NovelToon NovelToon
Terperangkap Dalam Permainannya

Terperangkap Dalam Permainannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 — Tempat yang Tidak Ada di Peta

“…aku bakal hancurin mereka semua.”

Ruangan langsung sunyi.

Tak ada yang meragukan ucapan Zavian.

Karena semua orang yang ada di sana tahu satu hal.

Ia tidak sedang mengancam.

Ia sedang membuat janji.

Nayra menatap layar yang kini sudah gelap.

Namun bayangan Hyren masih terjebak di kepalanya.

Wajah lebam.

Tangan terikat.

Dan yang paling membuat dadanya sesak—

ekspresi tenang itu.

Seolah Hyren sudah menerima apa pun yang akan terjadi.

“Brengsek.”

Arsen mengacak rambutnya frustrasi.

“Aku benci orang yang suka bikin video ancaman.”

“Fokus.”

Suara Reina langsung memotong.

“Kalau mereka mau Nayra datang…”

Tatapannya menyipit.

“…berarti mereka belum bisa membunuh Hyren.”

Deg.

Semua langsung menoleh.

Dan Nayra sadar.

Kakaknya benar.

Kalau tujuan mereka hanya membunuh Hyren—

mereka sudah melakukannya.

Mereka tidak akan repot membuat siaran.

Tidak akan repot mengirim pesan.

“Mereka butuh sesuatu.”

gumam Nayra.

“Bukan sesuatu.”

Arsen menatapnya.

“Mereka butuh kamu.”

Deg.

Lagi.

Selalu kembali ke titik itu.

Dirinya.

Project Lazarus.

Eksperimen yang tidak pernah benar-benar selesai.

Nayra mengusap wajah pelan.

“Kenapa sih hidupku ribet banget?”

“Karena penulis hidupmu kejam.”

jawab Arsen refleks.

Semua langsung menatapnya.

“Apa?”

“Terkadang aku nggak ngerti cara kerja otakmu.”

kata Reina.

“Fair.”

Namun meski suasana sedikit mencair—

masalah mereka tetap sama.

Hyren diculik.

Dan waktu mereka tidak banyak.

Dokter Han akhirnya menghela napas panjang.

“Ada sesuatu yang mungkin bisa membantu.”

Semua langsung fokus.

Pria itu membuka beberapa file di tablet.

Lalu memutar ulang siaran tadi.

“Lihat bagian belakang.”

katanya.

Awalnya Nayra tidak melihat apa-apa.

Hanya dinding beton tua.

Lampu redup.

Dan kursi tempat Hyren diikat.

Namun setelah diperbesar—

ada sesuatu di sudut gambar.

Tulisan samar di dinding.

A-17.

“Nomor ruangan?”

tanya Nayra.

“Mungkin.”

jawab Dokter Han.

“Tapi bukan itu yang menarik.”

Ia memperbesar lagi.

Lebih jauh.

Lebih detail.

Dan akhirnya terlihat.

Lambang tua.

Setengah terkelupas.

Namun masih bisa dikenali.

Logo Lazarus.

Versi lama.

Deg.

“Tempat itu fasilitas lama.”

gumam Arsen.

“Masalahnya…”

Dokter Han menggeser layar.

“…kami punya lebih dari tiga puluh fasilitas lama.”

“Oke.”

Nayra menghela napas.

“Tentu saja tidak bisa gampang.”

Arsen mulai mengetik cepat.

Beberapa layar terbuka sekaligus.

Peta.

Data.

Dokumen lama.

Dan untuk beberapa menit—

hanya suara ketikan yang terdengar.

Lalu mendadak—

cowok itu berhenti.

“Aku nemu sesuatu.”

Deg.

Semua langsung mendekat.

“Fasilitas A-17.”

Tatapannya bergerak di layar.

“Dibangun dua puluh tahun lalu.”

“Masih aktif?”

tanya Reina.

“Secara resmi?”

Arsen menyeringai tipis.

“Tidak.”

“Dan secara tidak resmi?”

“Justru itu masalahnya.”

Ia memutar layar ke arah mereka.

Sebuah foto satelit muncul.

Bangunan tua.

Terisolasi.

Dikelilingi hutan lebat.

Dan yang paling aneh—

tempat itu bahkan tidak tercantum di peta publik.

Deg.

“Di mana itu?”

tanya Nayra.

“Pegunungan utara.”

jawab Arsen.

“Sekitar empat jam perjalanan.”

Sunyi.

Empat jam.

Terlalu jauh.

Terlalu lama.

Namun sebelum mereka sempat membahas lebih lanjut

suara lain tiba-tiba terdengar.

“Jangan datang.”

Semua membeku.

Karena suara itu berasal dari speaker yang masih tersambung ke sistem siaran.

Dan itu suara Hyren.

“Kalian dengar itu?”

bisik Nayra.

Arsen langsung memeriksa perangkat.

“Ada rekaman lain.”

Layar menyala lagi.

Namun kali ini berbeda.

Gambarnya buram.

Mungkin direkam diam-diam.

Hyren terlihat sendirian.

Duduk di lantai ruangan gelap.

Wajahnya masih penuh luka.

Namun matanya tetap fokus ke kamera.

“Aku nggak tahu siapa yang bakal nemuin ini.”

katanya pelan.

“Tapi kalau kalian lihat rekaman ini…”

Ia berhenti sebentar.

“…jangan datang.”

Deg.

Nayra langsung menggigit bibir.

“Tempat ini jebakan.”

lanjut Hyren.

“Dari awal memang begitu.”

Terdengar suara langkah dari kejauhan.

Hyren melirik cepat.

Lalu kembali menatap kamera.

“Kalau Zavian lihat ini…”

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Senyum yang membuat dada semua orang sakit.

“…untuk sekali aja dalam hidupmu, jangan keras kepala.”

Sunyi.

Lalu rekaman berhenti.

Tak ada yang bicara.

Karena mereka semua tahu.

Hyren sedang mencoba melindungi mereka.

Bahkan sekarang.

“Yah.”

Arsen akhirnya bersandar ke kursi.

“Berita buruk.”

“Yang mana?”

tanya Nayra.

“Dia jelas tahu sesuatu yang kita nggak tahu.”

Dan itu benar.

Hyren tidak terlihat takut.

Tidak panik.

Tidak putus asa.

Ia terlihat seperti seseorang yang sudah memahami situasinya.

Dan justru itu yang mengkhawatirkan.

Zavian berdiri diam sejak tadi.

Terlalu diam.

Nayra mulai mengenalnya cukup baik untuk tahu.

Diam seperti itu tidak pernah berarti baik.

“Zavian.”

panggilnya pelan.

Cowok itu tidak menjawab.

“Zavian.”

Kali ini ia menoleh.

Dan Nayra langsung merasa tidak enak.

Karena matanya terlihat kosong.

“Aku bakal ke sana.”

katanya.

“Tentu.”

jawab Arsen.

“Kita semua bakal ke sana.”

“Bukan.”

Deg.

“Aku sendiri.”

Hening.

Lalu serentak—

“Tidak!”

Nayra bahkan tidak sadar dirinya ikut berteriak.

“Kamu nggak serius kan?”

tanyanya.

“Aku serius.”

“ITU IDE TERBURUK YANG PERNAH AKU DENGAR.”

“Setuju.”

sahut Arsen.

“Langka banget kita sepakat.”

tambah Reina.

Namun Zavian tetap tenang.

Terlalu tenang.

“Kalau mereka cuma mau aku dan Nayra…”

Tatapannya turun.

“…nggak ada alasan buat semua orang ikut terlibat.”

“Sudah terlambat.”

kata Reina datar.

“Exactly.”

Arsen menunjuk dirinya sendiri.

“Aku sudah masuk terlalu jauh untuk keluar sekarang.”

Nayra melangkah mendekat.

Lalu berdiri tepat di depan Zavian.

“Lihat aku.”

katanya.

Cowok itu mengangkat kepala.

“Kalau kamu pergi sendirian…”

Suara Nayra sedikit gemetar.

“…aku bakal ngikutin.”

“Nayra.”

“Aku serius.”

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk beberapa detik—

tak ada suara lain.

“Kita sudah sampai sejauh ini bersama.”

lanjut Nayra.

“Jadi berhenti mutusin semuanya sendirian.”

Deg.

Sesuatu berubah di wajah Zavian.

Sedikit.

Sangat sedikit.

Namun Nayra melihatnya.

Rasa bersalah.

Karena sebenarnya cowok itu tahu.

Ia memang sering melakukan itu.

Selalu menanggung semuanya sendiri.

Selalu mencoba melindungi semua orang sendirian.

Dan selalu terluka karena itu.

Akhirnya—

ia menghela napas panjang.

“Baik.”

Nayra langsung berkedip.

“Hah?”

“Aku nggak pergi sendiri.”

Sunyi dua detik.

Lalu Arsen berseru—

“ASTAGA DIA MAU DENGER ORANG LAIN.”

“Ini momen bersejarah.”

kata Reina.

“Diam kalian.”

geram Zavian.

Untuk pertama kalinya malam itu—

Nayra tersenyum kecil.

Karena setidaknya mereka masih bersama.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama.

Karena beberapa menit kemudian—

Arsen menemukan sesuatu lagi.

Dan kali ini—

wajahnya langsung pucat.

“Ada apa?”

tanya Nayra.

Cowok itu menelan ludah.

Lalu memutar layar perlahan ke arah mereka.

Sebuah dokumen lama muncul.

File rahasia Lazarus.

Dan di bagian atasnya—

tertulis satu nama.

PROJECT ECLIPSE

Deg.

“Apa itu?”

bisik Nayra.

Tak ada yang menjawab.

Karena bahkan Dokter Han terlihat terkejut.

“Aku pikir proyek ini dihentikan.”

gumam pria itu.

“Kenapa?”

tanya Reina.

Dokter Han menatap layar lama sekali.

Lalu perlahan berkata—

“Karena semua subjeknya mati.”

Sunyi.

Dan Nayra langsung merasa firasat buruk muncul lagi.

Firasat yang sangat buruk.

“Semua?”

tanyanya pelan.

Dokter Han mengangguk.

“Semua…”

Tatapannya bergerak ke layar.

“…kecuali satu.”

Deg.

Ruangan terasa membeku.

Dan ketika Arsen membuka halaman berikutnya—

foto seseorang muncul di layar.

Seseorang yang mereka semua kenal.

Seseorang yang seharusnya tidak ada di daftar itu.

Seseorang yang selama ini berdiri di sisi mereka.

Hyren.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!