NovelToon NovelToon
Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Dicari! Staf Admin Untuk Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: Ichigatsu

Avara hanya staf administrasi biasa di perusahaan finance yang terbiasa bekerja lembur.
Pada satu hari seperti biasa dia lembur seorang diri, lelah dan mengantuk. Saat terbangun, bukannya berada di kantor, dia justru bertransmigrasi ke dunia iblis. Menjadi satu-satunya sosok manusia di sana, Avara harus dicurigai dan hampir mendapat hukuman mati. Namun berkat kemampuannya mengolah data, dia berhasil selamat!
Kini hari-harinya disibukkan oleh pekerjaan administrasi di istana iblis, dan semata-mata bekerja untuk Raja Iblis Fulqentius yang terkenal keji, dingin, dan misterius.
Bisakah Avara bertahan hidup di dunia yang sama sekali asing baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichigatsu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 - Ruang Kerja Baru

Esoknya, masih dalam kantuk yang tak kunjung reda, Avara dihadapkan pada sebuah ruang arsip yang berbeda dari yang pertama kali dia jejaki. Ada sebuah meja kerja, meja panjang untuk rapat, dan rak-rak buku berisi banyak buku baru dan perkamen-perkamen. Oriole bilang itu adalah ruang kerjanya yang baru.

"Anda yakin?" Avara lebih dari sekedar terkejut.

"Ini perintah His Majesty."

Dengan mata berbinar-binar, Avara mengucapkan terima kasih.

Dan seperti Oxron, Oriole menunjukkan respon serupa.

Sepeninggal Oriole, Avara menyusuri setiap titik di ruang kerja barunya, merasakan kokohnya dinding yang akan memberikannya privasi dan rasa damai, menyukai buku-buku yang kelak akan dipakainya menulis laporan demi laporan. Avara tidak peduli jika dia menjadi tawanan, satu ruangan kerja yang diperuntukkan hanya pada dirinya sudah cukup untuk membuatnya puas dan bahagia.

Gadis itu membawa buku-buku yang belum selesai dia baca. Dia ingin menamatkan buku dunia iblis dari perspektif manusia sebelum membaca buku sihir. Avara tidak sabar untuk belajar sihir meski diam-diam.

Rupanya hanya membutuhkan beberapa jam bagi Avara untuk menyelesaikan buku itu. Terbit perasaan aneh selepas dia menutup buku dan akan meraih buku sihir. Rasanya segala hal yang dia baca dan alami sendiri di sana tidak.. sinkron.

Seperti dia pada awalnya, rata-rata manusia percaya bahwa iblis makan manusia, lahir dari neraka, dengan raja iblis duduk di singgasana yang terbuat dari tulang. Bagi mereka, dunia iblis adalah neraka hidup.

Avara tidak menemukan kecocokan dengan pengalamannya sendiri, tapi dia bergeming. Mungkin dia masih perlu waktu untuk mempelajari langsung banyak hal di sekitarnya, dan membandingkannya dengan bacaan dari buku yang telah dia baca. Dengan kondisinya yang seorang diri, dia tidak boleh salah sangka dan salah langkah.

...****************...

Fulqentius sedang mencermati setumpuk laporan yang harus dia tandatangani saat sebuah ketukan memotong perhatiannya. Seorang iblis perempuan masuk dalam rasa hormat yang membuatnya terus menunduk.

"Anda memanggil saya, Your Majesty?"

"Letha," sebut Fulqentius.

Iblis bernama Letha itu sontak mengangkat kepala dalam debar yang bertalu-talu. Sang raja memanggil namanya!

"Aku ingin kau memenuhi kebutuhan Avara Luna Manara."

Sudut mata Letha berkedut, debarnya hilang. "Manusia itu, Your Majesty?"

"Ya, siapa lagi."

"Tentu, My Lord. Tapi," Letha jelas enggan berurusan dengan seorang manusia. "Apakah Sir Oriole tahu hal ini?"

Fulqentius hanya butuh menatapnya dengan datar dan dingin untuk membuat Letha kembali menundukkan kepala. "Itu bukan urusanmu. Pergilah."

Maka Letha keluar ruang kerja Fulqentius, tahu dengan benar bahwa dia tidak boleh mengatakan hal ini kepada siapapun.

...****************...

Di ruang arsip yang telah menjadi ruang kerja barunya, Avara berlama-lama tinggal di sana. Dia belum menerima tugas apapun untuk saat itu, jadi dirinya memutuskan secara sepihak untuk menyelesaikan membaca buku yang dipinjamnya sendiri.

Dengan jantung degdegan dia mempelajari ilmu sihir untuk pemula, berharap akan memperoleh pengetahuan yang akan sangat membantunya untuk bekerja. Cermat, Avara membaca kata demi kata yang tercantum di buku itu, menyalin beberapa poin penting ke dalam buku catatan pribadinya, sambil sesekali mencoba mempraktekkannya saat itu juga.

Avara banyak belajar mengenai mana yang merupakan energi sihir, yang menjadi sumber utama dari berlangsungnya praktek sihir. Iblis adalah makhluk yang leluasa menggunakan mana dalam diri mereka, terutama dengan sejarah panjang yang membuat mereka semakin ahli dalam mempergunakan sihir. Bisa dibilang, semakin tua seorang iblis, semakin kuat sihir yang bisa dia gunakan.

Avara bertanya-tanya seberapa tua Fulqentius dan seberapa kuat dirinya dalam hal sihir?

Sebuah halaman menarik atensinya. Disebutkan bahwa tidak semua manusia bisa menggunakan sihir.

Namun Avara tidak mau menyerah sebelum mencoba. Dia terus mencari cara untuk membuktikan apakah dia termasuk manusia yang bisa memanfaatkan sihir atau tidak. Avara menahan diri untuk tidak berderap ke perpustakaan demi mencari buku sihir lain yang bisa mengobati rasa ingin tahunya, sebab hal sederhana itu bisa menjadi alasan kematiannya. Maka dengan bekal sebuah buku untuk pemula itulah, Avara mempelajari semua hal terkait sihir di dunia itu.

Melalui buku yang sama, Avara tahu bahwa menggunakan sihir, lahirlah teknologi sihir yang lebih biasa disebut magitech. Dari sana, banyak sekali hal terbentuk, seperti misalnya penerangan, pendingin atau pemanas ruangan, dan kunci pintu biomagis. Avara segera mengingat lampu yang berpendar stabil di kamar maupun ruang arsip lama dan suhu di seluruh bagian gedung yang cenderung sesuai suhu kamar. Rupanya semua itu bentuk dari magitech.

Avara terus membaca dan mencari cara untuknya bisa mempergunakan sihir, tapi.. nihil.

Di tengah keputusasaannya, sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatian Avara.

Letha masuk sambil membawa satu set cangkir dan teko yang sepertinya berisi teh. Avara terkejut dengan keramahtamahan yang tidak pernah dia kira akan diperolehnya. Dalam diam, Avara menunggu Letha menuangkan teh untuknya dan mempersilakannya untuk minum.

"Namaku Avara. Siapa namamu?"

Butuh beberapa gerakan dan ketidakacuhan sebelum Letha menjawab pendek, mau tak mau, "Letha."

"Terima kasih, Letha."

Letha terhenyak. Baginya itu ucapan terima kasih pertama yang dia terima dari seorang manusia, jadi wajar jika dia tidak merespon Avara dengan ucapan atau tindakan apapun.

Pelayan iblis itu segera berlalu setelah selesai menunaikan mandat.

"Dasar aneh," bisiknya dari balik pintu. Sementara Avara menikmati teh sorenya dalam damai. Bagi seseorang yang lebih terbiasa minum kopi, rupanya teh di sela aktifitas tidak buruk juga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!