Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 — Yang Terkorupsi
Perjalanan pulang dimulai pagi-pagi, matahari baru separuh naik saat mereka meninggalkan lembah, membawa Kodeks Verlanth terbungkus rapat di tas Brann. Jalur kembali memotong lewat punggung bukit yang lebih tinggi, menghindari jurang yang mereka turuni sebelumnya, medan berbatu dengan semak rendah yang menutupi pandangan ke depan. Kabut pagi masih menggantung tipis di antara pepohonan, membuat suara langkah kaki mereka sendiri terdengar lebih keras dari biasa.
Petra berjalan lebih dekat ke barisan depan dibanding kemarin, bukan karena diperintah, tapi karena sudah terbiasa memperhatikan pola formasi yang dijaga Corym dan Tomas tanpa perlu diingatkan. Brann sesekali melirik ke belakang, memastikan tas berisi Kodeks Verlanth tetap aman di punggungnya, tangannya tidak lepas dari tali penyangganya.
Yuna berhenti mendadak di tengah barisan, tangannya terangkat, telapaknya membuka ke udara seperti yang ia lakukan di gudang reruntuhan.
"Berhenti," katanya, suaranya tajam, berbeda dari nada lembutnya biasa.
Semua orang berhenti serentak. Corym sudah menarik perisai dari punggungnya sebelum bertanya apa pun.
"Ada apa?" tanya Arden pelan.
"Anima yang sama," jawab Yuna. "Terkorupsi. Dekat. Sangat dekat."
Petra sudah mencabut pedangnya, matanya menyapu semak-semak di sekeliling mereka, tidak lagi terburu maju sendirian seperti dulu, hanya menunggu aba-aba.
Semak di depan mereka bergerak.
Sesuatu meledak keluar dari balik semak, tubuh sebesar kuda tapi salah bentuknya, kaki depan terlalu panjang, kepala menunduk dengan rahang terbuka lebar melebihi proporsi tengkorak yang menampungnya. Kulitnya bukan bulu atau sisik, tapi permukaan basah keabuan yang berdenyut seperti daging terbuka, dan dari celah-celah di punggungnya, cahaya ungu pucat berkedip tak beraturan, seperti nadi yang salah tempat.
Baunya sampai lebih dulu dari suaranya, anyir bercampur bau kimia tajam yang menusuk tenggorokan.
Tomas melepas anak panah sebelum makhluk itu selesai melompat. Panah menancap di bahunya, tidak menghentikannya sama sekali.
"Formasi!" teriak Corym.
Petra bergerak ke kiri, Corym ke kanan, mengapit jalur makhluk itu. Arden maju ke tengah, pedang tercabut, kaki merendah menyerap benturan yang akan datang.
Makhluk itu menabrak perisai Corym dengan bobot penuh. Corym terdorong dua langkah ke belakang, sepatunya menggaruk tanah berbatu, tapi bertahan. Petra menebas kaki depan makhluk itu, lukanya tidak mengeluarkan darah merah, melainkan cairan gelap kehijauan yang berasap tipis begitu menyentuh udara.
Makhluk itu meraung, bukan suara binatang, lebih mirip dua nada bertabrakan sekaligus.
Rahangnya menyambar ke arah Petra. Ia melompat mundur, terlambat sepersekian detik, gigi makhluk itu merobek lengan bajunya tanpa menyentuh kulit. Corym menghantam sisi kepala makhluk itu dengan perisainya, mengalihkan perhatiannya kembali.
"Petra, mundur ke belakangku!" seru Corym.
Arden menebas ke arah leher. Pedangnya membentur sesuatu yang keras di bawah kulit, seperti tulang yang tumbuh salah arah, menahan tebasan yang seharusnya menembus.
"Kulitnya beda," gerutu Arden, mundur setengah langkah.
Doran bersiul tajam. Ashe menukik dari atas, cakarnya mencengkeram punggung makhluk itu, mencabik salah satu titik cahaya ungu di kulitnya. Makhluk itu melolong, tubuhnya berputar liar, melempar Ashe menabrak batu besar. Grypin muda itu terjungkal, bangkit lagi dengan sayap gemetar tapi masih bisa terbang.
"Ashe!" seru Doran, bergerak maju, pedang pendeknya terhunus.
Brann sudah melempar sesuatu dari sisi lain, botol kaca kecil pecah tepat di kaki belakang makhluk itu, mengeluarkan asap tebal berwarna hijau kekuningan. Makhluk itu tersandung, kehilangan keseimbangan sesaat, kaki belakangnya terpeleset di tanah yang tiba-tiba licin oleh cairan alkemis.
"Sekarang!" teriak Brann.
Tomas melepas dua panah beruntun ke mata makhluk itu. Satu meleset, satu menancap tepat, membuatnya mengangkat kepala tinggi, kehilangan fokus dari Corym yang menahannya.
Petra melihat celah, menebas ke belakang lutut kaki depan yang sudah terluka Tomas. Kaki itu ambruk. Makhluk itu jatuh miring, satu bahu menghantam tanah dengan suara berat.
Arden tidak menunggu. Ia melompat ke atas tubuh yang jatuh, pedang diayun dua tangan, menghujam titik cahaya ungu terbesar di punggungnya.
Makhluk itu menjerit, tubuhnya kejang sekali, cakarnya mencakar tanah dalam gerakan refleks terakhir, lalu diam.
Napas semua orang tersengal, berdiri berjauhan mengelilingi bangkai yang masih berdenyut lemah beberapa detik sebelum akhirnya benar-benar berhenti bergerak. Cahaya ungu di punggungnya meredup satu per satu, seperti lilin ditiup dari dalam.
Petra menurunkan pedangnya, tangannya gemetar, tapi bukan karena takut kali ini, lebih seperti sisa adrenalin yang belum sepenuhnya reda. Ia menatap lengan bajunya yang robek, menyentuh kulit di baliknya untuk memastikan tidak terluka, lalu menghela napas panjang begitu mendapati kulitnya masih utuh.
Corym memeriksa keadaan masing-masing anggota satu per satu dengan mata cepat, menghitung bahwa tidak ada luka serius sebelum akhirnya membiarkan bahunya sendiri turun.
"Semua baik-baik saja?" tanyanya, memeriksa wajah masing-masing satu per satu.
"Baik," jawab Petra, meski suaranya masih sedikit bergetar. "Cuma bajuku yang tidak selamat."
"Itu bukan monster lantai Menara," katanya kemudian, napasnya masih memburu.
"Bukan," jawab Yuna, mendekat perlahan, tangannya terangkat lagi di atas bangkai makhluk itu, mata terpejam sesaat sebelum membuka kembali. "Anima di dalamnya rusak dengan cara yang aneh. Bukan cacat alami. Ada pola di dalamnya, seperti sesuatu yang dipaksa masuk, dibentuk ulang lewat kekerasan."
"Bagaimana kau tahu bedanya?" tanya Petra, mendekat pelan-pelan, penasaran meski masih menjaga jarak dari bangkai itu.
"Anima alami mengalir seperti sungai, kadang deras kadang tenang, tapi selalu punya arah yang masuk akal," jelas Yuna, jarinya masih melayang di atas kulit makhluk itu tanpa menyentuh. "Ini seperti sungai yang dipaksa mengalir ke arah yang salah, dibendung lalu dipecah paksa berkali-kali sampai bentuknya rusak permanen."
"Maksudmu direkayasa," kata Brann, berjongkok di samping Yuna, memeriksa bekas luka di kulit makhluk itu dengan mata seorang alkemis.
"Aku tidak tahu istilah tepatnya," jawab Yuna. "Tapi ini bukan sesuatu yang tumbuh sendiri di alam. Ini dibuat."
Corym membersihkan perisainya dari cairan gelap yang masih berasap tipis, mengelapnya dengan kain, wajahnya serius. "Eksperimen Ordo?"
"Kemungkinan besar," kata Arden, mencabut pedangnya dari tubuh makhluk itu, mengibaskan sisa cairan gelap dari mata pisau. "Kalau mereka bisa membuat sesuatu seperti ini, kita perlu tahu berapa banyak lagi yang sudah mereka buat."
Doran memeriksa Ashe, meraba sayapnya perlahan, memastikan tidak ada tulang yang patah. Ashe mendesis pelan, lebih karena kesal daripada kesakitan, mengibaskan bulunya sendiri.
Tomas berjalan mengitari bangkai, memeriksa dari berbagai sudut, kebiasaan lamanya membaca medan tidak pernah benar-benar berhenti bahkan di depan mayat monster. Ia berhenti di dekat kaki belakang, berjongkok, mengulurkan tangan ke sesuatu yang tersangkut di lipatan kulit yang robek.
"Ada sesuatu di sini."
Semua orang mendekat. Tomas menarik sesuatu keluar dengan hati-hati, sepotong logam kecil berbentuk lencana, permukaannya masih berkilau, belum sempat berkarat atau kusam oleh waktu.
Simbol yang terukir di permukaannya sudah dikenal semua orang: lingkaran dengan tiga garis melengkung asimetris.
"Masih baru," gumam Brann, mengambil lencana itu dari tangan Tomas, memutarnya di bawah cahaya matahari. "Lihat kilaunya. Ini tidak mungkin tertinggal dari sepuluh bulan lalu."
Arden mengambil lencana itu, menimbangnya di telapak tangan, dinginnya logam terasa jauh lebih tajam dari yang seharusnya untuk benda sekecil itu.
"Kalau lencana ini masih baru," katanya pelan, memutar-mutar benda kecil itu di antara jari sebelum menyerahkannya, "berarti Ashcloak bukan cuma pernah ke sini sepuluh bulan lalu."
Ia menatap ke arah hutan di sekeliling mereka, pepohonan yang tiba-tiba terasa jauh lebih rapat dari sebelumnya.
"Mereka masih di sini. Sekarang."
Corym mengencangkan pegangan pada perisainya, matanya menyapu garis pepohonan yang mengelilingi mereka dari segala sisi. "Kalau begitu kita tidak boleh berlama-lama di sini."
"Setuju," kata Arden. "Kita kembali ke Aldenmere secepat mungkin. Kalau ada Ashcloak lain di sekitar sini, kita bukan tandingan untuk pertempuran berkepanjangan dengan perbekalan sekarang, apalagi setelah pertarungan yang baru saja menguras tenaga kita semua."
Brann membungkus lencana Ashcloak dengan kain kecil, menyimpannya hati-hati di saku dalam jaketnya, terpisah dari Kodeks Verlanth. "Aku ingin membandingkan ini dengan simbol di dinding reruntuhan begitu kita sampai. Kalau ada perbedaan kecil sekalipun, itu bisa jadi petunjuk siapa yang meninggalkannya."
"Kau curiga ada lebih dari satu kelompok?" tanya Petra, mengencangkan tali ranselnya kembali.
"Aku curiga banyak hal," jawab Brann, sudut bibirnya bergerak sedikit meski matanya masih serius. "Itu yang membuatku berguna di kelompok ini, kurasa."
Yuna berjalan mengelilingi bangkai sekali lagi, tangannya tidak lagi terangkat, hanya menatap dalam diam. "Kalau mereka bisa membuat makhluk seperti ini di tempat sejauh dan seterpencil ini, aku takut membayangkan apa yang mereka lakukan di tempat yang lebih tersembunyi, tempat yang tidak akan pernah kita temukan tanpa sengaja seperti ini."
Tidak ada yang membantah itu.
Doran memastikan Ashe cukup kuat untuk terbang sebelum mereka melanjutkan perjalanan, familiarnya mengeluarkan suara pendek tanda setuju, meski sayapnya masih sedikit kaku saat pertama kali mengepak. Doran menepuk lehernya pelan, berbisik sesuatu yang hanya bisa didengar familiarnya sendiri.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam yang berbeda dari sebelumnya, bukan lagi diam yang nyaman seperti malam di reruntuhan, tapi diam yang waspada, mata semua orang bergerak lebih sering ke arah bayangan di antara pepohonan. Tomas berjalan di depan dengan busur sudah terpasang anak panah, siap kapan saja.
Arden menggenggam lencana Ashcloak sebentar sebelum menyerahkannya kembali pada Brann, dinginnya logam masih terasa di telapak tangannya bahkan setelah dilepaskan. Ia mengingat wajah tenang Draymoor saat pertama menawarkan kontrak ini, kesan aman yang ternyata jauh dari kenyataan yang mereka temukan sepanjang perjalanan.
Sesuatu yang dulu terasa seperti kontrak sederhana, mengambil relik, dibayar, pulang, kini terasa jauh lebih besar dari yang pernah ia bayangkan saat menerima tawaran Draymoor. Dan untuk pertama kalinya sejak keberangkatan mereka ke Verlanth, ia merasa waktu untuk berpura-pura semua ini masih bisa dikendalikan dengan cara lama sudah benar-benar habis.