NovelToon NovelToon
Menguak Tabir Di Matamu

Menguak Tabir Di Matamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kriminal / Balas Dendam
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: ginevra

Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah Yang Selalu Diingat

Emma bisa melihat jelas sosok yang tertangkap dalam foto berbingkai itu. Wajah bundar, alis tebal, dan tahi lalat besar di atas bibir sudah tak asing lagi baginya. Tidak hanya itu, wayahnya sudah terpatri permanen di ingatan Emma.

Bagaimana tidak? Orang itu adalah pelaku tabrak lari kakaknya lima tahun lalu, dan sekarang sedang mendekam di penjara.

Bagaimana wajah itu bisa terpampang di sudut buffet rumah Dion? Apa hubungan mereka? Dan Emma tidak mungkin salah mengingat.

"Siapa dia?" Emma menunjuk foto berbingkai itu.

"Tentu saja dia suami saya," jelas Ibu Dion.

Bagai tersambar petir di siang bolong, badan Emma membeku. Tangannya yang semula mengepal sekarang malah terkulai lemas tak berdaya.

Bagaimana bisa dia akan bertemu takdir menyakitkan seperti ini? Spontan Emma tersungkur berlutut di depan Ibu Dion.

"Bu Polisi tidak apa-apa? Apa Ibu sakit?"

Ibu Dion meletakkan kardus yang berisi barang-barang Dion di lantai dan mulai membantu Emma untuk bangun.

Emma melirik kardus itu. Dalam pikirannya ia ingin sekali melempar semuanya dan mengutuk Ibu Dion.

Ia menatap tajam Ibu Dion dengan mata yang bergetar. Mulutnya terlipat karena menahan semua umpatan dan kutukan untuknya. Tangannya kuat mencengkram bahu Ibu Dion seperti hendak melumat badannya seperti kertas.

"Ah... Sakit."

Erangan Ibu Dion menyadarkan Emma dari api kemarahan yang sewaktu-waktu bisa membakar semua yang ada di sekitarnya. Kini tangannya melonggar dan kepalanya tertunduk. Nafas yang ia tahan beberapa detik yang lalu itu, ia keluarkan perlahan.

Kemudian, Emma mengambil kardus itu dari lantai dan pergi keluar rumah. Dia memilih untuk tidak mendengarkan teriakan Ibu Dion yang berulang kali berterimakasih padanya.

Brakkk!

Emma melempar kardus itu di kursi belakang mobilnya, lalu ia duduk di kursi kemudi.

Ia membanting pintu dan mulai memasukkan kunci kontak mobil. Namun kunci kontak itu susah sekali untuk dimasukkan.

"Aaaaaaaaakh!!!"

Brakk!! Brakkk!!! Emma meluapkan emosinya dengan memukul kemudinya.

"Aargh!!! Aaaaaaa!!!!!!"

Dia menendang, memukul, meninju apapun yang ada di depannya.

Nafasnya tersengal, rambutnya berantakan akibat jambakan tangannya, dan air matanya tidak bisa berhenti mengalir.

"Kenapa? Harus si br*ngsek itu! Kenapa kamu punya bapak sebr*ngsek itu Dion???!!!!"

Tes tes...

Cairan merah mengalir dari hidungnya, membasahi mulut dan kemeja birunya.

"Haish shi...."

Dia mengelap cairan merah itu dengan telapak tangannya. Namun, cairan itu tidak berhenti mengalir. Bahkan alirannya semakin deras.

"Yang benar saja!"

Emma mencari tisu basah yang selalu ia letakkan di kursi belakang. Lalu matanya terfokus pada kotak kardus dengan tulisan nama Dion di atasnya.

Ia menatapnya cukup lama, sampai ia memutuskan, "baiklah kalau begitu!"

Bergegas ia menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya dengan kencang sembari mengelap hidung dan bibirnya dengan tisu basah.

.

.

.

.

Di Rumah Tahanan Y, Emma mengunjungi Sukarno, pelaku tabrak lari sekaligus bapak Dion.

Berbekal Lencana Polisi yang dimilikinya, ia bisa dengan mudah mendapatkan izin untuk mengunjungi Sukarno meskipun dengan penghalang jeruji yang dipasang diantara mereka.

Tuk tuk tuk tuk

Kaki Emma bergetar hebat karena amarahnya yang ingin meledak.

Ceklek!

Sukarno memasuki ruang besuk di temani oleh satu petugas kepolisian.

"Anda siapa?" Tanya Sukarno karena dia tidak mengenali Emma yang jelas bukan keluarganya.

"Hah!" Desahnya tidak percaya.

"Kamu lupa sama wajah saya? Enak sekali ya!" Bentak Emma melengos, karena enggan menatap lama pelaku yang telah membuat kakaknya tiada itu.

Lalu Sukarno mendekatkan wajahnya untuk mengingat kembali wajah yang menangis darah lima tahun lalu di pengadilan.

"Anda?" Teriak Sukarno. Selang dua detik, ia langsung bersimpuh dan bersujud. "Maafkan saya... Maafkan saya. Tolong maafkan saya..."

Sukarno menangis menyesal, namun Emma tidak pernah bisa memaafkannya.

"Sudah lima tahun dan yang saya dengar hanya permohonan maaf palsumu itu!" Hardik Emma.

"Tidak, mohon maafkan saya... Saya...."

"saya apa?"

"Saya bersalah," sahut Sukarno.

"Benar- kamu memang bersalah. Tapi bukankah sebentar lagi anda akan bebas? Hukuman lima tahun, hanya lima tahun untuk nyawa kakakku," Emma menggertakkan giginya.

Namun Sukarno hanya diam. Mungkin dia bingung untuk menyembunyikan kegembiraan sdi hatinya.

"Tapi sayangnya setelah anda bebas, anak anda tidak akan ada disana untuk menyambut," kata Emma memiringkan senyumnya.

"Bagaimana anda?"

"Dion! Nama anak kamu Dion kan?"

"Bagaimana anda bisa tahu?"

"Dia bunuh diri sebulan lalu," Emma kembali menatap Sukarno untuk menikmati kesedihan di wajahnya.

"Bagaimana rasanya?"

"Tidak!" Sukarno menggelengkan kepalanya dan mencengkram jeruji diantara mereka.

"Tidak, anakku tidak mungkin bunuh diri!" Sukarno berteriak sangat kencang hingga membuat petugas polisi yang menjaganya melototinya.

"Pasti orang itu! Pasti orang itu!" Sukarno berulang kali menggelengkan kepalanya lalu kembali duduk di kursinya.

"Maksudmu apa br*ngsek?" Kali ini Emma yang mendapatkan tatapan tajam dari Sipir.

"Tidak mungkin anakku bunuh diri. Dia anak yang baik. Bahkan saat bapaknya di penjara, dia selalu mengunjungiku setiap hari," ucap Sukarno menangis.

"Ya... Mungkin dia malu punya bapak pembunuh," ucap Emma mengolok-olok.

Biasanya Sukarno hanya akan diam dan meminta maaf ketika dirinya dimaki oleh keluarga korban termasuk Emma. Tapi kali ini Sukarno bertindak sebaliknya.

"Aku- aku bukan pembunuh, dan anakku bukan anak pembunuh!" Ungkapnya tiba-tiba.

"Hah! Jangan ngelantur! Apa lima tahun di penjara membuat pikiranmu terganggu? Apa kamu sudah mulai gila? Baguslah!"

Sukarno tampak gelisah. Dia menundukkan pandangannya, menautkan kedua telapak tangannya dan akhirnya meraup wajah kuyunya.

"Aku bukan," lirih Sukarno.

"Bukan apa? Bukan pembunuh? Hah! Mentang-mentang mau bebas, kamu jadi berani berbohong?" Emma mengangkat bahunya cepat dan tertawa kecut.

Sukarno hanya menunduk seperti menyesali perbuatannya.

"Nomor 257-987, waktu sudah habis. Silahkan kembali ke tahanan." Ucap sipir yang menjaganya.

Ketika sipir itu hendak membawa Sukarno untuk kembali ke tahanan, ia dengan cepat mendekatkan kepalanya ke Emma dan membisikkan dengan cepat, "Kucing hitam!"

"Apa?"

Akan tetapi Sukarno tak menjawab dan berjalan mengikuti arahan sipir.

"Bu, sampaikan salamku ke istriku. Bilang padanya kalau saya akan mengunjunginya," ucap Sukarno berbalik sebentar dari ambang pintu masuk.

.

.

.

"Kucing hitam? Apa maksudnya?" Emma berulangkali memikirkan maksud kata Sukarno namun masih saja tidak menemukan jawabannya.

"Apa dia hanya mengatakan omong kosong? Hah! Tentu saja!"

Emma kembali menengok kardus milik Dion.

"Apa yang akan aku lakukan? Tentu saja Dion tak bersalah. Semua itu perbuatan si br*ngsek, bukan Dion. Tapi aku masih tidak bisa," bisiknya sembari menyetir mobilnya pulang.

Lalu saat ia sampai di rumah, langkah kakinya terhenti karena berita di televisi yang juga membuat Bu Tiwi ternganga.

Telah ditemukan nara pidana mati tertusuk oleh teman satu selnya sendiri menggunakan sikat gigi yang diruncingkan.

"Apa?"

Berita itu sangat mengejutkan ketika Emma melihat foto yang terpampang dilayar adalah milik Sukarno, nara pidana yang baru saja Emma kunjungi.

1
mama Al
Wkwkwkw Levi panas. dia mulai cemburu
Rain Aricia
Nanti dulu, orang masih sakit itu woi
Rain Aricia
Ihhh kesenangan gitu kau ya levi di bela ema terang2an/Facepalm/
Rain Aricia
Kan, si teh hijau ini pasti muncul☺️ dia ga tau klo ada laki2 yg cemburu buta
ginevra: hahaha teh hijau nggak tuh
total 1 replies
Rain Aricia
Iyalah, kamu emangnya siapa ema?🤣
Rain Aricia
Jadi ini levi ga tau kan klo dia ema? Hampir aja gagal tuh penyamaran ema
Rain Aricia
Nah kan, kamu itu lho cinta sama ema makanya kamu bisa cemburu klo inget ema trs sama teh hijau itu
Rain Aricia
Lho lho em, kamu beneren tumbang
Rain Aricia
Kasihanilah tubuhmu em. Jangan sampe kumat tuh lambung
Rain Aricia
Makin dihindari malah makin nempel ya em, gagal fokus mulu dah /Facepalm/
Rain Aricia
Mengagumi tapi cemburu gitu? Orang aneh
Rain Aricia
Kok kau percaya gitu aja klo si ema dah punya pacar? Masih cemburu dia sama si Tejo? Teh hijau ga sih?/Applaud/
Rain Aricia
Kamu keinget masa2 sekolah ya om?/Facepalm/
Rain Aricia
Santai em, ga perlu sesali yang dah lewat. Kan kau dah melakukan yang terbaik
Rain Aricia
Jangan, nanti kamu cedera em. Operasi otak mau kau?
Mutia Kim🍑
Tiba-tiba banget sebut Aren Gentong, si kucing BESAR itu. Cuuu banget😭
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
maaf pak dia budek🤭
ArsyilaQi
kira-kira kenapa si Levi bohong?
Xlyzy
wkwkwk kuping nya panjang habis di puji 🤭🤣
Xlyzy
Tahan Emma tahan amarah mu jangan tunjukan wajah kesal mu di depan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!