia dan aku tidak ingin mengulang kebohongan itu dengan suaraku sendiri.
"Kamu baru sembuh dari tifus," katanya ketika akhirnya berhasil masuk. "Kalau kamu terus makan biskuit doang, saya telepon dokter."
"Aku baik-baik saja."
"Kamu kelihatan seperti hantu yang marah."
"Berarti masih kelihatan marah. Belum jadi hantu."
Dinda tidak tertawa.
Sore itu dia memaksaku mandi dan mengantar sampai gerbang kampus. Aku masuk kelas, tetapi tidak mencatat apa pun. Seusai kuliah, seorang mahasiswa dari kelas pilihan menyapaku di parkiran.
Namanya Ipang. Aku pernah melihatnya dua kali, selalu dengan jaket hitam dan senyum orang yang tidak pernah menganggap hidup terlalu serius.
"Teman-teman mau ke PIK," katanya. "Ikut?"
Biasanya aku akan menolak. Om Bram tidak pernah melarangku pergi, tetapi dia selalu meminta alamat, nama teman, dan jam pulang. Kebiasaan melapor itu begitu melekat sampai tanganku otomatis hendak mengambil ponsel.
Lalu aku ingat dia bukan lagi orang yang perlu tahu.
"Ikut," jawabku.
Kami makan lebih dulu di tempat terbuka. Ada enam orang dalam rombongan, sebagian kukenal wajahnya dari kampus. Setelah malam semakin larut, mereka pindah ke sebuah klub di kawasan PIK.
Musik menghantam dada begitu pintu dibuka. Cahaya ungu dan biru bergerak di atas kepala. Orang-orang menari begitu rapat sehingga tidak ada yang bisa melihat wajahku cukup lama untuk bertanya apakah aku baik-baik saja.
Ipang memberiku gelas.
"Pelan-pelan," katanya. "Kamu kelihatan belum biasa."
Aku meminumnya terlalu cepat.
Rasanya pahit dan panas. Beberapa menit kemudian, suara di kepalaku mulai mengecil. Foto Om Bram dan Nadia menjadi kabur. Kalimat yang kudengar malam itu kehilangan ujung tajamnya.
"Satu lagi," kataku.
Ipang mengerutkan dahi. "Yakin?"
"Aku sudah dewasa."
Dia mengangkat bahu dan memesan, tetapi menukar gelas ketigaku dengan air mineral ketika mengira aku tidak melihat. Ipang bukan orang jahat. Dia hanya terlalu terbiasa lari dari masalah dengan musik keras dan mengira semua orang bisa melakukan hal yang sama.
Malam pertama aku pulang dengan kepala berputar. Malam kedua, aku muntah di wastafel kos. Malam ketiga, Dinda mengetahui semuanya.
Dia datang ke klub hampir pukul satu dini hari. Rambutnya diikat asal, sandal rumahnya berbeda warna, dan matanya merah karena marah sekaligus takut.
"Sekar!"
Aku sedang duduk di sofa sudut. Musik terlalu keras, tetapi aku tetap mendengar namaku seperti teriakan di ruang kosong.
Dinda mendorong melewati beberapa orang, mengambil gelas dari tanganku, lalu meletakkannya di meja.
"Kita pulang."
"Aku belum selesai."
"Kamu sudah selesai sejak tiga gelas lalu. Berdiri."
Ipang mendekat. "Mbak, saya bisa antar."
"Saya temannya. Terima kasih sudah nggak membiarkan dia minum sendirian, tapi mulai sekarang jangan ajak dia lagi."
"Din, jangan mengatur hidupku."
"Kalau hidupmu sedang kamu lempar ke tong sampah, iya, saya atur."
Aku mencoba berdiri dan hampir jatuh. Dinda menangkap lenganku. Rasa malu membuatku menarik diri, tetapi kakiku tidak mampu membuktikan bahwa aku baik-baik saja.
Di dalam taksi, dia membuka jendela sedikit dan menyodorkan air. Aku memalingkan wajah.
"Minum. Kamu baru keluar rumah sakit beberapa minggu lalu. Mau masuk lagi?"
"Biar saja."
"Kar, kamu ini kenapa sih?! Kamu pikir menyakiti diri sendiri bisa nyakitin dia juga?!"
Sopir menurunkan volume radio. Aku menatap lampu jalan yang memanjang menjadi garis karena mataku berair.
"Kalau aku hancur, apa dia bakal peduli?"
Kalimat itu keluar sebelum bisa kutahan.
Dinda membeku. Kemarahannya runtuh, menyisakan kesedihan yang lebih sulit kulawan.
"Jadi ini tentang Om Bram."
Aku menutup mata. "Bukan."
"Kamu baru saja menyebut dia tanpa menyebut nama."
"Dia punya hidup sendiri. Aku juga."
"Punya hidup sendiri bukan berarti kamu harus menghancurkannya."
Begitu sampai di kos, Dinda membayar taksi dan membawaku ke kamar mandi. Dia mengikat rambutku, menunggu saat aku muntah, lalu memaksaku minum larutan elektrolit sedikit demi sedikit.
"Saya tidak akan tanya malam ini," katanya. "Tapi besok kamu harus cerita."
"Besok aku lupa."
"Saya nggak akan lupa."
Dinda membuang sisa minuman dari botol yang kubawa dan memotret labelnya untuk ditunjukkan kepada dokter jika kondisiku memburuk. Dia memeriksa suhu tubuhku dua kali, lalu menghitung denyut nadi seperti yang dia lihat dilakukan perawat saat aku dirawat.
"Kalau kamu pingsan, sesak, atau terus muntah, kita langsung ke IGD," katanya. "Saya serius. Tubuhmu belum pulih sepenuhnya."
Aku ingin mengejek kepanikannya, tetapi keringat dingin di tengkuk membuatku diam. Untuk pertama kalinya malam itu aku menyadari bahwa aku bukan sedang membuktikan kebebasan. Aku hanya mencari cara agar rasa sakit di dada berpindah ke bagian tubuh lain.
Kesadaran itu memalukan, jadi aku kembali menutupinya dengan sikap keras kepala.
Ketika sadar penuh menjelang pagi, Dinda tertidur sambil duduk di lantai dengan punggung menempel pada ranjangku. Selimut menutupi setengah tubuhnya. Di meja ada air, obat lambung, dan secarik kertas berisi jadwal makan.
Aku berdiri di depan cermin.
Wajahku pucat. Mata cekung, bibir kering, dan bekas infus yang baru memudar di punggung tangan seolah mengingatkan bahwa tubuhku sudah pernah menyerah karena aku abaikan.
Rasa bersalah muncul, tetapi tidak cukup kuat mengalahkan luka.
Ponselku menyala. Nomor tak dikenal meninggalkan pesan suara. Aku tahu itu mungkin Om Bram menggunakan nomor lain. Aku menghapusnya tanpa mendengar.
Lalu satu pesan dari Ipang masuk.
`Sudah sampai aman? Maaf kalau tadi kebanyakan. Kalau butuh teman nongkrong, kabari.`
Aku menyimpan nomornya dengan nama `Ipang`, meski tahu Dinda akan marah.
Layar ponsel kuredupkan, lalu kunyalakan lagi. Tidak ada nama Om Bram di sana. Hanya pantulan wajahku sendiri pada kaca hitam.
Aku membalik ponsel di meja samping ranjang.
"Biar saja," bisikku.