NovelToon NovelToon
ISTRI JAMINAN CEO

ISTRI JAMINAN CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Gendis Pitaloka

Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.

​Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.

​"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"

​Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatah Nyawa Baru

​BRAKK!

​Mobil Arkan menghantam samping mobil Janu sampai melintir ke arah pembatas jalan. Bunyi besi beradu keras sekali. Naya terlempar ke depan, dahinya kena dasbor sampai berdarah. Kepalanya langsung pening luar biasa.

​"Janu! Bangun!" Naya mengguncang bahu Janu yang pingsan di setir.

​Pintu mobil Naya dibuka paksa dari luar. Arkan berdiri di sana, matanya tajam menatap pemandangan di dalam mobil. Dia langsung merampas ponsel dari tangan Naya yang gemetar.

​"Jangan, Arkan! Itu bukti kejahatanmu!" teriak Naya lemas.

​Arkan tidak menjawab. Dia melempar ponsel itu ke aspal lalu diinjak sampai hancur total. Dia tarik Naya keluar dari mobil yang berasap itu tanpa belas kasihan.

​"Lepaskan! Kamu pembunuh! Polisi... aku harus ke kantor polisi!" Naya meronta, tapi tenaganya habis.

​"Kantor polisi tinggal dua blok lagi, Naya. Tapi buat kamu, itu tidak akan pernah sampai," ucap Arkan dingin. Dia angkat Naya ke bahunya, mengabaikan pukulan lemah Naya di punggungnya.

​"Janu! Kamu apain dia?"

​"Anak buahku yang urus. Sekarang diam!" Arkan melempar Naya ke kursi belakang mobilnya.

​Sampai di apartemen, Arkan menyeret Naya masuk ke kamar utama. Pintu dibanting. Naya jatuh di lantai, badannya gemetar semua karena syok dan benturan tadi.

​"Kenapa tidak bunuh aku saja tadi di jalan? Takut reputasimu hancur?" tantang Naya sambil mengusap darah di dahi yang mulai mengering.

​Arkan melepas jasnya, duduk di depan Naya. "Membunuh kamu itu terlalu gampang. Aku mau kamu tetap di sini, lihat bagaimana aku mengambil alih sisa aset yang kamu banggakan."

​"Kamu monster, Arkan. Aku mual setiap kali harus melihat mukamu."

​Tiba-tiba, perut Naya melilit hebat. Rasa mual yang parah muncul. Naya langsung lari ke kamar mandi. Suara muntahannya terdengar keras sampai ke luar. Arkan menyusul, berdiri di pintu kamar mandi melihat Naya yang lemas.

​"Gara-gara benturan tadi?" tanya Arkan datar.

​"Gara-gara jijik sama kamu," sahut Naya setelah mencuci mukanya dengan air dingin.

​"Muka kamu pucat sekali. Besok pagi dokter datang periksa. Jangan coba-coba akting sakit agar bisa kabur lagi."

***

​Dokter Heru datang. Sofia juga ikut masuk ke kamar, mukanya sombong sekali, berdiri dekat jendela memperhatikan Naya yang masih berbaring lemas di tempat tidur.

​"Jadi bagaimana, Dokter? Dia cuma akting stres gara-gara gagal lari semalam, kan?" sindir Sofia.

​Dokter Heru tidak menjawab. Dia selesai memeriksa tensi dan melihat hasil tes urin yang tadi diambil. Dokter itu menatap Arkan dengan sangat serius.

​"Pak Arkan, Ibu Naya tidak sakit karena stres biasa. Ada alasan biologis kenapa dia merasa mual dan lemas."

​"Maksudnya apa?" Arkan mengerutkan kening.

​"Ibu Naya sedang hamil. Usianya sudah masuk minggu keenam," jawab Dokter Heru.

​Naya memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya rasanya berhenti. Dia memang sudah curiga karena siklusnya berantakan, tapi mendengar kenyataan ini di depan Arkan rasanya seperti kiamat kecil.

​"Hamil?" bisik Arkan. Suaranya berubah, ada getaran aneh yang belum pernah Naya dengar sebelumnya.

​"Iya Pak. Tapi kondisinya rawan karena benturan semalam. Ibu Naya harus istirahat total," lanjut Dokter Heru.

​"Tidak mungkin! Ini pasti bohong!" Sofia berteriak, melangkah maju ke arah ranjang. "Dokter, periksa lagi! Wanita ini pasti menyogokmu supaya dia punya alasan tetap di sini!"

​"IBU, DIAM!" bentak Arkan. "Jangan menghina anakku."

​"Arkan! Kamu percaya begitu saja sama perempuan ini?"

​"Keluar dari sini, Ibu. Sekarang!" Arkan menunjuk pintu dengan tatapan yang sangat menyeramkan.

​Sofia mendengus lalu keluar membanting pintu. Setelah Dokter Heru pergi, Arkan duduk di pinggir kasur. Dia memegang tangan Naya yang dingin.

​"Naya... kita akan punya anak. Kenapa kamu tidak bilang?" tanya Arkan lembut.

​"Aku tidak mau anak ini, Arkan. Aku benci fakta kalau dia darah dagingmu!" Naya menarik tangannya kasar.

​Arkan tidak marah. Dia malah tersenyum tipis. "Benci aku terserah kamu. Tapi bayi ini bukti kalau kamu tidak akan bisa lepas dari aku. Kamu butuh aku untuk menjaganya."

​"Menjaganya? Kamu itu ancaman paling besar buat dia!"

​"Mulai hari ini, semua berubah. Kamu mau nama bapakmu bersih? Aku urus. Kamu mau Janu tetap hidup? Aku pastikan dia aman. Asalkan... kamu makan dan jaga anakku baik-baik," Arkan mengambil mangkuk bubur.

​Arkan menyodorkan sendok pertama. Naya mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia menatap Arkan dengan mata merah karena marah.

​"Makan, Naya. Jangan buat aku kehilangan kesabaran," perintah Arkan pelan.

​"Aku tidak mau makan sesendok pun sebelum kamu beri tahu di mana Janu," tuntut Naya.

​Arkan meletakkan kembali sendok itu ke mangkuk. "Dia di rumah sakit, di bawah pengawasanku. Dia akan tetap hidup selama kamu tidak berulah. Jadi sekarang, buka mulutmu."

​Naya masih bergeming. "Aku mau bukti kalau dia hidup. Telepon dia sekarang, atau aku akan mogok makan sampai aku pingsan."

​Arkan menghela napas, dia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan video call. Di layar, terlihat Janu yang terbaring dengan perban di kepala, dijaga oleh dua orang berbadan tegap. Begitu Janu terlihat masih bernapas, Arkan langsung mematikan sambungannya.

​"Sudah lihat? Sekarang makan," Arkan kembali menyodorkan sendok bubur.

​Naya akhirnya membuka mulutnya. Dia menelan bubur itu dengan rasa pahit yang luar biasa. Setiap suapan terasa seperti pengkhianatan terhadap ayahnya, tapi dia tahu dia harus punya tenaga jika ingin keluar dari neraka ini.

​"Anak ini akan mengubah segalanya, Naya. Aku tidak akan lagi membiarkan Ibu atau siapa pun menyentuhmu," ucap Arkan sambil menyuapi Naya dengan telaten.

​"Kamu melakukannya bukan karena peduli padaku, tapi karena bayi ini kan?" tanya Naya di sela kunyahannya.

​"Tidak ada bedanya. Kamu mengandung ahli warisku, itu sudah cukup buat aku untuk memperlakukanmu seperti ratu di rumah ini," jawab Arkan dingin.

​"Ratu yang tidak boleh memegang ponsel dan tidak boleh keluar kamar?" sindir Naya.

​"Ratu yang harus dilindungi dari kebodohannya sendiri," koreksi Arkan. Dia menyodorkan suapan terakhir. "Habiskan."

​Naya menelan suapan terakhir itu dengan susah payah. Arkan meletakkan mangkuk kosong itu ke nakas, lalu dia mengambil kain hangat untuk menyeka bibir Naya. Kelembutan ini terasa sangat palsu tapi nyata di saat yang bersamaan.

​"Aku mau istirahat. Keluar dari sini," ucap Naya sambil memalingkan wajah.

​"Aku akan di sini menemanimu. Dokter bilang kamu tidak boleh stres," Arkan berbaring di sebelah Naya, menarik selimut untuk mereka berdua.

​Naya tidak meronta. Dia tahu percuma melawan tenaga Arkan. Dia hanya bisa diam, merasakan tangan Arkan yang kini mendekap perutnya yang masih rata dengan sangat protektif.

***

​Sofia masuk ke kamar Naya saat Arkan sedang pergi ke kantor. Dia berdiri di ujung ranjang dengan tangan bersedekap.

​"Kamu pikir dengan bayi itu kamu sudah menang?" tanya Sofia tajam.

​"Aku tidak merasa menang, Tante. Aku justru merasa sedang dalam masalah besar karena harus berurusan dengan keluarga gila seperti kalian."

​"Jangan sombong. Arkan mungkin sedang buta karena obsesinya pada anak laki-laki. Tapi begitu bayi itu lahir, kamu tidak akan ada gunanya lagi baginya," Sofia mendekat, suaranya mengecil tapi penuh ancaman. "Aku akan pastikan kamu tidak akan pernah memegang aset Arkan sepeser pun."

​"Terserah Tante mau bilang apa. Yang jelas, sekarang Arkan lebih dengar aku daripada Tante. Kalau Tante tidak mau diusir lagi, lebih baik diam," Naya menatap Sofia dengan berani.

​Sofia ingin membalas, tapi dia melihat kamera pengawas di sudut kamar yang baru saja dipasang Arkan tadi siang. Dia mendengus kesal dan keluar kamar dengan cepat.

​Perang di rumah ini sudah naik ke level berikutnya. Kehamilan ini bukan lagi rahasia, melainkan senjata. Arkan yang biasanya liar kini menjinak karena bayi ini, sementara Sofia menjadi predator yang sedang mengintai dari balik bayangan.

***

​Arkan pulang membawa banyak kantong belanjaan. Isinya perlengkapan ibu hamil dan berbagai vitamin mahal. Dia menata semuanya di depan Naya seolah sedang memamerkan trofi.

​"Pilih mana yang kamu suka. Besok penjahit akan datang untuk mengukur baju barumu. Kamu tidak boleh memakai baju lama yang sudah sempit."

​Naya hanya melihat sekilas. "Aku tidak butuh semua ini."

​"Kamu butuh, Naya. Karena mulai besok, aku akan membawamu ke setiap acara perusahaan. Aku ingin semua orang tahu bahwa istri Arkan sedang mengandung pewaris tunggal," Arkan memegang dagu Naya.

​"Kamu mau memamerkan aku seperti piala?"

​"Aku mau menunjukkan pada dunia bahwa posisi kita tidak tergoyahkan. Dan kamu... kamu akan tetap menjadi ratuku, suka atau tidak," Arkan mengecup kening Naya cukup lama.

​Naya mulai paham bahwa kelembutan Arkan adalah celah. Jika Arkan ingin memanjakannya, maka dia akan menggunakan kemanjaan itu untuk menekan balik Arkan di masa depan.

1
Fitri Zee
wih galak woy
Fitri Zee
hai aku mampir
Gendis Pitaloka: Hai.. terimakasih ya sudah mampir semoga suka dengan cerita nya ❤️
total 1 replies
sindi
thor, lanjut nulisnya udah gasabar lagi baca kelanjutannya
Gendis Pitaloka: Besok pagi update lagi,masih di ketik ini 😁
total 1 replies
fara sina
Lanjut kak. semangat terus nulisnya 🥰🥰🥰
Gendis Pitaloka: Harus selalu semangat 🤩
total 1 replies
fara sina
sudah kuduga emang Arkan sengaja biarin kamu gitu nay. duhhh mnaa ini kedua kalinya kamu gini nay.
fara sina
malah aku mikir justru Arkan sengaja membiarkan kamu masuk ke kantornya hari itu. pls jangan gegabah lagi nay.
fara sina
waduh, aku pikir bakal bela Kanaya ternyata gini. ibunya Arkan juga perlakuan ke Kanaya terlalu merendahkan. semoga cepet selesai kontraknya nay. pasti gabetah ngadepin kehidupan kaya gini
fara sina
💪💪💪 semangat.btw kamu seyakin ini nay? urusannya sama Arkan. tapi aku masih bingung sama Arkan sebenernya baik apa jahat
fara sina
Arkan emang CEO pria jenius pantes dijuluki. gini ajah gerak Kanaya udah ketebak 🤭
fara sina
belajar dari kesalahan nay
fara sina
hampir ajah Kanaya percaya. bau bau Arkan sebenernya ga jahat
fara sina
kan jadi gini😭 Arkan serem ya kalo marah begini
fara sina
tetep waspada nay.
fara sina
menarik nih. bagus
fara sina
bahaya kalo jebakan jangan kesana sendirian nay. takutnya mata mata komisaris yang jahat
fara sina
aktingnya keren banget ya Arkan
fara sina
waduh ada skenario lengkap nay kamu siap siap jadi aktris lagi yang di sutradara Arkan 😭
fara sina
hati hati Kanaya jangan sendirian bahaya
fara sina
sudah kuduga sepertinya Arkan gak sejahat yang dikira kamu Naya.
fara sina
anggapa ajah kamu sedang kerja untuk Arkan. Harus professional. gausah dimasukin ke hati omongan yang nyakitin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!