Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21.
Pukul delapan malam Jayanti pulang, ia masuk rumah terkejut melihat Salindra duduk di ruang tamu dengan wajah sembab, lalu menghampiri dan duduk di sampingnya. Salindra tahu kakaknya pulang tapi, tidak melihat atau menyapa bibirnya terasa kelu dan pikirannya berada di angan yang membawa ke dalam gelapnya malam.
“Ada masalah apa, cerita sama Kakak," ucap Jayanti menatap lekat adiknya yang nampak sedih.
"Ibu datang lagi_“
Jayanti terkejut ingatannya kembali ke belakang beberapa hari lalu. Ia mengepalkan tangannya. "Mau apa lagi sih?"
"Bersama suami baru," lanjut Salindra dengan tatapan lurus ke depan tangannya memainkan kain di bagian bawah.
Jayanti dibuat terperangah mendengarnya, tak disangka ibunya membawa pria itu ke rumah tega sekali memperlihatkan keadaan mereka kepada Salindra. Ia semakin geram dengan sikap ibunya yang keras kepala dan semau sendiri.
"Sepertinya kita harus pindah rumah, agar tidak di ganggu oleh ibu dan ayah, aku kesal sama mereka berdua tidak ada kapoknya," kata Jayanti dengan amarah yang menggebu di dalam dadanya.
“Pindah... Kemana?" tanya Salindra melihat kakaknya, penasaran.
"Besok Kakak akan cari rumah kontrakan yang dekat dengan tempat kerja kita biar gak memakan waktu lama," sahut Jayanti dengan yakin.
"Lalu, rumah ini bagaimana?" tanya Salindra tidak begitu paham dengan jalan pemikiran kakaknya.
“Kita jual," jawab Jayanti beranjak meninggalkan Salindra dan masuk ke kamarnya.
Salindra menatap kepergian kakaknya penuh tanda tanya. Ia melihat figura di dinding menampakkan sebuah keluarga lengkap dan terlihat senyum bahagia di wajah mereka sebelum datangnya masalah yang menimpa.
Pagi harinya Jayanti dan Salindra pergi mencari rumah kontrakan yang berdekatan dengan tempat kerja mereka. Beberapa rumah sudah mereka datangi namun, semua sudah penuh.
Tiba-tiba datang seorang pria paruh baya dan istrinya mendekati mereka sedang duduk di tepi jalan sambil minum air mineral.
"Apa kalian mencari kontrakan, kami tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian dengan seseorang,“ tanya Pria tersebut dengan ramah.
Salindra dan Jayanti saling pandang lalu menatap heran pasangan paruh baya tersebut sambil mengangguk.
"Iya, benar Pak!" jawab Jayanti.
"Kalau begitu ikut kami," perintahnya berjalan menuju mobil diikuti istrinya.
Salindra dan Jayanti mengikuti mobil mereka dengan menggunakan motor. Tiba lah di depan sebuah bangunan rumah satu petak. Semua orang turun dari kendaraan masing-masing, Salindra dan Jayanti mengikuti pasangan paruh baya.
"Ini rumah untuk kalian tinggal, jika kalian berkenan_"
“Kami akan menempati rumah ini, besok kami akan ke sini membawa beberapa barang untuk keperluan kami," sahut Jayanti dengan cepat.
"Kakak, yakin kita akan tinggal di sini?" tanya Salindra merasa ragu. Ia melihat sekitar tempat itu dan melihat tetangga yang memperhatikan mereka dengan tatapan penasaran.
"Kita sudah berkeliling mencari kontrakan tapi tidak ketemu, mumpung di sini ada, kenapa tidak kita ambil saja daripada nanti keduluan orang lain. Kita mau cari kemana lagi coba," sahut Jayanti menghembuskan napas panjang.
Salindra berpikir keras, kemudian mengangguk ragu. "Iya deh terserah Kakak saja. Tapi kalau aku tidak nyaman aku akan kembali ke rumah," kata Salindra.
"Salindra, apa kamu masih berharap bapak sama ibu kembali seperti dulu... sadar lah dan berpikir logis_"
“Kak, aku tidak ingin melihat ayah dan ibu . Kakak jangan mengungkit lagi, aku belum pernah pergi meninggalkan rumah apalagi mengontrak, aku merasa tidak nyaman itu saja," bentak Salindra.
"Maaf, saya tidak memaksa kalian untuk tinggal di rumah ini sekarang. Jadi, kalian pikir-pikir dulu. Kalau berminat kalian bisa menghubungi kami," kata pria pemilik rumah sambil menyerahkan kartu nama kepada Jayanti.
"Terimakasih, Pak. Maafkan adik saya karena belum terbiasa dengan suasana baru. Jadi, perlu adaptasi," kata Jayanti meraih kartu nama tersebut.
Jayanti melihat dan membaca pemilik kartu bernama Arifin Sudirja, seorang Pengusaha Rental Mobil. Kemudian menyimpannya di dalam tas miliknya,
"Kalau begitu kami permisi," pamit Arifin bersama istrinya bernama Astrid.
“Iya, Pak, Bu, Silahkan!" sahut Jayanti dan Salindra bersamaan.
Sepeninggal pasangan paruh baya Salindra dan Jayanti memperhatikan sekitar tempat tersebut. "Aku rasa ini rumah masih bagus dan masih terawat, kita coba saja satu sampai tiga hari tinggal di sini, kalau tidak nyaman terpaksa pindah cari tempat lain," kata Jayanti setelah berpikir lama.
Salindra tidak menyahut, ia masih malas membahas kepindahan tempat tinggal. "Sudah selesai kan! Aku mau pulang,"
Jayanti melihat wajah adiknya pucat merasa khawatir. Ia menyentuh kening adiknya agak panas hatinya merasa bersalah.
“Kamu panas, ayo kita ke rumah sakit. Kamu harus di periksa," ajak Jayanti sambil menyalakan motor, Salindra naik di jok belakang sambil memeluk pinggang kakaknya, kepalanya diletakkan di bahu kakaknya. Ia merasa pusing sekali.
Sesampai di parkiran rumah sakit mereka turun dan berjalan masuk untuk mendaftar. Mereka di sarankan masuk ke ruang IGD, tidak menunggu lama datang seorang Dokter perempuan cantik bernama Aura Maya, yang terpasang di dada sebelah kiri. Membuat dua kakak beradik menatapnya sungkan.
"Saya periksa dulu, ya," katanya dengan senyum ramah. kemudian melanjutkan memeriksa Salindra yang tertidur di brangkar.
Dokter Aura dengan serius memeriksa Salindra kemudian memberi saran agar menginap sementara untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Adik saya sakit apa, Dok?" tanya Jayanti menatap Dokter penasaran.
"Saya belum bisa memastikan adanya penyakit pada adik anda, tapi melihat kondisi adik anda pucat, saran saya biar di sini dulu agar kami bisa menindak lanjuti apakah ada penyakit serius atau tidak," jelas Dokter Aura.
Salindra tidak bisa menahan rasa kantuk akhirnya memejamkan mata. Melihat adiknya sakit dan lemas, Jayanti merasa bersalah dan sangat khawatir. Ia berpikir kalau adiknya setres karena memikirkan kedua orang tua mereka.
"Baiklah, kalau memang itu yang terbaik saya turuti saran Dokter," sahut Jayanti mengangguk lesu.
“Kalau begitu saya permisi," Dokter Aura meninggalkan ruangan.
...----------------...
Di sebuah rumah mewah sedang terjadi perdebatan antara suami istri. Kamila yang ingin pergi sedangkan Ardi suaminya tidak mengijinkannya. Pria itu sangat mencintai Kamila karena penurut dan setia dan tidak pernah menuntut padanya padahal dia kaya raya. Tapi Kamila sama sekali tidak pernah meminta kecuali untuk kebutuhan pribadinya.
“Mas, aku ingin bertemu dengan anak-anakku. Aku tidak akan kemana-mana kok," kata Kamila memohon beberapa kali.
Ardi merasa terpojok, Kamila terus memaksanya dan akhirnya mengijinkannya tapi dengan syarat harus bersama dirinya. Kamila terkejut mendengar syarat dari suaminya akhirnya nurut saja.
Saat keduanya akan berangkat Marcella anak dari Ardi menghalangi kepergian mereka. Wajahnya tidak suka jika mereka bertemu dengan kedua anak Kamila.
"Aku tidak mengijinkan kalian pergi, jika kalian pergi menemui mereka maka, akulah yang akan pergi dari rumah ini," ancam Marcella menatap dengan serius.
Deg
Kamila dan Ardi terkejut mendengar perkataan Marcella, keduanya saling pandang sedangkan perasaan Kamila mendadak nyeri. Ia tidak menyangka jika selama ini Marcella menyimpan rasa ketidaksukaan terhadap kedua anak kandungnya Salindra dan Jayanti. Ia sudah menganggap Marcella sebagai anak sendiri dan sudah menduduki dengan baik tapi hari ini mendengar kalimat itu membuatnya merasa kecewa.
Ardi mendekati Marcella dan memberi pengertian, agar Marcella menerima kedua anak Kamila dengan ikhlas. Tidak mementingkan egonya sendiri. Karena mereka sudah menjadi bagian dari keluarga.
"Aku tahu Mama Kamila menginginkan kedua anaknya tinggal di sini tapi, aku tidak setuju," sahut Marcella menatap tajam Kamila.