Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5
"Jijik," ucap Elma datar. Kata itu ditujukan kepadaku lewat tatapan mata yang tajam dan merendahkan.
Suaranya terngiang di kepalaku berkali-kali seolah menggema. Aku mematung dan tidak tahu harus bereaksi apa. Elma pun hanya berjalan melenggang tanpa rasa bersalah dan terus menatapku seperti itu, sampai tiba-tiba dia bertabrakan dengan seseorang.
"Aaaw ...," rintih Elma. Dia segera menoleh untuk melihat siapa yang baru saja ditabraknya.
"Aduuh ...," rintih orang yang ditabrak Elma.
"Eeh, maafkan aku ya," ucap Elma penuh rasa sesal.
"Iya, enggak apa-apa," timpal siswi yang ditabrak Elma.
Setelah itu mereka berlalu begitu saja karena Elma dipanggil oleh kelompoknya. Aku berusaha untuk tidak peduli dan kembali menatap komik yang kubaca. Namun, tiba-tiba siswi yang ditabrak Elma tadi berdecak ....
"Cih!" ucapnya.
Dalam hati aku langsung membatin, “Apa lagi?!! Jangan bilang aku langsung dapat kebencian gara-gara cuma duduk doang!” Namun, saat kutatap siswi itu, ternyata tatapan kebenciannya tertuju pada Elma. Dalam hati pun aku merasa lega, “Fyuh, untung bukan aku.” Tidak lama setelah itu, aku melihatnya berjalan pergi meninggalkan mejaku.
Kalau tidak salah, siswi berambut pendek model bob berwarna hitam ini bernama Sari. Di kehidupanku yang sebelumnya, aku tidak punya kenangan apa pun bersama Elma maupun Sari. Aku yakin interaksi di antara keduanya dulu memang sangat minim. Lagi pula, siswi bandel nan cantik yang bersikap baik kepada penyendiri sepertiku itu tidak mungkin pernah ada. Itu hal yang sangat mustahil.
Sejenak mataku menatap Elma yang sedang mengobrol bersama teman-temannya dengan raut wajah senang serta suara yang terdengar manja dan imut. Dalam hati aku langsung menggerutu, “Kok bisa dia mengganti nada suara dan ekspresi wajah secepat itu? Masih terngiang, lho, kata ‘jijik’-mu kepadaku tadi!” Hah ... apa ini yang disebut mode memakai topeng dalam suatu hubungan? Meski begitu, memang seperti itulah dunia pertemanan anak-anak nakal.
...Bip ... Biiiip ...
Suara pesan WA masuk. Aku meletakkan komik di atas meja, lalu mengambil ponsel yang ada di saku celana. Ketika melihat Maya mengirimi aku sebuah pesan, ini menjadi kali pertama dia menghubungi saat kami sedang berada di sekolah. Rasanya ini akan menjadi sangat menyebalkan dan membuat rasa ingin mengabaikan pesannya semakin kuat. Namun, kalau kuingat terakhir kali aku mengabaikannya, dia bisa sangat marah dan tindakannya bisa saja di luar dari apa yang kubayangkan.
Jadi, kuputuskan untuk membuka pesannya yang berbunyi, “Bisa datang ke rooftop sekolah seperti waktu itu? Kalau bisa, tolong datang sekarang sebelum bel istirahat berdering.”
Aku pun segera menghela napas. Dia memang bertanya tentang kesediaanku untuk pergi ke atap sekolah, tetapi di sisi lain, aku tahu dia sedang memaksaku. Aku pun membalas singkat, “Oke.”
...Di atap sekolah ....
“Kamu telat!” bentak Maya agak keras dengan nada terdengar kesal.
“Yah, bagaimana lagi? Dari kelasku ke sini itu cukup jauh, lho,” timpalku.
“Kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?” tanyanya dengan penuh penekanan. Aku menggelengkan kepala.
"Tidak," jawabku. Seketika Maya menghela napas berat.
“Kamu itu punya kesempatan langka bisa kembali ke masa tiga tahun lalu, lho. Kok kamu masih sendirian saja?” tanya Maya kepadaku. Tubuhnya didorong ke depan sehingga posisi kami semakin berdekatan. Aku sampai harus menarik satu kaki mundur agar jarak kami masih terasa aman.
“Lah, kenapa juga kamu peduli? Kamu ini ibuku, apa?” tanyaku menyindir. Maya pun kembali berdiri tegak, dan aku juga menarik kakiku maju agar kembali sejajar.
“Tentu saja aku peduli, kan kamu yang menyelamatkan hidupku!” ucap Maya dengan helaan napas yang terasa berat.
“Bukannya sudah kubilang kalau hal itu tidak usah dipikirkan?” tanyaku.
“Walau ingin kuabaikan, aku merasa tidak tenang mengetahui orang yang aku kenal ternyata tidak punya teman sepertimu. Wajar, kan, kalau aku ingin kamu punya teman di sekolah dan di kehidupan kedua ini?” jawabnya.
“Enggak, tunggu ... dari mana kamu tahu aku tidak punya teman? Kita, kan, tidak satu kelas,” tanyaku dengan nada sedikit menekan. Awalnya Maya tampak terkejut, tetapi ekspresi wajahnya seketika kembali terlihat tenang.
“Temanku ada yang satu kelas sama kamu, tahu. Setelah bertanya secara halus tentangmu, yang kudapati justru reaksi seperti, ‘Ooh, Raka? Haha,’ begitu,” jawabnya menyindir dengan wajah datar, seolah-olah dia sedang meniru reaksi orang yang ditanyanya. Jujur, itu adalah ekspresi yang membuat hatiku sedikit terluka.
“Membayangkan reaksi langsung seorang cewek itu menyakitkan, tahu!!” bentakku kepadanya. Aku masih terngiang raut wajah dan perkataan “jijik” dari Elma barusan.
“Saat aku tanya kamu sudah punya teman atau belum, terus kamu jawab sudah nyaman dengan keadaanmu, kenapa kamu berbohong?!!” bentaknya lagi.
Aku terdiam sejenak, menatap betapa kesalnya Maya kepadaku hanya karena urusan aku punya teman atau tidak. Dalam hati, aku sampai bertanya kepada diri sendiri, ‘Dia beneran marah cuma gara-gara hal receh seperti ini, ya?’ Namun, kurasa Maya sudah kelewatan karena ikut campur dalam urusan kehidupanku.
“Aku enggak bohong. Aku memang enggak ada niat buat menjalin pertemanan. Aku benar-benar sudah puas dengan kondisi tidak ada yang mengajakku mengobrol, dan menghabiskan waktu istirahat dengan membaca manga,” jawabku tegas, mencoba memberinya pengertian kalau aku benar-benar baik-baik saja.
“Oke, biar aku tanya sekali lagi. Kenapa kamu masih memilih sendirian ketika kamu memiliki kesempatan kembali ke masa tiga tahun lalu?” tanya Maya menekanku.
“Kamu ingat, kan, kita ini teman sekelas saat kelas dua dan kelas tiga nanti? Saat itu aku juga sendirian dan kamu enggak pernah peduli. Aku cuma mau mengulang apa yang sudah pernah kulakukan tanpa membuat kesalahan,” jawabku tegas.
“Ya, tapi kan kamu sudah punya pengalaman sebelumnya. Sekalipun dulu kamu kesepian, apa enggak ada niat buat mencari teman di kehidupan kedua ini?” tanya Maya sekali lagi. Namun, kali ini dia terdengar keheranan.
“Kamu melupakan sesuatu yang penting,” jawabku. Maya pun menunjukkan ekspresi wajah bingung.
“Sesuatu ... yang penting ...?” tanyanya.
“Ya, kamu sendiri yang bilang tentang ‘pengalaman di kehidupan sebelumnya’, kan? Dengan kata lain, kita sudah punya pengalaman tentang apa yang akan terjadi ke depannya. Dari sana, aku sudah bisa membaca siapa yang bisa dan tidak bisa kuajak untuk berteman. Karena sudah paham akan hal itu, kini lebih baik aku tidak memilih siapa pun untuk dijadikan teman,” jawabku. Seketika Maya terlihat sedih.
“Raka ~ mustahil kamu enggak ingat apa-apa dengan kehidupanmu yang sebelumnya, kan? Aku merasa semuanya akan menjadi lebih baik di kehidupan keduamu,” timpal Maya. Aku melipat kedua tangan, lalu mengembuskan napas dengan keras.
“Naif! Kamu terlalu naif, Maya! Teori kehidupan kedua akan lebih baik itu tidak berlaku bagi serigala penyendiri sepertiku!!” tegas kuucapkan kalimat itu.
“Hah?” timpal Maya.
“Serigala penyendiri tidak memiliki hubungan apa-apa!! Dengan kata lain, aku sendirian di kehidupan SMA-ku sebelumnya. Aku tidak memiliki pengalaman apa pun yang bisa kugunakan di kehidupan kedua, jadi mana mungkin aku sekarang bisa mendapatkan seorang teman!!” Kembali dengan tegas aku mengucapkannya. Seketika tatapan jijik kembali kudapatkan dari Maya.
“Kok bisa, sih, kamu pede mengatakan hal menyedihkan seperti itu?” keluhnya.
“Yah, terus bagaimana dong? Toh, aku juga senang tetap sendiri. Aku enggak perlu khawatir tentang apa yang orang katakan. Kehidupan seperti ini sangat cocok buatku,” ucapku sambil menghela napas.
“Kalau memang sesenang itu, artinya kamu paham, kan, arti dari mencari seorang teman?” tanya Maya menekan lagi. Aku menghela napas sekali lagi sebelum menjawab pertanyaan Maya yang begitu memaksa.
“Dulu aku juga berusaha, kok, menjalin pertemanan dengan seseorang, tapi enggak bisa. Menciptakan kesamaan dalam percakapan, menyemangati seseorang meski hatiku enggak mau, dan menertawakan topik yang membosankan. Aku enggak bisa melakukan itu semua, itu sebabnya aku memutuskan untuk menjadi serigala penyendiri,” jawabku.
“Tapi ... kamu yakin mau mengulang kehidupan sebelumnya? Kamu seharusnya bisa menghindari kesalahan yang sama di—” Belum selesai Maya berkata, aku langsung memotongnya karena tahu apa yang ingin dia katakan.
“Tidak, aku sudah belajar dari kesalahan. Ada dua tipe orang penyendiri; satu adalah orang yang punya pengalaman menyakitkan dalam pertemanan sehingga dia memutuskan untuk jadi penyendiri, dan yang kedua adalah mereka yang sudah terasing sejak awal!!” tegasku menimpali kalimat Maya. Aku menatap langit cerah siang itu dengan mata berbinar.
“Di kehidupan sebelumnya, aku enggak berhasil mengurung ambisi untuk masa remaja emas. Akan tetapi, semua itu menjadi sia-sia dan hanya ada kekecewaan. Di kehidupan kedua ini, aku tidak perlu repot-repot memikirkan masa emas remaja. Aku hanya perlu langsung menjadi seorang serigala penyendiri tanpa perlu membuat kenangan buruk!!” Aku mengatakannya dengan penuh semangat yang berapi-api.
“Kamu sudah jelas salah jalan, tahu!!!” bentak Maya begitu marah. Aku kembali menatap wajahnya.
“Aku sudah melangkah di jalan yang tepat. Ini seperti promosi anumerta!!” Aku mengatakannya sambil menunjuk Maya dengan tatapan mata penuh kebanggaan.
“Itu, kan, promosi untuk tentara yang gugur di medan perang!!! Eh ~ tapi kamu memang pernah mati, ya ... aku jadi mengerti perasaanmu ...,” timpal Maya, lalu dia menghela napas. Aku tertawa dengan penuh perasaan bangga.
“Haaah ~ kenapa, sih, kamu menolak banget hubungan pertemanan?” tanya Maya heran.
“Ini bukan mengelak, ini adalah bentuk pengalihan!” jawabku tegas.
“Kamu ini memosisikan diri jadi tentara di medan perang, apa? Keras kepala banget buat mundur dari pemikiranmu yang salah!!” timpal Maya, kembali terdengar begitu kesal.
“Mundur adalah keputusan negatif yang berasal dari ketidakberdayaan. Akan tetapi, berbeda denganku yang secara aktif memilih untuk tidak menjalin pertemanan! Apa kamu masih menganggapku keras kepala buat mundur?!” Kembali dengan semangat aku mengatakannya.
“Tapi ... kamu dari tadi bisa ngobrol normal sama aku. Apa itu artinya kamu gak punya masalah komunikasi sama orang baru?” tanya Maya terdengar heran.
“Yap, aku enggak punya masalah seperti itu. Aku bisa, kok, bersikap ramah kepada orang yang baru kukenal,” jawabku.
“Berarti kamu sebenarnya bisa meladeni mereka, kan? Kamu cuma butuh sedikit usaha biar bisa berteman dan menikmati masa SMA-mu. Kompromi sedikit seharusnya enggak ada masalah, kan?” Terdengar sedikit nada lega saat Maya mengucapkannya. Sepertinya dia benar-benar keras kepala dan sangat pemaksa.
Berteman akan membuat bahagia ... begitu rupanya. Aku memang selalu mendengar hal seperti itu di anime, manga, ataupun novel di mana tokoh utamanya akan mencoba mencari teman seperjalanan ataupun senasib. Jujur saja, tema itu adalah kesukaanku. Tetapi, hal itu tidak berlaku buat semua orang ....
“Asal kamu tahu saja, meski aku enggak punya gangguan komunikasi, bukan berarti aku bisa berurusan dengan orang lain. Sebuah interaksi sementara dengan menjalin pertemanan itu adalah dua hal yang berbeda!” jawabku tegas. Maya pun sedikit tersentak mendengar perkataanku.
“Aaah, iya ... kamu benar juga ...,” timpal Maya yang terdengar seolah dia baru saja melupakan hal penting itu.
“Sekalipun aku bisa bergaul dengan baik bersama orang lain, pada akhirnya nanti aku akan menunjukkan siapa diri aku sebenarnya. Menurutku, lebih baik tidak usah repot-repot membangun suatu hubungan yang pasti akan hancur nantinya,” ucapku lagi meneruskan kalimat sebelumnya. Seketika raut wajah Maya terlihat sedih menatapku, dan aku tidak mengerti mengapa dia menatapku seperti itu.
“I ... itu ... apa Raka berpikir kalau ... mengobrol denganku itu ... menyebalkan?” tanya Maya terbata. Perlahan tatapan matanya semakin menunduk dan tidak lagi tertuju padaku.
Apa kata-kataku tadi keterlaluan? Apa dia salah mengartikannya? Kenapa dia ... terlihat jadi sedih seperti ini?
“Kamu ... enggak mau ngobrol lagi sama aku?” tanya Maya mempertegas pertanyaan sebelumnya karena aku hanya diam. Aku benar-benar heran dari mana pemikiran itu muncul, karena aku sebenarnya ....
“Tidak, aku sih tidak masalah,” jawabku.
Maya langsung kembali mendongak menatapku, namun kini aku melihat sedikit rona merah di pipinya.
“A ... apa maksudmu?! Kenapa sama aku enggak masalah?!” tanya Maya terdengar sedikit panik. Aku semakin enggak paham dengan cewek satu ini. Apa kurang jelas kenapa dia berbeda?
“Yah, karena Maya itu spesial bagiku,” jawabku lagi dengan tegas.
Seketika mata Maya membesar, pipinya semakin merah merona, dan dia hanya terdiam menatapku. Sebenarnya dia ini kenapa, sih? Hah ... ini yang kusebut menjaga perasaan orang itu sulit dilakukan olehku ....