NovelToon NovelToon
Cinta Salah Alamat

Cinta Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cintapertama / Lari Saat Hamil
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: Yourfaa

Tak hanya manusia yang bisa tersesat saat mencari alamat, tapi perasaan pun bisa tersesat hingga salah mengenali sosok yang dicintainya.

"Semoga tidak ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padamu.”

Kalimat tak berperasaan dari mulut Hanan tak pernah gagal membuat hati Amelia patah.

***

"Pergilah. Aku tidak ingin ada laki-laki sial yang terjebak perasaannya padaku." Amelia mengucapkannya dengan penuh ketenangan.

Hanan berlutut sembari menggenggam tangan Amelia yang memucat. Perasaan bersalah menyerbunya bertubi-tubi saat mengetahui apa yang dia lakukan di masa lalu adalah kesalahan terbesar yang tak pantas untuk dimaafkan. Namun, dengan tak tahu malunya dia masih mendatangi Amelia dan berharap bisa memperbaiki kaca yang telah hancur berkeping-keping.

Amelia tersenyum prihatin dengan tangan kanan mengelus kepala Hanan dan tangan lainnya mengelus perutnya yang membuncit.

"In another life, semoga Mas Hanan tidak salah mengenali cintamu yang sebenarnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CSA 2

“Jangan coba-coba membohongiku. Perasaan itu masih ada di matamu, meski orang lain tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi aku ... kita sudah kenal sejak bangku sekolah dasar. Mustahil kamu menyembunyikannya dariku.”

Kanaya memotong kalimat Amelia yang dia tahu bahwa gadis di sampingnya itu pasti akan mengelak lagi dari pertanyaannya barusan.

“Aku ... setidaknya sedang mencoba ....” Suara Amelia terdengar begitu pelan, nyaris tak terdengar oleh Kanaya yang memberinya tatapan intens.

Kanaya menarik napas pelan. Perasaan adalah sesuatu yang tak bisa dikendalikan oleh manusia dan dia tak bisa menyalahkan sahabatnya itu yang memendam rasa pada orang yang salah.

Amelia memang pernah menyimpan perasaan lebih untuk Hanan, jauh sebelum dia mengetahui jika kakaknya juga menyukai Hanan. Beruntungnya Rosa karena cinta itu berbalas, sementara dia harus puas menatap cinta keduanya yang mungkin tak akan pernah dia jumpai pada pasangan mana pun, bahkan pada dirinya di masa depan.

Kanaya tahu ini sejak awal. Itulah kenapa emosinya selalu tersulut tiap kali Hanan memperlakukan Amelia dengan buruk.

Mengapa sahabatnya harus ditakdirkan menanggung kebencian dari cinta pertamanya?

“Kenapa kamu tidak bisa membencinya sama seperti dia membencimu?”

“Aku tidak memiliki alasan untuk melakukan itu.”

Konyol.

Itu benar-benar alasan paling konyol yang pernah Kanaya dengar hingga dia nyaris tertawa.

Menertawakan kebodohan sahabatnya itu.

“Alasan? Kamu masih butuh alasan dengan semua sikap buruknya itu? Dengar, Mel. Dia sudah menjadi suami kakakmu dan bahkan membencimu sejak dulu. Lupakan dia. Dia tidak pantas mendapatkan cinta tulusmu itu.” Kanaya mengguncang keras tubuh Amelia hingga dia merasa sedikit pusing.

“Itu tidak cukup, Nay. Jika terus seperti ini, aku bahkan juga akan membenci diriku sendiri.”

Amelia meremas kepalanya pelan. Dia sendiri merasa frustasi karena ketidakberdayaan rasanya. Dia merutuk di banyak waktu tentang mengapa perasaan tercipta dengan struktur yang begitu rapuh, tapi sukar dikendalikan.

Mudah mencintai, tapi sulit mengakhirinya.

“Stop! Ini tidak akan berhasil.” Kanaya mendesah frustasi. Dia sadar bahwa Amelia tak bisa dipaksa. Satu-satunya yang bisa dia lakukan saat ini adalah terus menemaninya.

“Itu yang ingin kukatakan.” Amelia mendongak sejenak untuk menetralkan perasaannya.

Amelia terlahir di keluarga yang berkecukupan, dia anak bungsu dan Rosa adalah anak sulung.

Sejak kecil, Rosa sudah didiagnosis mengidap kanker hati. Tubuhnya yang lemah membuat orang tua Amelia hanya memusatkan perhatian mereka pada sang anak pertama. Terus menghujaninya dengan kasih sayang—mengabaikan keberadaan anak bungsu mereka yang hanya bisa menatap keluarga tiga orang itu dari kejauhan.

Dia mungkin berada di rumah yang sama, bernaung di tempat yang sama, tapi dirinya seolah terisolasi dan kakinya begitu canggung untuk melangkah.

Faktanya, kehadiran Amelia memang di luar prediksi.

Kedua orang tua Amelia sama sekali tak mengharapkan anak lagi setelah kehadiran Rosa, apalagi saat mengetahui anak pertama mereka mengidap penyakit serius. Mereka ingin fokus pada kesembuhannya, tapi kehadiran Amelia membalik keadaan.

Pada akhirnya Amelia tumbuh dengan perawatan seadanya, bahkan nyaris tak ada kasih sayang di dalamnya.

Perintah untuk mengalah untuk Rosa paling sering dia dengar dari orang tuanya.

“Amelia mengalah dulu. Mbak Rosa, ‘kan, sakit. Kamu lain kali saja.”

Mengalah dulu.

Lain kali saja.

Ini adalah kalimat yang paling sering diberikan pada Amelia sejak dia bisa mengingat masa kecilnya. Kalimat yang selalu berhasil mematahkan antusiasme dan lentera kecil di dalam hatinya. Entah itu dalam hal mainan, kesempatan bersama orang tuanya, atau bahkan tentang makanan. Semuanya harus diberikan pada Rosa lebih dulu. Amelia akan mendapat sisanya atau tidak sama sekali.

Kanaya mungkin satu-satunya yang paling tahu seberapa banyak hal yang dipendam oleh sahabatnya itu.

“Mel, jangan terus terpaku pada kesenangan orang lain. Kamu juga perlu menyenangkan dirimu sendiri. Mengejar keinginan orang lain tidak akan ada habisnya.”

Kanaya sangat ingin melihat sahabatnya itu memikirkan dirinya sendiri dan mengabaikan orang di sekitarnya yang bahkan sama sekali tak memberi perhatian untuknya.

“Tidak apa-apa, Nay. Kamu tidak perlu khawatir.”

Amelia memasang senyum manis yang terasa palsu bagi Kanaya.

“Aku hanya takut kamu tiba-tiba membunuh dirimu sendiri. Bukan secara fisik, tapi batin.”

Kanaya berkedip beberapa kali dan mengalihkan pandangannya.

Beberapa saat kemudian telepon Amelia berdering. Jantung gadis itu berdegup kencang melihat nama sang pemanggil.

Ibuu.

“Halo, Bu?”

“Kamu di mana, Mel? Kakakmu kritis, tapi kamu malah asyik dengan duniamu sendiri. Ayo cepat ke rumah sakit!”

Jantung Amelia mencelos mendengar kabar tak mengenakkan yang disampaikan oleh ibunya. Dia dengan panik turun dari ranjang milik Kanaya.

Sang pemilik kamar justru mengerutkan kening tak senang dengan kalimat ibu sahabatnya yang seolah-olah Amelia sama sekali tak memiliki kepedulian untuk kakaknya. Sedangkan dia tahu bahwa Hanan tak menyukai kehadiran Amelia, jadi pria itu sering mengusirnya, berakhir Amelia yang datang ke rumah Kanaya.

“Ayo, biar aku yang mengantarmu.”

Amelia tak menolak bantuan Kanaya. Saat ini dia hanya ingin segera sampai ke rumah sakit dan memastikan keadaan kakaknya baik-baik saja.

Kanaya memahami urgensi sahabatnya dan membawa mobilnya melaju di atas kecepatan normal. Biasanya Amelia akan protes dengan gaya berkendara Kanaya yang ugal-ugalan, tapi saat ini gadis itu justru sangat berterima kasih.

Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di rumah sakit. Amelia disusul oleh Kanaya masuk ke rumah sakit dengan terburu-buru. Begitu sampai di depan ruangan Rosa, Amelia bisa melihat Hanan yang mengenakan pakaian steril keluar dari sana dengan mata sembab. Di sana juga berdiri kedua orang tuanya yang tampak abai, meski telah menyadari kedatangan sang anak bungsu.

Pria itu melirik tak senang dengan kehadiran Amelia, tapi ketegangan itu tak berlangsung lama karena sang dokter langsung bersuara.

“Pasien ingin bertemu dengan saudari Amelia.”

Mendengar perkataan sang dokter, Amelia maju dengan tergesa. “Saya Amelia, Dok. Bagaimana kondisi kakak saya?”

“Pasien tengah kritis saat ini, tapi dia ingin bertemu dengan Anda.”

Amelia tak membuang waktu, dia mengenakan baju steril dan berusaha mengabaikan tatapan tajam Hanan yang tak lepas darinya.

“Jangan macam-macam. Aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada istriku.”

Kali ini Amelia mengabaikan Hanan sepenuhnya, meski hatinya terasa perih dengan setiap tuduhan pria itu.

Begitu sampai di samping brankar Rosa, Amelia bisa melihat semakin banyak selang yang terpasang di tubuh kakaknya itu. Dia menggenggam tangan kurusnya perlahan—terlalu takut jika gerakan kasar sedikit saja akan mengganggu Rosa.

Rosa yang tak benar-benar tertidur membuka matanya perlahan. Senyum tipis terukir di bibir pucatnya membuat Amelia semakin merasa perih melihat keadaan tak berdaya wanita itu.

“Mel, maaf. Selama ini Mbak sudah menjadi kakak yang buruk untukmu. Maaf Mbak selalu menyulitkanmu. Mbak—“

Rosa terbatuk pelan membuat Amelia panik.

“Cukup. Mbak tidak perlu memikirkan apa pun. Amelia baik-baik saja dan Mbak juga harus sembuh. Jangan meminta maaf.” Amelia mengelus pelan tangan kakaknya itu.

Mata Rosa berkaca-kaca oleh setiap kalimat Amelia yang tampak tulus. Dia tak kuasa menahan perasaan sesak di dadanya.

“Mel, selama ini kamu selalu mengalah, Mbak merasa jahat karena menikmati perasaan dimanja oleh Ibu dan Ayah, sementara kamu hanya bisa mengintip di balik pintu kamar. Mbak benar-benar minta maaf.”

Amelia yang awalnya masih bisa berusaha tegar terdiam dengan keterusterangan kakaknya. Matanya menyorot sendu pada sang kakak dengan rasa pilu yang tak bisa ditutupi. Rentetan kalimat Rosa seolah membuka luka dan fakta bahwa apa yang didapat antara kedua bersaudara itu bagai bumi dan langit.

Amelia tak ingin mempermasalahkan hal ini, tapi dia masihlah manusia biasa yang memiliki perasaan. Setiap hari dia selalu menatap penuh iri pada Rosa, tapi dia terlalu malu untuk menuntut banyak hal pada orang tuanya.

Gadis itu menghela napas berat dan menarik senyum tipis di ujung bibirnya.

“Tidak perlu khawatir. Apa yang Mbak dapat sekarang memang sudah ditakdirkan. Jangan banyak pikiran dulu. Kami semua ingin yang terbaik untuk kesembuhan Mbak. Sekarang waktunya istirahat.” Amelia memberi tatapan teduh.

“Kamu mau, ‘kan, menikah dengan Mas Hanan?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!