NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Berita Alya masuk tim olimpiade tidak sebesar skandal gala, tetapi di SMA Cakrawala efeknya lebih tajam.

Selama dua hari, ia yang tadinya hanya disebut kakak baru Dinda berubah menjadi topik yang tidak selesai dibicarakan. Ada yang menganggapnya jenius tersembunyi. Ada yang bilang Pak Harun sengaja menaikkan nilainya karena keluarga Wiratama donatur besar. Ada juga yang lebih suka percaya bahwa Kesha sengaja mengalah.

Kesha sendiri sangat tersinggung.

"Aku tidak pernah sengaja mengalah," katanya saat duduk di kantin bersama Alya. "Kalau aku kalah, ya karena kamu memang lebih cepat. Jangan biarkan mereka menghina aku dengan menuduhku baik hati."

Alya mengaduk es tehnya. "Kamu marah karena mereka meremehkanku atau karena mereka memujimu terlalu baik?"

"Dua-duanya."

Kesha mengambil kerupuk dari piring Alya tanpa izin. "Seleksi tahap provinsi tiga minggu lagi. Kalau kamu benar-benar serius, kita latihan bersama."

"Kamu percaya aku serius?"

"Aku percaya kamu tidak suka kalah."

Alya hampir tersenyum. "Itu benar."

Dari meja seberang, beberapa teman Dinda memperhatikan. Sejak gala, mereka tidak lagi otomatis duduk di sekeliling Dinda. Mereka masih menyapa, masih tersenyum, tetapi jaraknya berubah. Dinda merasakannya. Semua orang bisa melihat ia merasakannya.

Hari itu Dinda masuk kantin dengan dua teman dekatnya. Wajahnya rapi, senyumnya lembut, tetapi matanya lebih cekung. Ia berhenti di depan meja Alya.

"Kak, Mama ingin Kakak pulang cepat hari ini. Ada tamu."

"Siapa?"

"Pengacara keluarga."

Kesha langsung menatap Alya dengan mata berbinar, seolah mendengar kata pengacara adalah hiburan.

Alya bertanya, "Untuk apa?"

Dinda meremas tali tas. "Membahas masalah Santoso dan... saham Mama Nadira."

Sebutannya berubah. Dulu Dinda tidak pernah menyebut nama Nadira. Sekarang ia menyebut Mama Nadira dengan hati-hati, mungkin karena sadar perempuan yang sudah meninggal itu meninggalkan tujuh belas persen saham.

"Aku pulang setelah latihan," kata Alya.

"Mama bilang ini penting."

"Latihan juga."

Dinda menahan sesuatu di wajahnya. "Kak Alya, tolong jangan membuat Papa tambah marah. Mas Raka sudah cukup membuat rumah tegang."

Kesha meletakkan gelasnya. "Dinda, ini kantin, bukan ruang sidang keluarga."

Dinda tersenyum kaku. "Aku bicara dengan kakakku."

"Dan aku duduk di meja ini."

Alya berdiri sebelum situasi menjadi tontonan gratis. "Aku pulang setelah latihan. Kalau mereka tidak bisa menunggu, berarti tidak penting."

Dinda menatapnya. "Kakak berubah sejak punya saham."

Alya menoleh. "Tidak. Aku berubah sejak berhenti meminta izin untuk dihina."

Kantin hening sesaat.

Dinda pergi dengan mata merah, tetapi kali ini air matanya tidak langsung membuat orang mengejarnya.

Latihan olimpiade berlangsung di ruang laboratorium. Pak Harun sendiri mengawasi. Ia memberi lima soal logika terapan dan membiarkan siswa mengerjakan tanpa bantuan. Alya menyelesaikan semua dalam empat puluh menit. Kesha selesai lima menit setelahnya.

Pak Harun memeriksa lembar Alya, lalu mengangkat kacamata. "Kamu menyembunyikan kemampuan terlalu banyak."

"Saya hanya memilih waktu."

"Waktu untuk apa?"

"Untuk tahu siapa yang lebih dulu meremehkan."

Pak Harun menghela napas. "Kamu hidup seperti sedang dikepung."

Alya tidak menjawab.

Karena itu bukan perasaan. Itu fakta.

Ketika latihan selesai, Rafi sudah menunggu di gerbang samping. Ia membawa jaket tipis. Langit mendung, dan angin sore lebih dingin dari biasanya.

"Ada perkembangan?" tanya Alya begitu masuk mobil.

"Pengacara keluarga datang. Dua orang. Satu dari pihak Baskara, satu dari pihak Maya. Raka sudah di rumah."

"Dinda?"

"Pulang lebih dulu. Menangis di kamar, lalu turun lagi setelah pengacara datang."

"Dia belajar cepat."

"Aku lebih khawatir pada Maya."

"Aku juga."

Di rumah, ruang tengah sudah diubah seperti ruang perundingan. Baskara duduk di kepala meja. Maya di sebelah kanan. Raka di kiri, wajahnya datar. Dua pengacara duduk dengan map terbuka.

Dinda berada di belakang Maya, bukan duduk di kursi utama. Posisi itu menarik. Ia masih dilindungi, tetapi belum diberi suara.

Baskara menatap Alya masuk. "Kamu terlambat."

"Latihan selesai pukul lima."

"Keluarga lebih penting dari latihan."

"Tergantung keluarganya."

Pengacara Baskara berdeham, pura-pura tidak mendengar.

Maya tersenyum lembut. "Alya, kita ingin menyelesaikan semuanya baik-baik. Soal saham ibumu, soal kuasa suara untuk Raka, dan soal pernyataan publik kepada Santoso."

"Tiga hal itu berbeda."

"Tapi saling memengaruhi," kata pengacara Maya. "Nona Alya masih sangat muda. Keputusan menunjuk Mas Raka sebagai kuasa suara bisa dinilai diambil dalam tekanan emosional."

Raka tertawa pendek. "Menarik. Kalau Alya menunjuk saya dianggap emosional. Kalau dia dipaksa bertunangan dengan Kevin, itu keputusan keluarga."

Baskara menatapnya. "Raka."

Alya duduk. "Apa yang kalian inginkan?"

Pengacara Baskara mendorong dokumen. "Kuasa suara sementara dialihkan ke Pak Baskara sampai Nona Alya lulus sekolah."

"Tidak."

Maya berkata lembut, "Dengar dulu."

"Tidak perlu."

Baskara menahan marah. "Alya, jangan keras kepala."

"Aku tidak akan menyerahkan satu-satunya hal yang membuat kalian bicara sopan padaku."

Kata-kata itu membuat ruangan sepi.

Dinda menatap meja.

Alya melanjutkan, "Tentang Santoso, tidak ada pernyataan sampai Kevin meminta maaf pada Livia. Tentang saham, Mas Raka tetap kuasa suara. Kalau ada yang mencoba menggugat, Pak Surya sudah siap."

Pengacara Maya berkata, "Nona tampaknya terlalu percaya pada Pak Surya."

"Saya lebih percaya pada orang yang membawa hak ibu saya daripada orang yang memasukkan obat penenang ke laci saya."

Maya pucat.

Baskara mengetuk meja. "Cukup. Kalau kamu terus begini, Papa akan memikirkan ulang biaya sekolah, fasilitas, dan tempat tinggalmu."

Alya menatapnya. "Aku bisa membayar sendiri."

"Dengan apa?"

"Dengan tidak menjadi beban keluarga yang baru ingat aku ketika butuh tumbal."

Raka menunduk, rahangnya mengeras.

Baskara berdiri. "Kamu tidak akan menang selamanya."

"Aku tahu," kata Alya. "Karena itu aku tidak membuang waktu saat sedang menang."

Ia berdiri, mengambil dokumen yang tadi disodorkan, lalu merobeknya menjadi dua.

Pengacara terkejut. Maya menutup mulut. Baskara seperti akan meledak.

Alya menatap semua orang. "Jangan kirim kertas seperti ini lagi. Kalau ingin mengambil hak ibuku, datang dengan senjata yang lebih baik."

Malam itu, Alya tidak makan malam bersama mereka.

Ia naik ke kamar, membuka laptop, dan menemukan pesan baru dari nomor yang sama dengan pengirim foto makam.

Kamu menjaga saham, sekolah, dan nenekmu. Tapi bagaimana dengan perempuan di rumah sakit?

Di bawahnya ada foto Livia.

Kali ini Livia tidak berada di ranjang.

Ia berdiri di atap rumah sakit.

Alya tidak langsung bergerak. Satu detik itu terasa seperti pengkhianatan terhadap dirinya sendiri, tetapi ia memaksa otaknya bekerja lebih cepat daripada panik.

"Rafi," panggilnya.

Pintu kamar terbuka sebelum ia memanggil kedua kali. Rafi masuk, melihat layar, dan wajahnya berubah.

"Rumah sakit mana?"

"Yang sama dengan tempat Kevin dirawat."

"Dia tidak akan kirim foto kalau tidak ingin kamu datang."

"Aku tahu."

"Dan kamu tetap akan datang."

Alya memasukkan ponsel ke saku. "Kalau seseorang berdiri di tepi atap karena mereka menghancurkan hidupnya, aku tidak akan menunggu sampai dia jatuh hanya supaya jebakan terlihat jelas."

Rafi mengambil kunci mobil.

"Kalau begitu kita berangkat sekarang. Tapi kamu dengar aku di sana."

Alya menatapnya.

"Aku dengar," katanya. "Selama kamu tidak menyuruhku diam."

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!