Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Matahari pagi bersinar cerah, seolah merayakan kemenangan kecil yang baru saja mereka raih semalam. Di rumah kontrakan kecil itu, suasana berbeda dari biasanya. Di meja kayu sederhana itu, kotak kayu berisi dokumen berharga itu kini terbuka lebar, isinya tersusun rapi di atas meja. Di sana ada Arjuna, Kirana, dan Pak Hendra.
Pria tua itu datang pagi-pagi sekali setelah mendapat pesan singkat dari Arjuna. Begitu melihat dokumen-dokumen itu, membaca tulisan tangan mendiang Arya Wijaya, dan melihat bukti persekongkolan Ratna ... Pak Hendra meneteskan air mata. Air mata lega dan kemarahan yang tertahan selama 18 tahun.
"Akhirnya ... akhirnya rahasia ini terungkap juga," gumam Pak Hendra parau, tangannya gemetar menyentuh foto lama yang menunjukkan Ratna bersama musuh bebuyutan perusahaan dulu. "Saya tahu dari awal ada yang salah. Tapi saya cuma karyawan, saya tidak punya bukti, dan Ratna terlalu kuat cengkeramannya. Dia menguasai Tuan Besar Haryo sepenuhnya, memutarbalikkan fakta, dan membuang siapa saja yang curiga dengan kejam! Kalian berdua sangat berani, dan kebenaran akan menang!"
Arjuna menepuk bahu Pak Hendra pelan. "Bukan kami, Pak. Tapi kebenaran yang akhirnya menemukan jalannya sendiri." sahut Arjuna.
"Pak ... tapi kami butuh bantuan Bapak. Kami butuh kekuatan dan dukungan dari orang-orang yang bisa di percaya untuk melawan Ratna dan orang-orangnya."
Pak Hendra mengusap sudut matanya yang basah karena haru, lalu menegakkan badannya tegak lurus, sorot matanya berubah tajam dan berapi-api kembali.
"Jangan khawatir, Tuan Muda, Nona Kirana. Selama ini saya diam, sambil mengumpulkan nama-nama mantan karyawan setia yang tahu kebaikan mendiang Tuan Arya. Ada pengusaha-pengusaha lama yang dulu bermitra dan merugi karena ulah Ratna. Ada ahli hukum yang jujur dan tidak terima suap. Dan yang paling penting ... ada para pekerja di pabrik dan kantor yang hatinya masih bersih. Mereka semua hanya butuh pemimpin, dan mereka semua hanya butuh bukti."
Pak Hendra menatap mereka berdua dengan tekad baja.
"Biarkan saya yang bergerak. Saya akan hubungi mereka satu per satu. Dalam waktu 24 jam, kita akan punya pasukan. Bukan pasukan senjata, tapi pasukan kebenaran. Dan kita akan berhadapan secara terbuka. Kita akan mengundang seluruh media, seluruh wartawan, dan seluruh masyarakat. Kita akan adakan konferensi pers besar-besaran. Di depan semua orang ... kita akan bongkar siapa Ratna sebenarnya, siapa ayah Kirana sebenarnya, dan siapa penjahat yang sebenarnya."
Kirana menggenggam tangan Pak Hendra dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Pak. Terima kasih sudah setia selama ini."
"Saya yang harusnya berterima kasih, Nona. Terima kasih sudah bertahan dan kembali."
_____________________________________
24 jam berikutnya berlalu dengan kesibukan luar biasa. Berita menyebar seperti api kering lewat mulut ke mulut, pesan singkat, dan kontak-kontak lama. Berita bahwa putri satu-satunya keluarga Wijaya masih hidup. Berita bahwa dia memegang bukti pembalikan sejarah.
Hari yang ditunggu pun tiba.
Di sebuah gedung pertemuan besar milik rekan lama ayah Kirana, yang dengan senang hati meminjamkan tempat secara cuma-cuma, ribuan orang berkumpul. Ada wartawan dari berbagai media besar, ada mantan karyawan Grup Adhitama, ada pengusaha, ada masyarakat umum, dan juga ... beberapa orang penting yang diam-diam ingin melihat kebenaran.
Di sisi lain kota, di rumah besar keluarga Adhitama, suasana berubah menjadi neraka. Ratna mendengar berita itu dengan wajah pucat pasi, marah meluap-luap tapi tak berdaya. Haryo Adhitama, duduk diam di kursi besarnya, wajahnya kusut, penuh keraguan yang mulai tumbuh subur mendengar berita-berita itu.
"Mereka berani ... mereka berani sekali!" geram Ratna, berjalan mondar-mandir gelisah. "Haryo! Kau harus hentikan mereka! Kau harus cegah mereka memfitnahku! Jika tidak nama keluarga Adhitama akan hancur! Bahkan lenyap seperti keluarga Wijaya!"
Haryo hanya menatap kosong ke depan. "Mereka punya bukti, Ratna. Bukti dari tangan Arya sendiri. Kau bilang Arya pengkhianat ... tapi kenapa aku mulai merasa ... akulah yang selama ini salah menilai?"
Ratna terdiam, ketakutan melihat keraguan di mata suaminya. Keraguan adalah awal dari kehancuran rencananya.
____________________________________________
Kembali ke gedung pertemuan. Ruangan itu penuh sesak, panas, dan penuh ketegangan. Semua mata tertuju ke panggung kecil di depan.
Pintu terbuka.
Arjuna melangkah masuk lebih dulu. Dia tidak lagi memakai jas mahal dan dasi rapi. Dia memakai kemeja sederhana. Wajahnya tegas, matanya tajam, dan langkahnya gagah berani. Di sampingnya, berjalan Kirana.
Gadis itu ... dia tidak berdandan mewah, ia hanya mengenakan kemeja biru, celana panjang, rambut di ikat ekor kuda. Tapi pesonanya, wibawanya, dan keberaniannya membuat semua orang tertegun. Di tangannya, dia membawa kotak kayu kecil itu, digenggam erat seolah itu adalah nyawanya sendiri.
Mereka berjalan ke tengah panggung, berdiri di belakang meja panjang yang penuh dengan dokumen-dokumen dan bukti-bukti. Tidak ada pengawalan, tidak ada kemegahan. Hanya mereka berdua, Pak Hendra di samping, dan kebenaran di depan mata.
Suasana hening seketika. Ribuan pasang mata menatap mereka. Ratusan kamera berkedip tak henti, merekam momen bersejarah ini untuk disebarkan ke seluruh penjuru negeri.
Arjuna maju selangkah ke depan, mendekati mikrofon. Suaranya berat, jelas, dan bergema memenuhi seluruh ruangan.
"Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah datang. Hari ini saya berdiri di sini bukan sebagai pewaris Grup Adhitama. Bukan sebagai Tuan Muda kaya raya. Hari ini saya berdiri di sini sebagai anak muda yang mencari kebenaran. Dan saya berdiri di sini bersama wanita yang menjadi saksi hidup dari kebohongan besar yang menelan korban puluhan tahun lalu."
Arjuna menoleh, memberi isyarat pada Kirana.
Kirana maju perlahan. Jantungnya berdegup kencang, rasa gugup sempat menghampiri, tapi saat dia melihat Arjuna tersenyum memberi kekuatan, dan melihat Pak Hendra mengangguk mantap ... rasa takut itu hilang seketika. Dia menatap ratusan orang di depannya dengan mata jernih dan berani.
"Perkenalkan ... nama saya Kirana Anindita Wijaya."
Satu kalimat itu langsung membuat ruangan berbisik heboh. Nama itu ... nama yang dulunya harum, lalu dicap aib, kini disebutkan lantang dan bangga oleh pemilik aslinya.
"Saya adalah putri dari Arya Wijaya. Pria yang dituduh pengkhianat, pencuri, dan penghianat 18 tahun lalu. Pria yang dikatakan menghancurkan mitranya sendiri, keluarga Adhitama. Pria yang dikatakan musnah bersama seluruh keluarganya."
Kirana membuka kotak kayu itu, mengeluarkan buku harian dan surat-surat berharga itu, mengangkatnya tinggi-tinggi agar terlihat semua orang.
"Tapi hari ini ... saya berdiri di sini untuk mengatakan satu hal: Ayah saya tidak bersalah."
Suara Kirana meninggi, penuh emosi, penuh kemarahan, dan penuh kepedihan.
"Ayah saya bukan pengkhianat. Dia adalah korban. Korban dari ambisi seseorang yang haus kekuasaan. Korban dari kebohongan yang dibangun secara sistematis untuk merebut kekayaan, kekuasaan, dan nama baik. Orang itu ... adalah Ratna, istri kedua Bapak Haryo Adhitama."
Kirana mulai menceritakan semuanya. Mulai dari kedatangan Ratna di lingkaran keluarga Adhitama.
Setiap kata yang diucapkannya disertai bukti. Dia menurunkan bukti surat, foto, catatan tangan, dan kontrak-kontrak palsu yang sudah dibuktikan keaslian pemalsuannya oleh para ahli hukum yang ada di sana.
Setiap bukti ditunjukkan, suara keheranan dan kemarahan bergema. Orang-orang mulai menyadari betapa besar kebohongan yang telah mereka telan selama ini.
Dan puncaknya ... Kirana membacakan bagian terakhir dari buku harian ayahnya, bagian yang ditulis tepat sebelum kecelakaan maut itu terjadi. Suaranya bergetar, air mata menetes di pipinya, tapi dia tetap membacakannya dengan lantang.
Bersambung ...
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️