"Tanda tangani ini dan pergi! Kau hanya alat untuk menghancurkan ayahmu," ucap Elkan dingin.
Lima tahun lalu, Siska diusir dalam keadaan mengandung. Kini, ia kembali bukan sebagai istri yang lemah, melainkan sebagai pesaing bisnis yang siap menghancurkan kerajaan Elkan.
Namun, saat Siska mulai menyerang, ia menemukan rahasia kelam: Elkan sengaja menjadi iblis agar Siska tetap hidup. Di antara dendam dan cinta yang belum padam, siapakah musuh yang sebenarnya?
"Aku kembali untuk menghancurkanmu, Elkan. Bukan untuk jatuh ke pelukanmu lagi!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU DARI SINGAPURA
Suara ketukan sepatu kulit Adrian Lim bergema dingin di atas lantai marmer ruang tamu kediaman Pratama. Pria berdarah campuran Singapura-Tionghoa itu berdiri dengan postur tubuh yang tegak sempurna. Kemeja putihnya yang terlapisi jas abu-abu buatan penjahit ternama London memancarkan aura kemewahan yang tenang, namun sarat akan dominasi bisnis.
Ia memegang seikat bunga lili putih yang segar, menebarkan aroma wangi yang seketika mendominasi ruangan yang biasanya berbau antiseptik tipis tersebut.
"Lama tidak berjumpa, Jessica," sapa Adrian dengan bahasa Inggris beraksen Singapura yang sangat halus. Senyum tipis terpatri di bibirnya saat ia melihat Jessica menuruni anak tangga dengan gaun kasual hitam yang anggun.
Jessica menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Matanya menatap Adrian tanpa ada binar keramahan. "Adrian. Aku tidak mengingat pernah mengundangmu ke rumah ini, apalagi hari ini."
Adrian terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat terlatih di lingkungan kalangan atas. Ia berjalan mendekat dan mengulurkan buket bunga lili tersebut. "Anggap saja ini kejutan. Paman Edward khawatir kau terlalu sibuk dengan urusan akuisisi di Jakarta hingga lupa jalan pulang ke Singapura. Jadi, beliau memintaku terbang lebih awal untuk membantumu... sekaligus menjemput calon tunanganku."
Kata 'calon tunangan' yang diucapkan Adrian dengan nada santai namun tegas itu membuat Paman Hendra yang berdiri di pojok ruangan mengetatkan rahangnya.
Jessica tidak menerima buket bunga itu. Ia membiarkan Adrian memegangnya di udara sebelum pria itu akhirnya tersenyum maklum dan meletakkannya di atas meja kaca.
"Aku sedang menyelesaikan banyak hal di sini, Adrian. Dan kupikir Ayah sudah memberiku waktu dua minggu," ujar Jessica dingin, melipat tangannya di dada.
"Dua minggu adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah ketidakpastian, Jessica," Adrian memajukan langkahnya, menatap Jessica dengan pandangan menilai yang tajam. "Paman Edward tahu kau tinggal satu atap dengan mantan suamimu yang sekarat itu. Dewan direksi Wijaya Capital mulai mempertanyakan profesionalitasmu. Kau tahu betul bagaimana bisnis keluarga kami bekerja, bukan? Kami tidak berinvestasi pada wanita yang emosinya masih tertinggal di masa lalu."
"Urusan pribadiku tidak ada hubungannya dengan profesionalitasku di Wijaya Capital," desis Jessica, matanya berkilat tajam membalas tatapan Adrian.
"Benarkah?" Adrian tersenyum sinis, menaikkan satu alisnya. "Lalu kenapa kau membawa anak itu ke rumah pria yang pernah menghancurkan hidupmu? Mengapa kau membiarkan dirimu terjebak dalam drama domestik yang menyedihkan ini?"
"Karena pria itu adalah ayah kandungku!"
Sebuah suara kecil yang bernada marah mendadak memotong perdebatan mereka. Arlan muncul dari balik pintu lorong samping, memegang sebuah mobil-mobilan plastik. Bocah itu berdiri di depan Jessica dengan memasang wajah galak, menunjuk Adrian dengan telunjuk kecilnya.
"Paman Siapa?! Jangan bentak-bentak Mama! Pergi dari rumah Arlan!" teriak Arlan dengan keberanian yang menurun langsung dari Elkan.
Adrian agak tertegun melihat bocah itu. Senyum angkuhnya memudar sejenak, digantikan oleh tatapan dingin yang dipenuhi penghinaan implisit saat mengamati wajah Arlan yang sangat mirip dengan Elkan Pratama.
"Ah, jadi ini anak itu?" Adrian berlutut satu kaki, menyetarakan tingginya dengan Arlan. Ia mengulurkan tangannya hendak mengusap kepala Arlan. "Halo, Arlan. Namaku Adrian. Nanti kau harus memanggilku—"
TAK!
Arlan menepis tangan Adrian dengan mobil-mobilan plastiknya hingga menimbulkan suara ketukan yang lumayan keras. "Jangan sentuh Arlan! Paman Jelek!"
Wajah Adrian seketika berubah tegang. Urat halus di pelipisnya menegang menahan malu akibat perlakuan seorang bocah empat tahun. Ia bangkit berdiri, merapikan lengan jasnya yang tidak kusut sama sekali.
"Didikan yang sangat menarik, Jessica," sindir Adrian dengan suara yang merendah, menahan rasa tersinggungnya. "Sepertinya anak ini memang sangat membutuhkan figur ayah yang berpendidikan dan beradab, bukan pria yang hanya bisa mengajarinya menjadi kasar."
"Tarik ucapanmu, Adrian."
Suara bariton yang dalam, dingin, dan sarat akan ancaman berbahaya tiba-tiba bergaung dari arah tangga.
Semua orang di ruang tamu menoleh. Elkan berdiri di sana, bertumpu sepenuhnya pada tongkat kayu ukir milik almarhum ayahnya. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang dikancingkan rapi hingga kerah atas. Meskipun wajahnya pucat pasi dan lingkaran hitam melingkari matanya yang cekung, aura kepemimpinan dari seorang mantan Direktur Utama Pratama Group terpancar sangat kuat dari tubuhnya.
Setiap langkah yang diambil Elkan menuruni tangga terdengar lambat, berat, namun penuh dengan ketegasan yang mutlak. Ia melangkah melewati Jessica dan Arlan, berdiri tepat di depan Adrian, memotong jarak antara Adrian dan keluarga kecilnya.
"Siapa yang kau sebut tidak beradab, Tuan Lim?" tanya Elkan, menatap Adrian lurus-lurus dari tingginya yang setara.
Adrian menatap Elkan dari atas ke bawah, menyadari betapa lemahnya fisik pria di depannya ini. Sebuah senyuman meremehkan kembali terbit di wajah Adrian. "Tuan Elkan Pratama, saya presume? Saya terkejut Anda masih memiliki tenaga untuk berdiri. Saya kira Anda sedang terbaring menunggu infus di atas ranjang."
"Kondisi fisikku mungkin tidak sempurna saat ini, Tuan Lim," jawab Elkan dengan nada tenang yang mematikan, tidak terpengaruh oleh sindiran Adrian. "Tapi selama aku masih bernapas, rumah ini adalah wilayahku. Dan anak yang kau sentuh tadi adalah darah dagingku. Jika kau berani merendahkannya lagi di bawah atapku, aku pastikan kau tidak akan bisa berjalan keluar dari gerbang ini dengan utuh."
Atmosfer di ruang tamu mendadak berubah menjadi sangat tegang. Dua pria dari latar belakang konglomerat yang berbeda itu saling mengunci pandangan—Elkan dengan amarah dingin seorang ayah yang terluka, dan Adrian dengan keangkuhan seorang calon penguasa baru dari Singapura.
"Gertakan yang cukup bagus untuk seorang pria yang menggantungkan hidupnya pada obat-obatan," Adrian terkekeh pelan, melangkah mendekat hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Ia berbisik dengan nada yang sangat rendah namun cukup jelas untuk didengar Elkan. "Tapi mari kita realistis, Tuan Pratama. Berapa bulan lagi Anda bisa bertahan hidup? Tiga bulan? Enam bulan? Setelah Anda mati, Jessica dan Arlan akan menjadi milikku. Seluruh aset perusahaanmu akan berpindah ke tangan Wijaya Capital. Anda hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi sejarah."
Kepalan tangan Elkan pada gagang tongkat kayunya memutih. Pembuluh darah di lehernya menegang hebat. Jantung di balik dadanya berdenyut sangat kencang, memancarkan rasa sakit yang menusuk, namun Elkan menahan rasa sakit itu dengan seluruh harga dirinya. Ia tidak boleh menunjukkan kelemahannya di depan musuh.
"Kau boleh memiliki semua uang di dunia ini, Adrian," Elkan berbisik balik dengan senyuman paling dingin yang pernah ia tunjukkan. "Tapi Siska tidak pernah mencintaimu. Dia melihatmu tak lebih dari sekadar transaksi bisnis yang membosankan. Dan ketika aku mati nanti... bayang-bayangku akan tetap berada di antara kalian berdua selamanya."
Adrian mengepalkan tangannya di dalam saku jas, wajah tampannya menyiratkan kekalahan telak dalam adu mental tersebut.
"Paman Hendra," panggil Jessica dengan suara yang memotong ketegangan mereka berdua. Ia melangkah maju, berdiri di samping Elkan dan menggandeng lengan suaminya yang gemetar. "Antarkan Tuan Adrian keluar. Rapat kita hari ini sudah selesai."
Adrian menatap Jessica dengan pandangan tidak percaya. "Jessica? Kau mengusirku demi pria ini?"
"Aku mengusirmu karena kau mengganggu ketenangan rumahku dan memprovokasi anakku," jawab Jessica tanpa ragu, tatapannya dingin tak tersentuh. "Katakan pada Ayah, aku sendiri yang akan terbang ke Singapura minggu depan untuk menjelaskan semuanya padanya. Sekarang, silakan pergi."
Adrian mengembuskan napas kasar, menatap Jessica dan Elkan secara bergantian dengan mata yang berkilat penuh dendam. Ia tahu jika ia memaksakan diri hari ini, ia hanya akan merusak citranya di depan publik Jakarta.
"Baiklah," Adrian merapikan jasnya dengan kasar. "Kita lihat seberapa bertahan lama keangkuhan kalian berdua ketika Paman Edward mencabut seluruh sahamnya dari perusahaan ini. Sampai jumpa di Singapura, Jessica."
Adrian berbalik dan berjalan cepat keluar dari rumah, meninggalkan buket bunga lili putih yang tergeletak sepi di atas meja.
Tepat saat pintu utama tertutup rapat, pertahanan fisik Elkan runtuh sepenuhnya. Tongkat kayu di tangannya terlepas, jatuh mengejutkan ke atas lantai marmer. Tubuh tegapnya langsung ambruk ke depan.
"Elkan!"
Jessica dengan sigap menangkap tubuh suaminya yang terkulai lemas, membawa pria itu ke dalam pelukannya saat mereka berdua terjatuh ke lantai. Wajah Elkan membiru, dan napasnya terdengar sangat pendek dan tersendak.
Pria itu telah menghabiskan seluruh sisa tenaganya demi mempertahankan harga dirinya di depan Adrian.