Selama ini Mamaku nampak sehat-sehat saja, namun hari ke hari tubuh mama nampak kurus dan sakit-sakitan. Entah karena menahan sakit atau karena isu perselingkuhan Papa yang membuat Mama sakit.Tapi Mama tidak tahu siapa selingkuh Papa, yang sebenarnya ada di depan batang hidungku sendiri, ibarat musang berbulu domba itulah yang dihadapi keluargaku, dan aku baru tahu siapa selingkuh Papa setelah Mama tiada.
cerita ini sangat menarik penuh intrik dan pengkhianatan yang tak terduga datang dari orang terdekatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daesy.Rf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21. KESEMBUHAN IQBAL
Dinar masih belum terima adiknya diperlakukan Meta dengan kejam. Ada kemarahan dan dendam dihati Dinar jika adiknya disakiti. Malam itu sehabis mengantar Bobby untuk Dinas, Dinar singgah di rumahnya untuk membuat perhitungan dengan Meta. Namun sesampai nya dirumah itu, yang ada hanya rumah yang gelap tanpa cahaya.
"Kemana mereka apakah mereka melarikan diri setelah menyiksa Iqbal"
"Coba aku lihat ke rumah Nenek Aini" Mobil Dinar pun berdiri diseberang jalan dan hal yang sama juga terjadi dimana rumah Nenek Aini gelap seperti tidak ada penghuni"
"Hmm kemana mereka ya, mungkin melarikan diri" Dinar akhirnya kembali kerumah sakit tempat Dut dirawat.Dinar duduk di samping Dut dan memegangi tangan nya.
"Dut cepat sembuh ya boleh datang ke wisuda Kakak, Dut ikut ya bersama Pak Sukri dan Bik Ani serta Bang Bobby" Dut yang mendengar perkataan Kakak nya mengangguk dan tersenyum. Kini dia merasa nyaman bersama kakaknya setelah Mamanya pergi. Tiada Papa yang diharapkan bisa melindunginya untuk dia berkeluh kesah.
"Ringggggg"
"Ringggggg"
Suara panggilan di Handphone Dinar berbunyi, disana bertuliskan Bobby. Dinar segera mengangkat telpon dari kekasihnya itu.
"Dinar kamu dimana?"
"Dirumah sakit, Bob"
"Ada kabar sayang, Meta dirawat disini, dia terjatuh dari kamar mandi, Pas saat Dut masuk rumah sakit, kepalanya terbentur dan pingsan hidungnya mengeluarkan darah dan dia tidak sadar, Papa kamu mengantarkannya kesini"
"Oooh pantasan dia tidak dirumah, ini benaran Bob kabarnya"
"Iya aku baru baca laporannya dan aku periksa dia tadi, dia masih tidak sadar"
"Allah Maha Adil ya Bob, dia siksa Dut dengan sadis, dan hari itu juga langsung dibayar tunai oleh Allah"
"Ya itulah kebesaran Allah kalau kita baik pasti kita akan diberi kebaikan, sekarang kamu tidak usah mencarinya aku akan kabarkan perkembangannya, kamu focus sama Dut dan belajar, dua hari lagi kita akan sidang, semoga kita lulus dan bulan depan kita wisuda"
"Baik Bob"
"Awas jangan nakal ya"
"ihhhh apa an sih" Bobby menutup telponnya. Dinar merasakan hatinya bercampur aduk, tenang bahkan bahagia kini berita wanita yang sudah menyiksa adiknya sedang koma dirumah sakit.
Dinar menceritakan kepada Pak Sukri dan Bik Ani, mereka mengucapkan kalimat Allah tidak menyangka itu akan terjadi pada Meta.
"Sekarang kita focus kepada kesembuhan den Iqbal Non agar dia tidak merasa trauma tentang kejadian kemarin kita harus rajin menghiburnya.
" Pasti Pak, Mama pasti lihat apa yang dilakukan oleh Meta kepada anak yang tak bersalah, makanya Allah marah kepadanya"
"Selepas Dut sembuh Pak Sukri dan Bik Ani tinggal sama Meta dan tolong jaga Dut ya, karena dua hari lagi Dinar akan ujian akhir dan bulan depan Dinar akan wisuda setelah itu Dinar akan cari kerja, tidak usah pikir apa-apa semua Dinar akan tanggung jawab, gaji Bapak sama bibi biar Dinar yang bayar"
"Jangan pikirkan itu Non, kami adalah orang tua Non kami pasti menjaga Non berdua seperti pesan Almarhumah"
"Makasih ya Pak, oh iya ini kelupaan Dinar, karena sibuk dan kaget tentang Dut kemarin sampai lupa kasih ini" Dinar memberikan sebuah bungkusan kepada Pak Sukri.
"Apa ini Non"
"Buka saja" Pak Sukri membuka bungkusan itu dan wajah nya sangat bahagia.
"Non membelikan Bapak Handphone, wah makasih Non"
"Iya biar mudah Dinar hubungi Bapak dan Bibi lagi"
"Makasih ya Non ini pasti Mahal"
"Ngak masalah Dinar ada rezeki kemarin ada kontrak photo"
"Alhamdulillah semoga rezeki Non berlimpah ya"
"Aamin" Mereka bertiga bahagia di ruangan rawat Dut yang kini sudah mulai sadar dan ceria walau kepala nya masih dalam balutan kain Mitella. Dinar dan Dut benar-benar kehilangan sosok Papanya saat ini yang hanya memikirkan Meta, tanpa ingat kepada anak-anaknya.
Selama Dut dirawat dan semakin dekatnya ujian akhir Dinar, Dinar selalu tekun belajar sambil menjaga adiknya dirumah sakit, Sementara Pak Sukri dan Bik Ani kini tinggal dirumah kost Dinar dan membantu pekerjaan rumah Dinar.
Dut sudah mulai bisa makan dan duduk secara berlahan walau agak pusing tapi secara berlahan dia berusaha untuk bangkit. Disela sela Dut sudah mulai pulih Dinar semakin tekun untuk belajar dan belajar karena esok adalah sidang ujian kelulusannya.
"Dek besok Kakak ujian, kamu tinggal dengan Bik Ani dulu ya"
"Iya Kak"
"Do'akan Kakak dapat nilai terbaik ya sayang" Dinar memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang, setiap pelukan itu tak terbayang bagaimana anak yang selucu ini mampu Meta pukul kepala dengan kejam. rasa sakit dan dendam muncul terlintas dihati Dinar, namun kembali ditepisnya, karena Meta sudah mendapat karmanya.
***
Pagi sekali Dinar sudah bangun untuk mandi dan berdandan karena hari ini adalah sidang ujiannya sambil menghafal dia terus membenahi dirinya.
"Ya Allah lancarkan semua ujian ini" Hati Dinar merasa dag dik duk dan sedikit grogi. setelah selesai berdandan dan semua telah dipersiapkan akhirnya Dinar berangkat dengan mobilnya menuju kampus.
Beberapa peserta ujian telah nampak hadir lebih pagi dengan style yang rapi. Dinar mencek ruangan sidang dimana dia akan diuji serta dosen pengujinya.
Pukul Delapan pagi semua mahasiswa pergi ke Auditorium untuk pembukaan dan peresmian dibukanya uji mahasiswa semester genap. Setelah pembukaan selesai akhirnya masing-masing mahasiswa menuju ruang uji dan menunggu giliran mereka sesuai nomor lot yang didapat..
Dinar mendapat nomor. lot sembilan berarti dia akan ujian menjelang siang.
"Masih ada kesempatan buat menghafal dan mempelajari" Mahasiswa yang menunggu giliran bertebar dimana-mana, mereka akan berjuang mempertahankan karyanya sesuai judul dan tema skripsi yang mereka angkat dan permasalahan atau kasus yang ada.
Berbagai macam pose, mimik,takut, menangis keluar dari ruangan sidang yang dianggap ruang panas bagi mahasiswa yang ujian tersebut. Namun inilah puncak akhir yang harus mereka tempuh untuk kelulusan.
Sebentar lagi giliran Dinar, cemas dan grogi muncul dari sikapnya yang gelisah, beberapa temannya bertanya.
"Giliran kamu Di"
"Iya bentar lagi" peluh berasa menetes di badannya tapi tak dirasakannya.
"Lot sembilan silakan masuk" suara Dosen dalam ruangan nampak memanggil nomor lotnya"
Dinar pun masuk dengan membaca Basmallah dan doa mohon kelancaran segala urusannya. Didalam ruangan telah terdapat lima dosen yang akan menyodorkan dirinya pertanyaan pertanyaan.
"Silakan bacakan Narasi judul anda sesuai tema dan permasalahan yang Anda angkat"
"Baik"Dinar yang sedikit gugup memberikan salam kepada kelima tim penguji yang duduk di depannya. Dengan dibantu alat peraga Dinar mempresentasikan karyanya dengan lancar sampai pada titik akhir penutup.
Setelah para dosen mendengarkan presentasi yang dijabarkan oleh Dinar para dosen mulai. memberi pertanyaan yang mengarahkan, menjebak atau sebuah kasus yang harus dipecahkan,dengan telaten dan pintar Dinar menjawab pertanyaan itu dengan tenang.
Dua setengah Jam waktu berlalu tak terasa Dinar berada diruang sidang, akhirnya Dinar keluar dengan nafas lega, apapun hasil nya menunggu setelah semua peserta ujian selesai yang bahkan akan mencapai waktu sampai malam.