NovelToon NovelToon
WHISPERS OF THE HEART

WHISPERS OF THE HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Oviamarashiin

Davika Ovwua Mwohan adalah siswi kelas 3 SMA yang tidak hanya berpenampilan memikat layaknya boneka hidup dengan tubuh *gitar spanyol* yang seksi, tetapi juga memiliki kepribadian paling random dan kocak di antara teman-temannya. Di balik tingkah ajaibnya, Davika adalah koki andalan rumah yang jago menyulap segala jenis masakan mulai dari jajanan pasar hingga kuliner barat menjadi hidangan favorit keluarga, teman, hingga tetangga.

Keseharian Davika dipenuhi dinamika hubungan persaudaraan yang seru dan penuh warna. Ia terlibat hubungan ala "Tom and Jerry" dengan kakak pertamanya, Mas Gara, pria cuek dan berotot yang selalu bersedia menjadi ATM berjalan demi menuruti hobi makan dan tingkah acak Davika. Sementara itu, Mbak Nara, kakak keduanya yang cantik dan manis, turut melengkapi kehangatan dan keseruan lika-liku kehidupan masa muda Davika di dalam keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecahan Pagi yang Dingin

Kabut fajar yang berarak perlahan mulai menipis, digantikan oleh semburat cahaya oranye pucat yang menyeruak di sela-sela atap seng rumah tetangga. Kepergian Mas Gara yang tergesa-gesa meninggalkan keheningan yang menyesakkan di beranda. Aroma nasi goreng kampung yang semula menggugah selera kini menguar hambar di udara, kalah telak oleh aroma ketegangan yang ditinggalkan oleh draf perjanjian pranikah di dalam map hijau tua itu.

Bapak Handoko mengembuskan napas panjang, merapikan letak kerah jaket taksi daringnya yang agak kusut. Beban di pundak lelaki paruh baya itu tampak bertambah berkali-kali lipat dalam hitungan menit. Ia menatap jam tangan digital murah di pergelangan tangannya; jarum jam sudah menunjuk angka empat lewat empat puluh lima menit. Penumpang langganannya yang hendak ke bandara pasti sudah bersiap di titik jemput.

"Bapak jalan dulu, Bu," ujar Bapak Handoko dengan suara yang sengaja dilembutkan, mencoba mencairkan atmosfer dingin yang mengurung istri dan kedua anak perempuannya. "Nara... jangan terlalu dipikirkan sampai sakit. Nanti malam setelah Bapak pulang menarik taksi, kita bicarakan ini baik-baik dengan kepala dingin."

Mbak Nara mendongak, memaksakan sebuah senyuman tipis di wajah sawo matangnya yang manis. Matanya yang biasanya memancarkan ketegasan seorang dosen kini tampak sedikit meredup, dilapisi lapisan kaca tipis yang ditahannya agar tidak pecah menjadi air mata. "Iya, Pak. Hati-hati di jalan. Jangan lupa sarapan kalau senggang."

Bapak mengangguk, lalu berbalik dan melangkah menuju mobil MPV putihnya yang terparkir di ujung gang. Deru mesin mobil yang perlahan menjauh menjadi penanda bahwa denyut nadi pencarian nafkah keluarga ini harus tetap berputar, tidak peduli badai apa yang sedang mengintai domestik mereka.

Ibu Rahayu merangkul pundak Nara dengan kehangatan seorang ibu yang telah kenyang makan asam garam kehidupan. "Ayo masuk, Ra, Vik. Di luar dingin. Tidak enak dilihat tetangga kalau kita berdiri di depan pintu seperti ini."

Mereka bertiga kembali ke dalam rumah yang sempit. Davika menutup pintu kayu depan dengan pelan, memastikan selot besinya terkunci rapat. Begitu kakinya melangkah kembali ke area dapur, sifat random dan naluri komedinya yang sempat tertekan oleh drama subuh tadi mulai merayap naik sebuah mekanisme pertahanan diri yang selalu ia gunakan untuk mengusir kesedihan di rumah ini.

Davika memperhatikan Mbak Nara yang duduk terkurung di kursi makan, menatap nanar ke arah map hijau di atas meja. Dengan gerakan yang sengaja dibuat heboh, Davika melompat kecil dan mendarat di kursi sebelah Nara, membuat struktur tubuh mungilnya yang berlekuk padat itu bergoyang pelan di balik piyama beruangnya. Ia menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Nara dengan mata green-gray miliknya yang berkedip-kedip cepat.

"Mbak Nara," panggil Davika dengan nada suara yang dibuat-buat seperti pembawa acara gosip di televisi. "Menurut Davik ya, Gus Zayyad itu sebenarnya bukan mau cari istri, tapi mau cari asisten manajer tanpa gaji untuk komite putri pesantrennya. Masa cewek secerdas Mbak Nara, yang kalau ngomong bahasa Arab sudah mirip orang asli Dubai, disuruh berhenti mengajar? Rugi dong negara!"

"Davika, jangan bercanda dulu. Ini bukan waktunya," tegur Ibu Rahayu dari depan kompor sembari memindahkan nasi goreng ke dalam piring porselen besar. Meskipun menegur, sudut bibir Ibu sedikit terangkat; ia tahu anak bungsunya itu hanya sedang berusaha menghibur kakaknya.

Nara menghela napas, namun ketegangan di bahunya tampak sedikit mengendur mendengar celotehan absurd adiknya. Ia menjulurkan tangan, mencubit pipi Davika yang tembam dengan gemas. "Kamu ini, bukannya mandi malah sibuk menganalisis. Jam berapa ini? Nanti kamu telat masuk gerbang sekolah, lalu dihukum menjemur diri lagi di lapangan seperti minggu lalu."

"Hehehe, tenang, Mbak. Kulit Davik kan sudah kebal radiasi matahari," sahut Davika sembari memamerkan deretan giginya yang rapi. Ia melirik uang seratus ribu dari Mas Gara yang masih tergeletak di meja. "Lagian, hari ini Davik punya modal. Habis pulang sekolah, Davik mau ke pasar swalayan. Davik mau masak menu spesial untuk Mbak Nara, biar otak Mbak segar lagi dan bisa bikin draf tandingan untuk membalas si sekretaris kaku tadi!"

Nara menggeleng-gelengkan kepala, akhirnya sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. Kehadiran Davika memang selalu menjadi magnet komedi sekaligus penawar racun emosional yang paling mujarab di rumah ini. Namun, jauh di lubuk hatinya, Nara tahu masalah ini tidak sesederhana menu masakan Davika.

Pikirannya melayang pada sosok Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari. Lelaki berusia 27 tahun itu adalah kombinasi yang rumit: seorang putra mahkota pesantren yang taat agama, bertubuh kekar dan berotot yang selalu tersembunyi di balik jubah atau baju kokonya, namun di sisi lain memiliki ketajaman insting sebagai CEO muda yang dingin dan jarang tersenyum. Selama masa taaruf, Zayyad tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan mengekang kariernya. Mengapa sekarang, setelah draf dari dewan pengasuh turun, lelaki itu seolah membiarkan aturan kolonial ini mendikte masa depan mereka?

"Ra, dimakan dulu nasi gorengnya," suara Ibu Rahayu membuyarkan lamunan Nara. Ibu meletakkan sepiring penuh nasi goreng kampung yang mengepulkan uap hangat, lengkap dengan irisan telur dadar dan kerupuk di atasnya.

"Bagaimanapun juga, kamu harus tetap bertenaga. Jam delapan nanti kamu ada jadwal mengajar, kan?"

"Iya, Bu. Hari ini ada ujian lisan untuk mahasiswa semester empat," jawab Nara pelan. Ia mengambil sendok, mencoba menyuap nasi goreng itu meskipun tenggorokannya terasa menyempit karena kecemasan yang belum sepenuhnya sirna.

Sementara itu, Davika sudah melesat ke kamar mandi dengan kecepatan kilat, menyadari bahwa waktu terus berputar kejam. Dari dalam kamar mandi, terdengar suara guyuran air gayung yang berisik berbaur dengan senandung acak lagu pop Korea yang liriknya diubah seenak jidat olehnya.

Di luar rumah, jalanan gang mulai ramai oleh langkah kaki anak-anak SD yang berangkat sekolah dan deru motor para pekerja pabrik. Hari yang baru telah benar-benar datang, membawa takdir yang mulai bergeser dari porosnya bagi setiap penghuni rumah keluarga Mwohan.

🫧🫧🫧

Pukul lima lewat tiga puluh menit. Sinar matahari pagi yang tipis mulai menembus kaca jendela dapur, menyinari uap yang membubung dari piring nasi goreng kampung di atas meja. Keheningan pasca-badai subuh tadi perlahan tergantikan oleh ritme domestik yang sibuk. Ibu Rahayu kini telah beralih ke area halaman samping yang sempit, tempat barisan pipa paralon hidroponiknya berdiri. Dengan telaten, jemari tangannya yang mulai keriput memeriksa daun-daun selada dan bayam merah, memastikan nutrisi air mengalir lancar—sebuah pelarian sederhana untuk menenangkan gemuruh cemas di dadanya terkait masa depan putri keduanya.

Di dalam rumah, Davika keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rambut bergelombangnya seperti sorban besar. Meskipun tubuhnya mungil, seragam putih-abu-abu yang dikenakannya tampak penuh dan ketat karena proporsi fisiknya yang padat dan berisi. Sambil mengeringkan rambut, ia berjalan ke arah cermin besar di ruang tengah, bersiap melakukan ritual wajibnya: menata poni see-through agar melengkung sempurna di atas dahi.

"Mbak Nara, pinjam jepitan rambut yang badai dong! Punya Davik hilang ditelan bumi, atau mungkin dicuri sama Mas Gara buat jepit dasi pilotnya," teriak Davika acak, suaranya yang cempreng memecah kesunyian rumah.

Nara yang sedang merapikan berkas-berkas materi ujian mahasiswa di meja makan hanya bisa mengurut dada. "Di atas meja rias Mbak, ambil saja. Jangan sampai merusak tatanan bukumu sendiri, Vik. Masuk kelas jam berapa sebenarnya?"

"Jam tujuh belas menit, Mbak! Masih ada waktu buat bikin mahakarya di wajah," sahut Davika santai. Tangan mungilnya dengan cekatan memoleskan sedikit pelembap wajah, meninggalkan bibir ombrenya yang merah alami tetap dominan tanpa sentuhan lipstik. Wajahnya yang bak boneka hidup itu berputar ke kanan dan ke kiri di depan cermin, memastikan penampilannya hari ini tetap modis meskipun aturan sekolah sangat ketat.

Nara berdiri, membawa tas kerjanya yang penuh dengan kamus bahasa Arab dan draf kurikulum. Penampilan Nara pagi ini begitu kontras dengan Davika; ia mengenakan gamis berwarna khimar abu-abu gelap dengan kerudung panjang yang menutup dada, memancarkan aura anggun, pintar, dan tegas sebagai seorang dosen muda. Kulit sawo matangnya yang manis tampak segar setelah dibasuh air wudu, meskipun lingkaran hitam tipis di bawah matanya tidak bisa menyembunyikan sisa ketegangan subuh tadi.

"Mbak berangkat duluan, Vik. Ibu, Nara berangkat ya! Naik ojek daring saja biar cepat sampai kampus," pamit Nara setengah berteriak ke arah halaman samping.

Ibu Rahayu muncul dari balik pintu dapur dengan tangan yang masih basah. "Iya, Nduk. Hati-hati. Jangan lupa berdoa sebelum mengajar. Masalah yang tadi... serahkan sama Allah dulu untuk hari ini."

Nara mengangguk takzim, mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat. Saat ia melangkah keluar melewati pintu depan, matanya sempat melirik sekilas ke arah akuarium cupang hias milik bapaknya yang bergoyang pelan ditiup angin pagi. Langkah kakinya yang tegas membawa beban pikiran yang sangat berat. Sepanjang jalan menuju jalan raya, bayangan wajah dingin Gus Muhammad Zayyad Al-Ghifari terus berputar di benaknya.

Bagaimana bisa seorang lelaki yang ia kagumi karena ketajaman bisnis dan pemahaman agamanya, kini membiarkan sebuah draf pranikah mengancam seluruh impian akademisnya?

Sementara itu, di dalam rumah, Davika telah menyelesaikan ritual poninya. Ia menyambar tas sekolahnya yang dipenuhi gantungan kunci karakter capybara lucu yang menggemaskan. Sebelum melangkah keluar, insting kulinernya yang genius mendadak terusik saat melihat sisa nasi goreng di atas meja.

"Wah, mubazir ini kalau ditinggal. Bisa-bisa nanti pas pulang sekolah rasanya sudah berubah jadi kesedihan," gumam Davika. Dengan kecepatan kilat, ia mengambil kotak bekal plastik, memasukkan sisa nasi goreng tersebut, dan menambahkan sejumput bawang goreng yang renyah di atasnya.

Davika berlari ke teras, menyempatkan diri memberi makan ikan-ikan guppy milik bapaknya dengan sejumput pelet. "Makan yang banyak ya ikan-ikan kecil, biar kalian kuat menghadapi drama keluarga ini seperti Davik."

"Davika! Cepat berangkat, sudah jam enam lewat lima belas!" seru Ibu Rahayu dari dalam rumah.

"Siap, Kanjeng Ratu! Davik berangkat!" Davika mencium tangan ibunya dengan kilat, lalu berlari keluar pagar seng yang berderit nyaring.

Udara pagi yang tadinya berkabut kini mulai terasa hangat oleh sengatan matahari yang mulai naik. Di ujung gang, Davika mempercepat langkah kakinya, membuat lekuk tubuhnya yang semok dan padat mengundang satu dua pandangan dari tetangga yang sedang menyapu halaman, namun gadis itu terlalu cuek untuk peduli. Pikirannya sudah melompat jauh ke depan: ia harus bertahan di sekolah hari ini, lalu menggunakan uang seratus ribu dari Mas Gara untuk membeli daging sapi segar di pasar swalayan. Ia bertekad malam ini akan memasak soto daging kuah santan yang super gurih dan kaya rempah, sebuah hidangan pemulih jiwa untuk Mbak Nara yang sedang terluka.

Namun, tepat saat Davika berbelok di persimpangan jalan raya menuju halte bus, ponsel di dalam saku seragamnya bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal, berisi sebuah kalimat singkat dalam bahasa Korea yang membuat langkah kakinya mendadak terhenti di atas trotoar:

“궤적은 sudah dimulai. Jangan lengah.” (Jejak itu sudah dimulai. Jangan lengah.)

Davika mengernyitkan dahi, menatap layar ponselnya dengan mata green-gray yang melebar. Sifat humorisnya mendadak surut, digantikan oleh rasa heran yang mencekam. Siapa yang mengirimkan pesan aneh ini di pagi hari yang sudah cukup kacau.

1
Sriati Rahmawati
maaf Thor buku biologi bukan kitab
selalu bilangnya kitab😄😄😄
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Manman
it so good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!