NovelToon NovelToon
Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Jagoan Sengklek Tahta Di Balik Debu Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
​Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
​Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Proyek Naga dan Mak Lampir

Pagi yang cerah di kampung. Guntur sudah duduk gagah di lincak depan rumah, tapi penampilannya tetap konsisten: sarung kotak-kotak dan kaos singlet putih. Di sela jarinya, terselip sebatang rokok kretek yang aromanya sangat khas, memenuhi teras rumah yang masih sejuk.

​Puffff... Guntur mengembuskan asap rokok kreteknya ke langit, menatap jemuran pakaian Ibunya dengan tatapan filosofis. "Hidup itu kayak rokok kretek, kalau nggak disedot nggak bunyi tek-tek, kalau nggak sabar ya cepat habis," gumam Guntur sok bijak. Di sampingnya, sudah ada kopi hitam kental yang asapnya masih mengepul.

​Tiba-tiba, pintu rumah terbuka dan muncullah Vanesha. CEO cantik itu sudah bangun, wajahnya segar habis mandi pakai sabun batang milik Ibunya Guntur. Dia masih pakai sandal jepit hijau swallow kemarin, tapi kali ini dia pakai daster batik pinjaman dari Ibunya Guntur. Penampilannya benar-benar kontras: wajah bidadari Jakarta, kostum emak-emak Sidoarjo.

​"Heh! Pagi-pagi sudah polusi udara! Bisa nggak rokok itu dijauhkan sedikit? Bau tahu!" bentak Vanesha sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan hidung. Guntur malah sengaja meniup asap kreteknya ke arah Vanesha sambil cengengesan. "Walah, Mbak V... ini tuh aroma terapi khas kampung. Biar saraf-saraf CEO sampeyan yang tegang itu bisa rileks sedikit. Nggeh jangan marah-marah terus toh."

​Vanesha duduk di samping Guntur dengan jarak satu meter, takut bajunya kena abu rokok. Dia menatap Guntur dengan serius. "Guntur, saya sudah pikirkan semalaman. Saya nggak mau rugi karena nyasar ke sini. Setelah lihat gimana kamu menangani orang-orang di gudang kemarin dan gimana kamu pegang kendali di sini... saya mau ajak kamu kerja sama."

​Guntur langsung mematikan rokok kreteknya di asbak seng. Dia membetulkan posisi duduknya, mode sengkleknya sedikit berkurang. "Kerja sama apa, Mbak? Saya ini cuma ojek, kalau mau kirim barang atau dokumen ya saya siap. Tapi kalau disuruh jadi model iklan lipstik perusahaan sampeyan, mohon maaf... saya terlalu ganteng untuk itu," goda Guntur.

​Vanesha memutar bola matanya malas. "Bukan itu! Saya mau kamu jadi mitra strategis untuk pengamanan dan logistik jalur distribusi V-Group di wilayah Jawa Timur. Saya tahu kamu punya massa ojek yang loyal dan kamu punya 'tangan besi' buat bersihin preman-preman macam anak buah Rian. Saya kasih kamu kontrak resmi, nilainya miliaran."

​Guntur terdiam sejenak, menyesap kopi hitamnya pelan-pelan. Dia menatap Vanesha dengan tajam, membuat CEO galak itu sedikit salah tingkah. "Miliaran ya? Nggeh, tawaran yang menarik buat anak kampung kayak saya. Tapi ada satu syarat, Mbak V. Saya nggak mau kerja di bawah perintah sampeyan. Kita mitra, bukan bos dan anak buah. Gimana? Masih berani?" tantang Guntur sambil kembali menyulut rokok kreteknya yang baru

Vanesha terdiam mendengar jawaban Guntur. Dia tidak menyangka tukang ojek yang sedari tadi asyik nyedot rokok kretek itu punya harga diri setinggi langit. "Mitra? Kamu sadar nggak siapa yang kamu ajak bicara? Saya ini CEO V-Group, Guntur. Orang-orang antre buat jadi anak buah saya!" tegas Vanesha sambil memperbaiki duduk dasternya.

​Guntur cuma tertawa kecil, suara tawanya berat bercampur asap rokok. "Nggeh, saya tahu sampeyan itu bos besar. Tapi di sini, di aspal jalanan Jawa Timur, saya yang pegang aspalnya, Mbak V. Sampeyan punya uang, saya punya pasukan. Sampeyan punya sistem, saya punya nyali. Kalau cuma mau jadi anak buah, saya mending narik ojek, lebih bebas mau ngerokok kretek kapan saja," jawab Guntur santai tapi penuh penekanan.

​Vanesha memperhatikan Guntur. Ada aura kepemimpinan yang sangat kuat di balik sarung kumal itu. Akhirnya, Vanesha menghela napas panjang, tanda dia menyerah. "Oke, fine! Kita jadi mitra. Saya butuh orang yang nggak bisa dibeli sama Rian, dan sepertinya itu cuma kamu. Saya butuh distribusi logistik saya aman dari sabotase preman-preman bayaran itu."

​Guntur langsung menjentikkan jarinya. TEK! "Nah, gitu dong. Itu baru namanya bicara bisnis. Nggeh pun, kalau soal preman-preman itu, serahkan sama anak-anak ojek. Mereka itu intel paling hebat sedunia. Nggak ada tikus yang lewat tanpa sepengetahuan kami," ucap Guntur sambil kembali menyulut rokoknya yang sempat mati.

​"Tapi ada satu hal lagi, Guntur. Saya mau kamu ikut saya ke Jakarta minggu depan. Ada pertemuan pemegang saham dan saya mau perkenalkan tim keamanan baru saya," kata Vanesha dengan tatapan penuh arti. Guntur langsung melongo, "Jakarta? Waduh Mbak, di sana macetnya minta ampun. Nanti sarung saya bisa kena polusi semua. Lagian, apa nggak malu bawa ojek sarungan ke rapat elit gitu?"

​Vanesha tersenyum tipis, kali ini senyumnya penuh rencana. "Makanya, kamu harus dandan yang bener! Nanti saya yang urus pakaian kamu. Saya mau lihat, apa Sang Naga ini tetap gagah kalau pakai jas mahal atau malah jadi kayak satpam keliling," goda Vanesha balik ngerjain Guntur. Guntur cuma garuk-garuk kepala, membayangkan dirinya harus pakai jas yang kaku itu.

​Bagas yang sedari tadi mendengarkan dari balik jendela tiba-tiba teriak, "Gass Mas Guntur! Jadi bos beneran di Jakarta! Biar Bu Retno matanya copot lihat Mas Guntur sukses!" Tawa meledak di teras rumah itu. Guntur cuma bisa geleng-geleng kepala. "Nggeh wes, Mbak V. Saya terima tantangannya. Tapi jangan salahin saya kalau nanti para pemegang saham sampeyan malah minta diajari cara nyalain rokok kretek yang bener!"

​Malam itu, di bawah temaram lampu teras, sebuah kesepakatan besar lahir. Bukan di gedung pencakar langit dengan meja kaca yang mewah, tapi di atas lincak bambu yang sudah reot, ditemani aroma rokok kretek dan kopi hitam kental. Guntur sadar, langkah ini akan membawanya kembali ke dunia yang penuh intrik, tapi demi keluarga dan pembuktian diri, Sang Naga siap terbang kembali—kali ini dengan dukungan dari si Mak Lampir cantik dari Jakarta.

1
Mairah Cileles
guntur ini kayanya sangat mirip ceritanyany sama si Gan... di tetangga sebelah
FARIZARJUNANURHIDAYAT: Wah, ketahuan ya? Memang tipe jagoan yang 'sengklek' tapi sakti itu sudah jadi ciri khas tulisan saya. Guntur hadir dengan petualangan yang beda kok, meskipun jiwanya sama-sama nggak bisa diem. Terima kasih dukungannya ya! 🙌✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!