Raffi adalah anak di luar nikah dari Mahesa Pratama, Presiden Direktur Pratama Group Hotel, hasil hubungannya dengan Maya Indira. Meski lahir tanpa status yang diakui keluarga, Raffi mewarisi kecerdasan, bakat kepemimpinan, dan naluri bisnis yang membuat Mahesa diam-diam berniat menjadikannya penerus kerajaan bisnisnya.
Namun, keputusan itu memicu amarah istri sah Mahesa. Demi memastikan putra kandungnya, Julian, menjadi satu-satunya pewaris Pratama Group Hotel, ia menyusun berbagai rencana licik untuk menyingkirkan Raffi. Berbagai fitnah, pengkhianatan, hingga perebutan hak waris membuat Raffi kehilangan segalanya dan dipaksa memulai hidup dari nol.
Dengan tekad yang tak pernah padam, Raffi membangun kembali kariernya dari bawah. Ia berjuang membuktikan bahwa kesuksesan bukan ditentukan oleh status kelahiran, melainkan kerja keras, kemampuan, dan keteguhan hati. Langkah demi langkah, ia bangkit untuk merebut kembali tempat yang seharusnya menjadi miliknya dan cintanya dengan dewi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 kehamilan 1 dilema
Pagi itu, Maya berkali-kali menatap layar ponselnya. Pesan yang ia kirim kepada Bu Ratih sejak semalam masih berstatus terkirim tanpa balasan. Ia menggigit bibirnya pelan. Semakin lama menunggu, semakin gelisah perasaannya. Ia tahu tidak bisa terus menunda. Ada kenyataan yang harus segera dihadapi.
Dengan napas panjang, Maya akhirnya memutuskan berangkat sendiri ke rumah keluarga Pratama.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi kegelisahan. Jantungnya berdegup semakin cepat setiap kali membayangkan pertemuannya dengan Bu Ratih. Wanita itu telah memperlakukannya dengan begitu baik selama ini, bahkan menganggapnya seperti keluarga sendiri. Justru karena itulah, Maya merasa langkah yang diambilnya hari ini terasa begitu berat.
Sesampainya di depan rumah keluarga Pratama, gerbang perlahan terbuka. Pada saat yang hampir bersamaan, Bu Ratih keluar dari rumah dengan pakaian rapi, seolah hendak pergi ke suatu tempat.
Begitu melihat sosok Maya berdiri di depan pagar, langkah Bu Ratih langsung terhenti.
"Maya?"
Nada suaranya terdengar antara lega dan kesal.
"Kamu ke mana saja?" tanya Bu Ratih sambil menghampiri. "Ibu menelepon berkali-kali, mengirim pesan berkali-kali, tapi kamu tidak pernah menjawab. Kamu tahu Ibu sangat mengkhawatirkanmu?"
Maya hanya mampu menundukkan kepala. Jemarinya saling menggenggam erat untuk menahan kegugupan.
"Maaf, Bu..."
"Maaf?" potong Bu Ratih dengan nada yang sedikit meninggi. "Kamu pergi begitu saja tanpa kabar. Hotel juga tidak tahu kamu di mana. Apa kamu tahu betapa bingungnya Ibu beberapa hari ini?"
Maya menggigit bibirnya. Air mata hampir jatuh, tetapi ia berusaha menahannya.
"Saya benar-benar minta maaf."
Melihat Maya yang tampak jauh lebih kurus dan pucat daripada terakhir kali bertemu, kemarahan Bu Ratih perlahan mereda. Rasa khawatir kembali mengambil alih.
"Kamu sakit?"
Maya menggeleng pelan.
"Ada yang ingin saya bicarakan, Bu."
Bu Ratih mengernyit.
"Bicarakan apa?"
Maya menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak. Kalimat yang sudah berulang kali ia susun di kepalanya mendadak sulit diucapkan.
"Saya... ingin meminta waktu Ibu."
"Untuk apa?"
Maya mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya dipenuhi keraguan sekaligus tekad.
"Saya ingin berbicara dengan Ibu... dan saya juga ingin bertemu dengan Pak Mahesa."
Mendengar nama putranya disebut, ekspresi Bu Ratih langsung berubah. Dahinya berkerut, dipenuhi tanda tanya.
"Mahesa?"
"Iya, Bu."
"Ada urusan apa sampai harus bertemu Mahesa?"
Maya terdiam beberapa saat. Bibirnya bergetar, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.
Sikap Maya yang begitu berbeda membuat firasat Bu Ratih mendadak tidak tenang. Selama mengenal gadis itu, belum pernah sekali pun Maya datang dengan wajah sepucat ini dan meminta bertemu Mahesa secara langsung.
Entah mengapa, hati Bu Ratih mulai merasakan ada sesuatu yang besar sedang disembunyikan. Suasana pagi yang semula tenang mendadak berubah menjadi begitu menyesakkan, seolah sebuah rahasia yang lama terkubur perlahan mulai mencari jalan untuk terungkap.
. ........
Pagi itu, Mahesa memutuskan tidak berangkat ke kantor. Setelah sekian lama lebih banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan, kali ini ia memilih tetap berada di rumah menemani Naura yang masih beristirahat di kamar.
Naura berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang masih terasa lemas. Meski sesekali mual kembali datang, wajahnya tampak jauh lebih cerah dibanding beberapa hari sebelumnya. Setiap kali mengingat ucapan dokter, senyum kecil tanpa sadar selalu menghiasi bibirnya.
"Aku masih tidak percaya kita akan punya anak," ucap Naura sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Mahesa yang duduk di samping ranjang ikut tersenyum tipis.
"Iya."
Naura kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Mahesa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bersikap begitu manja kepada suaminya. Seolah semua pertengkaran yang terjadi beberapa hari lalu menghilang begitu saja karena kabar kehamilan itu.
"Jangan ke kantor dulu, ya," pintanya lirih. "Temani aku sebentar."
Mahesa mengangguk pelan.
"Hari ini aku di rumah."
Mendengar jawaban itu, Naura tersenyum puas. Di dalam hatinya tumbuh harapan baru bahwa kehadiran calon anak mereka akan mampu memperbaiki hubungan yang selama ini dipenuhi pertengkaran.
Namun, kebahagiaan itu tidak sepenuhnya dirasakan Mahesa.
Di balik senyumnya, pikirannya masih dihantui wajah Maya. Rasa bersalah yang belum sempat ia selesaikan terus menghantui setiap sudut pikirannya. Ia berusaha menepis bayangan itu demi menikmati momen bersama Naura, tetapi perasaan tersebut tidak kunjung menghilang.
Tiba-tiba ponsel Mahesa berdering.
Nama Bu Ratih muncul di layar.
Mahesa segera mengangkatnya.
"Ya, Bu."
"Mahesa, Ibu sedang menunggu di gazebo belakang rumah. Kalau sudah senggang, temui Ibu sebentar. Ada hal yang ingin Ibu bicarakan."
Nada suara Bu Ratih terdengar tenang, tetapi cukup serius hingga membuat Mahesa mengernyit.
"Baik, Bu. Saya segera ke sana."
Sambungan telepon terputus.
Mahesa menatap layar ponselnya beberapa saat. Ia merasa heran. Selama ini, Bu Ratih jarang memintanya berbicara di gazebo jika bukan urusan yang penting.
"Ada apa?" tanya Naura penasaran.
"Ibu memintaku ke gazebo."
Naura ikut mengernyit, tetapi belum sempat berkata apa-apa, ponselnya yang berada di atas meja samping ranjang bergetar pelan.
Sebuah pesan masuk.
Pengirimnya adalah Setyo.
Naura langsung terdiam. Tatapannya tertuju pada layar ponsel cukup lama tanpa segera membukanya. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Di tengah kebahagiaan yang sedang dirasakannya, kemunculan nama Setyo justru menghadirkan kegelisahan yang kembali mengusik hatinya.
Ia melirik Mahesa yang sedang mengenakan jasnya untuk menemui Bu Ratih. Setelah memastikan suaminya tidak memperhatikan, Naura perlahan mengambil ponsel itu dengan jemari yang sedikit gemetar.
Entah mengapa, firasatnya mengatakan bahwa pesan tersebut akan membawa masalah baru, tepat ketika hidupnya mulai terlihat begitu sempurna.
Mahesa melangkah cepat menuju gazebo yang berada di sudut taman belakang rumah. Sepanjang perjalanan, ia masih bertanya-tanya mengapa ibunya terdengar begitu serius saat menelepon. Begitu tiba, langkahnya mendadak terhenti.
Di dalam gazebo, Bu Ratih duduk dengan wajah yang sangat berbeda dari biasanya. Tatapannya tajam, matanya memerah seolah baru saja menangis. Di hadapannya, Maya duduk dengan kepala tertunduk. Wajah gadis itu pucat, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan.
Jantung Mahesa langsung berdegup kencang.
"Ibu..." ucapnya pelan.
Belum sempat ia mendekat, Bu Ratih berdiri. Dengan langkah cepat, wanita itu menghampiri putranya.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mahesa.
Mahesa membeku. Maya pun refleks mengangkat kepalanya dengan wajah terkejut.
Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang berbicara. Hanya suara embusan angin yang memecah keheningan di antara mereka.
"Apa yang sudah kamu lakukan?" suara Bu Ratih bergetar antara marah dan kecewa.
Mahesa memegang pipinya yang memerah. Pandangannya perlahan beralih ke meja di tengah gazebo.
Di atas meja itu tergeletak sebuah map berwarna putih.
Saat melihat isi map tersebut, wajah Mahesa seketika kehilangan warna.
Itu adalah hasil pemeriksaan kehamilan Maya.
Tangannya mulai gemetar.
"Maya..." bisiknya lirih.
Bu Ratih menggeleng pelan. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Ibu membesarkanmu dengan harapan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab," katanya dengan suara serak. "Tapi kenapa... kenapa justru perempuan yang Ibu percaya bekerja di rumah ini yang harus datang membawa kenyataan seperti ini?"
Mahesa tidak mampu mengangkat kepalanya.
Rasa bersalah yang selama ini ia pendam kini berdiri di hadapannya dalam bentuk kenyataan yang tidak lagi bisa disembunyikan.
Bu Ratih perlahan terduduk kembali di kursinya. Tubuhnya tampak lemas seolah seluruh tenaganya menghilang.
"Apa salah Ibu selama ini?" gumamnya lirih. "Ibu memang sangat ingin memiliki cucu. Ibu menunggu bertahun-tahun dengan penuh harapan."
Air matanya kembali mengalir.
"Tapi bukan seperti ini... bukan dengan cara seperti ini."
Tatapannya beralih kepada Maya yang masih menundukkan kepala sambil menangis.
"Maya adalah karyawan yang selama ini Ibu percaya. Ibu menganggapnya seperti anak sendiri."
Suara Bu Ratih semakin melemah.
"Dan sekarang... semua kepercayaan itu berubah menjadi luka."
Mahesa mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bu... saya..."
"Cukup!" potong Bu Ratih.
"Tidak ada penjelasan yang bisa menghapus kenyataan ini."
Keheningan kembali menyelimuti gazebo. Mahesa tidak lagi mampu mengucapkan sepatah kata pun. Sementara Maya hanya menangis dalam diam, merasa dirinya menjadi penyebab hancurnya ketenangan keluarga yang selama ini begitu menghormatinya.
Di bawah langit pagi yang cerah, gazebo itu berubah menjadi saksi runtuhnya kepercayaan seorang ibu kepada putranya. Harapan yang selama bertahun-tahun dijaga kini terasa retak, menyisakan duka yang begitu dalam di hati ketiga orang yang berada di sana.
Setelah suasana di gazebo sedikit mereda, Bu Ratih berdiri dengan langkah yang terlihat goyah. Wajahnya masih basah oleh air mata. Ia memandang Mahesa dan Maya bergantian, tetapi tidak sanggup lagi mengucapkan sepatah kata pun.
Pikirannya benar-benar kacau.
Baru beberapa jam sebelumnya, rumah itu dipenuhi kebahagiaan karena kabar kehamilan Naura. Kini, di hadapannya muncul kenyataan lain yang jauh lebih rumit. Dua perempuan sama-sama mengandung, tetapi hanya satu yang diakui sebagai menantu keluarga Pratama.
"Aku... aku tidak bisa memutuskan apa pun sekarang," ucap Bu Ratih dengan suara lemah.
Ia memegang dahinya yang terasa berdenyut.
"Naura sedang hamil anak pertamanya. Kalau dia mengetahui semua ini..." Kalimat itu terputus. Bu Ratih menutup matanya rapat, membayangkan rumah tangga putranya yang mungkin akan hancur dalam sekejap.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Bu Ratih berjalan meninggalkan gazebo. Langkahnya pelan menuju rumah utama. Sesampainya di kamar, ia mengunci pintu dan duduk di tepi ranjang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bu Ratih merasa benar-benar kehilangan arah.
Di satu sisi, ia ingin membela Maya yang jelas membutuhkan kepastian. Di sisi lain, ia juga tidak sanggup membayangkan Naura menerima kenyataan pahit itu ketika sedang mengandung.
"Ya Tuhan..." bisiknya lirih. "Mengapa cobaan ini datang bersamaan?"
Sementara itu, di gazebo, Mahesa masih berdiri mematung.
Maya perlahan mengusap air matanya. Ia menatap Mahesa beberapa saat, tetapi tidak menemukan jawaban yang ia harapkan.
"Saya pulang dulu, Pak," ucapnya pelan.
Mahesa mengangkat wajahnya.
"Maya..."
"Saya akan menunggu kabar selanjutnya."
Nada bicara Maya terdengar datar, seolah seluruh tenaganya telah habis. Ia mengambil map hasil pemeriksaannya, lalu membungkuk singkat kepada Mahesa sebelum melangkah pergi meninggalkan rumah keluarga Pratama.
Sepanjang perjalanan pulang, Maya memandang kosong ke luar jendela kendaraan yang ditumpanginya. Hatinya terasa semakin sesak.
Ia memahami bahwa Bu Ratih sedang berada dalam posisi yang sulit. Ia juga tahu kabar kehamilan Naura membuat keadaan menjadi jauh lebih rumit.
Namun, di balik semua pengertian itu, ada rasa sakit yang perlahan memenuhi hatinya.
"Jadi... aku harus menunggu lagi?" batinnya.
Ia mengusap air mata yang kembali mengalir.
"Apakah karena aku hanya seorang pegawai, keberadaanku selalu berada di urutan terakhir?"
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Maya tidak menginginkan kemewahan ataupun harta keluarga Pratama. Ia hanya menginginkan kepastian dan pengakuan bahwa anak yang dikandungnya juga memiliki hak untuk dihargai.
Saat tiba di kontrakannya, Maya duduk sendirian di ruang tamu. Rumah kecil itu kembali dipenuhi kesunyian.
Ia memeluk dirinya sendiri sambil menatap hasil pemeriksaan yang masih berada di tangannya.
Hari itu ia akhirnya menyadari, bukan hanya masa depannya yang berada di persimpangan. Harga dirinya pun kembali diuji oleh kenyataan bahwa, dalam keadaan serumit ini, ia merasa keberadaannya seolah menjadi orang yang paling mudah untuk disisihkan.