NovelToon NovelToon
Destiny

Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong
Popularitas:453
Nilai: 5
Nama Author: Typ

Niat hati ingin mengabulkan permintaan adiknya yang sedang sakit, Larasati malah terjebak dengan berondong yang banyak digilai kaum perempuan. Gadis yang biasa dipanggil Laras itu dengan keras menolak kehadiran Aditya, tapi bukan Aditya namanya jika menyerah begitu saja. Bagaimana keseruan kisah mereka? langsung baca aja guyss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Janji

Dua hari berlalu, tidak ada yang spesial dari kehidupan Laras. Hubungannya dengan Aditya masih sama. Hatinya masih terlalu sulit menerima kehadiran suaminya itu, bahkan dalam hati bertekad tidak akan merubah apapun. Yang ada hanya dendam kecil. Laras menyalakan Aditya untuk semua yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini.

Dari awal yang ada hanya penolakan, harusnya Aditya sadar dan bisa menerima dengan lapang dada. Tapi cowok itu tetap memaksakan kehendaknya, jadilah sekarang Laras akan melakukan apapun untuk menutup celah. Laras bertekad akan membuat Aditya menyesal dengan tidak menerima cowok itu di hidupnya.

Mungkin terdengar kejam, tapi itulah Laras. Baginya kesendirian itu masih yang paling utama. Apalagi umurnya masih muda. Harusnya Laras masih bisa menikmati hidup lebih lama lagi sebagai seorang jomblo. Tapi karena Aditya, semuanya jadi kacau.

Beberapa kali Aditya mencoba memaksa, menempel seperti perangko. Tapi respon Laras selalu dingin. Aditya tidak menyerah, bahkan setelah menikah ini rencana berubah. Kali ini cowok itu berencana untuk melakukan pendekatan dengan perlahan. Mengingat sudah tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan karena keduanya sudah sah, tidak ada orang ketiga, jadi Aditya akan menikmati setiap moment yang dirinya ciptakan. Menikmati setiap penolakan Laras, menganggapnya sebagai karma manis karena telah merenggut kebebasan seorang gadis introvert.

Di depan televisi, di sebuah sofa panjang berwarna abu-abu dengan balutan kain katun yang lembut dan empuk, Aditya duduk berjauhan dengan Laras. Sebenarnya bukan keduanya, Aditya sudah duduk di tengah, tapi Laras dengan kesadaran penuh mengambil tempat di pinggir, bersandar dengan sepiring nasi goreng yang dibeli secara online. Sedangkan Aditya fokus dengan bakmie kesukaannya.

Beberapa menit, hanya ada suara televisi yang menghidupkan suasana. Laras enggan berbicara karena memang tidak ada yang ingin dibicarakan. Sedangkan Aditya masih fokus dengan makanannya.

Semenjak menikah, Aditya tidak lagi disibukkan dengan kegiatan menyanyi. Cowok itu meminta Tommy untuk meng-cancel semua kegiatannya dan membayar pinalti. Tommy juga mulai fokus dengan kegiatan dikantor milik Aditama, sebagai asisten manager keuangan. Ayah satu anak itu sudah memiliki firasat akan karir Aditya di dunia musik, dan memutuskan untuk kembali ke perusahaan milik Aditama setelah sekian lama vacum. Sangat mudah untuk Tommy kembali ke sana, sebab dari awal dirinya merupakan karyawan Aditama sekaligus teman dekat Aditya. Yang menyeret Tommy menjadi asisten Aditya juga Aditya sendiri, tentu saja dengan merengek kepada ayahnya.

Suara ponsel milik Aditya berdering, menarik perhatian Laras, tapi gadis itu hanya melirik sesaat karena tidak ingin tatapannya bertabrakan dengan tatapan Aditya.

"Papih," ucap Aditya, memberi tahu walaupun Laras tidak bertanya.

Setelah mendial tombol berwarna hijau, Aditya langsung bertanya langsung tanpa basa basi.

-kenapa?-

-Papa sudah daftarkan kamu ke Harvard business school, Papa harap kamu ingat janjimu- Dari sebrang telepon, suara Aditama sangat tenang namun tidak dapat dibantah. Auranya kuat walau terbentang jarak.

-Terlaku cepat pah-

-Semakin cepat semakin bagus! Ingat, kamu sekarang memiliki istri yang harus dinafkahi- Tepat sasaran, Aditya baru sadar akan hal itu. Benar yang dikatakan Aditama, dirinya tidak bisa terus-terusan menganggur atau hidupnya dan Laras akan seperti gelandangan.

-Tapi bagaimana dengan Laras?-

-Kamu bisa membawanya, tapi lebih baik jika kamu fokus dengan sekolahmu dulu. Biar Laras menjadi urusanku dan Mami-

Saran dari Aditama terdengar bagus, tapi disisi lain akan memperburuk hubungannya dengan Laras jika mereka berpisah. Tapi Aditya juga tidak yakin Laras mau pindah keluar negeri bersamanya.

-Ingat janjimu, Aditya!- sambung Aditama.

Panggilan terputus. Aditya menghela napas, tidak lagi berselera menghabiskan bakmie kesukaannya. Tatapan cowok itu terus tertuju pada ponsel yang tidak bersalah.

Kini, Aditya sedikit menyesal karena pernah berjanji seperti itu pada ayahnya. Pundaknya melemah seakan ada beban berat di sana. Aditya tidak yakin bisa membawa Laras, Gadis itu masih terlalu sulit digapai walau sudah berhasil dimiliki.

"Laras... "

Hening, Laras menoleh namun tidak berkata apapun. Gadis itu hanya terus menatap Aditya, menantikan kalimat selanjutnya. Tapi tak kunjung dilanjutkan.

Tatapan Laras membuat Aditya bertambah sulit mengutarakan keinginannya. Bagiamana cara merangkai kata yang benar, kali ini cowok itu benar-benar payah.

"Apa? Cepet ngomong." Laras akhirnya bertanya, gadis itu kepalang penasaran karena namanya ikut disebut-sebut.

"Aku harus melanjutkan pendidikan di luar negeri, ayo temani aku." Aditya berhenti sejenak untuk melihat respon Laras, tapi gadisnya hanya diam. "Kamu juga bisa melanjutkan pendidikanmu kalau mau. Kita tumbuh bersama."

Entah darimana kalimat indah itu keluar, sebagai gadis normal harusnya Laras terharu. Tapi karena kalimat itu keluar dari seseorang yang tidak disukai, rencana baru malah terbentuk oleh Laras. Kesempatan bagus agar keduanya tidak saling bersama.

Laras menggeleng pelan. "Kejar mimpimu sendiri, aku tidak mau menjadi bagian dari tumbuh kembangmu."

Laras pikir dengan mereka saling berjauhan, Aditya akan melupakannya. Lagipula pernikahan keduanya tidak akan lama. Cukup butuh waktu 2 bulan untuk semuanya tahu jika Laras tidak hamil dan pernikahan akan selesai. Laras memantapkan diri bahwa keputusannya sudah tepat. Aditya tidak akan bisa mengaturnya lagi dan melakukan hal-hal konyol untuk mengikatnya. Jika berpisah, Aditya pasti akan melupakannya, lagipula di luar banyak bule-bule super yang lebih baik darinya. Aditya, dia masih di masa peralihan, jatuh cinta sangat mudah apalagi melupakan cintanya. Laras yakin 100% Aditya akan cepat menemukan penggantinya. Dan jika saat itu tiba, dirinya akan kembali menjadi gadis yang bebas.

Aditya menekan dadanya. "Sakit banget hati ini," ucapnya mendayu-dayu."

Dan sebelum Aditya berceloteh, Laras kembali menyela. "Kita akan berpisah sebentar lagi, ingat itu Aditya. Jadi sebaiknya kita tidak perlu terus bersama."

Aditya mendengus, "Aku tidak mau kita berpisah, sampai kapanpun."

"Jangan lupakan kesepakatan kita!"

"Oh itu, kesepakatan itu tidak berlaku. Tidak ada materai dan tandatangan." Aditya tersenyum penuh kemenangan.

"Tapi kau sudah berjanji."

"Jangan percaya apapun yang tidak bisa di pegang, Laras."

Benci sekali Laras mendengar kalimat itu. "Kita akan tetap bercerai." Kalimat terakhir Laras yang terucap penuh kebencian, gadis itu pergi ke kamar karena sudah muak dengan obrolan keduanya yang merusak mood.

"Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah melepasmu," Aditya memandang kepergian Laras. Cowok itu berjanji pada dirinya sendiri. Walau jarak akan tercipta, komunikasi sulit, Aditya tidak akan membiarkan hubungannya terputus begitu saja.

"Ini tidak akan lama, Aditya, semangat!" Aditya menyemangati dirinya sendiri. Mau tidak mau cowok itu harus memenuhi janji pada sang Ayah atau ayahnya itu akan melakukan hal-hal diluar nalar yang tentu saja akan membuatnya rugi.

1
TSQ
Up nya 3 bab perhari kak
typ: hamba tidak sanggup ya mulia 😭
Terlalu berat untuk manusia pemalas seperti hamba.
total 1 replies
TSQ
Up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!